Tuesday, August 28, 2007

?

emosi manusia dapat diatur layaknya tombol on off atau low high, mungkin kembali ke statement "kontrol emosi". tidak semua manusia dapat melakukannya. biasanya hal tersebut terjadi dengan adanya kontrol dari logika atau ketakutan yang berlebih.
tapi lebih menyenangkan jika emosi terlepas, biarkan hati memeluknya, membawanya ke ekspresi diri.
terima kasih untuk semua teman yang mengajarkan emosi kepadaku, satu poin yang aku sadar, aku merasa "aku hidup". terima kasih untuk cintaku yang membiarkan aku mencintainya dan mencintaiku. aku merasa "benar2 hidup". terima kasih tuhan yang telah mempertemukan kami, terima kasih tuhan yang telah memberikan aku hidup.

pola

Setiap manusia mempunyai suatu pola, emosi mereka, tingkah laku mereka, kata2 mereka, bahkan keputusan2 mereka.
semuanya terpola, layaknya suatu angka yang ditambahkan dengan angka lainnya sehingga menghasilkan angka lainnya, atau memainkan angka2 itu sehingga kembali menjadi angka tersebut. pola...
menjilat penjilat
membunuh pembunuh
bunuh diri
menghasut
menindas
memperkosa
semuanya terpola (atau berpola?mungkin lebih dapat disebut terpola)
mencintai...apakah itu pola? entah, susah dirumuskan, atau rumusnya ialah cinta+cinta=cinta (menurut saya bukan).
ataukah pola itu kembali pada manusia yang berlaku?jadi pola disini hanya suatu pola yang umum. lihat, rasakan, pahami maka mungkin Anda juga telah melihat pola2 itu.

Monday, August 27, 2007

tempat

jiwa dan raga ini mencari tempat
tempat dimana tak ada kepura-puraan untuk menutup diri
tempat dimana diri ini dapat berkata "aku" tanpa hambatan
tempat dimana hati tersenyum membuka

apakah aku sudah menemukan tempat itu?sadarkah aku?
ataukah aku masih mencarinya?ataukah aku harus menciptakannya?
mungkin karena adanya suatu proses maka terjadi suatu kejadian atau hasil
bagaimanapun juga setelah satu gunung terlewati masih ada gunung yang lain yang harus dilewati, entah itu sama tinggi, lebih rendah, atau lebih tinggi. mungkin juga gunung yang sama, toh jika kita telah mengertti konsep dari suatu gunung maka gunung manapun yang akan didaki akan lebih terarah (balik lagi ke personality anda).
pernah terasa diri ini berada pada satu gunung yang sama, satu titik yang sama (stuck), mencoba mencari jalan keluar namun tak ada cahaya terang, merenung...membalikkan badan untuk mengamati tapak-tapak yang tak lekang, menyusuri jejak2, hingga menemukan suatu titik temu, titik yang menjadikan kata "stop" menjadi tak bergerak. terlihat.
walaupun pernah juga titik itu tak terlihat, datanglah seorang sahabat yang membantu membaca jejak2 itu,memaknakan tiap jejak layaknya dukun, menafsir langkah selanjutnya, berdebat mengenai selanjutnya. langkah selanjutnya...yang mana?di mana?ke mana?bagaimana?

mungkin juga ada yang berkata bahwa itulah tingkatan, tingkatan yang harus dilalui satu persatu, sendiri atau bersama, senyum dan tangis, emosi memainkan logika, kesadaraan dibius lamunan.

Friday, August 3, 2007

Word puzzles

Terima kasih

Untuk semua tanda tanya yang menganga
Untuk semua mata yang menatap hina
Untuk semua detik yang menari ria
Untuk semua rasa yang ada
Untuk semua sepi yang hampa

Terima kasih


Waktu

Tak pelak pula kutampis semua curiga
Tak kuasa jua aku menentukan asa
Berhembuslah waktu
Khianatilah aku

Atau

Kau biarkan saja aku bergelimangan senang
Tanpa menatap ke depan
Tak memperhatikan mata harimau menatap tajam
Tak mempedulikan kukunya yang siap mencakar


Malam

Malam...jangan lagi kau khianati aku dengan sepimu
Jangan lagi kau biarkan aku membuka belenggu nafsuku
Jangan lagi kau racaukan otakku
Karena aku hanya akan menyakiti Cintaku

