Aku terbangun dari tidurku yang sangat tidak nyenyak, pukul 10 pagi. Aku tak bisa tidur lelap tadi malam, aku telah mencoba membaca ataupun menulis namun aku tetap terjaga. Kubiarkan tubuhku terpampang dari pergantian detik ini tanpa melakukan apapun, hanya tanda kehidupan yang kutunjukkan. Aku dapat mendengar suara malam yang berganti pagi, suara jangkrik merenung hingga suara ibuku menangis di dalam shalat malamnya. Pikiranku malam itu berlari ke kenangan masa kecilku, ibuku selalu membacakan ayat2 suci Al Quran untuk menjagaku ke alam mimpi. Hal itu terulang kini, saat ibuku mulai membacakan ayat2 Al Quran, alam mimpi mulai menjamahku.
Hari minggu ini kuputuskan untuk tetap terlelap dalam selimut hangat. Sepuluh menit berlalu namun tak kunjung jua kantuk menghampiriku padahal lelah sekali rasanya badan dan otak ini.
Lamunanku berlari ke pembicaraan kemarin sore, sesaat setelah aku kembali dari mengajar salah satu murid privatku. Sore itu, semua keluargaku berkumpul hanya untuk minum teh bersama dan berbicang. Pembicaraan diawali dari pertanyaan singkat ibuku, “dari mana?”, diiringi senyum curiga dari kakak perempuanku. Pertanyaan itu kujawab dengan singkat “ngajar”. Lalu pembicaraan mengarah ke arah perkawinan, aku terlalu lelah untuk memperhatikan bahkan mendengarkan pembicaraan mereka. Sehingga kubiarkan suara-suara kecil bermain dikesadaranku. Seringkali, jika aku terlalu enggan untuk mendengar maka akan ada suara lain yang seakan mengisi telingaku. Suara2 itu seperti memanjakan otakku dari dunia luar. Suara itu mulai menghilang ketika kulihat semua mata tertuju padaku.
Kesadaranku dari dunia nyata mulai terkumpul cepat ketika melihat ibu memandangiku tajam, untuk meredakan pandangan itu kukeluarkan senyumanku. “Klo kamu mah dek, sama murid mu itu aja” kata ibuku, “he? Muridku tadi cewek” jawabku “nah, malahanne” (nah memang begitu) jawab ibuku singkat. Aku terdiam tak menjawab lagi, walaupun ibuku telah tahu dengan pemilihanku namun baru kali ini ibuku mengatakan hal itu di hadapan umum.
Hingga pagi ini, aku belum berbincang lagi dengan ibu, tapi apakah hal itu perlu diperbincangkan? Aku memutuskan untuk tidak bertanya, kubiarkan saja kalimat sore itu menjadi jawaban yang bertanya.
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Tuesday, September 15, 2009
Monday, September 7, 2009
Namanya juga wanita...
Wanita...
Saat kuliah kami selalu bersama, seperti layaknya semut yang hidup dalam koloni. Lima wanita dan satu pria yang selalu bersama, menangis bersama dan tertawa bersama, menghadapi dunia kuliah bersama-sama. Waktu berjalan hingga tak terasa, kami mulai menghadapi dunia kami sendiri-sendiri, dunia kerja. Walaupun kami sering berkumpul satu bulan sekali namun tetap saja intensitas itu berbeda dengan saat kami berada di kampus. Kami, masing-masing, mulai beradaptasi dengan dunia kerja, rekombinasi sifat mulai terjadi. Hingga saat bertemu kembali ada rasa ‘berbeda’. Hal itu alami, dan memang mungkin terjadi. Seperti kata seorang teman, manusia biasanya akan berubah sifatnya atau penampilannya saat ia dihadapi lingkungan baru, karena ia perlu menyusaikan diri. Ia berusaha survive di tempat barunya kini, dan mungkin saja sifat2 di lingkungan barunya akan berekombinasi atau malah menggantikan sifatnya yang dulu (semasa kuliah). Mungkin saja di tempat barunya ia menemukan koloni semut baru dan ia bergabung ke dalamnya, sehingga terintegrasilah sifat koloni baru tersebut ke dalam dirinya.
Saat memulai masa kerja, kita juga akan dihadapkan pada sosialisasi lingkungan. Lalu berlakulah hukum siklus masyarakat pada umumnya. Seperti layaknya siklus lahir-bayi-balita-anak2-remaja-dewasa-tua-manula-mati, siklus sekolah-kuliah-kerja-menikah-punya anak-punya cucu-mati pun juga berlaku sama di masyarakat. Saat dihadapkan pada siklus itu, terkadang saat dimana pula kita sedang berjalan sendiri di dunia kerja yang terasa statis, sehingga kadang rasa kesepian hadir.
Saat kesepian hadir, mulailah sang wanita melihat sekelilingnya. Ada yang masih dapat menutupi lubang kesepian itu dengan menggapai teman namun ada juga yang merasa teman tak bisa menutupi rasa kesepian ini lagi.
Saat teman tak bisa lagi menutupi kesepian ini, maka terjadilah suatu situasi. Situasi di mana koloni mulai sibuk dengan dunia mereka masing2. Dunia cinta. Di usia 20 ke atas, wanita seperti kelinci kelinci mungil yang mulai mencari cinta, mencari seseorang untuk melindungi mereka, menemani mereka, mengayomi mereka, menyayangi mereka, memperhatikan mereka dan mencintai mereka. Seseorang yang matanya tertuju untuk sang wanita, sehingga sang wanita luluh terhadap seseorang tersebut.
Lalu datanglah masalah baru lainnya, orang yang mereka cintai (objeknya). Siapakah objek itu? Cintakah ia pada si subjek? Suku apakah ia? Agama apakah ia? Bagaimana fisiknya? Bagaimana orang tuanya? Bagaimana latar belakang keluarganya? Bagaimana jalan pemikirannya? Bagaimana pekerjaannya? Dan semua pertanyaan tentang perbedaan dan kondisi yang ada.
Datang pula pertanyaan untuk si subjek. Benarkah ia mencintai si objek? Ataukah rasa ini hanya untuk menutupi rasa kesepian hingga diperlukan sesuatu (yaitu objek) untuk dilamunkan atau dipikirkan. Hingga terkadang si subjek tenggelam sendiri di suasana semu yang sesungguhnya dibuat oleh pemikiran ia sendiri.
Atau bisa saja, keyakinan dalam mencintai seseorang (objek) menjadi kenyataan. Hal tersebut dipengaruhi faktor subjek, objek, kondisi, dan...Tuhan.
Mari melihat manusianya saja dulu.
Bisakah dua rasa yang bergetar sama, dapat bersatu? Menurut saya, belum tentu. Ada beberapa faktor yang menjadi pembatasnya, salah satunya ialah komunikasi-antar manusia. Seperti kata “bagaimana ia bisa tahu, kalau ternyata kamu mencintainya, jika kamu tidak mengatakan padanya”. Terkadang memang tanda2 cukup, namun manusia kan banyak tipenya, ada juga manusia yang takut untuk menyimpulkan tanda2, ia perlu kepastian kata2 untuk bertindak lebih lanjut.
Ada juga subjek yang takut untuk menyatakan apa yang ia rasa pada si objek, karena takut jika ditolak. Ketakutan itu alami, namun sampai kapankah rasa takut itu akan menyelimuti gelora rasa yang ada. Apakah tidak lebih takut lagi jika kau melewatkan seseorang yang berarti bagimu, yang juga menyimpan rasa yang sama. Ataukah dibalik ketakutan itu ternyata ada harga diri yang tinggi? Jika jawabannya ialah ya, maka jangan pernah salahkan cinta atau si objek. Hargailah pilihanmu (jika kau mau menyalahkan diri sendiri, itu hak dirimu), walaupun biasanya akan terasa sakit...tapi ada juga yang merasakan kemenangan (?).
Saat kuliah kami selalu bersama, seperti layaknya semut yang hidup dalam koloni. Lima wanita dan satu pria yang selalu bersama, menangis bersama dan tertawa bersama, menghadapi dunia kuliah bersama-sama. Waktu berjalan hingga tak terasa, kami mulai menghadapi dunia kami sendiri-sendiri, dunia kerja. Walaupun kami sering berkumpul satu bulan sekali namun tetap saja intensitas itu berbeda dengan saat kami berada di kampus. Kami, masing-masing, mulai beradaptasi dengan dunia kerja, rekombinasi sifat mulai terjadi. Hingga saat bertemu kembali ada rasa ‘berbeda’. Hal itu alami, dan memang mungkin terjadi. Seperti kata seorang teman, manusia biasanya akan berubah sifatnya atau penampilannya saat ia dihadapi lingkungan baru, karena ia perlu menyusaikan diri. Ia berusaha survive di tempat barunya kini, dan mungkin saja sifat2 di lingkungan barunya akan berekombinasi atau malah menggantikan sifatnya yang dulu (semasa kuliah). Mungkin saja di tempat barunya ia menemukan koloni semut baru dan ia bergabung ke dalamnya, sehingga terintegrasilah sifat koloni baru tersebut ke dalam dirinya.
Saat memulai masa kerja, kita juga akan dihadapkan pada sosialisasi lingkungan. Lalu berlakulah hukum siklus masyarakat pada umumnya. Seperti layaknya siklus lahir-bayi-balita-anak2-remaja-dewasa-tua-manula-mati, siklus sekolah-kuliah-kerja-menikah-punya anak-punya cucu-mati pun juga berlaku sama di masyarakat. Saat dihadapkan pada siklus itu, terkadang saat dimana pula kita sedang berjalan sendiri di dunia kerja yang terasa statis, sehingga kadang rasa kesepian hadir.
Saat kesepian hadir, mulailah sang wanita melihat sekelilingnya. Ada yang masih dapat menutupi lubang kesepian itu dengan menggapai teman namun ada juga yang merasa teman tak bisa menutupi rasa kesepian ini lagi.
Saat teman tak bisa lagi menutupi kesepian ini, maka terjadilah suatu situasi. Situasi di mana koloni mulai sibuk dengan dunia mereka masing2. Dunia cinta. Di usia 20 ke atas, wanita seperti kelinci kelinci mungil yang mulai mencari cinta, mencari seseorang untuk melindungi mereka, menemani mereka, mengayomi mereka, menyayangi mereka, memperhatikan mereka dan mencintai mereka. Seseorang yang matanya tertuju untuk sang wanita, sehingga sang wanita luluh terhadap seseorang tersebut.
Lalu datanglah masalah baru lainnya, orang yang mereka cintai (objeknya). Siapakah objek itu? Cintakah ia pada si subjek? Suku apakah ia? Agama apakah ia? Bagaimana fisiknya? Bagaimana orang tuanya? Bagaimana latar belakang keluarganya? Bagaimana jalan pemikirannya? Bagaimana pekerjaannya? Dan semua pertanyaan tentang perbedaan dan kondisi yang ada.
Datang pula pertanyaan untuk si subjek. Benarkah ia mencintai si objek? Ataukah rasa ini hanya untuk menutupi rasa kesepian hingga diperlukan sesuatu (yaitu objek) untuk dilamunkan atau dipikirkan. Hingga terkadang si subjek tenggelam sendiri di suasana semu yang sesungguhnya dibuat oleh pemikiran ia sendiri.
