Tidak terasa telah 5 tahun aku dan dia berteman, dia sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri, 'brother-hood' ha3.
Sepulang dari reuni, aku membuka kembali memori2 yang telah aku simpan di hatiku. ku ingat kembali OPT kami, momen pertama kami bertemu.
"jangan komen doang dong,bertindak!!" teriakku ketus, aku memang emosional dan pemarah, tapi saat itu aku marah karena para pria bercanda ria sementara para wanita sibuk. Semenjak itu, aku dan dia sedikit tidak akur. kami meledek sekolah (SMA) satu sama lain. ha3, sampai sekarang jika ku ingat kembali hal itu, tetap saja membuatku tertawa. Namun, dari ledekan itu terbangunlah jembatan per-teman-an kami. mulai saat itu kami berteman dan perteman ini makin erat tiap hari.
Suatu hari, ia menceritakan kisahnya padaku, hal itu membuatku ingin menangis dan memeluknya (walaupun penampakanku seperti sadako, tapi tetap saja aku wanita). aku merasa terharu oleh kisahnya karena aku pernah mengalami hal yang sama. aku juga terharu karena ia mau berbagi cerita denganku. Dari kisahnya aku menyadari mengapa ia menjadi seperti ini, dari kisahnya pula aku mulai mengerti arti teman bagi dia, dan dari kisah2nya pula aku belajar. Aku mulai mengerti mengapa ia takut untuk melangkah. Aku menjadi mengerti mengapa ia menjadi kurang tegas. Ia terlalu lama “disetir” sehingga saat sang sopir pergi meninggalkannya ia sedikit bingung, ia kehilangan arah.
“Teman yang baik (bagiku) bukanlah teman yang mengatur segalanya bagimu sehingga kau tinggal ditarik saja olehnya, namun bagiku teman yang baik ialah yang mau menemaniku (tidak harus fisik) saat aku mengambil jalan yang aku pilih (dan tak harus sejalan)”
Saat itulah hatiku mulai terbuka, selama ini aku hanya terpaku pada seseorang yang tak bisa kumiliki, tapi aku mulai sadar toh kalau hatiku pernah dilukai oleh seorang teman (yang kucintai), hatiku tidak akan berhenti mempercayai seseorang. Selama 4 tahun, aku dan dia berbagi cerita, rahasia, arti, derita, bahagia, rasa..hm..entahlah bahkan aku merasa berbagi hari.
Dia pernah kecewa dengan pertemanan, mungkin persahabatan, dan hal itu nampaknya yang mengikat kakinya pada kondisinya sekarang. Lalu, aku pun berbagi cerita dengannya, tentang angin, api, air bahkan batu yang ada di dalam dirirku. Seperti mendaki pegunungan tanpa henti, ada saatnya kita harus menanjak dan ada saatnya kita harus menurun. Menurun bukan berarti gagal, dan melepas bukan lah berarti akan hilang, dan berlawanan bukan berarti musuh. Karena setiap manusia punya alasan tersendiri dan hampir semua manusia mempunyai alasan (walaupun terkadang aku melakukan sesuatu tanpa alasan, namun sebenarnya alasan aku melakukan hal itu ialah karena aku ingin melakukannya).
Lima tahun kami sama-sama berproses. Dulu ia pernah berkata “aku merasa tertinggal..lo jangan ninggalin gw ya”, dulu aku menjawab “ya ayo maju dong, apaan sih lo...y gak lah, gila apa gw”. Namun sekaranglah aku yang akan berkata “sekarang lo lah yang berjalan lebih depan dari gw”.
Seiring bergulirnya waktu, ternyata proses seorang manusia juga berjalan. Dia yang dulu sering membuatku kesal dengan sifatnya yang ragu untuk maju menapak kakinya kini ternyata telah berlari jauh di depanku. Y..waktu juga berjalan baginya.
No comments:
Post a Comment