Another caption of my journey merupakan kumpulan cerita fiksi.
Cerita tersebut merupakan pengalaman2 teman2 saya dan saya, yang saya ramu menjadi suatu cerita fiksi.
Jadi cerita ini fiktif belaka, karena merupakan satu kelumit cerita dengan dongkrakan berjam2 imajinasi.
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Friday, December 31, 2010
Memanjakan diri??_2
Satu hal yang saya tahu pasti, jadi lesbi bukan berarti menjadi atheis.
Karena menurut saya, hal tersebut bukan dua cabang dalam satu jalur, seperti pilih belok kanan atau kiri. Namun lebih seperti, saya berjalan lurus dan di antara beribu percabangan jalan yang ada di kiri kanan jalan lurus tersebut, adalah salah satu cabangnya yang disebut orientasi seksual.
Nah, kaum hetero memilih untuk tetap berjalan lurus, namun kaum homo, karena jatuh cinta, mereka berbelok.
(Mungkin ini sebabnya ya, klo homo-lesbi n gay, sering disebut kaum belok).
Ok, back to the point.
Jadi, walaupun orientasi seksual belok, namun bukan berarti seluruh aspek hidup jadi 'belok'. Lebih saya tekankan lagi, jadi lesbi bukan berarti mesti jadi atheis.
'Tapi kan itu berlawanan ma agama'
Ya, memang.
Tapi, apakah hidup secara berlawanan itu tidak boleh?
Ataukah telah dipatok dengan kata DOSA, sehingga kata TIDAK BOLEH, terpampang layaknya plakat sita rumah?
Sehingga hal ini tidak usah dibicarakan lagi, karena dosa telah menjadi titik akhir.
Ok, karena saya memilih dosa bukan titik akhir (ya, anggap saja saya salah satu penghuni neraka, jadi jangan lupa doakan saya, agar Tuhan mau meringankan dosa saya. Apapun agama Anda).
Maka saya berdalih dengan kata 'pilihan'.
Ataukah, karena berlawanan, banyak sebagian orang yang TIDAK MEMILIH SALAH SATU?
Baik itu dengan menjadi hetero kembali (need more opinion-red) atau dengan tidak beragama.
Jika sang empu penanggung dosa, mau memilih untuk hidup secara berlawanan, yaitu dengan menjadi lesbi dan tetap beragama, bagaimana?
Kenapa?
Kesannya sok suci?
Atau buat nge-ringan-in dosa?
Ya...anggap saja seperti itu.
Anggap saja menjadi lesbi dapet dosa 50. Dan Anda tidak melaksanakan ibadah, sehingga Anda dapat dosa 90, maka jika ditotal menjadi 140.
Jika Anda menjadi lesbi dan tetap melaksanakan ibadah, maka jika ditotal dosa Anda hanya 50.
Mungkinkah begitu? Mana saya tahu, toh saya bukan Tuhan.
Eh...eh...ngapain beragama, kalo gak beragama (atheis) maka gak ada Tuhan (dalam konsep diri seorang atheis tentunya), jadi tak ada neraka atau surga. Jadi hanya ada satu hidup, ya hidup di dunia ini sekarang dan pada saat mati, ya sudah mati.
Benarkah?
Jika Anda setuju dengan statement satu kehidupan, maka nampaknya Anda harus membaca dan mengenal lebih dalam proses 'ada'. Atau yang lebih dikenal dengan proses penciptaan manusia.
Saya?
Saya percaya akan adanya kekuatan besar yaitu Allah, yang menciptakan semua hal, bahkan cinta. Allah juga menciptakan manusia dengan berbagai macam reaksi biokimia cinta.
Gen, kromosom, hormon, protein, Fosofor, Glukosa, neurotransmiter, hipothalamus...
Bukan berarti saya menyalahkan Allah karena telah menciptakan cinta.
Tuhan yang menciptakan namun manusia lah yang harus bisa mengontrol reaksi tersebut.
Saya hanyalah salah satu umatnya yang tidak bisa mengontrol reaksi tersebut.
Terus....
Ya, saya hidup berlawanan.
Saya lebih memilih (untuk saat ini) hidup berlawanan dari pada saya stuck atau atheis.
Stuck?
Menjadi 'pembohong' membuat saya ingin mati, bunuh diri. Ya, saya pernah mengalaminya.
Untung saja seorang teman berkata 'terima dirimu apa adanya, lalu belajarlah untuk memperbaikinya. Kamu bisa'.
