Defense
Its natural
Cause we are classified as living things
Cause we need to survive
Semua orang punya hak untuk mempertahankan dirinya
Juga
Semua orang punya hak untuk berbicara
Maka
Silahkan saja
Maaf mulutku tak bercadarkan 'hati'
Karena otakku merengek mati
Maaf moralku berbau mayat
Karena nurani-ku telah ku-layat
Telah ku gali tempat pelepas penat
Tuk membaringkan kata-kata
Telah ku robek ribuan sekat
Tuk menyelimuti prasangka
Kubentangkan kafan putih
Tuk bersemayamnya kata
Kuciptakan malam sabah
Tuk melelapkan rasa
*-------*
Setiap orang telah membentuk karakteristik dari pertahanan dirinya, baik merupakan
bagian dirinya atau lapisan benteng. Pembentukan tersebut terintregasi dari lingkungan,
baik keluarga, teman atau komunitas lainnya. Jika saya menemplate-kan pertahanan saya,
mungkin akan dirasa 'salah' untuk orang lain yang lingkungannya berbeda dengan saya.
Seperti halnya pinguin Alaska, mereka telah beradaptasi untuk bertahan hidup dilingkungannya,
Jangan taruh ia di Gurun Sahara...hm....udah ada yang neliti belum ye...
Jangan ditekankan masalah geografisnya, hal tersebut cuma perumpamaan.
Nah...kenalilah diri sendiri dan lingkungan kita, jadi...ya begitulah...(gak enak saya ngetiknya...)
Are u really already raise your glass? or u just raise another poured-wine-glass
Or...cause in the party u have to do it? or just to elaborate the rhythm...
Thanks God, i have this blog...so i don't need blabbering too much
Salam damai dah....
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Saturday, March 26, 2011
Perubahan itu abadi...
Gw jarang ngobrol masalah hubungan2 gw, ma keluarga gw. Baik itu tentang temen...apalagi partner. Kenapa? Karena memang seperti itu.
Malam ini kerasa beda, kakak gw duduk di samping gw, ngomongin masalah nikah...
(Kakak gw dah nikah n dah punya anak).
"Cewek jangan terlalu banyak tuntutan Dek, jangan terlalu pemilih".
Kakak gw memang masih memegang adat kejawennya, jadi ada beberapa nasihat kejawen lainnya yang memang gak bisa masuk ke kuping gw, alhasil off air.
"Ha..."
klo diajak ngomong masalah nikah, gw memang biasanya cuma 'ha, he, hi, ya, nyengir, ketawa, dan ngemeng gak jelas'.
"Pilihlah orang yang membuat lo nyaman"
"Ya"
"Nikah itu....."
Maap gw off air lagi, gw gak menyimak secara keseluruhan, gw cuma denger endingnya.
"Lo bayangin klo lo dah tua, sendirian, kesepian, gak ada yang ngurusin lo. Klo gw masih hidup, pastilah gw ngurusin lo, Jono (adek gw n kakak gw-tentunya) juga dek, pasti mau ngurusin lo"
"Panti jompo terus ikut yayasan ********* (yayasan pengurusan kubur)" Jawab gw.
"Dek...beda antara panti jompo, keluarga atau ma orang yang lo cinta"
"Ya"
"Klo udah tua, kerasa Dek, lo pengen duduk santai disekeliling keluarga lo"
"Ya"
Ya Mbak, gw pengen pada saat itu, gw bisa membawa orang pilihan gw dan diakui keluarga oleh keluarga besar kita.
"Gak ada yang abadi Dek, tapi perubahan itu abadi"
Entah, apakah keinginan gw yang sangat atau memang itu sebuah jawaban, statement Mbak gw, membuat gw optimis untuk membuat perubahan. 'Tuk membawa orang pilihan gw, ke dalam keluarga gw, namun satu hal yang pasti operasi kelamin...bukan jawaban tuk masalah gw.
Malam ini kerasa beda, kakak gw duduk di samping gw, ngomongin masalah nikah...
(Kakak gw dah nikah n dah punya anak).