Atau bisa saja, keyakinan dalam mencintai seseorang (objek) menjadi kenyataan. Hal tersebut dipengaruhi faktor subjek, objek, kondisi, dan...Tuhan.
Mari melihat manusianya saja dulu.
Bisakah dua rasa yang bergetar sama, dapat bersatu? Menurut saya, belum tentu. Ada beberapa faktor yang menjadi pembatasnya, salah satunya ialah komunikasi-antar manusia. Seperti kata “bagaimana ia bisa tahu, kalau ternyata kamu mencintainya, jika kamu tidak mengatakan padanya”. Terkadang memang tanda2 cukup, namun manusia kan banyak tipenya, ada juga manusia yang takut untuk menyimpulkan tanda2, ia perlu kepastian kata2 untuk bertindak lebih lanjut.
Ada juga subjek yang takut untuk menyatakan apa yang ia rasa pada si objek, karena takut jika ditolak. Ketakutan itu alami, namun sampai kapankah rasa takut itu akan menyelimuti gelora rasa yang ada. Apakah tidak lebih takut lagi jika kau melewatkan seseorang yang berarti bagimu, yang juga menyimpan rasa yang sama. Ataukah dibalik ketakutan itu ternyata ada harga diri yang tinggi? Jika jawabannya ialah ya, maka jangan pernah salahkan cinta atau si objek. Hargailah pilihanmu (jika kau mau menyalahkan diri sendiri, itu hak dirimu), walaupun biasanya akan terasa sakit...tapi ada juga yang merasakan kemenangan (?).
Monday, August 17, 2009
pagi
Ku tegakkan tubuhku di antara rapuhnya keyakinanku.
Ku coba untuk bernapas di antara sesaknya dadaku.
Buliran hangat mulai membelai dinginnya pipiku.
Ia meretas tersembunyi malu di antara air shower yang menderu lembut.
Pagi itu, aku bertanya pada tubuhku yang kesepian, sudah puaskah ia? Ataukah ia ingin mencoba lagi? Hampa..mungkinkah kehampaan dari tubuh ini begitu hebatnya hingga semua logika runtuh dengan singkat tanpa mencoba melawan. Ku coba kembali bertanya pada tubuh ini, namun tetap saja, tak ada jawaban. Ku biarkan rutinitas tubuh ini menjawabnya bersamaku.
Ku pandang sosok manusia indah meringkuk di tempat tidur, yang mencoba menolak datangnya pagi. Ku kecup keningnya lalu ku tinggalkan ia bersama mimpi manisnya di tempat tidurnya yang hangat, atau tubuh hangatnya yang menghangatkan.
Ku dorong motor perlahan dan menyalakannya di satu blok lebih jauh dari rumahnya agar tak membangunkannya. Ku coba menarik semua cahaya yang bisa kudapat untuk mendorongnya, sambil melihat jam tanganku..jam 3 pagi.
Sepanjang perjalan menuju rumahku, muka manisnya menggantung di khayalku, mempermainkan perasaanku. Perasaan yang telah dihempas kalah oleh masa lalunya, yang tetap setia menunggu di ambang hatinya, mencoba menyusup setiap kali ia membuka celah kecil. Setahun telah kucoba namun tetap saja perasaan ini terpental kembali di ambang hatinya. Hanya tubuh ini yang diterima oleh tubuhnya dengan hangat.
Hal itu bukanlah suatu petualangan namun tarian kesepian dari tubuh yang selalu terdesak keperluan biologis dan nafsu yang tak pernah ku coba belenggu, yang mendesak logika untuk membungkam mulutnya dan mengunci iman di sudut terbawah hati.
Ku coba untuk bernapas di antara sesaknya dadaku.
Buliran hangat mulai membelai dinginnya pipiku.
Ia meretas tersembunyi malu di antara air shower yang menderu lembut.
Pagi itu, aku bertanya pada tubuhku yang kesepian, sudah puaskah ia? Ataukah ia ingin mencoba lagi? Hampa..mungkinkah kehampaan dari tubuh ini begitu hebatnya hingga semua logika runtuh dengan singkat tanpa mencoba melawan. Ku coba kembali bertanya pada tubuh ini, namun tetap saja, tak ada jawaban. Ku biarkan rutinitas tubuh ini menjawabnya bersamaku.
Ku pandang sosok manusia indah meringkuk di tempat tidur, yang mencoba menolak datangnya pagi. Ku kecup keningnya lalu ku tinggalkan ia bersama mimpi manisnya di tempat tidurnya yang hangat, atau tubuh hangatnya yang menghangatkan.
Ku dorong motor perlahan dan menyalakannya di satu blok lebih jauh dari rumahnya agar tak membangunkannya. Ku coba menarik semua cahaya yang bisa kudapat untuk mendorongnya, sambil melihat jam tanganku..jam 3 pagi.
Sepanjang perjalan menuju rumahku, muka manisnya menggantung di khayalku, mempermainkan perasaanku. Perasaan yang telah dihempas kalah oleh masa lalunya, yang tetap setia menunggu di ambang hatinya, mencoba menyusup setiap kali ia membuka celah kecil. Setahun telah kucoba namun tetap saja perasaan ini terpental kembali di ambang hatinya. Hanya tubuh ini yang diterima oleh tubuhnya dengan hangat.
Hal itu bukanlah suatu petualangan namun tarian kesepian dari tubuh yang selalu terdesak keperluan biologis dan nafsu yang tak pernah ku coba belenggu, yang mendesak logika untuk membungkam mulutnya dan mengunci iman di sudut terbawah hati.
Monday, July 20, 2009
egois
"halo ma, lagi ngapain?"
"lagi leyeh leyeh di amben..."
lalu mama menceritakan keadaan saudara2 kami, menceritakan kesehariannya..
mendengar riang di rima suaranya membuat mataku berair, tanpa kusadari air2 itu telah menggenang di pelupuk mataku sehingga ruang kamar menjadi berbayang
aku mendengarkan seksama cerita mama, lamunanku berlari ke tanah jogja, di mana kampung halaman mama dan bapak
bapak...
setelah mama selesai berbicara, kuberanikan diri ku untuk bertanya
"bapak lagi ngapain ma?"
"bapak lagi nyepeda ke glagah" jawab mama.
"o..y udah ma, salam buat bapak".
kumatikan telepon, bukan karena telah panas kupingku atau habis bahan yang ingin kudengar dari mama,namun hatiku sudah tak kuat untuk membungkam,
dalam sepi...kumenangis.
dulu, saat2 liburan sekolah-kuliah-hari raya, kami sekeluarga pulang ke jogja.
saat di jogja, aku selalu menghabiskan waktu bersama bapak.
pagi hari, kami akan ke pasar ikan mencari kepiting atau ikan untuk dibakar, menjelang siang kami akan berjalan-jalan menuju gunung atau berjalan-jalan menuju tempat-tempat favorit bapak atau tempat bersejarah baginya-hanya akulah yang diajak bapak untuk menulusuri 'tempat masa muda bapak'. saat hari menjelang sore, kami akan menyepeda menelusuri pantai glagah-tresik-parangtritis. aku sangat suka bersepeda menyusuri pantai pada sore hari, itu sudah seperti menjadi ritual bagiku.
saat malam harinya, kami merencanakan apa dan kemana kami keesokan harinya.
saat ini, aku membayangkan bapak yang sedang bersepeda sendiran, menyusuri pantai, sendirian tanpa aku.
kurasakan lagi keberadaan diriku di kamar ini, sendirian.
kesepian menyelimuti diriku...
"lagi leyeh leyeh di amben..."
lalu mama menceritakan keadaan saudara2 kami, menceritakan kesehariannya..
mendengar riang di rima suaranya membuat mataku berair, tanpa kusadari air2 itu telah menggenang di pelupuk mataku sehingga ruang kamar menjadi berbayang
aku mendengarkan seksama cerita mama, lamunanku berlari ke tanah jogja, di mana kampung halaman mama dan bapak
bapak...
setelah mama selesai berbicara, kuberanikan diri ku untuk bertanya
"bapak lagi ngapain ma?"
"bapak lagi nyepeda ke glagah" jawab mama.
"o..y udah ma, salam buat bapak".
kumatikan telepon, bukan karena telah panas kupingku atau habis bahan yang ingin kudengar dari mama,namun hatiku sudah tak kuat untuk membungkam,
dalam sepi...kumenangis.
dulu, saat2 liburan sekolah-kuliah-hari raya, kami sekeluarga pulang ke jogja.
saat di jogja, aku selalu menghabiskan waktu bersama bapak.
pagi hari, kami akan ke pasar ikan mencari kepiting atau ikan untuk dibakar, menjelang siang kami akan berjalan-jalan menuju gunung atau berjalan-jalan menuju tempat-tempat favorit bapak atau tempat bersejarah baginya-hanya akulah yang diajak bapak untuk menulusuri 'tempat masa muda bapak'. saat hari menjelang sore, kami akan menyepeda menelusuri pantai glagah-tresik-parangtritis. aku sangat suka bersepeda menyusuri pantai pada sore hari, itu sudah seperti menjadi ritual bagiku.
saat malam harinya, kami merencanakan apa dan kemana kami keesokan harinya.
saat ini, aku membayangkan bapak yang sedang bersepeda sendiran, menyusuri pantai, sendirian tanpa aku.
kurasakan lagi keberadaan diriku di kamar ini, sendirian.
kesepian menyelimuti diriku...
Wednesday, May 20, 2009
Saat pengecut mulai berlari
Saat seseorang merasa dirinya berbeda dari sosialisasi, dirinya akan menarik diri seperti merasa ingin menjauh dari kumpulan orang. Hal tersebut bisa didasari secara sadar dengan kehendak atau tanpa disadari. Penarikan diri dari orang-orang di sampingnya inilah yang menyebabkan perbedaan aura di orang tersebut.
Seseorang yang merasa dirinya berbeda dari sosialisasi yang ada akan menarik dirinya menjauh karena takut oleh norma yang ada, sehingga ia berpikir jika lebih baik ia menyudut dan bersembunyi. Namun, pada beberapa kasus yang saya temukan ternyata akibat dari hal tersebut sangat menyakitkan, yaitu percobaan bunuh diri. Mengapa? Jika saya mencoba menjawabnya, inilah jawaban saya: kesendirian. Ya, saya tipe orang yang percaya jika kesendirian dapat membunuh seseorang (tanpa diperhitungkannya personality orang tersebut-karena menurut saya, personality pun di bangun dari manusia2 di sekitar kita). Keadaan ‘tanpa teman’ dapat membuat seseorang nekat dan juga plin plan dalam melakukan sesuatu, karena tak ada pola/contoh, tak ada bahan masukan/pertimbangan, dan tak adanya pelarian dari penatnya hati (curhat). Sehingga, saat ia menyudut tanpa teman, ia akan termakan oleh pemikirannya sendiri. Saat pertengkaran terjadi di dalam pemikiran orang tersebut, ia akan mulai mencari (mulai dari awal atau berproses lagi) dirinya dengan apa yang telah ia ‘bawa’.
Ada yang berkata :
“ini hanya proses pencarian jati diri yang akan menghilang nantinya bersama datangnya waktu, karena makin tua, kita sudah tidak akan memikirkan hal-hal seperti itu”
Namun, saya ingatkan pada Anda, saat diri kita makin tua, diri kita akan makin didesak oleh kondisi sosial dan makin terasa dengan lekat kata ‘sendiri’. Yah, tentu saja tidak semua orang mengalaminya..
