Ceritakan padaku tentang mereka
Yang mengubah arah-nya
Meninggalkan langkah mereka
Menuju arah yang baru
Tidak ada yang salah
Keputusan telah dibuat
Tak tahu apakah Yang Kuasa tunjukkan padanya
Tak mengerti apakah yang mereka janjikan pada-Nya
Dalam baluran dosa
Dalam cengkraman waktu yang tersisa
Saat dimana detik menghamparkan jejak
Dari pijak langkah hingga rangkak rebah
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Sunday, December 9, 2012
Sunday, December 2, 2012
Wednesday with Dina
Sabtu sore,
bro datang ke rumah, pembicaraan panjang kami di BBM akhirnya saya tuangkan
dalam blog ini dengan judul ‘Pengukuran’. Terima kasih buat Bro yang selalu
menerima ‘rengekkan’ ini dengan tangan terbuka.
Namun
ternyata ‘Pengukuran’ masih berlanjut.
Rabu malam,aku
tak menduga Dina datang ke rumah. Dina adalah sahabat dan tetangga-ku (di Jakarta), keluarga kami saling mengenal
baik satu sama lain. Kami satu kelas pada saat Sekolah Dasar, dari kelas 1
hingga kelas 6. Satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan satu kelas saat kelas
3. Satu Sekolah Menengah Atas (SMA), dan satu kelas saat kelas 3. Bahkan satu
Universitas, namun kami mengambil jurusan yang berbeda pun Fakultas yang sama.
Saat ini,
Dina bekerja pada perusahaan swasta besar (yang ber-inti di Jepang) yang
menuntutnya untuk lebih banyak menghabiskan waktunya dalam menyelesaikan
pekerjaan, apalagi setelah ia dipromosikan menjadi Manajer. Sedangkan aku, semenjak
aku berpindah kota, aku memang sempat hilang kontak dengan teman-temanku di
Jakarta.
Saat-saat
aku pulang ke Jakarta, bahkan hari raya pun, kami tak pernah bertemu. Sibuk
dengan ‘dunia kerjanya’ masing-masing, hal itulah yang selalu aku kemukakan
saat Ibu-ku atau ibu-nya bertanya.
Dan saat
ini, Dina telah duduk di kursi ruang tamu ku dengan senyum khasnya yang selalu
membuatku tertawa, “boleh makan es krim kan ya?” tanyanya lugu sembari
mengangkat eskrim yang ia bawa.
Ya, pertanyaan itulah yang membuka kembali
pembicaraan kami. Kami saling bertanya “mengapa kami hilang kontak ya?” dan
jawabanku sama “ya, mungkin karena kita sibuk dengan dunia kerja kita
masing-masing” jawaban klise dari ku.
Dina
menyenderkan tubuhnya di kursi, “sebenernya gak sibuk-sibuk amat sih…tapi klo
udah sampai rumah jam 9 atau 10 an malam, udah bawaannya pingin tidur aja,
capek kejebak macet doang, berangkat dari rumah jam 6 pagi. Sabtu dan Minggu
juga pengennya di rumah aja, itu juga klo gak ada panggilan lembur. Iya ya…” ia
seakan bercerita dalam penat yang menghimpitnya dalam roda karyawan kantoran .
Dina
menceritakan tolak ukur hingga titik di mana ia berada sekarang, pencapaian dan
kejatuhannya. Sering kali, aku menangkap matanya yang nyatanya tak ditempati
pikirannya. ‘Pengukuran’ pun kembali berulang dalam
benakku, tak apa, saat sang pencerita bercerita akan pengukuran terhadap
dirinya sendiri itu adalah suatu titik di mana sang pencerita kembali
menerawang tahun-tahun yang telah dilaluinya.
“Belum” jawabku.
Sejak SD hingga SMA, kami
seringkali bertukar buku bacaan dan membuat cerita detektif bersama…indahnya
masa itu.
“Baca ya, bagus bukunya. Aku udah jarang baca buku sekarang…”
“Sip,
kebetulan juga lagi perlu bacaan lagi. Sama…aku juga udah gak terlalu sering
baca lagi Na, mentok-mentok baca jurnal”.
“Makanya, ini buku bagus,
mengingatkan kita akan hidup, tapi aku belum sempat baca full sih, baru sampe
halaman 15 kayaknya….ya ampun….aku ngapain aja ya…” Dina melayangkan pertanyaan
retorik diiringi krenyit di dahinya.
Malam
semakin larut, sehingga Dina pamit untuk pulang dan kami tak lupa untuk
bertukar nomor handphone, ternyata nomor lama Dina beserta handphonenya raib
ditelan ganasnya angkutan umum Jakarta di malam hari.
Kurebahkan
tubuhku pada hangatnya kasur kamar Ibuku, sebuah pesan whatsapp muncul pada
layar handphoneku, kubuka dan ternyata dari Dina.
Dina: Maap
ya, tadi kok aku kayaknya ceritanya pamer banget ya… Ih,kenapa sih aku jadi
begini..Maap ya, apalagi kondisi kamu lagi begitu, kok aku gak peka banget ya.
Aku
tersenyum…
Aku : Santai aja
Na, namanya juga udah lama gak ketemu pasti cerita-cerita lah udah sampai mana Kita
sekarang J
Subscribe to:
Comments (Atom)