Tuesday, October 8, 2013

Gemerisik angin di sore hari

Mati lampu

Sejak kemarin malam hingga sore ini, pemadaman masih terjadi. Walaupun ada pemberitahuan sebelumnya, genset kantor yang rusak dan sedang diperbaiki, menjadi penyebab aku dan Adi duduk menikmati langit sore dan gemerisik angin sambil menunggu jam pulang kantor.

Adi : "Sering banget ya pemadaman di kota ini, pantesan gak terlalu produktif "
Saya : "Aduh...kalo mau dijawab, entar kita ngebahasnya panjang nih Bang..."
Adi : "Wah...saya tahu, kamu pasti mau ngomongin keadilan pembangunan dan kebijakan pembangunan infrastruktur antara pulau jawa dan pulau lainnya"
Saya : "Nah kan... Nampaknya Abang udah mau nyetir saya ke arah sana nih...."
Kami tertawa bersama.
Kami berdua, sama-sama perantau dari pulau Jawa. Lahir dan besar di Pulau Jawa, sehingga saat kami ditempatkan di luar pulau Jawa, kami hanya bisa berusaha sekuat kami dengan sering menghela nafas atas perbedaan fasilitas yang ada.

Bang Joni datang mendekati kami, masih asik menikmati rokok di jemarinya sambil bernyanyi 'Bang Toyib'.

 Adi : "Kangen istri kau Jon"
Joni : "Hh... Seenak-enaknya tanah orang, paling enak rumah sendiri Lay"
Adi : "Ha3, jadi gak pa-pa ya, rejeki gak seberapa asal ngumpul sama istri"
Joni : "Iyalah Lay"
Saya : "Ya.... asal jangan istri ngambek aja ngeliat gaji..."
Joni dan Adi : "Ha3"
Joni mulai menyalakan batang rokok barunya.
Adi: "Kau ini, masih kuat kali rokokmu, Lay. Apalah artinya kemarin kau publish ke-haram-an merokok di blog-mu"
Joni : "Ha3. Itu kan pembelajaran buat orang-orang lain"
Adi : "Halah...kau ini Lay. Contoh Cumi sat
u ini, berhenti dia merokok saat ada fatwa haram"
Saya : "Ha3. Bukan Bang, saya berhenti karena bronkitis saya kumat"
Joni tertawa tergelak.
Adi : "Halah...kau ini... Kalau baru mau mati saja, kau baru insaf"
Joni : "Tuh...bagusan saya lah Lay, konsisten"
Adi : "Halah...kau ini juga Lay. Tak perlu lah aku kotbah"
Joni : "Tak perlu lah Bang, aku sudah tahu pun aku tahu resikonya, tapi ini pilihanku Bang"
Kami bertiga terdiam saat angin angin mulai ditemani oleh rintik hujan. Kota ini memang dikelilingi oleh pantai, sehingga langit biru sering sekali ditemani dengan rintik hujan serta hembusan angin pantai.

Joni : "Aih...bikin makin aku kangen 'ma istriku"
Adi : "Kangen kau, ambigu, Lay"
Saya : "Kau ini, sore-sore kangen, habis sabun kau nanti malam"
Joni : "Ah...kau masih singgle Mi, jadi kau tak mengerti ke-kangen-an aku dan Adi"
Adi : "Hati-hati Lay, singgle bisa aja status dia di sini, tak tahu pula kita dia di Pulau Jawa"
Joni : "Jangankan di Pulau Jawa, Lay, di kost-an dia aja, tak tahu kita"
Adi : "Nah iya Lay, waktu aku antar dia pulang. Dia langsung 'disambut' sama orang-orang di kost itu"
Saya : "Haih... Ada juga saya di bully Bang"
Joni : "Masih di bully? Se-tua kau ini?"
Joni tertawa.
Adi : "Biasanya kalau di bully, berarti dia suka kau Mi"
Saya : "Halah, ajaran sesat itu Bang. Jika dia mem-bully saya, berarti dia tidak menghormati saya"
Joni : "Macam gila hormat-lah itu Mi"
Saya : "Bukan gitu Bang. Apapun kondisinya menurut saya, menyakiti perasaan seseorang, baik yang itu kita cintai, berarti tidak menghormati orang itu Bang. Sama aja Bang kasusnya sama ngajarin cewek, kalo ada cowok yang nyakitin kamu, berarti dia suka sama kamu. Nah...masochist dah"
Adi : "Iya...bolehlah, tapi cewek di kost-an kau itu, kelihatan kali mencari perhatian kau"
Joni : "Masih kecil Mi, pemikiran belum matang, dan mungkin dia juga diajarin seperti yang tadi kau bilang, entah sama keluarganya atau temannya"

Langit mulai menampakkan semburat senja, mengingatkan kami akan waktu pulang kantor.

Joni : "Pulang...pulang...Lay"
Adi : "Ngapain kau pulang buru-buru Lay, kost-an juga gak ada orang"

Joni : "Anginnya enak Lay, tapi bikin aku masuk angin Lay"