Saturday, November 15, 2008

malam ini

malam itu

malam itu, aku berpikir cinta adalah segalanya dan dia adalah segalanya
malam itu, aku tahu bahwa sebenarnya ia tidak mencintaiku
namun waktu itu aku tak peduli jika ia mencintaiku atau tidak, karena waktu itu yang terpenting ialah aku mencintainya
malam itu, aku berpikir lebih baik sekali daripada tidak sama sekali
malam itu aku rasakan, sebuah ciuman menjelaskan banyak kata yang terucap dan tak terucap
malam itu aku lihat bahwa pandangan matanya bukan memandangku

hari ini

hari ini, cinta bukanlah segalanya dan partner bukanlah segalanya
hari ini, lebih baik sendiri daripada harus memaksakan diri untuk mencintai orang lain dan memaksakan orang lain untuk mencintai aku
hari ini, aku mencoba meminimalisir tindakan yang mendatangkan rasa sesal

kita bertambah dewasa dan akan berjalan seiringnya waktu walaupun terkadang tersendat namun aku harus terus berjalan mencapai tujuanku menciptakan diriku. walaupun hatiku tersakiti namun tak dapat kupenjarai dia untuk tetap mencintai. karena saat aku memenjarakannya aku akan melukai orang2 didekatku dan diriku.

disini aku terhenti sesaat, terkapar...memandang terangnya sinar lampu. mendengar gemuruh suara tangis, merasa..aku tak merasakan apa pun..bahkan aku tak bisa menggerakkan otot2ku. lalu semua menjadi gelap.

Thursday, November 6, 2008

Cetak saja

Akhir-akhir ini aku terus menerus berada di rumah ini, mengurus rumah, mengurus penghuninya dan bersantai memanjakan diri. Terasa sedikit aneh memang...padahal dulu aku jarang sekali berada di dalamnya, bahkan duduk di salah satu kursi hijaunya yang ternyata keras sekali. Sejak orang tuaku pulang ke rumah orang tuanya, aku harus jadi satpam, pembantu dan baby sitter rumah ini. rumah mungil ini....

Terduduk melenguh, bermain dengan pikirku, namun saat asik berlari pikirku kembali pada sumbatnya. Beban yang makin menumpuk terasa kembali menggelayuti bahu ku (aku tak mau jadi orang yang pura2 kuat yang merengek sepanjang malam), tapi aku sedikit bingung dengan hal ini. Beban ini...karena aku menjadi triple worker atau karena kepergian orang tuaku. Lamunan ku melayang ke orang tuaku, sedang apakah mereka....
Dulu, biasanya mama ku yang bertanya
'kapan kamu pulang'
atau
'dah pindah kerja aja ya',
sekarang mama-lah yang aku tanya
'kapan mama pulang'
dan terkadang mama menjawab
'bapak betah di sini ndok, kayaknya masih lama'.

Terkadang hanya pertanyaan 'kepulangan-lah' yang menjadi topik kami, memang komunikasi di antara kami sudah tak berjalan lancar seperti dulu. Aku sudah mengakalinya dengan segala cara yang bisa aku lakukan (mungkin usahaku kurang keras), namun tetap saja komunikasi ini seperti berada bersebrangan di antara tembok cina.

Hal itu terjadi sejak ikan asin yang kututupi rapat2 akhirnya tercium juga, tapi tak kuduga akan jadi begini akhirnya....

Sebulan yang lalu...

"Ta, malam ini kamu pulang gak?" suara mama-ku di telepon,
"Kayaknya nggak ma, aku mo nginep di lab mpe minggu depan" jawabku,
"Sampe minggu depan..hati2 ya?"
" Ya ma".
Pembohong laknat sedang beraksi, gumanku, yah aku tak menganggap semuanya adalah murni kebohongan. Aku memang harus menginap di lab untuk produksi, namun malam ini aku tak mau sendiri.

Seminggu setelah produksi,

"Ta, kamu mau pulang kapan?"
"Kayaknya besok ma. Ma, aku bawa temen ya"
"Ya, pulangnya jangan ngebut2 ya, kasian temen kamu, bisa turun berok kalo d boncengin sama kamu"
"Ha3..ya ma".

Sesampainya di rumah.

