Hari ini aku bertemu dengannya, setelah lama kami tak bertemu, dan yang mengejutkan diriku adalah perasaanku. Perasaanku tak gila seperti dulu, saat aku masih menginginkannya sangat, saat aku masih berharap dia kembali padaku. Ya, aku masih mencintainya namun rasa itu kini seperti hanya mengendap dan tenang. Tak seperti dulu, dimana rasa cinta ini layaknya ombak dihantam badai yang siap menerjang apapun yang menghalang. Dan kini, aku pun tak terlalu menginginkannya amat sangat.
Entah mengapa diri ini merasa, ia lebih baik tanpa diriku di sampingnya. Aku dulu sangat ingin ia menuju ke arah yang lebih baik (menurutku), namun aku yang disampingnya hanya memegangnya atau mendorongnya, sehingga ia meluap dan meledak. Ternyata aku salah dan ‘hal dalam mengetahui ke-salah-an’ itu aku terlambat. Ia lebih berkembang dengan caranya.
Aku tertawa mengejek diriku ‘siapa kamu, sok tahu dengan dirinya’. Aku yang mencintainya selama delapan tahun hanya mengenal sekelumit dirinya saja, ternyata waktu tak menjaminnya yang menjaminnya ialah pemahaman. Yah, mungkin aku kurang memahaminya. Dan aku memang tak pantas untuk dirinya. Tak ada celah untukku tuk mencoba yang kedua kalinya, ia telah menutup hatinya untukku. Aku tak menyalahkan dirinya akan hal itu karena hal itulah kemauanku, karena aku tak mau diombang ambing atas suatu yang tak jelas.
1 comment:
Hi kamu yang di sana. Cintamu pasti jauh lebih dalam dan luas dibandingkan cintaku. Aku salut, karena kini aku pun tak tahu bagaimana aku harus bersikap kepadanya. Nikmat rasanya dapat melihat dan merasakan kehadiran orang yang kita cintai di dekat kita. Bersyukurlah atas itu, dan tetap tersenyumlah ...
Post a Comment