Seseorang yang merasa dirinya berbeda dari sosialisasi yang ada akan menarik dirinya menjauh karena takut oleh norma yang ada, sehingga ia berpikir jika lebih baik ia menyudut dan bersembunyi. Namun, pada beberapa kasus yang saya temukan ternyata akibat dari hal tersebut sangat menyakitkan, yaitu percobaan bunuh diri. Mengapa? Jika saya mencoba menjawabnya, inilah jawaban saya: kesendirian. Ya, saya tipe orang yang percaya jika kesendirian dapat membunuh seseorang (tanpa diperhitungkannya personality orang tersebut-karena menurut saya, personality pun di bangun dari manusia2 di sekitar kita). Keadaan ‘tanpa teman’ dapat membuat seseorang nekat dan juga plin plan dalam melakukan sesuatu, karena tak ada pola/contoh, tak ada bahan masukan/pertimbangan, dan tak adanya pelarian dari penatnya hati (curhat). Sehingga, saat ia menyudut tanpa teman, ia akan termakan oleh pemikirannya sendiri. Saat pertengkaran terjadi di dalam pemikiran orang tersebut, ia akan mulai mencari (mulai dari awal atau berproses lagi) dirinya dengan apa yang telah ia ‘bawa’.
Ada yang berkata :
“ini hanya proses pencarian jati diri yang akan menghilang nantinya bersama datangnya waktu, karena makin tua, kita sudah tidak akan memikirkan hal-hal seperti itu”
Namun, saya ingatkan pada Anda, saat diri kita makin tua, diri kita akan makin didesak oleh kondisi sosial dan makin terasa dengan lekat kata ‘sendiri’. Yah, tentu saja tidak semua orang mengalaminya..
Wednesday, February 25, 2009
26 Februari 2009. 19.30 WIB
Hari ini aku bertemu dengannya, setelah lama kami tak bertemu, dan yang mengejutkan diriku adalah perasaanku. Perasaanku tak gila seperti dulu, saat aku masih menginginkannya sangat, saat aku masih berharap dia kembali padaku. Ya, aku masih mencintainya namun rasa itu kini seperti hanya mengendap dan tenang. Tak seperti dulu, dimana rasa cinta ini layaknya ombak dihantam badai yang siap menerjang apapun yang menghalang. Dan kini, aku pun tak terlalu menginginkannya amat sangat.
Entah mengapa diri ini merasa, ia lebih baik tanpa diriku di sampingnya. Aku dulu sangat ingin ia menuju ke arah yang lebih baik (menurutku), namun aku yang disampingnya hanya memegangnya atau mendorongnya, sehingga ia meluap dan meledak. Ternyata aku salah dan ‘hal dalam mengetahui ke-salah-an’ itu aku terlambat. Ia lebih berkembang dengan caranya.
Aku tertawa mengejek diriku ‘siapa kamu, sok tahu dengan dirinya’. Aku yang mencintainya selama delapan tahun hanya mengenal sekelumit dirinya saja, ternyata waktu tak menjaminnya yang menjaminnya ialah pemahaman. Yah, mungkin aku kurang memahaminya. Dan aku memang tak pantas untuk dirinya. Tak ada celah untukku tuk mencoba yang kedua kalinya, ia telah menutup hatinya untukku. Aku tak menyalahkan dirinya akan hal itu karena hal itulah kemauanku, karena aku tak mau diombang ambing atas suatu yang tak jelas.
Entah mengapa diri ini merasa, ia lebih baik tanpa diriku di sampingnya. Aku dulu sangat ingin ia menuju ke arah yang lebih baik (menurutku), namun aku yang disampingnya hanya memegangnya atau mendorongnya, sehingga ia meluap dan meledak. Ternyata aku salah dan ‘hal dalam mengetahui ke-salah-an’ itu aku terlambat. Ia lebih berkembang dengan caranya.
Aku tertawa mengejek diriku ‘siapa kamu, sok tahu dengan dirinya’. Aku yang mencintainya selama delapan tahun hanya mengenal sekelumit dirinya saja, ternyata waktu tak menjaminnya yang menjaminnya ialah pemahaman. Yah, mungkin aku kurang memahaminya. Dan aku memang tak pantas untuk dirinya. Tak ada celah untukku tuk mencoba yang kedua kalinya, ia telah menutup hatinya untukku. Aku tak menyalahkan dirinya akan hal itu karena hal itulah kemauanku, karena aku tak mau diombang ambing atas suatu yang tak jelas.
26 Februari
Orang tua ku mungkin masih melihat diriku sebagai anak kecil mereka, yah mungkin dalam pandangan mereka aku tetaplah anak kecil yang suka melawan dan nantinya akan rujuk kembali. Mungkin kini pun mereka berpandangan seperti itu. Aku tak pernah berkata keberatan akan pemikiran itu karena toh pemikiran itu hanyalah asumsi ku saja. Tapi jika asumsi tersebut bukan ucapan yang serta merta keluar layaknya karbon dioksida. Asumsi itu bedasarkan pemikiran, pengamatan dan insting dari seorang anak.
Jika hal yang kujalani kini merupakan salah satu pemberontakanku, di mata mereka, maka suatu hari aku akan rujuk kembali sehingga kini mereka tak perlu khawatir yang berlebihan. Tapi apakah ini salah satu pemberontakanku?
Memang pada perjalanan ‘pemberontakan’ ini, aku sempat terpeleset. Tapi hal itu bukan berarti pilihanku buruk kan? jika sesuatu yang buruk terjadi saat aku menjalani pilihanku, bukan berarti pilihanku buruk kan? (aku menyakinkan diriku). Lagipula terpelesetnya aku saat itu adalah kesalahanku, akulah yang tak melihat jalan dengan jelas hingga tak melihat apa yang ada di depanku.
Jika hal yang kujalani kini merupakan salah satu pemberontakanku, di mata mereka, maka suatu hari aku akan rujuk kembali sehingga kini mereka tak perlu khawatir yang berlebihan. Tapi apakah ini salah satu pemberontakanku?
Memang pada perjalanan ‘pemberontakan’ ini, aku sempat terpeleset. Tapi hal itu bukan berarti pilihanku buruk kan? jika sesuatu yang buruk terjadi saat aku menjalani pilihanku, bukan berarti pilihanku buruk kan? (aku menyakinkan diriku). Lagipula terpelesetnya aku saat itu adalah kesalahanku, akulah yang tak melihat jalan dengan jelas hingga tak melihat apa yang ada di depanku.
Saturday, January 31, 2009
Bunyi alarm
Alarm berbunyi mendobrak mimpiku, aku mengintip jam dari tidurku, hah...saatnya bekerja. Kuangkat sadar ke dunia nyata dengan meronta, kurasakan badanku remuk redam. Hujan masih turun, aku keluar mencoba menghirupnya...ah...segar sekali, partikel udara merambah ke hidungku menggelitik badanku untuk kembali tertidur.Namun, aku harus berangkat. Ku bersihkan badan lalu kupacu motorku. Kupacu motorku perlahan, hujan membuat jalan menjadi lebih licin, kubuka kaca helmku dan kubiarkan air hujan menampar wajahku. Mendung semakin pekat, hujan semakin padat bahkan dingin pun serasa penat menggelayuti tubuhku yang sudah remuk redam. Aku memang selalu mendapat shift malam dan aku menyukainya. Dua meter sebelum tempat kerjaku, aku melewati jalan kompleks yang sepi, jalan inilah yang selalu memanjakan lamunanku dengan suasananya. Entah mengapa lamunanku tertuju padamu, walaupun sudah enam bulan kita berpisah, namun rasa cinta yang telah tertanam selama delapan tahun telah mengakar di hati dan pikiranku. Aku telah mencoba mencabutnya secara paksa namun hanya luka yang ku rasa dan akar itu akan kembali tumbuh.
Setibanya di tempat kerja, kuparkirkan motorku dan masuk ke dalam ruang tutor. Hm...nampaknya pengajaryang lain sedang berbincang. Aku duduk di antara mereka dan mulai membaur. Kurasakan tatapan mata yang telah lama tertuju padaku, ku biarkan sudut bibir ini merayunya dengan senyum agar tak sia-sia kerja keras mata indah itu. Pemilik mata indah itu membalas senyumku dengan senyuman yang lebih manis, bahkan terlalu manis untukku. Ia menghampiriku, “hari ini, kau terlihat maskulin” suaranya yang damai menggebrak hatiku, menekan syarafku untuk berteriak liar. “hh...aku dari kantor, jadi pake kemeja” jawabku jinak, bunyi bell menyelamatkanku, setidaknya hari ini, ia menyelamatkanku dari rentetan kata yang akan disodorkan oleh si pemilik mata indah. Seperti biasa, waktu tak terasa, ia bagaikan air yang mengalir dalam detiknya, bell menggema untuk menghantar para siswa dan pengajar pulang di hari jumat ini. Aku ingin segera pulang, hari ini aku ingin merasakan dinginnya tempat tidurku. Aku mulai menyalakan motorku, tiba-tiba si pemilik mata indah menyapaku “hai, bareng dong sampai depan kompleks” “ok, ayo”, setelah ia benar-benar berada di belakang pundakku, aku melaju menembus dinginnya malam. Suara si pemilik mata indah memecah kesunyian malam itu, “dingin..” “mau pake jaket?” tanyaku, “tidak. Nanti aku turun di depan saja” “aku antar sampai rumah ya?” “jangan, sampai depan saja, lain kali saja kamu ke rumahnya” “ok”. Kami kembali terdiam, aku sibuk dengan lamunanku lalu terpecah saat kurasa tangan si pemilik mata indah melingkar di pinggangku, “Ta...maap, Kak Tia (kordinator pengajar) sepertinya...tahu tentang kamu” “kamu tahu dari mana?” “dari kak Tia sendiri, dia nanya informasi tentang kamu ke teman-teman kuliah kamu dan ke semua pengajar, lagipula dia orang yang sensitive” “ya sudahlah, kita tunggu saja kelanjutannya, sementara ini kamu jangan deket ke aku dulu”, aku menunggu jawabannya namun tak ada jawaban. Angin mulai mengantar bulir air, memaksaku untuk melaju lebih cepat. Begitu juga dengan perpisahan kami.
Malam semakin larut saat aku mulai menurunkan dia, “terima kasih” “sama-sama”, aku kembali menuju malam. Hujan bertambah lebat memaksaku untuk berteduh di sisi jalan. Angin benar-benar mengamuk malam ini, ia menumbangkan pohon dan merubuhkan reklame iklan. Namun tak seorang pun yang bergerak, semua menunggu hingga angin mulai menjinak. Hanya beberapa mobil yang terlihat masih hilir mudik menggeliat menghindari pepohonan yang kini telah rebah ke jalan raya. Angin yang tak terlihat dapat merubuhkan pohon sebesar itu, sangat kuatlah ia. Mahar apakah yang harus kuberikan pada angin agar ia tunduk kepadaku? Agar kekuatannya dapat ku kuasai. Tak ada memang. Ku lirik jam tangan di pergelangan seorang pria di sampingku, seorang pengendara motor yang juga berteduh, pukul sepuluh dan hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kubiarkan lamunan menghangatkan diriku, mematikan syaraf dingin yang terpapar di balik kulit ini. Lamunanku kembali membayangkan saat bersamanya, dan jika aku kembali mengingatnya rasa benci akan bergejolak dalam hatiku. Rasa benciku terhadap dirinya yang telah meniggalkan diriku, rasa benciku terhadap diriku yang tak pernah bisa merelakannya, seperti refracto...benci dan cinta. Ayolah...bodoh, aku mengumpat pada diriku sendiri, hingga kapan aku begini? Jika aku terombang ambing seperti ini, aku dapat tersedot ke lubang hitam. Aku harus mencari gravitasiku dan berputar pada orbitku. Entah berapa kali kalimat ini kulempar ke dunia, namun tetap saja...aku terlantar di sisi ini. Yah, memang akulah yang sebenarnya tak mau berpindah dari sisi ini dan akulah yang selalu menyalahkan kondisi atas diriku, hmpf...betapa pengecutnya aku. Di saat ini pulalah aku teringat akan sahabat yang selalu memanjakanku, yang akan selalu bersamaku untuk melewati hal ini.