Malam...biarkan aku menemanimu dalam temaram
Biarkan saja aku termanggu menunggu matinya hatiku
Kan kukuburkan ia di relung hati terdalam
Sedalam rasa cinta ini menghanyutkan diriku

Malam..telan aku dalam sepimu
Jangan biarkan aku mencari langit birumu
Jauhkan celah mu
Peluk aku dalam jubah kelammu

Malam! Jangan kau curi rakus ilusiku
Malam! Jangan kau tampar hambar aku dengan egomu
Malam! Jangan kau khianati aku
Malam! Tetaplah bersamaku

Malam...teman ataukah lawan?


Badai

Gemuruh di dada ini tak tertahankan lagi
Bahkan sunyi pun tertunduk olehnya
Ia mengamuk bagaikan badai
Menenggelamkan semua yang ada

Tanya pun menggantung di bibir
’Dapatkah kau menenggelamkan rasa ini’
Belum juga jawab mengalir
Terhenyak sadarku oleh bau anyir
Darah mengalir, sadar menghilang
Nafas mengambang, jiwa melayang

dunia

Dunia…apakah aku terlalu egois?
Apakah aku terlalu naïf?
Jika aku berkata aku ingin hidup bersamanya…

Kau bertanya padaku “Ta, apakah kau membenci lesbi yang menjadi hetero?”, “aku tak tahu aku benci pa tidak, aku hanya membenci manusia yang munafik.

Yah walaupun manusia itu munafik, jika ia tidak munafik maka ia akan mati.

Ha…3x”.

Ia terdiam, “memang kenapa? Kamu mau jadi hetero?” “bukan begitu, aku habis baca novel lesbi yang ngomongin masalah itu” jawabnya.
“pertanyaanku: kamu mau jadi hetero?” tanyaku menekan,
“aku…mau tapi bukan sekarang”
“kapan?”
“aku gak tahu just let the time answer it”
“klasik! Jangan sembunyi dari waktu, mang waktu yang bikin kamu jadi lesbi? Trus dia yang nyembuhin kamu? Trus kalo keburu mati gimana?” jawabku dengan emosi.

Kau hanya terdiam…maaf aku terlalu kasar padamu, tapi kuharap ini terbaik untukmu. Perlahan mulutnya terbuka “ya…aku tahu, tapi gak semudah itu jadi hetero, gak semudah membalikkan telapak tangan, perlu niat, doa dan tindakan. Menjadi hetero bukan berarti suatu saat aku berhenti mencintai kamu, aku bener-bener sayang kamu” “terus…kenapa mau jadi hetero?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku, karena ku tahu semua jawaban itu, tapi…aku terlalu mencintai kamu, aku tak ingin melepaskanmu untuk orang lain, bahkan keluargamu.

“ayo pulang” ajakku tanpa menunggu jawabnnya. Kami tahu pertanyaan itu, bagi kami, hanyalah suat pertanyaan retorik.

Kutancap gas motorku, kuantar dirimu ke rumah, rumah dimana terdapat orang-orang yang kau sayangi bahkan rela meninggalkanku demi mereka. Kuantar kau sampai pagar, sebuah suara mengagetkanku “Okta…gak masuk dulu” tubuhku terhenyak mendengar suara itu “gak usah Tante, dah malem, besok aku masuk pagi. Makasih ya Tante, Okta pulang dulu” “hati-hati ya”.
Aku hanya bisa berkata dalam sunyi ‘Maaf Tante, aku hanya ingin mencintai dan dicintai’. Namun tak bisa kusakiti senyum hangat itu, tak bisa kuhapus semua kebaikan itu, karena semua itu, ibumu adalah kebahagianmu.
“Aya, Okta pulang” kataku singkat, ia hanya mengangguk.
Sayangku…aku tahu maksud pertanyaan-pertanyanmu, aku tahu kenapa belakangan ini Ibumu selalu mengajakmu pergi jika aku ingin bertemu denganmu, aku tahu mengapa telepon-teleponku tak disampaikan kepadamu, aku tahu mengapa smsku tak bisa kau balas.

Aku tahu…

Seminggu setelah itu, kau menelponku,
“aku akan menikah” katamu
“selamat” hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulutku karena tenggorokanku sibuk menahan jeritan hati yang berkoar bagaikan deru mesin jet yang sedang bermanuver.

