malam itu
malam itu, aku berpikir cinta adalah segalanya dan dia adalah segalanya
malam itu, aku tahu bahwa sebenarnya ia tidak mencintaiku
namun waktu itu aku tak peduli jika ia mencintaiku atau tidak, karena waktu itu yang terpenting ialah aku mencintainya
malam itu, aku berpikir lebih baik sekali daripada tidak sama sekali
malam itu aku rasakan, sebuah ciuman menjelaskan banyak kata yang terucap dan tak terucap
malam itu aku lihat bahwa pandangan matanya bukan memandangku
hari ini
hari ini, cinta bukanlah segalanya dan partner bukanlah segalanya
hari ini, lebih baik sendiri daripada harus memaksakan diri untuk mencintai orang lain dan memaksakan orang lain untuk mencintai aku
hari ini, aku mencoba meminimalisir tindakan yang mendatangkan rasa sesal
kita bertambah dewasa dan akan berjalan seiringnya waktu walaupun terkadang tersendat namun aku harus terus berjalan mencapai tujuanku menciptakan diriku. walaupun hatiku tersakiti namun tak dapat kupenjarai dia untuk tetap mencintai. karena saat aku memenjarakannya aku akan melukai orang2 didekatku dan diriku.
disini aku terhenti sesaat, terkapar...memandang terangnya sinar lampu. mendengar gemuruh suara tangis, merasa..aku tak merasakan apa pun..bahkan aku tak bisa menggerakkan otot2ku. lalu semua menjadi gelap.
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Saturday, November 15, 2008
Thursday, November 6, 2008
Cetak saja
Akhir-akhir ini aku terus menerus berada di rumah ini, mengurus rumah, mengurus penghuninya dan bersantai memanjakan diri. Terasa sedikit aneh memang...padahal dulu aku jarang sekali berada di dalamnya, bahkan duduk di salah satu kursi hijaunya yang ternyata keras sekali. Sejak orang tuaku pulang ke rumah orang tuanya, aku harus jadi satpam, pembantu dan baby sitter rumah ini. rumah mungil ini....
Terduduk melenguh, bermain dengan pikirku, namun saat asik berlari pikirku kembali pada sumbatnya. Beban yang makin menumpuk terasa kembali menggelayuti bahu ku (aku tak mau jadi orang yang pura2 kuat yang merengek sepanjang malam), tapi aku sedikit bingung dengan hal ini. Beban ini...karena aku menjadi triple worker atau karena kepergian orang tuaku. Lamunan ku melayang ke orang tuaku, sedang apakah mereka....
Dulu, biasanya mama ku yang bertanya
'kapan kamu pulang'
atau
'dah pindah kerja aja ya',
sekarang mama-lah yang aku tanya
'kapan mama pulang'
dan terkadang mama menjawab
'bapak betah di sini ndok, kayaknya masih lama'.
Terkadang hanya pertanyaan 'kepulangan-lah' yang menjadi topik kami, memang komunikasi di antara kami sudah tak berjalan lancar seperti dulu. Aku sudah mengakalinya dengan segala cara yang bisa aku lakukan (mungkin usahaku kurang keras), namun tetap saja komunikasi ini seperti berada bersebrangan di antara tembok cina.
Hal itu terjadi sejak ikan asin yang kututupi rapat2 akhirnya tercium juga, tapi tak kuduga akan jadi begini akhirnya....
Sebulan yang lalu...
"Ta, malam ini kamu pulang gak?" suara mama-ku di telepon,
"Kayaknya nggak ma, aku mo nginep di lab mpe minggu depan" jawabku,
"Sampe minggu depan..hati2 ya?"
" Ya ma".
Pembohong laknat sedang beraksi, gumanku, yah aku tak menganggap semuanya adalah murni kebohongan. Aku memang harus menginap di lab untuk produksi, namun malam ini aku tak mau sendiri.
Seminggu setelah produksi,
"Ta, kamu mau pulang kapan?"
"Kayaknya besok ma. Ma, aku bawa temen ya"
"Ya, pulangnya jangan ngebut2 ya, kasian temen kamu, bisa turun berok kalo d boncengin sama kamu"
"Ha3..ya ma".
Sesampainya di rumah.