Seminggu kemudian, aku menerima telephone, aku dipecat dari pekerjaanku sebagai tutor. Apakah masa lalu akan terus menghantuiku? Yah mungkin, ia akan hidup membayangiku di masa ini dan mungkin masa depan....Masa depan! Tidak akan! Aku harus bertindak! Aku harus menang melawan masa laluku. Aku berpikir mencari cara, menggali akar dan berusaha mencabutnya agar aku bisa mempelajari akarnya dan menanamnya kembali agar dapat menjadi pohon yang indah, karena akar ini tak bisa kubuang, ia pernah ada di dalam hidupku. Malam harinya, aku bermimpi. Aku berdiri di tengah tanah lapang yang luas, tanah lapang ini dikelilingi pepohonan, rasanya tempat ini sangat familiar bagiku. Aku tahu tempat ini...tempat ini ialah lapangan yang dahulu sering kudatangi untuk bermain saat usiaku 8 tahun. Aku berlari untuk mencapai ujung timur tanah lapang untuk pulang karena malam semakin dekat, namun seberapa kuatpun aku berlari aku tak bisa mencapai ujung timurnya seakan aku berlari di tempat. Aku menangis, aku takut, aku menangis hingga aku lelah dan tertidur. Sesaat kemudian kurasakan tubuhku semakin ringan, makin ringan sehingga aku tak lagi terikat pada gravitasi bumi. Aku berada di antara bumi dan langit terombang ambing di antara keduanya. Lalu malam datang dan menelanku, saat tersadar aku kembali menangis, “aku ingin turun!” teriakku. Namun angin tak membiarkanku, ia menghembuskanku bagai layang-layang. Aku takut! “Brakk!” suara keras dan alarm merebutku dari dunia mimpi, rasa nyeri kurasakan dari kakiku, hmm...ternyata bunyi tadi dihasilkan dari kakiku yang menendang meja. Rasa nyeri makin membuat sadarku terjaga.
Sebulan sudah sejak aku dipecat dari pekerjaanku sebagai tutor, sekarang aku hanyalah freelance yang benar-benar seperti pengangguran. Jika kondisinya begini terus, aku bisa terlindas oleh keadaan, aku harus berubah. Walaupun aku sudah mempelajari akarnya nampaknya aku masih ragu untuk menanamnya kembali, karena jika aku menanamnya kembali dengan kondisi seperti ini maka hasilnya akan sama saja. Aku harus berani menanamnya dengan suatu perubahan yang nyata, ya...aku harus berubah. Hanya itukah cara yang aku tahu? Saat ini...ya. Diri ini telah kubangun bertahun-tahun sebagai perlindungan dari isi si akar. Aku takut pada isi si akar, aku takut jika ia akan melukaiku lagi jika aku berubah ke keadaan pada umumnya, karena itulah selama ini aku tak berada dalam keadaan pada umumnya. Jika saat ini aku kembali ke keadaan pada umumnya...aku...aku...stop! Akhh! Aku terlalu lelah merasa takut, aku sudah terlalu lama untuk merasa takut, kini aku telah dewasa dan aku akan melawannya!! Aku bukan lagi anak kecil yang hanya merasa takut dan meringkuk menangis lalu lari mencari pembenaran belaka, kini aku terlalu lelah untuk berlari dan merasa takut, cukup sudah semua ini! Jika isi akar ini melukaiku lagi, aku akan melawannya, lagipula kini aku punya sahabat yang kuyakin akan berada di sampingku jika hal itu terjadi. Ya...kini aku akan memecah water balloon yang mengurungku di tengah sungai lalu setelah itu akan menanam kembali akar itu. Keesokan harinya, aku mengubah penampilanku seperti keadaan pada umumnya. Aku berangkat menuju kantorku dan sesampainya di sana, kurasakan aura mereka yang lebih lembut kepadaku. Apakah ini? Sebuah penampilan dapat menipu mata manusia...bahkan menipu hatinya. Aku tak terlalu peduli akan semua itu, walaupun kurasakan pekerjaanku terasa lebih mudah karena mereka lebih ‘ramah’ padaku, aku hanya peduli akan keadaan diriku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah isi akar akan kembali membawaku jatu ke dasar jurang, ataukah isi akar lain yang akan menyerangku dan mendorongku ke dasar jurang, ataukah aku akan melihat bunga dari pohon yang kutanam ini, ataukah keduanya terjadi secara bersamaan? Aku tak tahu, aku tak bisa melihat masa depan, aku hanya dapat memprediksi dan mengantisipasinya. Walaupun terkadang aku dapat melihat samar dari dunia mimpi namun terkadang pula aku tak bisa melihat bayangan di dunia nyata.
Tak mudah memang, terkadang aku harus mengorbankan idealisme yang mungkin telah ku pegang beberapa tahun dan menciptakan yang baru, tapi di balik semua itu akan terlahir hasil yang dapat ku evaluasi. Terkadang aku merasa sakit dan muak terhadap diriku namun aku harus kembali melihat pohon itu, fokus pada tujuan dan bertarung hingga akhir, tak perlu lagi untuk berlari.
Setibanya di tempat kerja, kuparkirkan motorku dan masuk ke dalam ruang tutor. Hm...nampaknya pengajaryang lain sedang berbincang. Aku duduk di antara mereka dan mulai membaur. Kurasakan tatapan mata yang telah lama tertuju padaku, ku biarkan sudut bibir ini merayunya dengan senyum agar tak sia-sia kerja keras mata indah itu. Pemilik mata indah itu membalas senyumku dengan senyuman yang lebih manis, bahkan terlalu manis untukku. Ia menghampiriku, “hari ini, kau terlihat maskulin” suaranya yang damai menggebrak hatiku, menekan syarafku untuk berteriak liar. “hh...aku dari kantor, jadi pake kemeja” jawabku jinak, bunyi bell menyelamatkanku, setidaknya hari ini, ia menyelamatkanku dari rentetan kata yang akan disodorkan oleh si pemilik mata indah. Seperti biasa, waktu tak terasa, ia bagaikan air yang mengalir dalam detiknya, bell menggema untuk menghantar para siswa dan pengajar pulang di hari jumat ini. Aku ingin segera pulang, hari ini aku ingin merasakan dinginnya tempat tidurku. Aku mulai menyalakan motorku, tiba-tiba si pemilik mata indah menyapaku “hai, bareng dong sampai depan kompleks” “ok, ayo”, setelah ia benar-benar berada di belakang pundakku, aku melaju menembus dinginnya malam. Suara si pemilik mata indah memecah kesunyian malam itu, “dingin..” “mau pake jaket?” tanyaku, “tidak. Nanti aku turun di depan saja” “aku antar sampai rumah ya?” “jangan, sampai depan saja, lain kali saja kamu ke rumahnya” “ok”. Kami kembali terdiam, aku sibuk dengan lamunanku lalu terpecah saat kurasa tangan si pemilik mata indah melingkar di pinggangku, “Ta...maap, Kak Tia (kordinator pengajar) sepertinya...tahu tentang kamu” “kamu tahu dari mana?” “dari kak Tia sendiri, dia nanya informasi tentang kamu ke teman-teman kuliah kamu dan ke semua pengajar, lagipula dia orang yang sensitive” “ya sudahlah, kita tunggu saja kelanjutannya, sementara ini kamu jangan deket ke aku dulu”, aku menunggu jawabannya namun tak ada jawaban. Angin mulai mengantar bulir air, memaksaku untuk melaju lebih cepat. Begitu juga dengan perpisahan kami.
Malam semakin larut saat aku mulai menurunkan dia, “terima kasih” “sama-sama”, aku kembali menuju malam. Hujan bertambah lebat memaksaku untuk berteduh di sisi jalan. Angin benar-benar mengamuk malam ini, ia menumbangkan pohon dan merubuhkan reklame iklan. Namun tak seorang pun yang bergerak, semua menunggu hingga angin mulai menjinak. Hanya beberapa mobil yang terlihat masih hilir mudik menggeliat menghindari pepohonan yang kini telah rebah ke jalan raya. Angin yang tak terlihat dapat merubuhkan pohon sebesar itu, sangat kuatlah ia. Mahar apakah yang harus kuberikan pada angin agar ia tunduk kepadaku? Agar kekuatannya dapat ku kuasai. Tak ada memang. Ku lirik jam tangan di pergelangan seorang pria di sampingku, seorang pengendara motor yang juga berteduh, pukul sepuluh dan hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kubiarkan lamunan menghangatkan diriku, mematikan syaraf dingin yang terpapar di balik kulit ini. Lamunanku kembali membayangkan saat bersamanya, dan jika aku kembali mengingatnya rasa benci akan bergejolak dalam hatiku. Rasa benciku terhadap dirinya yang telah meniggalkan diriku, rasa benciku terhadap diriku yang tak pernah bisa merelakannya, seperti refracto...benci dan cinta. Ayolah...bodoh, aku mengumpat pada diriku sendiri, hingga kapan aku begini? Jika aku terombang ambing seperti ini, aku dapat tersedot ke lubang hitam. Aku harus mencari gravitasiku dan berputar pada orbitku. Entah berapa kali kalimat ini kulempar ke dunia, namun tetap saja...aku terlantar di sisi ini. Yah, memang akulah yang sebenarnya tak mau berpindah dari sisi ini dan akulah yang selalu menyalahkan kondisi atas diriku, hmpf...betapa pengecutnya aku. Di saat ini pulalah aku teringat akan sahabat yang selalu memanjakanku, yang akan selalu bersamaku untuk melewati hal ini.
