Wednesday, February 25, 2009

26 Februari 2009. 19.30 WIB

Hari ini aku bertemu dengannya, setelah lama kami tak bertemu, dan yang mengejutkan diriku adalah perasaanku. Perasaanku tak gila seperti dulu, saat aku masih menginginkannya sangat, saat aku masih berharap dia kembali padaku. Ya, aku masih mencintainya namun rasa itu kini seperti hanya mengendap dan tenang. Tak seperti dulu, dimana rasa cinta ini layaknya ombak dihantam badai yang siap menerjang apapun yang menghalang. Dan kini, aku pun tak terlalu menginginkannya amat sangat.

Entah mengapa diri ini merasa, ia lebih baik tanpa diriku di sampingnya. Aku dulu sangat ingin ia menuju ke arah yang lebih baik (menurutku), namun aku yang disampingnya hanya memegangnya atau mendorongnya, sehingga ia meluap dan meledak. Ternyata aku salah dan ‘hal dalam mengetahui ke-salah-an’ itu aku terlambat. Ia lebih berkembang dengan caranya.
Aku tertawa mengejek diriku ‘siapa kamu, sok tahu dengan dirinya’. Aku yang mencintainya selama delapan tahun hanya mengenal sekelumit dirinya saja, ternyata waktu tak menjaminnya yang menjaminnya ialah pemahaman. Yah, mungkin aku kurang memahaminya. Dan aku memang tak pantas untuk dirinya. Tak ada celah untukku tuk mencoba yang kedua kalinya, ia telah menutup hatinya untukku. Aku tak menyalahkan dirinya akan hal itu karena hal itulah kemauanku, karena aku tak mau diombang ambing atas suatu yang tak jelas.

26 Februari

Orang tua ku mungkin masih melihat diriku sebagai anak kecil mereka, yah mungkin dalam pandangan mereka aku tetaplah anak kecil yang suka melawan dan nantinya akan rujuk kembali. Mungkin kini pun mereka berpandangan seperti itu. Aku tak pernah berkata keberatan akan pemikiran itu karena toh pemikiran itu hanyalah asumsi ku saja. Tapi jika asumsi tersebut bukan ucapan yang serta merta keluar layaknya karbon dioksida. Asumsi itu bedasarkan pemikiran, pengamatan dan insting dari seorang anak.
Jika hal yang kujalani kini merupakan salah satu pemberontakanku, di mata mereka, maka suatu hari aku akan rujuk kembali sehingga kini mereka tak perlu khawatir yang berlebihan. Tapi apakah ini salah satu pemberontakanku?

Memang pada perjalanan ‘pemberontakan’ ini, aku sempat terpeleset. Tapi hal itu bukan berarti pilihanku buruk kan? jika sesuatu yang buruk terjadi saat aku menjalani pilihanku, bukan berarti pilihanku buruk kan? (aku menyakinkan diriku). Lagipula terpelesetnya aku saat itu adalah kesalahanku, akulah yang tak melihat jalan dengan jelas hingga tak melihat apa yang ada di depanku.