"Ma, ini Ella, temenku di lab. Bapak mana ma?"
"Ella y, saya ibunya Okta. Okta sering ngerepotin kamu y?"
"Enggak tante, malah aku yang sering nyusahin okta".
Mereka bersenda gurau ringan, sementara aku mencari bapak.
Kulihat bapak sedang mendengarkan tembang kejawen kesayangannya
"Pak, aku pulang"
"O koe wis pulang to ndok"
"Ya"
"Sama siapa pulangnya?"
"Sama temen pak"
berarti bapak tahu klo aku dah pulang dan bawa temen, pikirku.

"Rumah mo direnovasi, kamar kamu mo bapak perluas, jadi lemari2 kamu bapak pindahi ke kamar mbakyu mu" (kakakku sudah menikah dan tinggal dengan suaminya),
"O"
"Trus anu le, lemari mu yang kecil, yang ngangkat adekmu, trus jatoh, lemari ne ancur, isinya tak taroh di kamar mbakyumu juga. Gak ada yang bapak buang kok isisnya"
"O"
(tunggu!!!tunggu!!-seketika otakku di setrum listrik-lemari kecil itu kan tempat penyimpanan film2 dan buku2 koleksiku...).
Aku terdiam, aku tak bisa membiarkan otakku tak berpikir atau diam begitu saja sementara bapak sepertinya ingin menguliti rahasiaku satu per satu. Namun tiba2 bapak berkata,
"Le, bapak ma mamak mo pulang ke jogja, mo ngurusin lemah. Kamu jaga rumah ya. Adekmu juga dah gede, dah bisa jaga diri sendiri, katanya dia mau ngekost di deket kampusnya aja".

Aku tediam, sementara otak-ku kalang kabut mencari pelarian terbesar di celah2 sel syaraf. "Aku ma mamakmu berangkat besok pagi, gak usah dianterin, aku ma mamakmu naik taksi aja sampe stasiun".
"Ya pak".

'Ya pak' cuma itu jawabanku, jawaban yang sepertinya enggan bapak pertanyakan ataukah jawaban itu mengena untuk pertanyaan lain yang masih tersumbat di mulut bapak.
Bapak memang selalu begitu, menggantungkan pertanyaan pun jawaban. Sedari kecil, aku sangat dekat dengan bapak, sehingga bapak sepertinya sudah tahu tentang aku. Bapak hanya perlu bukti, dan nampaknya koleksi itu dijadikan bukti oleh bapak, tanpa perlu mempertanyakan atau mendengar kata 'iya, saya adalah seorang...'.

Perbincangan sore itu selesai dibicarakan setelah bapak bilang. "Aku arep istirahat le".


Sebulan sudah orangtuaku berada di jogja, terkadang aku berpikir 'mengapa bapak gak ngusir aku aja, biar aku yang pergi dari rumah ini' (kebanyakan nonton film-red). Terkadang aku berpikir 'apakah ini cara bapak, jadi bapak saja yang keluar dari rumah ini' atau terkadang aku juga berpikir 'ini cara bapak untuk mengikatku' ataukah 'bapak merasa bersalah karena telah membesarkan aku yang menjadi seperti ini'.

Thursday, October 16, 2008

iseng2 berbuah

Alkisah seorang penjual buah yang suka menjilat. Seperti membeli buah dari seorang penjilat, indahnya…permainan kata mereka. Sang penjilat membuat kulit buah terasa manis, marum, matang dan menggiurkan. Padahal…tak ada yang tahu isi buahnya (kecuali Tuhan y). tapi sang penjilat memang pintar, ia tahu benar banyak pembeli yang membeli buah hanya berdasarkan dari kulitnya (luarnya) saja, pembeli hanya menerka2 isi dari buah tersebut. Dengan ahlinya…selain meraup untung yang sangat besar, ia juga menjadi terkenal dan banyak teman. Hingga suatu saat ia pun sangat kaya raya, hingga tak perlu berjualan lagi. Sang penjilat berpikir “aku sudah kaya, aku tak perlu lagi untuk menjadi seorang penjilat”, maka berhentilah ia menjadi seorang penjilat. Sang mantan penjual yang suka menjilat kini menjadi seorang yang jujur. Namun…ternyata…semua temen2nya meningalkannya….Ia sakit karena kesepiannya, lalu uangnya habis untuk berobat. Di saat ajalnya tiba, sang penjilat bertanya pada dunia “dunia…mengapa di saat aku jujur, tak ada yang mau menemaniku?”.
Gila…sadis amat ceritanya… Mungkin akan ada orang yang komentar “gila…temen apa yang ninggalin lo pada saat lo seperti itu” atau juga “lo-nya aja yang salah milih temen” atau “berarti mereka semua bukan temen sejati lo”. Namun tentu saja juga ada seseorang yang akan bilang “itu mah salah lo, kalo lo memulainya dengan suatu kebohongan maka kebohongan juga yang akan lo dapet”.
semua orang boleh berpendapat, tenang aja..

