Genap delapan hari aku berada di kota ini, kota yang panas dan gersang, dan satu hal lagi..sepi. berbeda sekali dengan Jakarta yang ku cinta. Beradaptasi, yah... hal itulah yang aku lakukan sebagai makhluk hidup yang sedang bermigrasi karena adanya seleksi alam. Yang dapat beradaptasi akan tetap hidup dan yang tidak, akan mati. Lampung, itulah nama kota kecil ini, sebenarnya sih, aku tidak tahu lebih besar Lampung atau Jakarta, namun dari segi jalan kota, aku menganggap Lampung lebih kecil dari Jakarta.
Hari ini, aku berencana berjalan-jalan bersama temanku, berwisata ke pantai pasir putih. Kami berjanji untuk bertemu pukul 1 siang di Karang. Karang merupakan sebuah nama tempat (Kotamadya mungkin), daerah itu dikenal dengan adanya Ramayana. Saat ini, waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, karena mataku masih terasa berat, terbius oleh suasana kamar..maka kuputuskan untuk tidur sejenak. Ha3...namanya juga saya, mana mungkin bisa tidur sejenak. Aku terbangun oleh suara sms dari HP ku. “jadi jalan2 tidak?”. Kubiarkan otak kanan dan otak kiriku berakselerasi untuk menjawab pertanyaan itu...5 menit...oh iya, aku kan mo jalan2 hari ni. Untung saja aku sudah mandi, dengan sigap laksana mau upacara, ku ganti bajuku, cuci muka, gosok gigi, dan ku balas sms temanku. “jadi, tunggu lagi mo jalan”. Ha3, betul kan aku lagi jalan untuk mengganti baju..
Ku percepat langkahku dan kuberhentikan angkot, “karang pak?” “ya”jawab pak supir. Maklum angkot di sini terbilang sedikit berbeda dengan Jakarta, trayeknya fleksibel, asal ujung depan dan belakangnya sama. Begitu juga dengan tarifnya. Satu hal yang sama dari semua angkot yang ada di sini, full music! Yang saya maksud, benar2 full lho! sampai2 pak supir punya cd-r lengkap dengan kepingan disc-nya. Pokoke...mak jeger lah. Wong bass-nya di pasang di kursi penumpang paling belakang.
Setelah sampai karang, ku perhatikan seksama sisi jalan..berantakan. hal pertama itulah yang terucap dalam benak ku. Ok..Jakarta juga berantakan, namun semenjak pak Fauzi bowo, nampaknya da sedikit perbaikan masalah pedagang kaki lima-nya. Bukan saya mau kampanye lho, wong saya aja gak nyoblos waktu pak Fauzi dipilih.
Ku putuskan untuk menanti temanku di salah satu Halte yang nampaknya selamat dari serbuan pedagang kaki lima. Ku perhatikan satu demi satu orang yang lalu lalang di depanku, aura kehidupan yang sama dengan daerah Jakarta Timur. Tak terasa temanku berdiri di sampingku, “mau jalan kemana?” “pantai!” dengan mantap ku jawab. Perjalanan ke pantai dari Karang di tempuh dengan bus DAMRI, ada dua tipe yang ber AC dan yang tidak, mirip Jakarta. Satu hal yang sangat saya suka dari bus DAMRI, nyaman dan murah! Yup murah, bus AC-nya dari Karang sampai Teluk hanya memakan biaya Rp.2.500. padahal klo di Jakarta, jaraknya dari UKI sampai Kebon Nanas, lewat tol.
Dari Karang kami menuju Teluk, dan dari teluk ternyata kami harus berganti dua kali mobil. Kami melewati daerah Panjang, aku jadi teringat dengan cerita temanku mengenai daerah ini. Panjang merupakan daerah yang dekat dengan pelabuhan, atau lebih di kenal dengan nama Labuhan (cuma ngilangin awalan pe- doang y..). daerah Panjang merupakan daerah yang terkenal dengan prostitusinya. Ya, jika dibayangkan dengan Jakrata, bayangkan saja Tanjung Priok yang memang terkenal dengan prostitusinya, maklum daerah pelabuhan (itu kata mereka). Sesampainya di Pasir, aku amat sangat terkejut!!! Lunturlah sudah bayangan Ancol, dari benakku, hilanglah sudah angin sepoi2, lenyaplah sudah angan gemuruh ombak...semuanya tak ada di sini. Pantai ini hanya berpasir putih dan berair asin, ya..hanya itu yang dapat ku simpulkan.... Sebenarnya ada taman laut di seberang pantai dan untuk penyebrangan, kami harus mengeluarkan kocek 100 ribu...aw aw aw...di gaji aja belom, duit dari mana bang!! Maklum, status kami berdua adalah semi-pengangguran.