Seminggu kemudian, aku menerima telephone, aku dipecat dari pekerjaanku sebagai tutor. Apakah masa lalu akan terus menghantuiku? Yah mungkin, ia akan hidup membayangiku di masa ini dan mungkin masa depan....Masa depan! Tidak akan! Aku harus bertindak! Aku harus menang melawan masa laluku. Aku berpikir mencari cara, menggali akar dan berusaha mencabutnya agar aku bisa mempelajari akarnya dan menanamnya kembali agar dapat menjadi pohon yang indah, karena akar ini tak bisa kubuang, ia pernah ada di dalam hidupku. Malam harinya, aku bermimpi. Aku berdiri di tengah tanah lapang yang luas, tanah lapang ini dikelilingi pepohonan, rasanya tempat ini sangat familiar bagiku. Aku tahu tempat ini...tempat ini ialah lapangan yang dahulu sering kudatangi untuk bermain saat usiaku 8 tahun. Aku berlari untuk mencapai ujung timur tanah lapang untuk pulang karena malam semakin dekat, namun seberapa kuatpun aku berlari aku tak bisa mencapai ujung timurnya seakan aku berlari di tempat. Aku menangis, aku takut, aku menangis hingga aku lelah dan tertidur. Sesaat kemudian kurasakan tubuhku semakin ringan, makin ringan sehingga aku tak lagi terikat pada gravitasi bumi. Aku berada di antara bumi dan langit terombang ambing di antara keduanya. Lalu malam datang dan menelanku, saat tersadar aku kembali menangis, “aku ingin turun!” teriakku. Namun angin tak membiarkanku, ia menghembuskanku bagai layang-layang. Aku takut! “Brakk!” suara keras dan alarm merebutku dari dunia mimpi, rasa nyeri kurasakan dari kakiku, hmm...ternyata bunyi tadi dihasilkan dari kakiku yang menendang meja. Rasa nyeri makin membuat sadarku terjaga.
Sebulan sudah sejak aku dipecat dari pekerjaanku sebagai tutor, sekarang aku hanyalah freelance yang benar-benar seperti pengangguran. Jika kondisinya begini terus, aku bisa terlindas oleh keadaan, aku harus berubah. Walaupun aku sudah mempelajari akarnya nampaknya aku masih ragu untuk menanamnya kembali, karena jika aku menanamnya kembali dengan kondisi seperti ini maka hasilnya akan sama saja. Aku harus berani menanamnya dengan suatu perubahan yang nyata, ya...aku harus berubah. Hanya itukah cara yang aku tahu? Saat ini...ya. Diri ini telah kubangun bertahun-tahun sebagai perlindungan dari isi si akar. Aku takut pada isi si akar, aku takut jika ia akan melukaiku lagi jika aku berubah ke keadaan pada umumnya, karena itulah selama ini aku tak berada dalam keadaan pada umumnya. Jika saat ini aku kembali ke keadaan pada umumnya...aku...aku...stop! Akhh! Aku terlalu lelah merasa takut, aku sudah terlalu lama untuk merasa takut, kini aku telah dewasa dan aku akan melawannya!! Aku bukan lagi anak kecil yang hanya merasa takut dan meringkuk menangis lalu lari mencari pembenaran belaka, kini aku terlalu lelah untuk berlari dan merasa takut, cukup sudah semua ini! Jika isi akar ini melukaiku lagi, aku akan melawannya, lagipula kini aku punya sahabat yang kuyakin akan berada di sampingku jika hal itu terjadi. Ya...kini aku akan memecah water balloon yang mengurungku di tengah sungai lalu setelah itu akan menanam kembali akar itu. Keesokan harinya, aku mengubah penampilanku seperti keadaan pada umumnya. Aku berangkat menuju kantorku dan sesampainya di sana, kurasakan aura mereka yang lebih lembut kepadaku. Apakah ini? Sebuah penampilan dapat menipu mata manusia...bahkan menipu hatinya. Aku tak terlalu peduli akan semua itu, walaupun kurasakan pekerjaanku terasa lebih mudah karena mereka lebih ‘ramah’ padaku, aku hanya peduli akan keadaan diriku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah isi akar akan kembali membawaku jatu ke dasar jurang, ataukah isi akar lain yang akan menyerangku dan mendorongku ke dasar jurang, ataukah aku akan melihat bunga dari pohon yang kutanam ini, ataukah keduanya terjadi secara bersamaan? Aku tak tahu, aku tak bisa melihat masa depan, aku hanya dapat memprediksi dan mengantisipasinya. Walaupun terkadang aku dapat melihat samar dari dunia mimpi namun terkadang pula aku tak bisa melihat bayangan di dunia nyata.
Tak mudah memang, terkadang aku harus mengorbankan idealisme yang mungkin telah ku pegang beberapa tahun dan menciptakan yang baru, tapi di balik semua itu akan terlahir hasil yang dapat ku evaluasi. Terkadang aku merasa sakit dan muak terhadap diriku namun aku harus kembali melihat pohon itu, fokus pada tujuan dan bertarung hingga akhir, tak perlu lagi untuk berlari.
Tuesday, January 20, 2009
Stop it, your life is priceless!
Dingin...tak kusadari ternyata hujan telah turun, aku segera menuju ke permukaan, mencoba mengisi kembali paru-paruku dengan udara. nampaknya hujan telah turun hebat dari tadi, hal itu kurasa dari permukaan air yang lebih dingin dari air di bawah. Aku segera menuju tepi pantai, menjatuhkan diriku di pasir berselimut hujan. angin mulai mengamuk, menampar air laut melahirkan ombak, lagi dan lagi suatu kontinuitas yang alami nan menajubkan. Suara hujan menemaniku, entah mengapa di kejauhan suara hujan terdengar seperti suara gadis yang sedang menangis. Aku mencoba bangkit dari rebahku, menatap abunya langit dan ganasnya ombak. Kakiku mengajakku untuk menapak ke arah gemuruh itu. Gemuruh yang mendayu-dayu menggoda jiwaku. Akankah aku bersih dari kotoran ini jika aku melebur bersamamu wahai gemuruh? tanyaku padanya, namun ia tak menjawab iya atau tidak, ia hanya melakukannya lagi dan lagi, bercinta dengan angin.
Aku sangat suka berenang, merasakan seluruh air menyrntuh setiap jengkal pori-poriku. merasakan air mencuci diriku yang kotor. Aku akan menuju ke kedalamannya hingga noda ini tercuci bersih...namun...akankah ia tercuci?akankah ia hilang? Aku tahu jawabnnya tidak. aku hanya berlari...lagi dan lagi.
"I just create another pain to replace an unbearable one"
Hal itulah yang aku rasakan saat membuka jaringan demi jaringan di kulitku, saat pisau itu menari di kulitku, rasa sakitnya sangatlah memusingkan...sakit. Namun rasa sakit ini dapat membuatku lupa akan 'hal itu'. 'Hal itu' yang membuatku sesak bernapas, mual dan membuatku amat sangat ignin pergi dari tempat ini. Tapi aku adalah seorang pengecut, yang hanya bersembunyi di balik rasa sakit. namun, bukankah rasa sakit yang lebih sakit dapat menutupi rasa sakit yang lain...even for a moment.... Please...I'll buy that moment with this pain.
of course...i'll not erase the pain with that. but...i need to breath.
"I just want to cut it, so that thing can come outside"
Aku memotongnya agar ia bisa keluar, agar ia tak mengendap di hatiku, otakku dan membawa seluruh tubuhku jatuh bersamanya. aku hanya ingin agar ia bisa keluar, aku terlalu lelah membawanya. ia sangat susah keluar dari mulutku, oleh karena itu aku memotong tenggorokanku. Tapi...ternyata ia tetap tak keluar, hanya darah dan air mata yang bersedia keluar.
Suara langkah berlari memecah suara gemuruh, berteriak memanggilku...
"Aku hanya ingin berada di dalam air, tercuci. Namun ternyata air benar-benar mengisi tiap pori-poriku hingga paru-paru ku pun di sentuh olehnya"
Saat samar, cahaya putih menyerang penglihatanku, bau alkohol menguap di seluruh tubuhku. Suara tangis mengii seluruh ruangan. saat sadar mengisi jiwa, kulihat Ibuku dan sahabatku berdiri di sampingku berbulir air mata. "kumohon berhentilah menangis", aku ingin berkata seperti itu namun mengapa tak ada satu kata pun yang dapat keluar. Kumohon berhentilah menangis, aku tak mau membuat kalian menangis, air mata kalian terlalu berharga untuk wanita kotor ini. Namun tak ada yang dapat kulakukan, aku talh merobek kataku saat kurobek tenggorokanku. Hanya air mata dan darah yang bersedia keluar.
Anastesi menguasi sadarku kembali.
Keesokan paginya kutemukan sepucuk surat di sampingku. kubaca perlahan dengan pemahaman yang dapat kucuri dari anastesi ini.
Dear Ta,
Maap, aku gak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku gak bisa ada di samping kamu sekarang (apa sih maksudmu sobat...yang berteriak meminta pertolongan di pantai itu kan kamu-pikirku). Aku...aku sayang kamu, kamu salah satu sahabat terbaik yang pernah aku punya. kamu tahu saat kamu harus ngeliat sobat kamu sakit sedangkan kamu gak bisa berbuat apa-apa...hancur Ta, rasanya kamu gak berguna, rasanya kata2 penyemangat yang aku berikan ke kamu saat hal itu terjadi cuma angin yang melewati udara. Itulah yang aku lagi rasain sekarang Ta. Aku takut kehilangan kamu, aku juga takut kehilangan 'sebagian diri' aku yang terbiasa aku habisin ma kamu. Walaupun setiap tetes darah kamu keluar, rasa sakit tiu gak akan tertutupi oleh rasa sakit yang lebih hebat Ta, rasa sakit itu sembunyi dan akan nyerang kamu bersamaan dengan semua rasa sakit yang ada, dan rasa sakit yang baru gak akan pergi begitu aja Ta, dy akan tinggal membekas baik di tubuh kamu dan di jiwa kamu.
Aku gak benar-benar tahu apa isi hati dan pikiran kamu, mungkin aku kurang berusaha keras untuk mencoba mengerti kamu (Bro...you are the only one who have understood me very well, too well, till i thought about it-why i can't understand myself better than you done). Please stop it, your life is priceless. Keep living on. you are loved.
So bro, will you answer me, can I blame it to my father rather I blame it on myself? cause you told me once "If you wanna blame on a child, you must see to the parents and adult around her/him, cause they are guiltiness person". May I trap in my "child"-step?
Aku sangat suka berenang, merasakan seluruh air menyrntuh setiap jengkal pori-poriku. merasakan air mencuci diriku yang kotor. Aku akan menuju ke kedalamannya hingga noda ini tercuci bersih...namun...akankah ia tercuci?akankah ia hilang? Aku tahu jawabnnya tidak. aku hanya berlari...lagi dan lagi.
"I just create another pain to replace an unbearable one"
Hal itulah yang aku rasakan saat membuka jaringan demi jaringan di kulitku, saat pisau itu menari di kulitku, rasa sakitnya sangatlah memusingkan...sakit. Namun rasa sakit ini dapat membuatku lupa akan 'hal itu'. 'Hal itu' yang membuatku sesak bernapas, mual dan membuatku amat sangat ignin pergi dari tempat ini. Tapi aku adalah seorang pengecut, yang hanya bersembunyi di balik rasa sakit. namun, bukankah rasa sakit yang lebih sakit dapat menutupi rasa sakit yang lain...even for a moment.... Please...I'll buy that moment with this pain.
of course...i'll not erase the pain with that. but...i need to breath.
"I just want to cut it, so that thing can come outside"
Aku memotongnya agar ia bisa keluar, agar ia tak mengendap di hatiku, otakku dan membawa seluruh tubuhku jatuh bersamanya. aku hanya ingin agar ia bisa keluar, aku terlalu lelah membawanya. ia sangat susah keluar dari mulutku, oleh karena itu aku memotong tenggorokanku. Tapi...ternyata ia tetap tak keluar, hanya darah dan air mata yang bersedia keluar.
Suara langkah berlari memecah suara gemuruh, berteriak memanggilku...
