Sunday, January 18, 2009

Kota ku

Kota ini dikelilingi padang tandus, sepanjang kau memandang kejauhan kau hanya akan melihat tanah gurun yang kering. Bau tanah gersang menguap tiap saat, angin berhembus kencang di siang hari dan di malam hari kau dapat mendengar lolongannya. Arah timur dari kota ini merupakan hutan belantara yang berjarak satu minggu perjalanan dengan jalan kaki dan arah barat merupakan tambang emas yang berjarak satu hari perjalanan dengan jalan kaki, tambang emas yang terhampar luas. Satu-satunya jalan keluar dari kota ini ialah kearah timur. Arah Selatan dan utara hanyalah pandang tandus dan gurun. Dahulu, kota ini sangat ramai dipenuhi oleh para pemburu emas yang meluap dari berbagai kota bahkan dari negara lain. Dahulu, kota ini sangat hidup, tiga hotel mewah berdiri gagah dihiasi kata ‘gold life’ dengan lampu malam yang menggoda, empat mini hotel , bar, kasino, supermarket, restoran siap saji dan bank. Kota singgah ini seperti layaknya kota di pusat.

Sekarang, kota ini hanya sebuah kota mati. Layaknya nasib kota singgah lainnya yang hanya berdiri untuk para penambang emas, yang akan mati jika ditinggalkan oleh mereka. Kurang lebih lima puluh tahun sudah gunung-gunung di barat dihancurkan untuk diambil emasnya dan sepuluh tahun belakangan ini, saat emasnya mulai habis dan kabarnya di kota timur ditemukan tambang emas baru, kota ini ditinggalkan. Seperti perawan setelah diperkosa, ditinggalkan begitu saja.

Tak ada yang tertingal di kota in, hanya gedung-gedung kosong, Si Mata Setan penjaga supermarket dan dua anak kembarnya yang gila, Si Nenek Lumpuh penjaga hotel, dan aku. Entah mengapa mereka tinggal, dari kabar yang aku dengar dahulu kala, Si mata setan mulai gila saat ia ditinggal mati istrinya, sekarang ia mejaga supermarket tanpa pembeli itu dan juga dua anak kembarnya yang gila. Si nenek lumpuh, ia ditinggal oleh anak perempuannya yang kawin lari dengan seorang gigolo. Sekarang ia hanya duduk di kursi roda, di bagian depan resepsionis hotelnya, menunggu anaknya untuk pulang atau mungkin menunggu malaikat kematian menjemputnya....
Aku...aku seorang perempuan waras yang berumur 12 tahun dengan kaki yang sehat. Mengapa aku di sini? Aku terdampar...mungkin. Semenjak lima tahun lalu, saat usiaku tujuh tahun, semua orang pergi berduyun-duyun meninggalkan kota ini menuju timur, menuju matahari-menuju kehidupan baru-menuju tambang emas baru-menuju kota baru. Sejak saat itu tak ada satu kendaran pun tersisa, bahkan ‘rent car’ sudah tak beroperasi untuk datang ke kota ini. Satu-satunya cara pergi dari sini ialah menunggu tumpangan, atau jika kau cukup gila, kau bisa berjalan kaki dan mati di tengah perjalanan. Namun percayalah, kau akan menemukan tengkorak berserakan saat kau mencoba berjalan kaki, saat dua hari menuju timur, apalagi jika kau sendiri...berapa harikah yang aku perlu tempuh untuk menemukan tengkorakmu?

Aku tinggal di hotel ini, bersebrangan dengan supermarket Si Mata Setan dan Hotel Si Nenek Lumpuh. Aku senang hotelku berada di sebrang mereka, karena aku dapat mengintai mereka. Mengintai mereka untuk mencuri makanan mereka. Cara untuk bertahan hidup di kota ini ialah merampas atau dirampas. Aku telah merampas seluruh suplai-suplai makanan dari gedung-gedung yang ditinggalkan, bahkan aku tak merasa meampasnya, aku mengambilnya toh mereka yang meninggalkannya. Gedung yang belum kurampas makanannya ialah supermarket Si Mata Setan dan Hotel Si Nenek Lumpuh.
Aku lapar, malam telah datang, “it’s time to have a dinner”.