Sejak saat itu hidup saya berjalan, tidak berkutat hanya dengan orientasi saya.
(Jadi kangen ma seragam SMA...)
Atheis?
No way.
So, here i am.
Ok..anggap aja ini juga salah satu statement defense dari saya, yang memanjakan diri.
Karena menurut saya, hal tersebut bukan dua cabang dalam satu jalur, seperti pilih belok kanan atau kiri. Namun lebih seperti, saya berjalan lurus dan di antara beribu percabangan jalan yang ada di kiri kanan jalan lurus tersebut, adalah salah satu cabangnya yang disebut orientasi seksual.
Nah, kaum hetero memilih untuk tetap berjalan lurus, namun kaum homo, karena jatuh cinta, mereka berbelok.
(Mungkin ini sebabnya ya, klo homo-lesbi n gay, sering disebut kaum belok).
Ok, back to the point.
Jadi, walaupun orientasi seksual belok, namun bukan berarti seluruh aspek hidup jadi 'belok'. Lebih saya tekankan lagi, jadi lesbi bukan berarti mesti jadi atheis.
'Tapi kan itu berlawanan ma agama'
Ya, memang.
Tapi, apakah hidup secara berlawanan itu tidak boleh?
Ataukah telah dipatok dengan kata DOSA, sehingga kata TIDAK BOLEH, terpampang layaknya plakat sita rumah?
Sehingga hal ini tidak usah dibicarakan lagi, karena dosa telah menjadi titik akhir.
Ok, karena saya memilih dosa bukan titik akhir (ya, anggap saja saya salah satu penghuni neraka, jadi jangan lupa doakan saya, agar Tuhan mau meringankan dosa saya. Apapun agama Anda).
Maka saya berdalih dengan kata 'pilihan'.
Ataukah, karena berlawanan, banyak sebagian orang yang TIDAK MEMILIH SALAH SATU?
Baik itu dengan menjadi hetero kembali (need more opinion-red) atau dengan tidak beragama.
Jika sang empu penanggung dosa, mau memilih untuk hidup secara berlawanan, yaitu dengan menjadi lesbi dan tetap beragama, bagaimana?
Kenapa?
Kesannya sok suci?
Atau buat nge-ringan-in dosa?
Ya...anggap saja seperti itu.
Anggap saja menjadi lesbi dapet dosa 50. Dan Anda tidak melaksanakan ibadah, sehingga Anda dapat dosa 90, maka jika ditotal menjadi 140.
Jika Anda menjadi lesbi dan tetap melaksanakan ibadah, maka jika ditotal dosa Anda hanya 50.
Mungkinkah begitu? Mana saya tahu, toh saya bukan Tuhan.
Eh...eh...ngapain beragama, kalo gak beragama (atheis) maka gak ada Tuhan (dalam konsep diri seorang atheis tentunya), jadi tak ada neraka atau surga. Jadi hanya ada satu hidup, ya hidup di dunia ini sekarang dan pada saat mati, ya sudah mati.
Benarkah?
Jika Anda setuju dengan statement satu kehidupan, maka nampaknya Anda harus membaca dan mengenal lebih dalam proses 'ada'. Atau yang lebih dikenal dengan proses penciptaan manusia.
Saya?
Saya percaya akan adanya kekuatan besar yaitu Allah, yang menciptakan semua hal, bahkan cinta. Allah juga menciptakan manusia dengan berbagai macam reaksi biokimia cinta.
Gen, kromosom, hormon, protein, Fosofor, Glukosa, neurotransmiter, hipothalamus...
Bukan berarti saya menyalahkan Allah karena telah menciptakan cinta.
Tuhan yang menciptakan namun manusia lah yang harus bisa mengontrol reaksi tersebut.
Saya hanyalah salah satu umatnya yang tidak bisa mengontrol reaksi tersebut.
Terus....
Ya, saya hidup berlawanan.
Saya lebih memilih (untuk saat ini) hidup berlawanan dari pada saya stuck atau atheis.
Stuck?
Menjadi 'pembohong' membuat saya ingin mati, bunuh diri. Ya, saya pernah mengalaminya.
Untung saja seorang teman berkata 'terima dirimu apa adanya, lalu belajarlah untuk memperbaikinya. Kamu bisa'.
Sejak saat itu hidup saya berjalan, tidak berkutat hanya dengan orientasi saya.