“Maukah kau bertemu aku, aku mohon” pintamu.
Entah mengapa kuiyakan saja permintaanmu, dari dulu aku selalu lemah terhadap permintaan-permintaanmu.
Kami bertemu di lapangan sepak bola dekat SMP kami dulu, tempat yang bagus untuk membunuh hatiku, pikirku. Lamunanku melayang, jauh ke masa SMP, di mana semua terasa begitu hangat.
“Maaf, aku terlambat” suaramu memecah lamunanku
“he, aku juga baru sampai” jawabku.
“Bohong! Kamu tuh kalo janjian selalu tepat waktu. Bohong kan?!”
“iya…iya…cuma nunggu 20 menit”
“maaf ya Ta” dia memelukku erat.
Sakit…hatiku sangat sakit, kau tahu…rasanya ingin kubawa lari dirimu, ingin rasanya kubiarkan kehangatan ini namun logika segera mneyergap otakku.
“Nanti dilihat orang” kataku dingin, dengan segera ia melepaskan tangannya dari bahuku.
“Maaf, aku…” ia berkata perlahan dengan tatapan tertuju ke bawah.
“Aku mencintai kamu” potongku singkat,
“aku juga, tapi…”
“aku terima semua resiko untuk mencintai kamu, termasuk hal ini”
“maaf, Aya gak bisa buat Ta bahagia”
“Aya bahagia lihat Ibu bahagia?”
“iya…maafin aku…” tangisnya tak terbendung lagi.

Aku tahu…aku tahu kamu.

“Kalau Aya bahagia, aku juga bahagia”.
“Ta masih mau ketemu Aya, masih mau sms Aya, kalo Aya sudah nikah?”
“mungkin bisa, tapi saat itu mungkin aku gak bisa manggil kamu cinta.”
Pertemuan itu berakhir dengan singkat, sangat singkat, karena ibunya menelponnya, menyuruhnya untuk segera pulang karena calon suaminya datang ke rumah. Sangat singkat sesingkat jawabanku untuk menemuimu lagi, setelah kau menikah.

Seharusnya akulah yang meminta maaf saat itu,
maafkan aku,
aku tak jujur padamu.
Aku tak menceritakan Ibumu yang datang ke kantorku dua bulan lalu dan berbicara berdua dengan ku untuk menjauhi dirimu perlahan.
Akulah pembohong dan pengecut, namun aku sama sepertimu aku menyayangi Ibumu seperti ibuku sendiri, dan kebahagiannya ialah kebahagiaanku.
Terima kasih tante yang memberikanku waktu untuk bersamamu,
terima kasih atas semua kebaikan tante.

Setelah kau menikah, Ibumu menelponku “Ta, terima kasih banyak, maafin Tante. Tante tahu kamu mencintai Aya, tapi Tante…Tante pengen lihat Aya menikah, Tante pengen Aya jadi wanita normal, Tante pengen punya cucu. Maafin Tante, Tante egois terhadap kalian berdua. Terima kasih ya Ta, Ta, Aya ikut pindah ke Semarang, ikut Riko (suami Aya). Ta mau ketemu Aya lagi?” suara Tante parau terselimuti tangis.

Mendengar tawaran Tante, aku…aku merasa…entah semua rasa bercampur di hatiku “Ndak usah Tante, saya besok sudah mau pindah ke Medan, salam buat Aya dan Riko ya Tante. Tante…terima kasih” setelah mengucapkan salam aku menutup telepon.

Hening…dunia hening… telingaku tertutup dari kebisingan dunia, hanya terdengar hembusan kesepian. Dalam sepiku kubaca kembali sms-sms dari mu, yang kau kirim dua tahun yang lalu..

17.05.05
I hope so.i still want 2 spend my live with u…if its possible.the future is unseen & unpredictable. Hope, we can face the future together …with love in our heart.

17.05.05
Everything seems impossible for me. I’m the one & the only hope 4 my parents. I’ll be hard. I must b responsible. But, I love u…how can I let u go?

17.05.05
I must ready 2 get hurt..loosing someone, I love. Though this world tears us apart. We’re still together In my heart. I want the world 2 hear my cry & even I have to die.Maaf jd kmana2. Kgn…