Tuesday, September 15, 2009

Joke or mock

Aku terbangun dari tidurku yang sangat tidak nyenyak, pukul 10 pagi. Aku tak bisa tidur lelap tadi malam, aku telah mencoba membaca ataupun menulis namun aku tetap terjaga. Kubiarkan tubuhku terpampang dari pergantian detik ini tanpa melakukan apapun, hanya tanda kehidupan yang kutunjukkan. Aku dapat mendengar suara malam yang berganti pagi, suara jangkrik merenung hingga suara ibuku menangis di dalam shalat malamnya. Pikiranku malam itu berlari ke kenangan masa kecilku, ibuku selalu membacakan ayat2 suci Al Quran untuk menjagaku ke alam mimpi. Hal itu terulang kini, saat ibuku mulai membacakan ayat2 Al Quran, alam mimpi mulai menjamahku.
Hari minggu ini kuputuskan untuk tetap terlelap dalam selimut hangat. Sepuluh menit berlalu namun tak kunjung jua kantuk menghampiriku padahal lelah sekali rasanya badan dan otak ini.

Lamunanku berlari ke pembicaraan kemarin sore, sesaat setelah aku kembali dari mengajar salah satu murid privatku. Sore itu, semua keluargaku berkumpul hanya untuk minum teh bersama dan berbicang. Pembicaraan diawali dari pertanyaan singkat ibuku, “dari mana?”, diiringi senyum curiga dari kakak perempuanku. Pertanyaan itu kujawab dengan singkat “ngajar”. Lalu pembicaraan mengarah ke arah perkawinan, aku terlalu lelah untuk memperhatikan bahkan mendengarkan pembicaraan mereka. Sehingga kubiarkan suara-suara kecil bermain dikesadaranku. Seringkali, jika aku terlalu enggan untuk mendengar maka akan ada suara lain yang seakan mengisi telingaku. Suara2 itu seperti memanjakan otakku dari dunia luar. Suara itu mulai menghilang ketika kulihat semua mata tertuju padaku.

Kesadaranku dari dunia nyata mulai terkumpul cepat ketika melihat ibu memandangiku tajam, untuk meredakan pandangan itu kukeluarkan senyumanku. “Klo kamu mah dek, sama murid mu itu aja” kata ibuku, “he? Muridku tadi cewek” jawabku “nah, malahanne” (nah memang begitu) jawab ibuku singkat. Aku terdiam tak menjawab lagi, walaupun ibuku telah tahu dengan pemilihanku namun baru kali ini ibuku mengatakan hal itu di hadapan umum.

Hingga pagi ini, aku belum berbincang lagi dengan ibu, tapi apakah hal itu perlu diperbincangkan? Aku memutuskan untuk tidak bertanya, kubiarkan saja kalimat sore itu menjadi jawaban yang bertanya.

Monday, September 7, 2009

Namanya juga wanita...

Wanita...

Saat kuliah kami selalu bersama, seperti layaknya semut yang hidup dalam koloni. Lima wanita dan satu pria yang selalu bersama, menangis bersama dan tertawa bersama, menghadapi dunia kuliah bersama-sama. Waktu berjalan hingga tak terasa, kami mulai menghadapi dunia kami sendiri-sendiri, dunia kerja. Walaupun kami sering berkumpul satu bulan sekali namun tetap saja intensitas itu berbeda dengan saat kami berada di kampus. Kami, masing-masing, mulai beradaptasi dengan dunia kerja, rekombinasi sifat mulai terjadi. Hingga saat bertemu kembali ada rasa ‘berbeda’. Hal itu alami, dan memang mungkin terjadi. Seperti kata seorang teman, manusia biasanya akan berubah sifatnya atau penampilannya saat ia dihadapi lingkungan baru, karena ia perlu menyusaikan diri. Ia berusaha survive di tempat barunya kini, dan mungkin saja sifat2 di lingkungan barunya akan berekombinasi atau malah menggantikan sifatnya yang dulu (semasa kuliah). Mungkin saja di tempat barunya ia menemukan koloni semut baru dan ia bergabung ke dalamnya, sehingga terintegrasilah sifat koloni baru tersebut ke dalam dirinya.