Sunday, April 13, 2008

waduh...

Sebuah pertanyaan datang k gw, "maksud lo, lo berubah jadi hetero?" "he...".
ternyata yang dimaksud temanku ialah blog ku sebelumnya. aku hanya bisa jawab, being straight or not..gak bisa dideklarasiim kaya proklamasi.
Cinta itu natural bagi gw. rasa yang datang k hati lalu k otak, kedua perangkat itu berfusi hingga menghasilkan refleks.

Saturday, April 12, 2008

someday...i hope i'll find the answer

hidup ini bukan untuk mencari siapa diri kita namun untuk membentuk, mau seperti apa diri kita.bukan merengek untuk meminta namun menciptakan ruang untuk dapat memberi.

Malam itu, aku membuka kembali 'buku'-ku, tak terasa sudah 4 tahun aku tak membukanya. 4 tahun yang berat, yang memebuatku dapat melupakan duniaku, yang membuatku dapat melupakan adanya sebuah gunung lain yang harus aku daki. kubuka perlahan, lemabr tiap lembar, kupanggil kembali memoriku saat masa itu. ternyata yang paling banyak aku temui ialah tulisan2 amarah yang mengecam diri sendiri....Ironis memang masa remajaku kuhabiskan hanya ingin untuk menyalahkan diri sendiri, berniat mati dan tanpa emosi. kubuka kembali lembar tersebut, aku sangat ingat dengan tulisan berpena hitam, mungil menghiasi kertas biru muda. kubaca kembali kata2 itu.."Okta...maap klo gw kasar, tapi gw lebih suka klo gw berkata jujur ma lo dibandingin gw da disamping lo n gak ngeliat perubahan di lo n gw cuma berkata kata2 yang cuma pingin lo denger". Aku termenung membaca kembali tulisan itu, entah apakah sama termenunnya dengan pertama kali aku membaca tulisan itu darimu teman (u're more than a friend to me). "Okta sebenernya gw gak terlalu suka dengan diri lo yang menyalahkan diri lo dengan keadaan lo, cukup deh Ta, cukup banget lo ngebela diri lo. jangan terus2an ngebela diri lo". lalu ia bercerita tentang burung kecil dan diriku, he3...(tetep gw g ngerti mpe sekarang. gw mah nangkepnya 'gw perlu lebih banyak berteman dan membuka diri gw n otak gw biar gak stuck di'situ2' aja'.
Aku kembali lagi pada pemikiran awal, kembali k aku, kembali tanpa pembelaan. mengangkat logika bersama fakta. nyatanya...aku takut berkomitmen, aku tak suka dengan status, aku tak suka dengan 'hubungan'. karena aku kini tahu, hubungan bagiku adalah suatu pelarian dari pemikiranku, mungkin seperti 'kehedonisan' dari pemikiranku.



sudahkah aku berubah...
ya, aku sudah berubah. terima kasih semua.

Saturday, March 22, 2008

....

Suatu saat mungkin akan mengerti kenapa dan bagaimana atau pun apa.

Hal itu kulakukan dengan pertimbangan masak2. aku tahu dampaknya, namun yang aku tak terlalu mengerti ialah teknisnya. Aku bagaikan seorang pilot yang baru berpengalaman 4 tahun, namun mencoba menerbangkan sebuah pesawat (yang sebelumnya belum pernah aku terbangkan) dengan hanya menguasai teorinya tanpa teknisnya.

Maaf jika kata2 ini tak pernah terasa bersatu, namun inilah yang terjadi semua kata2 itu terbang, melesat, mengendap, berjalan bahkan merangkak datar di dalam otakku.

Menujukkan kelemahan itulah yang juga membuat manusia terasa sebagai manusia bukan nabi ataupun Allah swt.

Aku hanya seorang aku, jika aku mengikat seseorang dalam sistemku maka aku akan menunjukkan semua kelemahan ku padanya, sehingga ia mengetahui aku seluruhnya. Walaupun pada akhirnya ia tak mengerti, toh tak mengapa. Untuk ingin dimengerti, kita harus bisa dan mau mengerti. Mungkin aku yang selama ini tak mau mengerti. Aku memang masih berteman dengan egoku, karena dia selalu melindungiku dari serangan-serangan itu.