"Aku hanya ingin berada di dalam air, tercuci. Namun ternyata air benar-benar mengisi tiap pori-poriku hingga paru-paru ku pun di sentuh olehnya"
Saat samar, cahaya putih menyerang penglihatanku, bau alkohol menguap di seluruh tubuhku. Suara tangis mengii seluruh ruangan. saat sadar mengisi jiwa, kulihat Ibuku dan sahabatku berdiri di sampingku berbulir air mata. "kumohon berhentilah menangis", aku ingin berkata seperti itu namun mengapa tak ada satu kata pun yang dapat keluar. Kumohon berhentilah menangis, aku tak mau membuat kalian menangis, air mata kalian terlalu berharga untuk wanita kotor ini. Namun tak ada yang dapat kulakukan, aku talh merobek kataku saat kurobek tenggorokanku. Hanya air mata dan darah yang bersedia keluar.
Anastesi menguasi sadarku kembali.
Keesokan paginya kutemukan sepucuk surat di sampingku. kubaca perlahan dengan pemahaman yang dapat kucuri dari anastesi ini.
Dear Ta,
Maap, aku gak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku gak bisa ada di samping kamu sekarang (apa sih maksudmu sobat...yang berteriak meminta pertolongan di pantai itu kan kamu-pikirku). Aku...aku sayang kamu, kamu salah satu sahabat terbaik yang pernah aku punya. kamu tahu saat kamu harus ngeliat sobat kamu sakit sedangkan kamu gak bisa berbuat apa-apa...hancur Ta, rasanya kamu gak berguna, rasanya kata2 penyemangat yang aku berikan ke kamu saat hal itu terjadi cuma angin yang melewati udara. Itulah yang aku lagi rasain sekarang Ta. Aku takut kehilangan kamu, aku juga takut kehilangan 'sebagian diri' aku yang terbiasa aku habisin ma kamu. Walaupun setiap tetes darah kamu keluar, rasa sakit tiu gak akan tertutupi oleh rasa sakit yang lebih hebat Ta, rasa sakit itu sembunyi dan akan nyerang kamu bersamaan dengan semua rasa sakit yang ada, dan rasa sakit yang baru gak akan pergi begitu aja Ta, dy akan tinggal membekas baik di tubuh kamu dan di jiwa kamu.
Aku gak benar-benar tahu apa isi hati dan pikiran kamu, mungkin aku kurang berusaha keras untuk mencoba mengerti kamu (Bro...you are the only one who have understood me very well, too well, till i thought about it-why i can't understand myself better than you done). Please stop it, your life is priceless. Keep living on. you are loved.
So bro, will you answer me, can I blame it to my father rather I blame it on myself? cause you told me once "If you wanna blame on a child, you must see to the parents and adult around her/him, cause they are guiltiness person". May I trap in my "child"-step?
Sunday, January 18, 2009
Kota ku
Kota ini dikelilingi padang tandus, sepanjang kau memandang kejauhan kau hanya akan melihat tanah gurun yang kering. Bau tanah gersang menguap tiap saat, angin berhembus kencang di siang hari dan di malam hari kau dapat mendengar lolongannya. Arah timur dari kota ini merupakan hutan belantara yang berjarak satu minggu perjalanan dengan jalan kaki dan arah barat merupakan tambang emas yang berjarak satu hari perjalanan dengan jalan kaki, tambang emas yang terhampar luas. Satu-satunya jalan keluar dari kota ini ialah kearah timur. Arah Selatan dan utara hanyalah pandang tandus dan gurun. Dahulu, kota ini sangat ramai dipenuhi oleh para pemburu emas yang meluap dari berbagai kota bahkan dari negara lain. Dahulu, kota ini sangat hidup, tiga hotel mewah berdiri gagah dihiasi kata ‘gold life’ dengan lampu malam yang menggoda, empat mini hotel , bar, kasino, supermarket, restoran siap saji dan bank. Kota singgah ini seperti layaknya kota di pusat.
Sekarang, kota ini hanya sebuah kota mati. Layaknya nasib kota singgah lainnya yang hanya berdiri untuk para penambang emas, yang akan mati jika ditinggalkan oleh mereka. Kurang lebih lima puluh tahun sudah gunung-gunung di barat dihancurkan untuk diambil emasnya dan sepuluh tahun belakangan ini, saat emasnya mulai habis dan kabarnya di kota timur ditemukan tambang emas baru, kota ini ditinggalkan. Seperti perawan setelah diperkosa, ditinggalkan begitu saja.
Tak ada yang tertingal di kota in, hanya gedung-gedung kosong, Si Mata Setan penjaga supermarket dan dua anak kembarnya yang gila, Si Nenek Lumpuh penjaga hotel, dan aku. Entah mengapa mereka tinggal, dari kabar yang aku dengar dahulu kala, Si mata setan mulai gila saat ia ditinggal mati istrinya, sekarang ia mejaga supermarket tanpa pembeli itu dan juga dua anak kembarnya yang gila. Si nenek lumpuh, ia ditinggal oleh anak perempuannya yang kawin lari dengan seorang gigolo. Sekarang ia hanya duduk di kursi roda, di bagian depan resepsionis hotelnya, menunggu anaknya untuk pulang atau mungkin menunggu malaikat kematian menjemputnya....
Aku...aku seorang perempuan waras yang berumur 12 tahun dengan kaki yang sehat. Mengapa aku di sini? Aku terdampar...mungkin. Semenjak lima tahun lalu, saat usiaku tujuh tahun, semua orang pergi berduyun-duyun meninggalkan kota ini menuju timur, menuju matahari-menuju kehidupan baru-menuju tambang emas baru-menuju kota baru. Sejak saat itu tak ada satu kendaran pun tersisa, bahkan ‘rent car’ sudah tak beroperasi untuk datang ke kota ini. Satu-satunya cara pergi dari sini ialah menunggu tumpangan, atau jika kau cukup gila, kau bisa berjalan kaki dan mati di tengah perjalanan. Namun percayalah, kau akan menemukan tengkorak berserakan saat kau mencoba berjalan kaki, saat dua hari menuju timur, apalagi jika kau sendiri...berapa harikah yang aku perlu tempuh untuk menemukan tengkorakmu?
Aku tinggal di hotel ini, bersebrangan dengan supermarket Si Mata Setan dan Hotel Si Nenek Lumpuh. Aku senang hotelku berada di sebrang mereka, karena aku dapat mengintai mereka. Mengintai mereka untuk mencuri makanan mereka. Cara untuk bertahan hidup di kota ini ialah merampas atau dirampas. Aku telah merampas seluruh suplai-suplai makanan dari gedung-gedung yang ditinggalkan, bahkan aku tak merasa meampasnya, aku mengambilnya toh mereka yang meninggalkannya. Gedung yang belum kurampas makanannya ialah supermarket Si Mata Setan dan Hotel Si Nenek Lumpuh.
Aku lapar, malam telah datang, “it’s time to have a dinner”.
Suplai makananku sudah mulai habis, bahkan tikus pun sudah mulai takut padaku, mereka tahu siapa predator di hotel ini. Malam ini, aku datang ke hotel si nenek lumpuh, aku mencuri makanannya, toh nenek mau mati ini tak makan. Biarlah ia mati dalam damai dan cepat dengan perut kosongnya. Tiba-tiba saat aku melahap makanan nenek tua itu, terdengar music waltz dari beranda samping. Kakiku bagaikan terpanggil olehnya, aku menuju ke sana, aku tak bisa berpikir jika ada orang selain kami berdua di hotel ini. Jantungku berdegup, aku menahan napasku, mengintip kecil ke arah beranda itu, namun kosong tak terlihat satu siluet pun yang bergerak. Ku berjinjit perlahan menuju beranda itu untuk menyakinkan telingaku. Namun kini semua indraku menyakinkanku bahwa benar-benar tak ada siapapun di beranda ini, mungkin angin yang berhembus kencang yang membuat gramophone bergerak, ya pasti begitu, aku menyakinkan diriku. Tiba-tiba sebuah ingatan memenuhi pandanganku, kursi-kursi putih, teko teh bewarna putih yang disinari senja matahari, wanita bergaun putih itu tersenyum padaku dan mengajakku berdansa lalu kami pun berdansa. Akhh!...Angin kencang menampar tubuhku, membawaku kembali ke dunia nyata. Nampaknya musim hujan akan segera datang, aku harus bergegas pulang karena matahari akan datang.
Sudah seminggu sejak aku mencuri habis makanan nenek tua itu, sekarang aku mulai lapar lagi.
Seminggu...hanya seminggu aku dapat menahan rasa laparku, sampai kapan aku bisa bertahan? Mungkin aku harus mencuri ke supermarket Si Mata Setan kali ini, namun hal itu terlalu berbahaya. Ia punya senjata, senapan laras panjang yang sering kali ia pakai untuk membunuh hewan liar yang mencuri makanan di supermarketnya. Aku sanksi jika ia masih memerlukan senapan itu, bahkan sudah tak ada hewan liar yang datang ke kota ini, satu-satunya hewan liar yang kau perlu awasi sekarang ini ialah aku, hey mata setan. Rasa laparku menghilangkan semua ketakutanku, jantungku berdegup kencang, adrenalinku mengisi tiap tetes darahku, aku lapar! Otakku berpikir mencari cara agar aku dapat masuk ke supermarket itu, melewati dua anak kembar gila dan si mata setan serta mengosongkan persediaan makanan mereka lalu keluar dari supermarket itu dan bersembunyi di kota ini. Hide and seek.
Malam tiba, aku mengendap-endap menuju supermarket itu melalui hotel nenek tua, toh ia tak akan berteriak jika ada penyelinap di hotelnya, menuju sisi timur supermarket itu. Di sisi timur supermarket itu terdapat sebuah pintu yang menuju langsung ke supermarket, aku membukanya dengan linggis, berhasil. Aku mengendap menuju tempat makanan yang terletak di depan kasir, nampaknya si Mata Setan tertidur di kasir dan dua anak gilanya tertidur di depan pintu utama. Aku mulai memasukkan satu daging ke tasku, “Siapa itu!!!” Si mata setan terbangun dengan senapannya menuju ke arahku, 10 kaki... jarak moncong senapan itu dengan kepalaku. Dengan cepat aku melempar linggisku ke arah lampu, sehingga ruangan jadi gelap gulita. Aku berlari sekuat tenaga menuju ke pintu timur dan menghilang ke arah hotel nenek tua. Jantungku berdegup sangat kencang, melebihi saat aku bercinta, hahaha...aku tertawa...nikmat sekali. Aku tak salah dengar, aku mendengarnya dengan jelas, bunyi “klik”, aku kira aku akan mati di sana, ternyata senapan itu kosong...hahaha, nikmat sekali...nikmat. Aku ingin melakukannya lagi, nikmat...seperti saat kau bercinta, menginginkannya lagi dan lagi.