Suplai makananku sudah mulai habis, bahkan tikus pun sudah mulai takut padaku, mereka tahu siapa predator di hotel ini. Malam ini, aku datang ke hotel si nenek lumpuh, aku mencuri makanannya, toh nenek mau mati ini tak makan. Biarlah ia mati dalam damai dan cepat dengan perut kosongnya. Tiba-tiba saat aku melahap makanan nenek tua itu, terdengar music waltz dari beranda samping. Kakiku bagaikan terpanggil olehnya, aku menuju ke sana, aku tak bisa berpikir jika ada orang selain kami berdua di hotel ini. Jantungku berdegup, aku menahan napasku, mengintip kecil ke arah beranda itu, namun kosong tak terlihat satu siluet pun yang bergerak. Ku berjinjit perlahan menuju beranda itu untuk menyakinkan telingaku. Namun kini semua indraku menyakinkanku bahwa benar-benar tak ada siapapun di beranda ini, mungkin angin yang berhembus kencang yang membuat gramophone bergerak, ya pasti begitu, aku menyakinkan diriku. Tiba-tiba sebuah ingatan memenuhi pandanganku, kursi-kursi putih, teko teh bewarna putih yang disinari senja matahari, wanita bergaun putih itu tersenyum padaku dan mengajakku berdansa lalu kami pun berdansa. Akhh!...Angin kencang menampar tubuhku, membawaku kembali ke dunia nyata. Nampaknya musim hujan akan segera datang, aku harus bergegas pulang karena matahari akan datang.
Sudah seminggu sejak aku mencuri habis makanan nenek tua itu, sekarang aku mulai lapar lagi.

Seminggu...hanya seminggu aku dapat menahan rasa laparku, sampai kapan aku bisa bertahan? Mungkin aku harus mencuri ke supermarket Si Mata Setan kali ini, namun hal itu terlalu berbahaya. Ia punya senjata, senapan laras panjang yang sering kali ia pakai untuk membunuh hewan liar yang mencuri makanan di supermarketnya. Aku sanksi jika ia masih memerlukan senapan itu, bahkan sudah tak ada hewan liar yang datang ke kota ini, satu-satunya hewan liar yang kau perlu awasi sekarang ini ialah aku, hey mata setan. Rasa laparku menghilangkan semua ketakutanku, jantungku berdegup kencang, adrenalinku mengisi tiap tetes darahku, aku lapar! Otakku berpikir mencari cara agar aku dapat masuk ke supermarket itu, melewati dua anak kembar gila dan si mata setan serta mengosongkan persediaan makanan mereka lalu keluar dari supermarket itu dan bersembunyi di kota ini. Hide and seek.

Malam tiba, aku mengendap-endap menuju supermarket itu melalui hotel nenek tua, toh ia tak akan berteriak jika ada penyelinap di hotelnya, menuju sisi timur supermarket itu. Di sisi timur supermarket itu terdapat sebuah pintu yang menuju langsung ke supermarket, aku membukanya dengan linggis, berhasil. Aku mengendap menuju tempat makanan yang terletak di depan kasir, nampaknya si Mata Setan tertidur di kasir dan dua anak gilanya tertidur di depan pintu utama. Aku mulai memasukkan satu daging ke tasku, “Siapa itu!!!” Si mata setan terbangun dengan senapannya menuju ke arahku, 10 kaki... jarak moncong senapan itu dengan kepalaku. Dengan cepat aku melempar linggisku ke arah lampu, sehingga ruangan jadi gelap gulita. Aku berlari sekuat tenaga menuju ke pintu timur dan menghilang ke arah hotel nenek tua. Jantungku berdegup sangat kencang, melebihi saat aku bercinta, hahaha...aku tertawa...nikmat sekali. Aku tak salah dengar, aku mendengarnya dengan jelas, bunyi “klik”, aku kira aku akan mati di sana, ternyata senapan itu kosong...hahaha, nikmat sekali...nikmat. Aku ingin melakukannya lagi, nikmat...seperti saat kau bercinta, menginginkannya lagi dan lagi.