Kata-kata hanya akan menjadi kata-kata jika tak ada tindakan, itulah kata-kata. Oleh karena itu saat kau mencari, menemukan, dan menangkapnya, kau jangan lupa untuk menggunakannnya dengan cara bertindak. Sehingga kata-kata tidak hanya sebagai kata-kata.

Aku memang pandai memaknai makna namun aku lemah dalam bertindak.

Namun dari semua hal itu, aku ialah aku. Aku yang juga sedang berusaha sehingga aku menginginkan membaginya kepada kalian sehingga kita dapat berjuang bersama dan saling berbagi, aku bukan master atau guru. Aku juga seorang manusia yang sedang melawan semua kata-kata yang aku keluarkan. Mungkin ada saat kalian akan berkata kepada ku ”u’re totally bulshit”.

Aku tak ingin orang-orang yang dekat denganku melihatku ’lebih unggul’ atau bahkan lebih stabil. Aku juga ingin mereka melihat kelemahanku. Sehingga, aku tak ingin kau berkata ’kau baik ya, aku jahat’, semua orang punya sifat jahat hanya pengekspresiannya saja (fenotipnya). Mungkin sekarang (setelah aku melakukan hal itu) aku akan bertanya padamu ’siapa yang lebih jahat?’ atau ’siapa yang lebih heartless?’.

Aku terlalu ikut campur..ya mungkin itulah aku. Terkadang peduli terkadang aku pun terperangkap oleh pemikiranku. Sehingga aku seperti meninggalkan mereka.

Dampaknya, jika aku menyukai seseorang maka tujuan dan ’goal’ dari orang itu juga menjadi suatu obsesi ku. Itulah aku, namun hal ini menjadi sedikit mengganggu ku karena nampaknya terkadang aku tak tahu batas.

Aku pun terkadang terlalu memainkan ’peronality’ mereka, mengubah mereka. Aku tahu aku terlalu sok tahu dengan kondisi ku ini yang faktanya tak jauh berbeda dari mereka, namun entah mengapa aku ingin membagi resep pada mereka. Terkadang sepertinya mereka sudah tahu hal itu tapi mereka menunggu seseorang berkata suatu hal tentang hal itu, baik dan buruk (tahukah kalian, terkadang aku mendapatkan kata2 itu dari mulut kalian). Namun yang terkadang mereka tidak mengerti ialah jika ’aku lebih’ daripada mereka, tidak teman! Kita semua ialah orang-orang yang tertidur terlalu lama untuk mengubah jalan pemikiran kita dan terlalu takut untuk melangkah, dan kata2 itu seperti api yang membakar kaki mu, yang membuatmu berlari atau berjalan. Namun, kata2 ku ternyata terlalu awal hingga membuatmu menjauh. Namun jika aku tak melakukannya sekarang, aku takut semuanya akan terlambat, karena kau perlu pondasi ini untuk melangkah menuju jalan yang kau pilih (be a hetero). Aku takut semuanya akan terlambat karena aku pun akan berubah, sifat itu akan kuubah, kutelaah ego dengan care, ikhlas dengan pasrah, dan nafsu dengan cinta.

Monday, February 18, 2008

Rumaging old 'book' (part 1)

Cerita ini yang menjadi dasar 'titik temu' gw-klo mo kerja n dapet duit n hidup mandiri-penampilan itu penting.

So...(mungkin ini bukan porsi gw) buat para butchi...make up ur mind n struggle with this life.


This is my revolution

Cerita ini berlangsung pada 18 Februari 2008

Tanpa bermaksud menghina atau merendahkan manusia lainnya, gw cuma mo menyimpulkan hasil kamuflase gw.

Manusia itu beririsan, kaya teori matematika, makanya jangan heran klo lo nemuin manusia2 yang mirip satu yang lainnya bukan hanya fisik tapi juga sifat.

Eits tunggu dulu dong Ta (myself)..lo mesti jelasin dulu apa maksud kata2 lo dan sumber lo berkata2 kaya gitu.

Lo dapet wangsit darimana berkata2 kaya gitu or lo cuma mengungkapakan hal yang sama ma hal yang sering diungkapkan orang lain?

Jadi fotokopi gitu??

