Ku tegakkan tubuhku di antara rapuhnya keyakinanku.
Ku coba untuk bernapas di antara sesaknya dadaku.
Buliran hangat mulai membelai dinginnya pipiku.
Ia meretas tersembunyi malu di antara air shower yang menderu lembut.
Pagi itu, aku bertanya pada tubuhku yang kesepian, sudah puaskah ia? Ataukah ia ingin mencoba lagi? Hampa..mungkinkah kehampaan dari tubuh ini begitu hebatnya hingga semua logika runtuh dengan singkat tanpa mencoba melawan. Ku coba kembali bertanya pada tubuh ini, namun tetap saja, tak ada jawaban. Ku biarkan rutinitas tubuh ini menjawabnya bersamaku.
Ku pandang sosok manusia indah meringkuk di tempat tidur, yang mencoba menolak datangnya pagi. Ku kecup keningnya lalu ku tinggalkan ia bersama mimpi manisnya di tempat tidurnya yang hangat, atau tubuh hangatnya yang menghangatkan.
Ku dorong motor perlahan dan menyalakannya di satu blok lebih jauh dari rumahnya agar tak membangunkannya. Ku coba menarik semua cahaya yang bisa kudapat untuk mendorongnya, sambil melihat jam tanganku..jam 3 pagi.
Sepanjang perjalan menuju rumahku, muka manisnya menggantung di khayalku, mempermainkan perasaanku. Perasaan yang telah dihempas kalah oleh masa lalunya, yang tetap setia menunggu di ambang hatinya, mencoba menyusup setiap kali ia membuka celah kecil. Setahun telah kucoba namun tetap saja perasaan ini terpental kembali di ambang hatinya. Hanya tubuh ini yang diterima oleh tubuhnya dengan hangat.
Hal itu bukanlah suatu petualangan namun tarian kesepian dari tubuh yang selalu terdesak keperluan biologis dan nafsu yang tak pernah ku coba belenggu, yang mendesak logika untuk membungkam mulutnya dan mengunci iman di sudut terbawah hati.