Sudah dua malam sejak aku mencuri dari Si Mata Setan, aku sudah mulai lapar lagi, terlebih lagi aku lapar akan kenikmatan itu, menggodaku layaknya candu. Aku menginginkannya. Malam ini malam bulan mati, seperti biasanya Si Mata Setan pasti berada di lantai dua gedung supermarket itu, memuja setan. Aku tak tahu hal itu benar atau tidak, namun aku melihat cahaya redup di lantai dua gedung itu. Mungkin bulan sedang berpihak padaku. Aku mulai keluar dari tempat persembunyianku, ku intip supermarket itu, aku melihat dua bayangan Gargoyle dengan tongkat di tangannya mengelilingi api unggun di depan pintu utama supermarket. Aku mengendap lebih dekat, ah...ternyata dua Gargoyle itu adalah dua anak kembar si Mata Setan, dua hal itu memang sangat mirip. Berarti, aku tak dapat masuk lewat pintu timur, utama dan tidak juga bisa memanjat jendelanya, jika aku lewat belakang, sama saja bunuh diri. Si Mata Setan memasang banyak perangkap di sana. Bagaimana aku tahu...Akulah yang bekerja memasang semua perangkap-perangkap itu dan tentu saja semua hasil pekerjaanku harus sempurna. Lagipula...Ayahku-lah arsitek kota ini, semua cetak biru kota ini ada di dalam kepalaku. Ada jalan lain menuju supermarket itu tanpa ‘terlihat’, namun aku ragu jika jalan itu masih terbuka.

Jalan lain menuju supermarket itu ialah melalui ruang perlindungan, yang biasa digunakan saat badai angin datang, pintu ruang itu berada di dekat pintu utama, pintu itu menuju ke arah basement yang dapat menuju ke supermarket. Berarti satu-satunya cara agar aku bisa masuk ke ruang perlindungan ialah dengan cara membodohi dua anak gila itu, ayolah...mereka terlalu gila untuk mengetahui maksudku. Aku mendekat dengan hati-hati menampakkan diriku pada dua anak gila itu. “Apakah kalian tidak lelah, berputar-putar mengelilingi api unggun itu? Bagaimana jika kalian beristirahat sebentar dan biarkan aku yang menggantikan kalian?” bujuk-ku, “kami tidak bisa, kami nanti akan dipukuli Ayah hingga kami tidur” si kembar pertama menjawab dengan senyum di wajahnya, “wah! Ayah kalian jahat sekali ya? Kalian tidak melawannya saja?” “Jahat? Tidak, Ayah sayang kami makanya ia memberi kami pukulan. He3”. Si Mata Setan memang benar-benar gila hingga membuat anaknya jadi gila ataukah karena kedua anaknya gila sehingga ia semena-mena terhadap mereka.... Aku tak mau memikirkan hal itu, aku harus mencari cara agar aku bisa mendekat ke pintu itu. Aku duduk di tanah, mendekatkan kedua lututku ke arah daguku, tanganku memeluk erat kedua kakiku, menunjukkan ekspresi meminta belas kasih pada mereka. Aku tak tahu hal ini akan berhasil apa tidak, aku hanya bertaruh. “Kalian tidak kedinginan, malam ini nampaknya akan ada badai angin sebaiknya kalian menggunakan baju yang lebih tebal” aku mulai menjilat hati mereka, “iya, kami akan mengambil selimut dulu” jawab si kembar 2. Lalu keduanya masuk ke dalam supermarket melalui pintu utama. Hey! Hey! Bukannya ini terlalu mudah? Dengan sigap aku menuju ruang perlindungan, ternyata gembok ruang ini telah rapuh sehingga mudah sekali untuk di buka. Aku langsung menuju ruang basement, menunggu suara-suara lain, namun tak ada suara apapun, nampaknya si Mata Setan belum sadar akan lokasiku sekarang. ‘Terlalu mudah’ pikirku, aku tanpa sengaja terus mengulang kata-kata itu dalam pikiranku. Aku menaiki tangga menuju ruang penyimpanan di supermarket itu, basement ini berada tepat di bawah ruang penyimpanan makanan. Aku memasukkan semua makanan ke dalam tas-ku dan bergegas keluar dari supermarket ini. Saat aku mulai menuruni tangga, terdengar bunyi langkah kaki menuruni anak tangga dari lantai atas dan “dorr!”. Senapan itu berisi peluru. Aku terus berlari menuju basement, ruang perlindungan, lapangan hotel dan menuju hotel ku. Berlari hingga lantai satu dan mengintip dari jendelanya. Ternyata Si Mata Setan tak mengikuti sejauh ini, dia berdiri di tengah lapangan memegang senjatanya. Terima kasih bulan.