Saat memulai masa kerja, kita juga akan dihadapkan pada sosialisasi lingkungan. Lalu berlakulah hukum siklus masyarakat pada umumnya. Seperti layaknya siklus lahir-bayi-balita-anak2-remaja-dewasa-tua-manula-mati, siklus sekolah-kuliah-kerja-menikah-punya anak-punya cucu-mati pun juga berlaku sama di masyarakat. Saat dihadapkan pada siklus itu, terkadang saat dimana pula kita sedang berjalan sendiri di dunia kerja yang terasa statis, sehingga kadang rasa kesepian hadir.

Saat kesepian hadir, mulailah sang wanita melihat sekelilingnya. Ada yang masih dapat menutupi lubang kesepian itu dengan menggapai teman namun ada juga yang merasa teman tak bisa menutupi rasa kesepian ini lagi.

Saat teman tak bisa lagi menutupi kesepian ini, maka terjadilah suatu situasi. Situasi di mana koloni mulai sibuk dengan dunia mereka masing2. Dunia cinta. Di usia 20 ke atas, wanita seperti kelinci kelinci mungil yang mulai mencari cinta, mencari seseorang untuk melindungi mereka, menemani mereka, mengayomi mereka, menyayangi mereka, memperhatikan mereka dan mencintai mereka. Seseorang yang matanya tertuju untuk sang wanita, sehingga sang wanita luluh terhadap seseorang tersebut.

Lalu datanglah masalah baru lainnya, orang yang mereka cintai (objeknya). Siapakah objek itu? Cintakah ia pada si subjek? Suku apakah ia? Agama apakah ia? Bagaimana fisiknya? Bagaimana orang tuanya? Bagaimana latar belakang keluarganya? Bagaimana jalan pemikirannya? Bagaimana pekerjaannya? Dan semua pertanyaan tentang perbedaan dan kondisi yang ada.

Datang pula pertanyaan untuk si subjek. Benarkah ia mencintai si objek? Ataukah rasa ini hanya untuk menutupi rasa kesepian hingga diperlukan sesuatu (yaitu objek) untuk dilamunkan atau dipikirkan. Hingga terkadang si subjek tenggelam sendiri di suasana semu yang sesungguhnya dibuat oleh pemikiran ia sendiri.

Atau bisa saja, keyakinan dalam mencintai seseorang (objek) menjadi kenyataan. Hal tersebut dipengaruhi faktor subjek, objek, kondisi, dan...Tuhan.
Mari melihat manusianya saja dulu.

Bisakah dua rasa yang bergetar sama, dapat bersatu? Menurut saya, belum tentu. Ada beberapa faktor yang menjadi pembatasnya, salah satunya ialah komunikasi-antar manusia. Seperti kata “bagaimana ia bisa tahu, kalau ternyata kamu mencintainya, jika kamu tidak mengatakan padanya”. Terkadang memang tanda2 cukup, namun manusia kan banyak tipenya, ada juga manusia yang takut untuk menyimpulkan tanda2, ia perlu kepastian kata2 untuk bertindak lebih lanjut.

Ada juga subjek yang takut untuk menyatakan apa yang ia rasa pada si objek, karena takut jika ditolak. Ketakutan itu alami, namun sampai kapankah rasa takut itu akan menyelimuti gelora rasa yang ada. Apakah tidak lebih takut lagi jika kau melewatkan seseorang yang berarti bagimu, yang juga menyimpan rasa yang sama. Ataukah dibalik ketakutan itu ternyata ada harga diri yang tinggi? Jika jawabannya ialah ya, maka jangan pernah salahkan cinta atau si objek. Hargailah pilihanmu (jika kau mau menyalahkan diri sendiri, itu hak dirimu), walaupun biasanya akan terasa sakit...tapi ada juga yang merasakan kemenangan (?).