Ok..gw mulai dari pemikiran gw.
Pada awalnya gw terinspirasi ma buku Female Undercover by Norah. Buku itu memberi gw ide, gw yang jarang berpenampilan 'wanita' akan berpenampilan wanita selama sebulan (walaupun sebenernya gw sering dandan, tapi menurut gw klo ngampus..dandan...rugi kali! Buang2 duit, gak dapet duit, n buang2 waktu).
Maklum anak Lab.

Tuh kan gw gak fokus, jadi bleber kemana2.

Nah mulailah gw dengan program "Dandan yuuukkzz!".

O y, sebelum gw menceritakan manusia2 ini, gw komparasikan perilaku mereka ke gw, ma perlakuan mereka ke temen2 gw.

Manusia2 di lab

Gw yang biasa ngegembel di lab hari itu dateng dengan 'baju wanita + make up + push up bra + lipstik kinclong + sepatu ciamik yang menonjolkan tubuh tinggi gw, yang emang dah tinggi'.

Jadi kondisi biasanya, mereka (para laboran co and staf co) gak terlalu peduli akan kehadiran gw. Nah saat gw dateng (karena di luar ujan, hal pertama yang gw lakukan setelah sampai lab yaitu membuka jas ujan gw).

Langsung men!

"Okta..tumben dateng? Dah selesai y? Gimana skripsinya?"
(sebenernya ada lagi, tapi gw lagi ribet ma jas ujan gw) dengan tanpa membuang rasa sopan gw, gw langsung tersenyum dan menanyakan keberadaan Pembimbing gw.

"Pak D ada mas?"

"Ada d dalem, Ta mo lembur lagi ya? Perlu temen lembur gak?"
(Shit!!!gw ngelembur sendiri bisa kali & gw mang sering lembur sendiri kali, kesannya jadi-dulu gw lembur gak ada yang nanya2 sekarang...).

Pembimbing gw dateng...

Gak da bedanya...nada bicaranya jadi lembut bo!!
Jadi kayak gaya ngomong Pak D ke Miss L (temen gw yang emang manis and berpakaian wanita pada umumnya).

Yang lebih parah yaitu salah seorang staf yang dari awal kerjaannya cuma tebar pesona ma anak penelitian yang cewek (gw dulu gak termasuk).
Jujur aja, gw menunjukkan sikap gak suka gw terhadap dia secara terang2an (kadang tatapan mata merendahkan dia, gw bales ma tatapan mata merendahkan gw-jahat tapi menyenangkan, ha3).
Nah saat gw bertemu dia dalam balutan busana wanita gw, dia bertanya "anak pak D ya, gimana, sudah selesai?"

"Sudah Pak" jawab gw datar.

OMG...satu hari gw tampil beda aja, langsung seperti ini...eh...apa karena gw tampil beda ya mereka jadi lebih 'halus'.
Atau memang karena penampilan gw yang membuat mereka jadi lebih 'halus'
.

Akhirnya proyek ini berlanjut hingga satu tahun.

Kesimpulan yang gw dapet yaitu penampilan gw-lah yang membuat mereka jadi 'halus'.

Gw berkesimpulan seperti ini karena ada objek pembanding.

Sampai pada satu titik dimana gw akhirnya dapet kerjaan sebagai seorang tentor a.k.a guru, yang menuntut gw untuk menjadi 'panutan-model'.

OMG...God thank you so much, u always be there when i need u (Allahuakbar!!-special buat Ipul...wkwkwk).

Kamuflase?
"Lo gak ngerasa munafik?"
Klo gak munafik, gak bisa hidup

"Lo gak capek?"
klo gak capek, bukan hidup namanya. (eits..nukan masochist lho..)

Dan satu hal yang ngebuat gw ngeh, harga diri gw bukan di penampilan gw dan penampilan gw bukan harga diri gw (ada juga penampilan itu salah satu 'harga jual' gw waktu gw cari kerja).

Tuesday, January 29, 2008

menjawab semua pertanyaan

semua mata bertanya akan penampilan diri ini. diri ini akan menjawab, diri ini ingin membahagiakan seseorang yang berjasa bagi diri ini, yang telah membesarkan diri ini.
ya diri ini wanita, diri ini sangat paham akan hal itu. namun apakah kewanitaan hanya dilihat dari bentuk tubuh seksi yang tertonjol dari pakaian yang dikatrakan 'wanita' pada saat ini dan pada umumnya. maap2 aja, pakaian ialah suatu kebebasan dan idealisme (makanya banyak orang gila yang gak mo pake baju).

sekali lagi diri ini tekankan "jangan nilai seseorang dari penampilan ".