Dunia…apakah aku terlalu egois?
Apakah aku terlalu naïf?
Jika aku berkata aku ingin hidup bersamanya…
Kau bertanya padaku “Ta, apakah kau membenci lesbi yang menjadi hetero?”, “aku tak tahu aku benci pa tidak, aku hanya membenci manusia yang munafik.
Yah walaupun manusia itu munafik, jika ia tidak munafik maka ia akan mati.
Ha…3x”.
Ia terdiam, “memang kenapa? Kamu mau jadi hetero?” “bukan begitu, aku habis baca novel lesbi yang ngomongin masalah itu” jawabnya.
“pertanyaanku: kamu mau jadi hetero?” tanyaku menekan,
“aku…mau tapi bukan sekarang”
“kapan?”
“aku gak tahu just let the time answer it”
“klasik! Jangan sembunyi dari waktu, mang waktu yang bikin kamu jadi lesbi? Trus dia yang nyembuhin kamu? Trus kalo keburu mati gimana?” jawabku dengan emosi.
Kau hanya terdiam…maaf aku terlalu kasar padamu, tapi kuharap ini terbaik untukmu. Perlahan mulutnya terbuka “ya…aku tahu, tapi gak semudah itu jadi hetero, gak semudah membalikkan telapak tangan, perlu niat, doa dan tindakan. Menjadi hetero bukan berarti suatu saat aku berhenti mencintai kamu, aku bener-bener sayang kamu” “terus…kenapa mau jadi hetero?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku, karena ku tahu semua jawaban itu, tapi…aku terlalu mencintai kamu, aku tak ingin melepaskanmu untuk orang lain, bahkan keluargamu.
“ayo pulang” ajakku tanpa menunggu jawabnnya. Kami tahu pertanyaan itu, bagi kami, hanyalah suat pertanyaan retorik.
Kutancap gas motorku, kuantar dirimu ke rumah, rumah dimana terdapat orang-orang yang kau sayangi bahkan rela meninggalkanku demi mereka. Kuantar kau sampai pagar, sebuah suara mengagetkanku “Okta…gak masuk dulu” tubuhku terhenyak mendengar suara itu “gak usah Tante, dah malem, besok aku masuk pagi. Makasih ya Tante, Okta pulang dulu” “hati-hati ya”.
Aku hanya bisa berkata dalam sunyi ‘Maaf Tante, aku hanya ingin mencintai dan dicintai’. Namun tak bisa kusakiti senyum hangat itu, tak bisa kuhapus semua kebaikan itu, karena semua itu, ibumu adalah kebahagianmu.
“Aya, Okta pulang” kataku singkat, ia hanya mengangguk.
Sayangku…aku tahu maksud pertanyaan-pertanyanmu, aku tahu kenapa belakangan ini Ibumu selalu mengajakmu pergi jika aku ingin bertemu denganmu, aku tahu mengapa telepon-teleponku tak disampaikan kepadamu, aku tahu mengapa smsku tak bisa kau balas.
Aku tahu…
Seminggu setelah itu, kau menelponku,
“aku akan menikah” katamu
“selamat” hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulutku karena tenggorokanku sibuk menahan jeritan hati yang berkoar bagaikan deru mesin jet yang sedang bermanuver.
“Maukah kau bertemu aku, aku mohon” pintamu.
Entah mengapa kuiyakan saja permintaanmu, dari dulu aku selalu lemah terhadap permintaan-permintaanmu.
Kami bertemu di lapangan sepak bola dekat SMP kami dulu, tempat yang bagus untuk membunuh hatiku, pikirku. Lamunanku melayang, jauh ke masa SMP, di mana semua terasa begitu hangat.
“Maaf, aku terlambat” suaramu memecah lamunanku
“he, aku juga baru sampai” jawabku.
“Bohong! Kamu tuh kalo janjian selalu tepat waktu. Bohong kan?!”
“iya…iya…cuma nunggu 20 menit”
“maaf ya Ta” dia memelukku erat.
Sakit…hatiku sangat sakit, kau tahu…rasanya ingin kubawa lari dirimu, ingin rasanya kubiarkan kehangatan ini namun logika segera mneyergap otakku.
“Nanti dilihat orang” kataku dingin, dengan segera ia melepaskan tangannya dari bahuku.
“Maaf, aku…” ia berkata perlahan dengan tatapan tertuju ke bawah.
“Aku mencintai kamu” potongku singkat,
“aku juga, tapi…”
“aku terima semua resiko untuk mencintai kamu, termasuk hal ini”
“maaf, Aya gak bisa buat Ta bahagia”
“Aya bahagia lihat Ibu bahagia?”
“iya…maafin aku…” tangisnya tak terbendung lagi.
Aku tahu…aku tahu kamu.
“Kalau Aya bahagia, aku juga bahagia”.
“Ta masih mau ketemu Aya, masih mau sms Aya, kalo Aya sudah nikah?”
“mungkin bisa, tapi saat itu mungkin aku gak bisa manggil kamu cinta.”
Pertemuan itu berakhir dengan singkat, sangat singkat, karena ibunya menelponnya, menyuruhnya untuk segera pulang karena calon suaminya datang ke rumah. Sangat singkat sesingkat jawabanku untuk menemuimu lagi, setelah kau menikah.
Seharusnya akulah yang meminta maaf saat itu,
maafkan aku,
aku tak jujur padamu.
Aku tak menceritakan Ibumu yang datang ke kantorku dua bulan lalu dan berbicara berdua dengan ku untuk menjauhi dirimu perlahan.
Akulah pembohong dan pengecut, namun aku sama sepertimu aku menyayangi Ibumu seperti ibuku sendiri, dan kebahagiannya ialah kebahagiaanku.
Terima kasih tante yang memberikanku waktu untuk bersamamu,
terima kasih atas semua kebaikan tante.
Setelah kau menikah, Ibumu menelponku “Ta, terima kasih banyak, maafin Tante. Tante tahu kamu mencintai Aya, tapi Tante…Tante pengen lihat Aya menikah, Tante pengen Aya jadi wanita normal, Tante pengen punya cucu. Maafin Tante, Tante egois terhadap kalian berdua. Terima kasih ya Ta, Ta, Aya ikut pindah ke Semarang, ikut Riko (suami Aya). Ta mau ketemu Aya lagi?” suara Tante parau terselimuti tangis.
Mendengar tawaran Tante, aku…aku merasa…entah semua rasa bercampur di hatiku “Ndak usah Tante, saya besok sudah mau pindah ke Medan, salam buat Aya dan Riko ya Tante. Tante…terima kasih” setelah mengucapkan salam aku menutup telepon.
Hening…dunia hening… telingaku tertutup dari kebisingan dunia, hanya terdengar hembusan kesepian. Dalam sepiku kubaca kembali sms-sms dari mu, yang kau kirim dua tahun yang lalu..
17.05.05
I hope so.i still want 2 spend my live with u…if its possible.the future is unseen & unpredictable. Hope, we can face the future together …with love in our heart.
17.05.05
Everything seems impossible for me. I’m the one & the only hope 4 my parents. I’ll be hard. I must b responsible. But, I love u…how can I let u go?
17.05.05
I must ready 2 get hurt..loosing someone, I love. Though this world tears us apart. We’re still together In my heart. I want the world 2 hear my cry & even I have to die.Maaf jd kmana2. Kgn…
No comments:
Post a Comment