Sudah dua malam sejak aku mencuri dari Si Mata Setan, aku sudah mulai lapar lagi, terlebih lagi aku lapar akan kenikmatan itu, menggodaku layaknya candu. Aku menginginkannya. Malam ini malam bulan mati, seperti biasanya Si Mata Setan pasti berada di lantai dua gedung supermarket itu, memuja setan. Aku tak tahu hal itu benar atau tidak, namun aku melihat cahaya redup di lantai dua gedung itu. Mungkin bulan sedang berpihak padaku. Aku mulai keluar dari tempat persembunyianku, ku intip supermarket itu, aku melihat dua bayangan Gargoyle dengan tongkat di tangannya mengelilingi api unggun di depan pintu utama supermarket. Aku mengendap lebih dekat, ah...ternyata dua Gargoyle itu adalah dua anak kembar si Mata Setan, dua hal itu memang sangat mirip. Berarti, aku tak dapat masuk lewat pintu timur, utama dan tidak juga bisa memanjat jendelanya, jika aku lewat belakang, sama saja bunuh diri. Si Mata Setan memasang banyak perangkap di sana. Bagaimana aku tahu...Akulah yang bekerja memasang semua perangkap-perangkap itu dan tentu saja semua hasil pekerjaanku harus sempurna. Lagipula...Ayahku-lah arsitek kota ini, semua cetak biru kota ini ada di dalam kepalaku. Ada jalan lain menuju supermarket itu tanpa ‘terlihat’, namun aku ragu jika jalan itu masih terbuka.
Jalan lain menuju supermarket itu ialah melalui ruang perlindungan, yang biasa digunakan saat badai angin datang, pintu ruang itu berada di dekat pintu utama, pintu itu menuju ke arah basement yang dapat menuju ke supermarket. Berarti satu-satunya cara agar aku bisa masuk ke ruang perlindungan ialah dengan cara membodohi dua anak gila itu, ayolah...mereka terlalu gila untuk mengetahui maksudku. Aku mendekat dengan hati-hati menampakkan diriku pada dua anak gila itu. “Apakah kalian tidak lelah, berputar-putar mengelilingi api unggun itu? Bagaimana jika kalian beristirahat sebentar dan biarkan aku yang menggantikan kalian?” bujuk-ku, “kami tidak bisa, kami nanti akan dipukuli Ayah hingga kami tidur” si kembar pertama menjawab dengan senyum di wajahnya, “wah! Ayah kalian jahat sekali ya? Kalian tidak melawannya saja?” “Jahat? Tidak, Ayah sayang kami makanya ia memberi kami pukulan. He3”. Si Mata Setan memang benar-benar gila hingga membuat anaknya jadi gila ataukah karena kedua anaknya gila sehingga ia semena-mena terhadap mereka.... Aku tak mau memikirkan hal itu, aku harus mencari cara agar aku bisa mendekat ke pintu itu. Aku duduk di tanah, mendekatkan kedua lututku ke arah daguku, tanganku memeluk erat kedua kakiku, menunjukkan ekspresi meminta belas kasih pada mereka. Aku tak tahu hal ini akan berhasil apa tidak, aku hanya bertaruh. “Kalian tidak kedinginan, malam ini nampaknya akan ada badai angin sebaiknya kalian menggunakan baju yang lebih tebal” aku mulai menjilat hati mereka, “iya, kami akan mengambil selimut dulu” jawab si kembar 2. Lalu keduanya masuk ke dalam supermarket melalui pintu utama. Hey! Hey! Bukannya ini terlalu mudah? Dengan sigap aku menuju ruang perlindungan, ternyata gembok ruang ini telah rapuh sehingga mudah sekali untuk di buka. Aku langsung menuju ruang basement, menunggu suara-suara lain, namun tak ada suara apapun, nampaknya si Mata Setan belum sadar akan lokasiku sekarang. ‘Terlalu mudah’ pikirku, aku tanpa sengaja terus mengulang kata-kata itu dalam pikiranku. Aku menaiki tangga menuju ruang penyimpanan di supermarket itu, basement ini berada tepat di bawah ruang penyimpanan makanan. Aku memasukkan semua makanan ke dalam tas-ku dan bergegas keluar dari supermarket ini. Saat aku mulai menuruni tangga, terdengar bunyi langkah kaki menuruni anak tangga dari lantai atas dan “dorr!”. Senapan itu berisi peluru. Aku terus berlari menuju basement, ruang perlindungan, lapangan hotel dan menuju hotel ku. Berlari hingga lantai satu dan mengintip dari jendelanya. Ternyata Si Mata Setan tak mengikuti sejauh ini, dia berdiri di tengah lapangan memegang senjatanya. Terima kasih bulan.
Sudah dua hari sejak aku mencuri dari si Mata Setan, nmpaknya sudah dua hari juga ia mencariku ke seluruh kota. Persedian makanan Si Mata Setan hanya cukup untuk satu bulan, ternyata kami memang menunggu ajal di kota ini. Ke esokan malamnya aku tersentak mendengar suara jeep datang mendekat, aku beranjak dari tempatku mengintip ke arah jeep itu datang. Benar...itu benar-benar sebuah jeep. Jeep itu berhenti di depan supermarket Si Mata Setan, lalu Si Mata Setan dan kedua anaknya yang gila masuk ke dalam jeep itu, mereka hanya membawa satu koper dan sebuah radio transmitter. Ternyata...ia mempunyai benda itu sejak dulu, lalu mengapa ia baru pergi meninggalkan kota ini sekarang. Toh aku tak akan mendapatkan jawabnnya karena Si Mata Setan dan kedua anaknya telah pergi begitu saja. Apakah ia lupa akan si pencuri ini? Ataukah ia berlari dari si pencuri ini? Satu hal yang pasti, nampaknya waktu untukku di kota ini juga sudah usai. Jeep itu menuju ke arah timur, setelah siluet jeep itu tak terlihat oleh ku, aku berdiri di tengah jalan. Berpikir, namun entah apa yang kupikirkan, kosong...sepi. Apakah ini rasanya kesepian? Lalu bayangan-bayangan hitam mulai menyentuhku dan memelukku. ‘Plakk!’ Aku menghempaskan tangan mereka, walaupun kesepian, tak sudi aku disentuh oleh mereka! Aku terkejut mendengar suara motor dari arah barat datang mendekat ke arah ku. Motor Harley Davidson yang di kendarai oleh seorang pria berjubah hitam dan berambut hitam melintas di depan mataku. “Need a ride? Catch up if you can!” teriaknya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung lari menuju kursi belakangnya dan memeluknya. Angin menerpa mukaku, dadaku sakit, tidak...seluruh tubuhku sakit! Sakit! Makin menjauh dari hotel makin sakit tubuhku. Gerbang kota mati terlihat pudar di mataku. Aku telah melalui dua mil dari gerbang itu namun tubuhku makin sakit layaknya dicabik-cabik oleh samurai. Hingga akhirnya bayangan hitam itu memelukku, bayangan hitam itu membuatku nyaman, rasa sakit itu hilang. Hingga akhirnya aku melihatnya, kakiku...kaki kananku terantai oleh kota tua itu. Tiga mil dari gerbang, rantai itu menahanku, Aku melepaskan tanganku, aku tertarik kembali menuju kota mati ini.
Tiba-tiba semua gelap, bayangan-bayangan itu memelukku erat, menahan tubuhku dari rasa sakit rantai ini. Saat aku tersadar, aku berdiri di lantai dua hotelku, tempat di mana biasanya aku berdiri. Aku menutup mataku menyakinkan diriku jika ini adalah sebuah realita. Namun, tak ada jawaban saat aku menutup mataku. Saat kesadaran benar-benar telah menapak di dasar jiwaku, kusadari ternyata aku tak sendiri di ruangan ini. Ku lihat di sisi kiriku terdapat sebuah tempat tidur, di atasnya terbaring mati seorang wanita. Aku mendekat ke arahnya, membelai pipinya, ia sama sekali tak berubah, hanya tubuhnya saja yang semakin dingin setiap hari. Aku berlutut di sampingnya menunggu saat ia akan terbangun untuk mengajakku berdansa lagi.
Sekarang, kota ini hanya sebuah kota mati. Layaknya nasib kota singgah lainnya yang hanya berdiri untuk para penambang emas, yang akan mati jika ditinggalkan oleh mereka. Kurang lebih lima puluh tahun sudah gunung-gunung di barat dihancurkan untuk diambil emasnya dan sepuluh tahun belakangan ini, saat emasnya mulai habis dan kabarnya di kota timur ditemukan tambang emas baru, kota ini ditinggalkan. Seperti perawan setelah diperkosa, ditinggalkan begitu saja.
Tak ada yang tertingal di kota in, hanya gedung-gedung kosong, Si Mata Setan penjaga supermarket dan dua anak kembarnya yang gila, Si Nenek Lumpuh penjaga hotel, dan aku. Entah mengapa mereka tinggal, dari kabar yang aku dengar dahulu kala, Si mata setan mulai gila saat ia ditinggal mati istrinya, sekarang ia mejaga supermarket tanpa pembeli itu dan juga dua anak kembarnya yang gila. Si nenek lumpuh, ia ditinggal oleh anak perempuannya yang kawin lari dengan seorang gigolo. Sekarang ia hanya duduk di kursi roda, di bagian depan resepsionis hotelnya, menunggu anaknya untuk pulang atau mungkin menunggu malaikat kematian menjemputnya....
Aku...aku seorang perempuan waras yang berumur 12 tahun dengan kaki yang sehat. Mengapa aku di sini? Aku terdampar...mungkin. Semenjak lima tahun lalu, saat usiaku tujuh tahun, semua orang pergi berduyun-duyun meninggalkan kota ini menuju timur, menuju matahari-menuju kehidupan baru-menuju tambang emas baru-menuju kota baru. Sejak saat itu tak ada satu kendaran pun tersisa, bahkan ‘rent car’ sudah tak beroperasi untuk datang ke kota ini. Satu-satunya cara pergi dari sini ialah menunggu tumpangan, atau jika kau cukup gila, kau bisa berjalan kaki dan mati di tengah perjalanan. Namun percayalah, kau akan menemukan tengkorak berserakan saat kau mencoba berjalan kaki, saat dua hari menuju timur, apalagi jika kau sendiri...berapa harikah yang aku perlu tempuh untuk menemukan tengkorakmu?
Aku tinggal di hotel ini, bersebrangan dengan supermarket Si Mata Setan dan Hotel Si Nenek Lumpuh. Aku senang hotelku berada di sebrang mereka, karena aku dapat mengintai mereka. Mengintai mereka untuk mencuri makanan mereka. Cara untuk bertahan hidup di kota ini ialah merampas atau dirampas. Aku telah merampas seluruh suplai-suplai makanan dari gedung-gedung yang ditinggalkan, bahkan aku tak merasa meampasnya, aku mengambilnya toh mereka yang meninggalkannya. Gedung yang belum kurampas makanannya ialah supermarket Si Mata Setan dan Hotel Si Nenek Lumpuh.
Aku lapar, malam telah datang, “it’s time to have a dinner”.
Suplai makananku sudah mulai habis, bahkan tikus pun sudah mulai takut padaku, mereka tahu siapa predator di hotel ini. Malam ini, aku datang ke hotel si nenek lumpuh, aku mencuri makanannya, toh nenek mau mati ini tak makan. Biarlah ia mati dalam damai dan cepat dengan perut kosongnya. Tiba-tiba saat aku melahap makanan nenek tua itu, terdengar music waltz dari beranda samping. Kakiku bagaikan terpanggil olehnya, aku menuju ke sana, aku tak bisa berpikir jika ada orang selain kami berdua di hotel ini. Jantungku berdegup, aku menahan napasku, mengintip kecil ke arah beranda itu, namun kosong tak terlihat satu siluet pun yang bergerak. Ku berjinjit perlahan menuju beranda itu untuk menyakinkan telingaku. Namun kini semua indraku menyakinkanku bahwa benar-benar tak ada siapapun di beranda ini, mungkin angin yang berhembus kencang yang membuat gramophone bergerak, ya pasti begitu, aku menyakinkan diriku. Tiba-tiba sebuah ingatan memenuhi pandanganku, kursi-kursi putih, teko teh bewarna putih yang disinari senja matahari, wanita bergaun putih itu tersenyum padaku dan mengajakku berdansa lalu kami pun berdansa. Akhh!...Angin kencang menampar tubuhku, membawaku kembali ke dunia nyata. Nampaknya musim hujan akan segera datang, aku harus bergegas pulang karena matahari akan datang.
