Saturday, November 24, 2012

Takut


Takut..

Hal ini merupakan hal umum yang dapat kita lihat, rasa, bahkan endus. Hal tersebut jugalah yang dapat mengikat erat kaki kita hingga tak melangkah, menutup mata kita hingga samar pandangan,  mengacaukan insting hingga paranoid meraja.


Takut

Membangun sanggahan akan logika
Mengacaukan fakta dengan angan
Mengancam realita dengan duka
Menarik dunia agar iba



Tidak teman, kita lebih kuat dari hal itu semua.
Kita akan melawannya dengan berjalan tegap menapaki realita dunia ini, bersenjatakan logika yang digenggam dengan fakta. 

Jangan biarkan ia mengambil semangat hidup kita!  

Jangan biarkan ia menjadi panah yang menikam tubuh kita dalam medan perang, jadikan ia senjata dan tameng yang melindungi kita dari serangan yang datang, maupun yang akan datang.

Pengukuran


Saat berkumpul dengan teman kuliah,setelah 2-3 tahun bekerja, biasanya ada pembicaraan singkat tentang pencapaian. Pencapaian tersebut, biasanya...tidak jauh2 dari jodoh-materi-melanjutkan jenjang akademis.
Tiga tema tersebutlah yang akan menjadi pesan atau pembicaraan berantai.
Seperti :
Si A menikah dengan si B. Si C mantan si A, gajinya 2digit. Si B, nerusin S2 di benua eropa...and so on and on...syalala..

Reaksi saya biasanya termenung,ikut ketawa ketiwi, atau terlena dengan pikiran saya sendiri (denial..hop hop).

Karena, saat yang lain menapaki batu bata untuk membangun masa depan mereka dengan kecepatan 50batu bata/jam, saya merasa, saya hanya berkutat dengan kecepatan 30batu bata/jam. Apalagi saat tubuh ini tidak berkorelasi positif, saya merasa kecepatan saya hanya 10batu bata/jam.

Merasa tertinggal...ya.

Saya merasa, empat bulan terakhir ini, merupakan titik balik bagi saya.

Setelah enam bulan menahan rasa sakit berkepanjangan pada bahu kanan saya. Hingga pada bulan Juli, serangan rasa sakit itu mulai meningkat bahkan membuat saya susah bernafas dan berdiri. akhirnya saya menyerah, saya memutuskan untuk menerima saran dokter, operasi skoliosis idiopatik.

Seminggu setelah operasi, saya merasa depresi. Saya mengerti teori baik buruknya operasi ini, namun saya belum mempunyai cukup kekuatan untuk menatap 'masa penyembuhan'. Seperti bayi besar, bahkan untuk hal2 kecil pun, saya harus bergantung pada orang lain.  

Walaupun, beberapa orang yang tak lelahnya memberikan saya semangat dan berkata 'kamu juga maju kok,maju dalam hal kesembuhan kamu'. Namun, entah kenapa rasa tertinggal tetap menggelayuti pikiran saya.

Apakah mungkin karena tiga aspek di atas tadi. Tiga aspek yang menjadi 'pengukur' pencapaian...

Pengukuran, yang memerlukan suatu tolak ukur.
Tolak ukur yang lebih lazim, dari tidak ada menjadi ada. Padahal sesungguhnya, Tolak ukur itu merupakan dari suatu titik (acuan) ke titik lain (tujuan).

Saya teringat kembali dengan kata2 sahabat, materi itu penghias, bonus atas usaha kita dalam mengejar pasion kita, cita2 kita, atau dari bekerja.  

Bekerja (yang diasumsikan suatu pengorbanan) akan mendapatkan reward, dan biasanya menjadi suatu kebanggaan. Tak apa-apa, karena itu juga merupakan suatu penghargaan terhadap diri, kerja keras-cerdik, pengorbanan, dan loyalitas.

Pasion kita pun adalah suatu yang dinamis; pematangan diri-karir-pandangan hidup akan berpengaruh dalam hal tersebut.

Kita perlu sebuah 'tempat singgah' di tengah perjalanan panjang tersebut, dan merenungkan kembali perjalanan, acuan, dan juga tujuan.
Dalam 'bentuk dan kondisi' apapun. Sebagian orang, tetap dengan menjalani rutinitas (ada yang biasa saja namun ada pula yang merasa seperti robot) dan ada pula yang perlu menepi sesaat.

Mungkin saat ini adalah saat saya harus menepi sesaat menuju 'tempat singgah'. Bukan berarti saya berhenti untuk 'maju', walaupun fisik saya 'behenti' sesaat.
Semangat meng-upgrade diri kita, terus dan terus.       
Karena
Kehidupan itu rangkaian paralel-anti paralel yang panjang, namun waktu hidup kita...hanya Tuhan yang tahu.

Terus berusaha bekerja keras-cerdik menggapai pasion-cita2-tujuan. Semangat!!