Saturday, August 13, 2011

Menyesal vs zona toleransi


"Apakah sesulit membangun sebuah candi Prambanan dalam membangun sebuah hubungan ya Dek?" tanya Abang.

Saya bukan ahli dalam proses alur serta mekanisme membangun hubungan....apalagi candi...

"Lo nanya kayak gituan ma gw, Tanya sono ma Bondowoso. Mang kenapa Bang?"
"Kenapa ya, Dek, aku lebih merasa nyaman balik ke mantan ku, walaupun hubungan kami tak jelas, dibandingkan aku memulai hubungan baru?”

"Hm...karena lebih terbiasa jadi kerasa lebih mudah, mungkin...ya Bang"
"Hh...ya tah?"

"Itu kan pendapat gw. Dulu. gw terbiasa diambangin ma mantan gw, sadar atau entah tidak, gw jadi biasa aja. Kayak udah nyaman aja"
"Sakit kau Dek"

"Itu kan dulu Bang. Nah, sekarang kan pertanyaannya buat lo"
"Hh...aku merasa bingung saja. Kalau dengan yang lama, aku merasa, ya sudah jalani saja, aku sudah tahu celah-celahnya. Kalau baru, terkadang ada rasa malas untuk aku mengenal lebih dalam wanita baru ini. Malas aku beradaptasi lagi"

“Kau ini Bang, mau jadi perjaka tua?”
“Bukan begitu Dek. Terkadang kalau aku ada konflik dengan Mia (pacar Abang yang sekarang), aku jadi terpikir untuk kembali ke mantan ku. Lebih terasa tidak susah, yah yang kau bilang tadi itu Dek, nyaman”

“Itu mah halusinasi sesaat aja Bang, karena males berhadapan ma yang berisik2 dan ribet2 aja kan lo?
Menurut gw, mau manapun yang lo pilih, konflik yang menyerang rasa nyaman lo pasti ada Bang. Tinggal lo aja, memperbesar zona toleransi lo.
Walaupun pada saat bersama mantan lo, terlihat gak ada konflik, sebenarnya ada masalah yang utama mengenai interaksi hubungan kalian”

Friday, August 12, 2011

Lelucon anak rantau

Seperti biasa, namanya juga anak rantau, kami duduk di depan komputer menelusuri dunia maya sesuka hati kami, di kantor pada hari sabtu. Tanpa terasa, hal itu telah ter-tradisi selama setahun. 
Abang, panggilanku untuk temanku, menelusuri FB teman-temannya saat kuliah. Sedangkan aku, men-download film-film sebagai teman ku di malam hari.

“Hhh....” Abang menghela napas panjang
“Kenapa Bang? Kembang  kempis kayak gitu...ngeliatin FB siapa lo?” ledek ku

 “Teman-temanku rata-rata sudah menikah”
”Iri lo?”
“Bukan begitu Dek”
Ia terdiam, menikmati kembali rokok dan lagu Minang.

“Aku merasa, teman-temanku yang di rantau cepat kali menikahnya”
“Maklum Bang, namanya juga kesepian, perlu temen lah”

“Akh...teori manapula jawaban kau itu. Buktinya aku tak kesepian”
“Ya juga ya.... Gw sih, cuma buat kesimpulan aja. Coba lo pulang ke kos-an, sepi gak lo?”

“Ya..sedikit sih”

“Coba lo bayangin, klo pas pulang, ada yang nyambut lo di rumah, bawain lo minum, mijitin lo, ngurusin lo, nyayangin lo, ada yang nemenin lo ngobrol, dengerin lo curhat. Tambah lagi...nemenin lo malem2...enak gak tuh?”

“Akh kau ini, anak kecil. Ya juga ya, apalagi cantik dan manis ya. Wah, pasti betah aku di kos-an, tak perlu aku datang sabtu-sabtu ke kantor…ha3“

"Lagipula, bingung juga Bang. Sosialisasi anak rantau kan terbatas, apalagi yang daerah desa"
"Ya, makanya banyak yang nyari hiburan dengan menikah ya Dek?"

Aku tersenyum

“Kenapa kau senyum-senyum Dek?”
“Yah...asal jangan lo nanti nikahin anak orang gara-gara lo kesepian aja”

“Tidak lah...
Nanti kau tak kesepian-kah jika aku menikah? Tak ada pula nanti kau teman, Dek”

“Palingan gua mainnya nanti ke rumah lo...ha3”

Pikiranku melayang
‘Mungkin’

“Bolehlah...ha3”