Sudah seminggu sejak aku mencuri habis makanan nenek tua itu, sekarang aku mulai lapar lagi.
Seminggu...hanya seminggu aku dapat menahan rasa laparku, sampai kapan aku bisa bertahan? Mungkin aku harus mencuri ke supermarket Si Mata Setan kali ini, namun hal itu terlalu berbahaya. Ia punya senjata, senapan laras panjang yang sering kali ia pakai untuk membunuh hewan liar yang mencuri makanan di supermarketnya. Aku sanksi jika ia masih memerlukan senapan itu, bahkan sudah tak ada hewan liar yang datang ke kota ini, satu-satunya hewan liar yang kau perlu awasi sekarang ini ialah aku, hey mata setan. Rasa laparku menghilangkan semua ketakutanku, jantungku berdegup kencang, adrenalinku mengisi tiap tetes darahku, aku lapar! Otakku berpikir mencari cara agar aku dapat masuk ke supermarket itu, melewati dua anak kembar gila dan si mata setan serta mengosongkan persediaan makanan mereka lalu keluar dari supermarket itu dan bersembunyi di kota ini. Hide and seek.
Malam tiba, aku mengendap-endap menuju supermarket itu melalui hotel nenek tua, toh ia tak akan berteriak jika ada penyelinap di hotelnya, menuju sisi timur supermarket itu. Di sisi timur supermarket itu terdapat sebuah pintu yang menuju langsung ke supermarket, aku membukanya dengan linggis, berhasil. Aku mengendap menuju tempat makanan yang terletak di depan kasir, nampaknya si Mata Setan tertidur di kasir dan dua anak gilanya tertidur di depan pintu utama. Aku mulai memasukkan satu daging ke tasku, “Siapa itu!!!” Si mata setan terbangun dengan senapannya menuju ke arahku, 10 kaki... jarak moncong senapan itu dengan kepalaku. Dengan cepat aku melempar linggisku ke arah lampu, sehingga ruangan jadi gelap gulita. Aku berlari sekuat tenaga menuju ke pintu timur dan menghilang ke arah hotel nenek tua. Jantungku berdegup sangat kencang, melebihi saat aku bercinta, hahaha...aku tertawa...nikmat sekali. Aku tak salah dengar, aku mendengarnya dengan jelas, bunyi “klik”, aku kira aku akan mati di sana, ternyata senapan itu kosong...hahaha, nikmat sekali...nikmat. Aku ingin melakukannya lagi, nikmat...seperti saat kau bercinta, menginginkannya lagi dan lagi.
Sudah dua malam sejak aku mencuri dari Si Mata Setan, aku sudah mulai lapar lagi, terlebih lagi aku lapar akan kenikmatan itu, menggodaku layaknya candu. Aku menginginkannya. Malam ini malam bulan mati, seperti biasanya Si Mata Setan pasti berada di lantai dua gedung supermarket itu, memuja setan. Aku tak tahu hal itu benar atau tidak, namun aku melihat cahaya redup di lantai dua gedung itu. Mungkin bulan sedang berpihak padaku. Aku mulai keluar dari tempat persembunyianku, ku intip supermarket itu, aku melihat dua bayangan Gargoyle dengan tongkat di tangannya mengelilingi api unggun di depan pintu utama supermarket. Aku mengendap lebih dekat, ah...ternyata dua Gargoyle itu adalah dua anak kembar si Mata Setan, dua hal itu memang sangat mirip. Berarti, aku tak dapat masuk lewat pintu timur, utama dan tidak juga bisa memanjat jendelanya, jika aku lewat belakang, sama saja bunuh diri. Si Mata Setan memasang banyak perangkap di sana. Bagaimana aku tahu...Akulah yang bekerja memasang semua perangkap-perangkap itu dan tentu saja semua hasil pekerjaanku harus sempurna. Lagipula...Ayahku-lah arsitek kota ini, semua cetak biru kota ini ada di dalam kepalaku. Ada jalan lain menuju supermarket itu tanpa ‘terlihat’, namun aku ragu jika jalan itu masih terbuka.
Jalan lain menuju supermarket itu ialah melalui ruang perlindungan, yang biasa digunakan saat badai angin datang, pintu ruang itu berada di dekat pintu utama, pintu itu menuju ke arah basement yang dapat menuju ke supermarket. Berarti satu-satunya cara agar aku bisa masuk ke ruang perlindungan ialah dengan cara membodohi dua anak gila itu, ayolah...mereka terlalu gila untuk mengetahui maksudku. Aku mendekat dengan hati-hati menampakkan diriku pada dua anak gila itu. “Apakah kalian tidak lelah, berputar-putar mengelilingi api unggun itu? Bagaimana jika kalian beristirahat sebentar dan biarkan aku yang menggantikan kalian?” bujuk-ku, “kami tidak bisa, kami nanti akan dipukuli Ayah hingga kami tidur” si kembar pertama menjawab dengan senyum di wajahnya, “wah! Ayah kalian jahat sekali ya? Kalian tidak melawannya saja?” “Jahat? Tidak, Ayah sayang kami makanya ia memberi kami pukulan. He3”. Si Mata Setan memang benar-benar gila hingga membuat anaknya jadi gila ataukah karena kedua anaknya gila sehingga ia semena-mena terhadap mereka.... Aku tak mau memikirkan hal itu, aku harus mencari cara agar aku bisa mendekat ke pintu itu. Aku duduk di tanah, mendekatkan kedua lututku ke arah daguku, tanganku memeluk erat kedua kakiku, menunjukkan ekspresi meminta belas kasih pada mereka. Aku tak tahu hal ini akan berhasil apa tidak, aku hanya bertaruh. “Kalian tidak kedinginan, malam ini nampaknya akan ada badai angin sebaiknya kalian menggunakan baju yang lebih tebal” aku mulai menjilat hati mereka, “iya, kami akan mengambil selimut dulu” jawab si kembar 2. Lalu keduanya masuk ke dalam supermarket melalui pintu utama. Hey! Hey! Bukannya ini terlalu mudah? Dengan sigap aku menuju ruang perlindungan, ternyata gembok ruang ini telah rapuh sehingga mudah sekali untuk di buka. Aku langsung menuju ruang basement, menunggu suara-suara lain, namun tak ada suara apapun, nampaknya si Mata Setan belum sadar akan lokasiku sekarang. ‘Terlalu mudah’ pikirku, aku tanpa sengaja terus mengulang kata-kata itu dalam pikiranku. Aku menaiki tangga menuju ruang penyimpanan di supermarket itu, basement ini berada tepat di bawah ruang penyimpanan makanan. Aku memasukkan semua makanan ke dalam tas-ku dan bergegas keluar dari supermarket ini. Saat aku mulai menuruni tangga, terdengar bunyi langkah kaki menuruni anak tangga dari lantai atas dan “dorr!”. Senapan itu berisi peluru. Aku terus berlari menuju basement, ruang perlindungan, lapangan hotel dan menuju hotel ku. Berlari hingga lantai satu dan mengintip dari jendelanya. Ternyata Si Mata Setan tak mengikuti sejauh ini, dia berdiri di tengah lapangan memegang senjatanya. Terima kasih bulan.
Sudah dua hari sejak aku mencuri dari si Mata Setan, nmpaknya sudah dua hari juga ia mencariku ke seluruh kota. Persedian makanan Si Mata Setan hanya cukup untuk satu bulan, ternyata kami memang menunggu ajal di kota ini. Ke esokan malamnya aku tersentak mendengar suara jeep datang mendekat, aku beranjak dari tempatku mengintip ke arah jeep itu datang. Benar...itu benar-benar sebuah jeep. Jeep itu berhenti di depan supermarket Si Mata Setan, lalu Si Mata Setan dan kedua anaknya yang gila masuk ke dalam jeep itu, mereka hanya membawa satu koper dan sebuah radio transmitter. Ternyata...ia mempunyai benda itu sejak dulu, lalu mengapa ia baru pergi meninggalkan kota ini sekarang. Toh aku tak akan mendapatkan jawabnnya karena Si Mata Setan dan kedua anaknya telah pergi begitu saja. Apakah ia lupa akan si pencuri ini? Ataukah ia berlari dari si pencuri ini? Satu hal yang pasti, nampaknya waktu untukku di kota ini juga sudah usai. Jeep itu menuju ke arah timur, setelah siluet jeep itu tak terlihat oleh ku, aku berdiri di tengah jalan. Berpikir, namun entah apa yang kupikirkan, kosong...sepi. Apakah ini rasanya kesepian? Lalu bayangan-bayangan hitam mulai menyentuhku dan memelukku. ‘Plakk!’ Aku menghempaskan tangan mereka, walaupun kesepian, tak sudi aku disentuh oleh mereka! Aku terkejut mendengar suara motor dari arah barat datang mendekat ke arah ku. Motor Harley Davidson yang di kendarai oleh seorang pria berjubah hitam dan berambut hitam melintas di depan mataku. “Need a ride? Catch up if you can!” teriaknya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung lari menuju kursi belakangnya dan memeluknya. Angin menerpa mukaku, dadaku sakit, tidak...seluruh tubuhku sakit! Sakit! Makin menjauh dari hotel makin sakit tubuhku. Gerbang kota mati terlihat pudar di mataku. Aku telah melalui dua mil dari gerbang itu namun tubuhku makin sakit layaknya dicabik-cabik oleh samurai. Hingga akhirnya bayangan hitam itu memelukku, bayangan hitam itu membuatku nyaman, rasa sakit itu hilang. Hingga akhirnya aku melihatnya, kakiku...kaki kananku terantai oleh kota tua itu. Tiga mil dari gerbang, rantai itu menahanku, Aku melepaskan tanganku, aku tertarik kembali menuju kota mati ini.
Tiba-tiba semua gelap, bayangan-bayangan itu memelukku erat, menahan tubuhku dari rasa sakit rantai ini. Saat aku tersadar, aku berdiri di lantai dua hotelku, tempat di mana biasanya aku berdiri. Aku menutup mataku menyakinkan diriku jika ini adalah sebuah realita. Namun, tak ada jawaban saat aku menutup mataku. Saat kesadaran benar-benar telah menapak di dasar jiwaku, kusadari ternyata aku tak sendiri di ruangan ini. Ku lihat di sisi kiriku terdapat sebuah tempat tidur, di atasnya terbaring mati seorang wanita. Aku mendekat ke arahnya, membelai pipinya, ia sama sekali tak berubah, hanya tubuhnya saja yang semakin dingin setiap hari. Aku berlutut di sampingnya menunggu saat ia akan terbangun untuk mengajakku berdansa lagi.
Subscribe to:
Comments (Atom)