Sudah dua hari sejak aku mencuri dari si Mata Setan, nmpaknya sudah dua hari juga ia mencariku ke seluruh kota. Persedian makanan Si Mata Setan hanya cukup untuk satu bulan, ternyata kami memang menunggu ajal di kota ini. Ke esokan malamnya aku tersentak mendengar suara jeep datang mendekat, aku beranjak dari tempatku mengintip ke arah jeep itu datang. Benar...itu benar-benar sebuah jeep. Jeep itu berhenti di depan supermarket Si Mata Setan, lalu Si Mata Setan dan kedua anaknya yang gila masuk ke dalam jeep itu, mereka hanya membawa satu koper dan sebuah radio transmitter. Ternyata...ia mempunyai benda itu sejak dulu, lalu mengapa ia baru pergi meninggalkan kota ini sekarang. Toh aku tak akan mendapatkan jawabnnya karena Si Mata Setan dan kedua anaknya telah pergi begitu saja. Apakah ia lupa akan si pencuri ini? Ataukah ia berlari dari si pencuri ini? Satu hal yang pasti, nampaknya waktu untukku di kota ini juga sudah usai. Jeep itu menuju ke arah timur, setelah siluet jeep itu tak terlihat oleh ku, aku berdiri di tengah jalan. Berpikir, namun entah apa yang kupikirkan, kosong...sepi. Apakah ini rasanya kesepian? Lalu bayangan-bayangan hitam mulai menyentuhku dan memelukku. ‘Plakk!’ Aku menghempaskan tangan mereka, walaupun kesepian, tak sudi aku disentuh oleh mereka! Aku terkejut mendengar suara motor dari arah barat datang mendekat ke arah ku. Motor Harley Davidson yang di kendarai oleh seorang pria berjubah hitam dan berambut hitam melintas di depan mataku. “Need a ride? Catch up if you can!” teriaknya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung lari menuju kursi belakangnya dan memeluknya. Angin menerpa mukaku, dadaku sakit, tidak...seluruh tubuhku sakit! Sakit! Makin menjauh dari hotel makin sakit tubuhku. Gerbang kota mati terlihat pudar di mataku. Aku telah melalui dua mil dari gerbang itu namun tubuhku makin sakit layaknya dicabik-cabik oleh samurai. Hingga akhirnya bayangan hitam itu memelukku, bayangan hitam itu membuatku nyaman, rasa sakit itu hilang. Hingga akhirnya aku melihatnya, kakiku...kaki kananku terantai oleh kota tua itu. Tiga mil dari gerbang, rantai itu menahanku, Aku melepaskan tanganku, aku tertarik kembali menuju kota mati ini.

Tiba-tiba semua gelap, bayangan-bayangan itu memelukku erat, menahan tubuhku dari rasa sakit rantai ini. Saat aku tersadar, aku berdiri di lantai dua hotelku, tempat di mana biasanya aku berdiri. Aku menutup mataku menyakinkan diriku jika ini adalah sebuah realita. Namun, tak ada jawaban saat aku menutup mataku. Saat kesadaran benar-benar telah menapak di dasar jiwaku, kusadari ternyata aku tak sendiri di ruangan ini. Ku lihat di sisi kiriku terdapat sebuah tempat tidur, di atasnya terbaring mati seorang wanita. Aku mendekat ke arahnya, membelai pipinya, ia sama sekali tak berubah, hanya tubuhnya saja yang semakin dingin setiap hari. Aku berlutut di sampingnya menunggu saat ia akan terbangun untuk mengajakku berdansa lagi.

No comments: