Saturday, January 31, 2009

Bunyi alarm

Alarm berbunyi mendobrak mimpiku, aku mengintip jam dari tidurku, hah...saatnya bekerja. Kuangkat sadar ke dunia nyata dengan meronta, kurasakan badanku remuk redam. Hujan masih turun, aku keluar mencoba menghirupnya...ah...segar sekali, partikel udara merambah ke hidungku menggelitik badanku untuk kembali tertidur.Namun, aku harus berangkat. Ku bersihkan badan lalu kupacu motorku. Kupacu motorku perlahan, hujan membuat jalan menjadi lebih licin, kubuka kaca helmku dan kubiarkan air hujan menampar wajahku. Mendung semakin pekat, hujan semakin padat bahkan dingin pun serasa penat menggelayuti tubuhku yang sudah remuk redam. Aku memang selalu mendapat shift malam dan aku menyukainya. Dua meter sebelum tempat kerjaku, aku melewati jalan kompleks yang sepi, jalan inilah yang selalu memanjakan lamunanku dengan suasananya. Entah mengapa lamunanku tertuju padamu, walaupun sudah enam bulan kita berpisah, namun rasa cinta yang telah tertanam selama delapan tahun telah mengakar di hati dan pikiranku. Aku telah mencoba mencabutnya secara paksa namun hanya luka yang ku rasa dan akar itu akan kembali tumbuh.

Setibanya di tempat kerja, kuparkirkan motorku dan masuk ke dalam ruang tutor. Hm...nampaknya pengajaryang lain sedang berbincang. Aku duduk di antara mereka dan mulai membaur. Kurasakan tatapan mata yang telah lama tertuju padaku, ku biarkan sudut bibir ini merayunya dengan senyum agar tak sia-sia kerja keras mata indah itu. Pemilik mata indah itu membalas senyumku dengan senyuman yang lebih manis, bahkan terlalu manis untukku. Ia menghampiriku, “hari ini, kau terlihat maskulin” suaranya yang damai menggebrak hatiku, menekan syarafku untuk berteriak liar. “hh...aku dari kantor, jadi pake kemeja” jawabku jinak, bunyi bell menyelamatkanku, setidaknya hari ini, ia menyelamatkanku dari rentetan kata yang akan disodorkan oleh si pemilik mata indah. Seperti biasa, waktu tak terasa, ia bagaikan air yang mengalir dalam detiknya, bell menggema untuk menghantar para siswa dan pengajar pulang di hari jumat ini. Aku ingin segera pulang, hari ini aku ingin merasakan dinginnya tempat tidurku. Aku mulai menyalakan motorku, tiba-tiba si pemilik mata indah menyapaku “hai, bareng dong sampai depan kompleks” “ok, ayo”, setelah ia benar-benar berada di belakang pundakku, aku melaju menembus dinginnya malam. Suara si pemilik mata indah memecah kesunyian malam itu, “dingin..” “mau pake jaket?” tanyaku, “tidak. Nanti aku turun di depan saja” “aku antar sampai rumah ya?” “jangan, sampai depan saja, lain kali saja kamu ke rumahnya” “ok”. Kami kembali terdiam, aku sibuk dengan lamunanku lalu terpecah saat kurasa tangan si pemilik mata indah melingkar di pinggangku, “Ta...maap, Kak Tia (kordinator pengajar) sepertinya...tahu tentang kamu” “kamu tahu dari mana?” “dari kak Tia sendiri, dia nanya informasi tentang kamu ke teman-teman kuliah kamu dan ke semua pengajar, lagipula dia orang yang sensitive” “ya sudahlah, kita tunggu saja kelanjutannya, sementara ini kamu jangan deket ke aku dulu”, aku menunggu jawabannya namun tak ada jawaban. Angin mulai mengantar bulir air, memaksaku untuk melaju lebih cepat. Begitu juga dengan perpisahan kami.

Malam semakin larut saat aku mulai menurunkan dia, “terima kasih” “sama-sama”, aku kembali menuju malam. Hujan bertambah lebat memaksaku untuk berteduh di sisi jalan. Angin benar-benar mengamuk malam ini, ia menumbangkan pohon dan merubuhkan reklame iklan. Namun tak seorang pun yang bergerak, semua menunggu hingga angin mulai menjinak. Hanya beberapa mobil yang terlihat masih hilir mudik menggeliat menghindari pepohonan yang kini telah rebah ke jalan raya. Angin yang tak terlihat dapat merubuhkan pohon sebesar itu, sangat kuatlah ia. Mahar apakah yang harus kuberikan pada angin agar ia tunduk kepadaku? Agar kekuatannya dapat ku kuasai. Tak ada memang. Ku lirik jam tangan di pergelangan seorang pria di sampingku, seorang pengendara motor yang juga berteduh, pukul sepuluh dan hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kubiarkan lamunan menghangatkan diriku, mematikan syaraf dingin yang terpapar di balik kulit ini. Lamunanku kembali membayangkan saat bersamanya, dan jika aku kembali mengingatnya rasa benci akan bergejolak dalam hatiku. Rasa benciku terhadap dirinya yang telah meniggalkan diriku, rasa benciku terhadap diriku yang tak pernah bisa merelakannya, seperti refracto...benci dan cinta. Ayolah...bodoh, aku mengumpat pada diriku sendiri, hingga kapan aku begini? Jika aku terombang ambing seperti ini, aku dapat tersedot ke lubang hitam. Aku harus mencari gravitasiku dan berputar pada orbitku. Entah berapa kali kalimat ini kulempar ke dunia, namun tetap saja...aku terlantar di sisi ini. Yah, memang akulah yang sebenarnya tak mau berpindah dari sisi ini dan akulah yang selalu menyalahkan kondisi atas diriku, hmpf...betapa pengecutnya aku. Di saat ini pulalah aku teringat akan sahabat yang selalu memanjakanku, yang akan selalu bersamaku untuk melewati hal ini.