Kecewa dengan apa yang kami temui, yang nampaknya kurang sebanding dengan perjalan kami, kami terduduk di sebuah rumah makan..lebih tepatnya emperan minum. Untungnya ada bakso, kami pesan bakso dan tentu saja, apapun makanannya minumnya teh botol sosro..ha3. kami cukup menunggu lama untuk menu yang kami pesan, yang dapat di bilang hanyalah camilan bagi kami yang kelaparan. Ku perhatikan pantai ini, nampaknya pantai ini telah hilang pesonannya, hilang pula daya tarik toko2 survenirnya. Beberapa survenir dari karang tergeletak tak terawat, berdebu, di etalase toko. Bahkan beberapa di antaranya nampak telah rusak. Sambil menunggu, kami berbincang banyak mengenai kota kami masing2, oh ya..temanku lahir di Padang dan asli orang Padang. Ia menceritakan banyak mengenai hobinya, yaitu berenang di sungai dan naik gunung (entah kenapa, saya jadi teringat Bolang...he3). Pembicaraan kami terhenti saat dua buah mangkok datang di hadapan kami...satu hal yang terlintas dalam benakku...ini bakso asli kan.... Akhirnya ku cicipi, dan satu rasa yang ku kenal ASIN! Aku hanya berharap, si penjual tidak memakai air laut sebagai kuahnya.
Aku memakannya dengan berdoa dalam hati agar aku tidak kena tipes ataupun muntah. Setelah habis menyikat bakso tersebut (klo lapar, apa aja masuk ya...), kami melanjutkan pembicaraan kami, hingga tak terasa waktu telah bergulir ke pukul 16.30 WIB. Kami memutuskan untuk segera beranjak dari pantai ini, tuk kembali ke kosan kami. Untungnya, angkot di sini terbilang gampang,trayeknya bolak balik, namun yang susah mencari penumpangnya, jadilah angkot nge-tem. Sama seperti saat berangkat, dari pantai menuju teluk, kami berganti angkot dua kali, dan dari teluk, kami naik DAMRI tentu saja yang ber-AC (klo yang tidak AC,panas bu!!!).
Bus yang kami naiki ternyata melewati Mal Kartini (salah satu mal yang ada di Lampung), karena memerlukan kemeja putih, kami turun di depan mal tersebut. Mau tahu apa pendapat saya...kecil, yah itulah pendapat saya. Jangan bandingkan dengan Plangi lho! mungkin bayangkan saja versi kecilnya GRACI, ha3.... Kami berkeliling mencari kemeja putih..Valino, Alisan, Lavino, Hammer...clingak clinguk...(mungkin seharusnya aku mencoba di Matahari juga ya..). Temanku pasrah, memang untuk ukuran laki2, badannya kecil sekali, ukuran kemejanya saja 14. Susah ya, jadi cowok kecil....(eits..saya cukup sadar diri lho, saya juga susah cari ukuran cewek). Depresi dengan koleksi yang ada, aku mencoba mengajaknya ke Matahari, namun ia menolak, sudah terlampau malam, nanti angkotnya susah. Yup, memang benar, angkot menuju kos-an kami terbilang cukup susah jika di atas pukul 18.00. Setelah di luar Mal Kartini, kami segera bergegas mencari angkot, biru telur asin, yup, itu tuh warna angkot yang harus kami cari. Untung kami hanya perlu menunggu 20 menit. Sebuah angkot biru telur asin berhenti, dan kami bertanya “Rajabasa?” “ayok!” kata kenek tersebut lantang.
Aku mencoba menghapal, tempat2 strategis atau sarana2 yang nantinya perlu aku kunjungi. Entah mengapa, pandangan ku menuju ke supir..(don’t ask me why..) a ha! Gaydar-ku lagi nyala....Ternyata saat ku perhatikan, bukan pak supir, namun ia seorang wanita. Perlu indra ke enam untuk menyadari jika ia seorang wanita, penampilannya memang tak ada wanita2nya, malah mirip abang2 angkot yang gemuk. Buchi-om2 (sebutan ku dan temanku untuk seorang buchi yang mengarah ke transgender.
Aku jadi teringat, saat seorang teman (ok mantan) bercerita tentang wanita les. Ada beberapa wanita les, yang sudah menganggap dirinya bukan wanita. Jadi buch, yang gak nyaman dengan penampilan wanitanya. Tomboy kebablasan, ada yang bilang seperti itu. Yah, klo menurutku itu sih terserah mereka. Namun satu hal yang tidak ku mengerti. Sebegitu besarkah idealism mereka, hingga terkadang menghancurkan masa depan mereka. Padahal klo di Jakarta, ada beberapa buchi yang seperti itu, yang bekerja di perusahaan swasta yang TOP class.
No comments:
Post a Comment