"Ma, ini Ella, temenku di lab. Bapak mana ma?"
"Ella y, saya ibunya Okta. Okta sering ngerepotin kamu y?"
"Enggak tante, malah aku yang sering nyusahin okta".
Mereka bersenda gurau ringan, sementara aku mencari bapak.
Kulihat bapak sedang mendengarkan tembang kejawen kesayangannya
"Pak, aku pulang"
"O koe wis pulang to ndok"
"Ya"
"Sama siapa pulangnya?"
"Sama temen pak"
berarti bapak tahu klo aku dah pulang dan bawa temen, pikirku.
"Rumah mo direnovasi, kamar kamu mo bapak perluas, jadi lemari2 kamu bapak pindahi ke kamar mbakyu mu" (kakakku sudah menikah dan tinggal dengan suaminya),
"O"
"Trus anu le, lemari mu yang kecil, yang ngangkat adekmu, trus jatoh, lemari ne ancur, isinya tak taroh di kamar mbakyumu juga. Gak ada yang bapak buang kok isisnya"
"O"
(tunggu!!!tunggu!!-seketika otakku di setrum listrik-lemari kecil itu kan tempat penyimpanan film2 dan buku2 koleksiku...).
Aku terdiam, aku tak bisa membiarkan otakku tak berpikir atau diam begitu saja sementara bapak sepertinya ingin menguliti rahasiaku satu per satu. Namun tiba2 bapak berkata,
"Le, bapak ma mamak mo pulang ke jogja, mo ngurusin lemah. Kamu jaga rumah ya. Adekmu juga dah gede, dah bisa jaga diri sendiri, katanya dia mau ngekost di deket kampusnya aja".
Aku tediam, sementara otak-ku kalang kabut mencari pelarian terbesar di celah2 sel syaraf. "Aku ma mamakmu berangkat besok pagi, gak usah dianterin, aku ma mamakmu naik taksi aja sampe stasiun".
"Ya pak".
'Ya pak' cuma itu jawabanku, jawaban yang sepertinya enggan bapak pertanyakan ataukah jawaban itu mengena untuk pertanyaan lain yang masih tersumbat di mulut bapak.
Bapak memang selalu begitu, menggantungkan pertanyaan pun jawaban. Sedari kecil, aku sangat dekat dengan bapak, sehingga bapak sepertinya sudah tahu tentang aku. Bapak hanya perlu bukti, dan nampaknya koleksi itu dijadikan bukti oleh bapak, tanpa perlu mempertanyakan atau mendengar kata 'iya, saya adalah seorang...'.
Perbincangan sore itu selesai dibicarakan setelah bapak bilang. "Aku arep istirahat le".
Sebulan sudah orangtuaku berada di jogja, terkadang aku berpikir 'mengapa bapak gak ngusir aku aja, biar aku yang pergi dari rumah ini' (kebanyakan nonton film-red). Terkadang aku berpikir 'apakah ini cara bapak, jadi bapak saja yang keluar dari rumah ini' atau terkadang aku juga berpikir 'ini cara bapak untuk mengikatku' ataukah 'bapak merasa bersalah karena telah membesarkan aku yang menjadi seperti ini'.
Terduduk melenguh, bermain dengan pikirku, namun saat asik berlari pikirku kembali pada sumbatnya. Beban yang makin menumpuk terasa kembali menggelayuti bahu ku (aku tak mau jadi orang yang pura2 kuat yang merengek sepanjang malam), tapi aku sedikit bingung dengan hal ini. Beban ini...karena aku menjadi triple worker atau karena kepergian orang tuaku. Lamunan ku melayang ke orang tuaku, sedang apakah mereka....
Dulu, biasanya mama ku yang bertanya
'kapan kamu pulang'
atau
'dah pindah kerja aja ya',
sekarang mama-lah yang aku tanya
'kapan mama pulang'
dan terkadang mama menjawab
'bapak betah di sini ndok, kayaknya masih lama'.
Terkadang hanya pertanyaan 'kepulangan-lah' yang menjadi topik kami, memang komunikasi di antara kami sudah tak berjalan lancar seperti dulu. Aku sudah mengakalinya dengan segala cara yang bisa aku lakukan (mungkin usahaku kurang keras), namun tetap saja komunikasi ini seperti berada bersebrangan di antara tembok cina.