"Cewek jangan terlalu banyak tuntutan Dek, jangan terlalu pemilih".
Kakak gw memang masih memegang adat kejawennya, jadi ada beberapa nasihat kejawen lainnya yang memang gak bisa masuk ke kuping gw, alhasil off air.
"Ha..."
klo diajak ngomong masalah nikah, gw memang biasanya cuma 'ha, he, hi, ya, nyengir, ketawa, dan ngemeng gak jelas'.
"Pilihlah orang yang membuat lo nyaman"
"Ya"
"Nikah itu....."
Maap gw off air lagi, gw gak menyimak secara keseluruhan, gw cuma denger endingnya.
"Lo bayangin klo lo dah tua, sendirian, kesepian, gak ada yang ngurusin lo. Klo gw masih hidup, pastilah gw ngurusin lo, Jono (adek gw n kakak gw-tentunya) juga dek, pasti mau ngurusin lo"
"Panti jompo terus ikut yayasan ********* (yayasan pengurusan kubur)" Jawab gw.
"Dek...beda antara panti jompo, keluarga atau ma orang yang lo cinta"
"Ya"
"Klo udah tua, kerasa Dek, lo pengen duduk santai disekeliling keluarga lo"
"Ya"
Ya Mbak, gw pengen pada saat itu, gw bisa membawa orang pilihan gw dan diakui keluarga oleh keluarga besar kita.
"Gak ada yang abadi Dek, tapi perubahan itu abadi"
Entah, apakah keinginan gw yang sangat atau memang itu sebuah jawaban, statement Mbak gw, membuat gw optimis untuk membuat perubahan. 'Tuk membawa orang pilihan gw, ke dalam keluarga gw, namun satu hal yang pasti operasi kelamin...bukan jawaban tuk masalah gw.
Saturday, March 19, 2011
Ngemeng di siang hari...
Confess or Not?
It's ur choice but think it carefully, deeply n wisely...
Satu manusia saja bisa membuat beberapa statement berbeda dalam satu kasus.
Apalagi jika kita berada di dalam kehidupan sosial di mana kita hidup bersentuhan dengan manusiasss.
Maka akan ada beberapa manusia dengan berbagai macam statement mereka
Cuek aja?
Ok
Filter aja yang baik2?
Ok
Or...whatever ur choice will
Pengakuan...tapi sebelum jauh2 ke titik pengakuan tersebut, mungkin sebaiknya ditilik kembali alasan dan akibat yang nantinya akan terjadi.
Jadi terbayang sekelibat imajinasi saya :
"Suamiku...saya lesbi"
simple
atau
"Suamiku...sesungguhnya selama ini aku menikah dengan mu hanya untuk sperma mu dan sosok suami"
klo belum berani inseminasi buatan.
atau
"Suamiku...Ayah dan Ibuku sudah percaya jika aku hetero, oleh karena itu aku ingin mengakui jika aku Lesbi"
Yah...kadang2 kan ada yang alasannya buat menyenangkan ortu atau status doang.
atau
“Suamiku...maafkan aku, aku sudah tak kuat dengan tekanan batinku ini, aku tak kuat dengan teriakan hasratku, aku tak sanggup hidup dalam kebohongan lagi, dan aku tak ingin melukaimu lebih lanjut dari ini...”
Klo gak mau melukai...kenapa melakukan...atau gak sengaja melakukan?
[Pernah tahu cerita ‘torehan luka’
Bayangkanlah jika hati itu seperti kayu. Saat kau menyakiti hati seseorang maka sama seperti kau menoreh kayu tersebut dengan pisau. Walaupun telah termakan waktu, torehan itu tak dapat hilang sempurna, ia tetap meninggalkan bekas. Hal tersebut layaknya hati, walaupun telah terbentang kata maaf atau waktu telah berlalu, akan tersisa remah memori di hati akan luka.]