(Jadi kangen ma seragam SMA...)
Atheis?
No way.
So, here i am.
Ok..anggap aja ini juga salah satu statement defense dari saya, yang memanjakan diri.
Memanjakan diri??
"Lo masih shalat?"
Pertanyaan yang sesungguhnya bukan ditujukan padaku, namun membuatku bergerumuh, menggamang dalam benakku.
Sesungguhnya ini bukan pertanyaan masalah lesbi vs agama, yang pertama kali aku dengar.
Aku terbawa kembali akan pertanyaan, pertama, dari seorang teman. Ia berkata padaku :
"Buat apa lo shalat, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo belajar agama, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo baca Al Quran, klo kelakuan lo kayak gitu?"
"Lo dah tahu itu dosa, kenapa kelakuan lo masih kayak gitu?"
"Semuanya amal ibadah lo jadi kaya sia-sia aja.
Sampai kapan lo mau kaya gini?"
Aku ingat, saat itu aku menjawabnya dengan berkata :
"Gw tahu itu dosa, tapi gw juga gak tahu caranya untuk tidak jatuh cinta. Karena, pada saat gw jatuh cinta, yang gw cintai seorang wanita"
Dan teman qu pun berkata :
"Jawaban lo hanya defense dari diri lo, jadi itu bukan jawaban. Lo terlalu memanjakan diri lo"
Pertanyaan yang sesungguhnya bukan ditujukan padaku, namun membuatku bergerumuh, menggamang dalam benakku.
Sesungguhnya ini bukan pertanyaan masalah lesbi vs agama, yang pertama kali aku dengar.
Aku terbawa kembali akan pertanyaan, pertama, dari seorang teman. Ia berkata padaku :
"Buat apa lo shalat, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo belajar agama, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo baca Al Quran, klo kelakuan lo kayak gitu?"
"Lo dah tahu itu dosa, kenapa kelakuan lo masih kayak gitu?"
"Semuanya amal ibadah lo jadi kaya sia-sia aja.
Sampai kapan lo mau kaya gini?"
Aku ingat, saat itu aku menjawabnya dengan berkata :
"Gw tahu itu dosa, tapi gw juga gak tahu caranya untuk tidak jatuh cinta. Karena, pada saat gw jatuh cinta, yang gw cintai seorang wanita"
Dan teman qu pun berkata :
"Jawaban lo hanya defense dari diri lo, jadi itu bukan jawaban. Lo terlalu memanjakan diri lo"
Tuesday, December 21, 2010
Mother-part 2 [Another caption of my journey]
“Kamu beli baju baru ya Ta?”
Tanya Ibuku seraya memperhatikanku bersolek di depan kaca.
“Ya Ma”
“Kok belinya baju kaya gitu sih...”
Aku memperhatikan blouse cokelat selutut dengan draped neck di tubuhku.
“Pengen coba tampil beda aja Ma”
Aku memperhatikan reaksi Ibuku, kening ibuku sedikit berkerut.
Ibuku lalu masuk ke kamarnya.
Aku terdiam...apa yang harus aku lakukan...aku merasa bodoh....
Tiba-tiba, ibuku keluar dari kamarnya membawa bros bunga kesangannya dan kotak make up-nya.
Ia mendekatiku, menyematkan bros indah itu di dada kananku.
Lalu Ia mengambil peralatan make up, memulaskan pelembab ke mukaku. Foundation dan bedak menjadi pengikut selanjutnya. Mereka bersatu bertumpuk menambah tebalnya topeng yang ku pakai hari ini.
Topeng yang ku pakai untuk datang ke pernikahan partner ku.
Tangan hangat Mama menyentuh setiap epitel mukaku membuat hatiku bergejolak.
“Mama pake eye shadow yang warna gold-coklat aja ya, biar cocok sama baju kamu” ucap Mama ku seraya memainkan keahliannya memainkan gradasi warna eye shadow.
“Kamu ngerokok lagi ya? Bibir kamu hitam banget” tanya Mamaku.
Pertanyaan tak terduga ini membuatku terdiam.
Mama memulaskan lipstick bewarna merah dan menimpanya dengan lipstick cair.
“Nah, hampir selesai”.
Blush on gold dengan glitter silver kini telah mendarat di pipiku.
“Kamu bau banget sih Ta”, lalu Mama masuk lagi ke kamarnya dengan cepat kembali lagi dengan membawa parfum.