Hal itu terjadi sejak ikan asin yang kututupi rapat2 akhirnya tercium juga, tapi tak kuduga akan jadi begini akhirnya....
Sebulan yang lalu...
"Ta, malam ini kamu pulang gak?" suara mama-ku di telepon,
"Kayaknya nggak ma, aku mo nginep di lab mpe minggu depan" jawabku,
"Sampe minggu depan..hati2 ya?"
" Ya ma".
Pembohong laknat sedang beraksi, gumanku, yah aku tak menganggap semuanya adalah murni kebohongan. Aku memang harus menginap di lab untuk produksi, namun malam ini aku tak mau sendiri.
Seminggu setelah produksi,
"Ta, kamu mau pulang kapan?"
"Kayaknya besok ma. Ma, aku bawa temen ya"
"Ya, pulangnya jangan ngebut2 ya, kasian temen kamu, bisa turun berok kalo d boncengin sama kamu"
"Ha3..ya ma".
Sesampainya di rumah.
"Ma, ini Ella, temenku di lab. Bapak mana ma?"
"Ella y, saya ibunya Okta. Okta sering ngerepotin kamu y?"
"Enggak tante, malah aku yang sering nyusahin okta".
Mereka bersenda gurau ringan, sementara aku mencari bapak.
Kulihat bapak sedang mendengarkan tembang kejawen kesayangannya
"Pak, aku pulang"
"O koe wis pulang to ndok"
"Ya"
"Sama siapa pulangnya?"
"Sama temen pak"
berarti bapak tahu klo aku dah pulang dan bawa temen, pikirku.
"Rumah mo direnovasi, kamar kamu mo bapak perluas, jadi lemari2 kamu bapak pindahi ke kamar mbakyu mu" (kakakku sudah menikah dan tinggal dengan suaminya),
"O"
"Trus anu le, lemari mu yang kecil, yang ngangkat adekmu, trus jatoh, lemari ne ancur, isinya tak taroh di kamar mbakyumu juga. Gak ada yang bapak buang kok isisnya"
"O"
(tunggu!!!tunggu!!-seketika otakku di setrum listrik-lemari kecil itu kan tempat penyimpanan film2 dan buku2 koleksiku...).
Aku terdiam, aku tak bisa membiarkan otakku tak berpikir atau diam begitu saja sementara bapak sepertinya ingin menguliti rahasiaku satu per satu. Namun tiba2 bapak berkata,
"Le, bapak ma mamak mo pulang ke jogja, mo ngurusin lemah. Kamu jaga rumah ya. Adekmu juga dah gede, dah bisa jaga diri sendiri, katanya dia mau ngekost di deket kampusnya aja".
Aku tediam, sementara otak-ku kalang kabut mencari pelarian terbesar di celah2 sel syaraf. "Aku ma mamakmu berangkat besok pagi, gak usah dianterin, aku ma mamakmu naik taksi aja sampe stasiun".
"Ya pak".
'Ya pak' cuma itu jawabanku, jawaban yang sepertinya enggan bapak pertanyakan ataukah jawaban itu mengena untuk pertanyaan lain yang masih tersumbat di mulut bapak.
Bapak memang selalu begitu, menggantungkan pertanyaan pun jawaban. Sedari kecil, aku sangat dekat dengan bapak, sehingga bapak sepertinya sudah tahu tentang aku. Bapak hanya perlu bukti, dan nampaknya koleksi itu dijadikan bukti oleh bapak, tanpa perlu mempertanyakan atau mendengar kata 'iya, saya adalah seorang...'.
Perbincangan sore itu selesai dibicarakan setelah bapak bilang. "Aku arep istirahat le".
Sebulan sudah orangtuaku berada di jogja, terkadang aku berpikir 'mengapa bapak gak ngusir aku aja, biar aku yang pergi dari rumah ini' (kebanyakan nonton film-red). Terkadang aku berpikir 'apakah ini cara bapak, jadi bapak saja yang keluar dari rumah ini' atau terkadang aku juga berpikir 'ini cara bapak untuk mengikatku' ataukah 'bapak merasa bersalah karena telah membesarkan aku yang menjadi seperti ini'.
Subscribe to:
Comments (Atom)