Seminggu kemudian, aku menerima telephone, aku dipecat dari pekerjaanku sebagai tutor. Apakah masa lalu akan terus menghantuiku? Yah mungkin, ia akan hidup membayangiku di masa ini dan mungkin masa depan....Masa depan! Tidak akan! Aku harus bertindak! Aku harus menang melawan masa laluku. Aku berpikir mencari cara, menggali akar dan berusaha mencabutnya agar aku bisa mempelajari akarnya dan menanamnya kembali agar dapat menjadi pohon yang indah, karena akar ini tak bisa kubuang, ia pernah ada di dalam hidupku. Malam harinya, aku bermimpi. Aku berdiri di tengah tanah lapang yang luas, tanah lapang ini dikelilingi pepohonan, rasanya tempat ini sangat familiar bagiku. Aku tahu tempat ini...tempat ini ialah lapangan yang dahulu sering kudatangi untuk bermain saat usiaku 8 tahun. Aku berlari untuk mencapai ujung timur tanah lapang untuk pulang karena malam semakin dekat, namun seberapa kuatpun aku berlari aku tak bisa mencapai ujung timurnya seakan aku berlari di tempat. Aku menangis, aku takut, aku menangis hingga aku lelah dan tertidur. Sesaat kemudian kurasakan tubuhku semakin ringan, makin ringan sehingga aku tak lagi terikat pada gravitasi bumi. Aku berada di antara bumi dan langit terombang ambing di antara keduanya. Lalu malam datang dan menelanku, saat tersadar aku kembali menangis, “aku ingin turun!” teriakku. Namun angin tak membiarkanku, ia menghembuskanku bagai layang-layang. Aku takut! “Brakk!” suara keras dan alarm merebutku dari dunia mimpi, rasa nyeri kurasakan dari kakiku, hmm...ternyata bunyi tadi dihasilkan dari kakiku yang menendang meja. Rasa nyeri makin membuat sadarku terjaga.

Sebulan sudah sejak aku dipecat dari pekerjaanku sebagai tutor, sekarang aku hanyalah freelance yang benar-benar seperti pengangguran. Jika kondisinya begini terus, aku bisa terlindas oleh keadaan, aku harus berubah. Walaupun aku sudah mempelajari akarnya nampaknya aku masih ragu untuk menanamnya kembali, karena jika aku menanamnya kembali dengan kondisi seperti ini maka hasilnya akan sama saja. Aku harus berani menanamnya dengan suatu perubahan yang nyata, ya...aku harus berubah. Hanya itukah cara yang aku tahu? Saat ini...ya. Diri ini telah kubangun bertahun-tahun sebagai perlindungan dari isi si akar. Aku takut pada isi si akar, aku takut jika ia akan melukaiku lagi jika aku berubah ke keadaan pada umumnya, karena itulah selama ini aku tak berada dalam keadaan pada umumnya. Jika saat ini aku kembali ke keadaan pada umumnya...aku...aku...stop! Akhh! Aku terlalu lelah merasa takut, aku sudah terlalu lama untuk merasa takut, kini aku telah dewasa dan aku akan melawannya!! Aku bukan lagi anak kecil yang hanya merasa takut dan meringkuk menangis lalu lari mencari pembenaran belaka, kini aku terlalu lelah untuk berlari dan merasa takut, cukup sudah semua ini! Jika isi akar ini melukaiku lagi, aku akan melawannya, lagipula kini aku punya sahabat yang kuyakin akan berada di sampingku jika hal itu terjadi. Ya...kini aku akan memecah water balloon yang mengurungku di tengah sungai lalu setelah itu akan menanam kembali akar itu. Keesokan harinya, aku mengubah penampilanku seperti keadaan pada umumnya. Aku berangkat menuju kantorku dan sesampainya di sana, kurasakan aura mereka yang lebih lembut kepadaku. Apakah ini? Sebuah penampilan dapat menipu mata manusia...bahkan menipu hatinya. Aku tak terlalu peduli akan semua itu, walaupun kurasakan pekerjaanku terasa lebih mudah karena mereka lebih ‘ramah’ padaku, aku hanya peduli akan keadaan diriku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah isi akar akan kembali membawaku jatu ke dasar jurang, ataukah isi akar lain yang akan menyerangku dan mendorongku ke dasar jurang, ataukah aku akan melihat bunga dari pohon yang kutanam ini, ataukah keduanya terjadi secara bersamaan? Aku tak tahu, aku tak bisa melihat masa depan, aku hanya dapat memprediksi dan mengantisipasinya. Walaupun terkadang aku dapat melihat samar dari dunia mimpi namun terkadang pula aku tak bisa melihat bayangan di dunia nyata.

Tak mudah memang, terkadang aku harus mengorbankan idealisme yang mungkin telah ku pegang beberapa tahun dan menciptakan yang baru, tapi di balik semua itu akan terlahir hasil yang dapat ku evaluasi. Terkadang aku merasa sakit dan muak terhadap diriku namun aku harus kembali melihat pohon itu, fokus pada tujuan dan bertarung hingga akhir, tak perlu lagi untuk berlari.

No comments: