Saat berkumpul
dengan teman kuliah,setelah 2-3 tahun bekerja, biasanya ada pembicaraan singkat
tentang pencapaian. Pencapaian tersebut, biasanya...tidak jauh2 dari
jodoh-materi-melanjutkan jenjang akademis.
Tiga tema
tersebutlah yang akan menjadi pesan atau pembicaraan berantai.
Seperti :
Si A menikah
dengan si B. Si C mantan si A, gajinya 2digit. Si B, nerusin S2 di benua
eropa...and so on and on...syalala..
Reaksi saya
biasanya termenung,ikut ketawa ketiwi, atau terlena dengan pikiran saya sendiri
(denial..hop hop).
Karena, saat yang
lain menapaki batu bata untuk membangun masa depan mereka dengan kecepatan
50batu bata/jam, saya merasa, saya hanya berkutat dengan kecepatan 30batu
bata/jam. Apalagi saat tubuh ini tidak berkorelasi positif, saya merasa kecepatan
saya hanya 10batu bata/jam.
Merasa
tertinggal...ya.
Saya merasa, empat bulan terakhir ini, merupakan titik
balik bagi saya.
Setelah enam bulan
menahan rasa sakit berkepanjangan pada bahu kanan saya. Hingga pada bulan Juli,
serangan rasa sakit itu mulai meningkat bahkan membuat saya susah bernafas dan
berdiri. akhirnya saya menyerah, saya memutuskan untuk menerima saran dokter, operasi
skoliosis idiopatik.
Seminggu setelah
operasi, saya merasa depresi. Saya mengerti teori baik buruknya operasi ini,
namun saya belum mempunyai cukup kekuatan untuk menatap 'masa penyembuhan'.
Seperti bayi besar, bahkan untuk hal2 kecil pun, saya harus bergantung pada
orang lain.
Walaupun, beberapa
orang yang tak lelahnya memberikan saya semangat dan berkata 'kamu juga maju
kok,maju dalam hal kesembuhan kamu'. Namun, entah kenapa rasa tertinggal tetap
menggelayuti pikiran saya.
Apakah mungkin
karena tiga aspek di atas tadi. Tiga aspek yang menjadi 'pengukur'
pencapaian...
Pengukuran, yang memerlukan suatu tolak ukur.
Tolak ukur yang lebih lazim, dari tidak ada menjadi
ada. Padahal sesungguhnya, Tolak ukur itu merupakan dari suatu titik (acuan) ke
titik lain (tujuan).
Saya teringat
kembali dengan kata2 sahabat, materi itu penghias, bonus atas usaha kita dalam
mengejar pasion kita, cita2 kita, atau dari bekerja.
Bekerja (yang
diasumsikan suatu pengorbanan) akan mendapatkan reward, dan biasanya menjadi
suatu kebanggaan. Tak apa-apa, karena itu juga merupakan suatu penghargaan
terhadap diri, kerja keras-cerdik, pengorbanan, dan loyalitas.
Pasion kita pun adalah
suatu yang dinamis; pematangan diri-karir-pandangan hidup akan berpengaruh
dalam hal tersebut.
Kita perlu sebuah
'tempat singgah' di tengah perjalanan panjang tersebut, dan merenungkan kembali
perjalanan, acuan, dan juga tujuan.
Dalam 'bentuk dan
kondisi' apapun. Sebagian orang, tetap dengan menjalani rutinitas (ada yang
biasa saja namun ada pula yang merasa seperti robot) dan ada pula yang perlu
menepi sesaat.
Mungkin saat ini
adalah saat saya harus menepi sesaat menuju 'tempat singgah'. Bukan berarti
saya berhenti untuk 'maju', walaupun fisik saya 'behenti' sesaat.
Semangat
meng-upgrade diri kita, terus dan terus.
Karena
Kehidupan itu
rangkaian paralel-anti paralel yang panjang, namun waktu hidup kita...hanya
Tuhan yang tahu.
Terus berusaha
bekerja keras-cerdik menggapai pasion-cita2-tujuan. Semangat!!