atau
"Oh...Suamiku...sesungguhnya, hati ini begitu mencintaimu sehingga tak sanggup hati ini melukaimu, oleh karena itu...bahwasanya aku dulu adalah seorang Lesbi"
Gak semua fakta harus diungkap, menjaga perasaan seseorang yang dicintai, dirasa lebih penting, namun memang harus dibayar dengan pengorbanan diri. Pengorbanan...atau kewajiban...
atau
"Suamiku...Aku telah berbohong kepadamu selama ini, aku menikah denganmu untuk mengerti siapa diriku, dan kini aku telah mengerti bahwa aku adalah seorang lesbian"
Masih nyari jati diri...
atau
"Sayangku...suamiku...aku melihat engkau bercumbu dengan si Jono-supir kita. Oleh karena itu aku juga nyoba bercumbu sama Inem-pembantu kita. ternyata kita memang gay ya Pa"
atau
“Suamiku aku ingin tetap bercinta dengan kekasih wanitaku tapi aku juga tak ingin kita bercerai, oleh karena itu, terserah papa...”
Masih ragu ngaku kalo dirinya biseks.
atau
"Demi menjaga stabilitas kemananan, kenyamanan dan kelanggengan kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga, sesuai dengan pasal XX ayat XX. Kita harus jujur! Merdeka!"
Akh...saya memang sering berimajinasi, padahal mengalaminya saja saya tidak.
Habisnya saya sedikit 'ngeri' akan efeknya
Coba bayangin jika kita adalah salah seorang keluarga dari pihak laki-laki, atau bayangkanlah jika anda berada di posisi sang suami.
(Background : OST endless love)
Bayangkanlah saudara saudara, jika tiba2 kakak/adik/sahabat anda menikah dengan seorang wanita. Namun di usia pernikahan (terserah muda pa tua-tapi kayaknya riskan di muda kali ya, embrionya belom ngiket kuat di rahim soalnya), ternyata wanita yang ia kira dan ia kenal selama ini ternyata seorang lesbian.
Mungkin ada dari beberapa dari rekan2 bilang,
“Tetep terima, karena gw tuh sama kayak dia” (sama2 lesbi maksudnya, bukan sama kasus...eh)
“Gw ngerti bagaimana rasanya jadi dia. Gw tahu kenapa dia melakukan hal ini”
“Yang sudah terjadi biarlah terjadi, marilah kita songsong hari esok dengan penuh senyum gembira” -tring * senyum pepso****
“Mari kita duduk dan membicarakan hal ini secara kekeluargaan” (ala politis Indonesia)
Atau
“Gila tuh lesbi berani amat ngibulin abang gw!” kata sang adik
Bayangkan jika kita berada di posisi sang suami.
“Ternyata selama ini...pertemuan kita, masa pendekatan kita, pernikahan kita,dan semua ayat2 cinta yang kau hamparkan di kehidupan kita adalah kepalsuan” kata sang suami.
“Apa salah ku istriku? Sebegitu bencikah dirimu terhadap diriku sehingga kau menipu ku selama ini? Sebegitu bersalahnya kah diriku, karena aku mencintaimu, hingga kau membohongiku?” kata sang suami.
Tapi...bayangin klo si suaminya gak sesabar itu, dan terucaplah kata2 yang kasar.
“Dasar lesbi s****! Tukang tipu, sekalian ja lo jadi l****, nikah2 segala”
Beh...satu orang beraksi, satu label kebawa
Padahal sih gak tergantung label nya, tapi tergantung item-nya...
Tapi yang gw tilik di Indonesia tetep main ‘tertera nama pada komunitas’
Alhasil, klo ada yang baik2 akan dianggap ‘cari muka’ karena udah terblokir ma hal2 yang dianggap melenceng dari norma sosial. Sosialitas merid-yang saya rasa masih dianggap sacral oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, dan manusia beragama khususnya.
Simple minded??
Terus...nyalahin orang2 yang simple minded?
Terus, salah gw gitu? Salah temen2 gw? (gaya ABG)
Kita gak bisa maksaiin orang buat open minded or broaden minded, kita gak bisa egois nanggep semua orang harus mengerti kita atau belajar mengerti kita.
Subscribe to:
Comments (Atom)