Mama menyemprotkannya ke seluruh tubuhku.
“Nah, siap”.
Aku terdiam, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar mencengkram hatiku.
Ma, aku sayang Mama. Makasih Ma.
Kata-kata inilah yang ingin ku keluarkan dari rongga suaraku, tapi nampaknya kepengecutanku melahapnya habis hingga hanya menjadi kebisuan.
Selama ini, aku sedikit memberontak terhadap Mama karena Mama selalu berpihak pada Bapak....
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin pendapatku didengar, bukan pendapat Bapak.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena Mama selalu berbohong tentangku ke Bapak, hanya agar Bapak bahagia.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin Mama berkata pada Bapak.
Jika Aku dapat membuat keputusan ku sendiri, tanpa harus disetirnya.
Entahlah, mengapa aku begitu bodoh...
Saat Mama mengetahui orientasiku namun tetap mengulurkan tangan hangatnya untukku, aku mencari-cari kesalahan, agar Mama membenciku.
Kenapa dalam pikirku tersirat ‘kenapa lebih mudah jika Mama membenciku’.
Bodohnya aku.
Sebegitu naïf-nya kah diriku?
Saat Mama membentangkan tangannya, menyayangiku dengan caranya, aku mengkhianatinya dengan melakukan pemberontakan.
Aku menyerang pemikiranku dengan mencari-cari kesalahan Mama.
'Mengapa Mama selalu memihak Bapak, apakah sebegitu samanya pandangan mereka ataukah sebegitu besarnya rasa sayang Mama ke Bapak?'
Satu hal yang telah ku tahu pasti, dari kecil hingga sekarang, ya. Mama sangat menyayangi Bapak.
Apa mauku ini...se-egois itukah aku sehingga aku seperti menodong Mama untuk memilihku dibandingkan Bapak?
Ya, aku egois.
Aku sangat menginginkan Mama...
Namun berkata “Ma, selamat hari ibu ya, aku sayang Mama” saja, aku tidak berani.
Entah aku takut karena apa.
Apakah aku takut jika Mama menolakku, satu jawaban yang pasti, tidak. Mama tidak akan melakukan itu.
Lalu mengapa? Karena aku tidak terbiasa mengatakan hal itu, jawabannya ya.
Bapak ‘mengajarkan’ ku cara me-realisasi kebencian namun tidak rasa kasih sayang.
STOP!
Aku mengerem pemikiranku dari terus menyalahkan Bapak.
Jika aku terus begini, maka aku tidak akan pernah berubah.
Aku tidak mau seperti Bapak.
Aku adalah aku.
Aku sudah berjuang untuk ‘menciptakan’ diriku, aku tak mau lagi jangkar kemarahanku akan Bapak menarikku tenggelam lagi.
“Ma. Makasih ya. Aku....”
Mama tersenyum. “Ya, Mama juga sayang kamu.”
Lagi...Mama selalu tahu aku, walaupun aku tak mengucapkannya.
Dan lagi...aku masih kalah dengan Mama dalam hal menyayangi.
Mama...tempat aku belajar cara mencintai.
Mama...seorang wanita yang bisa melihat 'diriku' dalam balutan topeng tebalku.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemabuk menjadi Bapak sang Imam keluarga.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemarah menjadi Bapak yang penyayang.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak yang atheis menjadi Bapak yang bertahajud.
Ma, terima kasih untuk semuanya.
Aku sayang Mama.
Tanya Ibuku seraya memperhatikanku bersolek di depan kaca.
“Ya Ma”
“Kok belinya baju kaya gitu sih...”
Aku memperhatikan blouse cokelat selutut dengan draped neck di tubuhku.
“Pengen coba tampil beda aja Ma”
Aku memperhatikan reaksi Ibuku, kening ibuku sedikit berkerut.
Ibuku lalu masuk ke kamarnya.
Aku terdiam...apa yang harus aku lakukan...aku merasa bodoh....
Tiba-tiba, ibuku keluar dari kamarnya membawa bros bunga kesangannya dan kotak make up-nya.
Ia mendekatiku, menyematkan bros indah itu di dada kananku.
Lalu Ia mengambil peralatan make up, memulaskan pelembab ke mukaku. Foundation dan bedak menjadi pengikut selanjutnya. Mereka bersatu bertumpuk menambah tebalnya topeng yang ku pakai hari ini.
Topeng yang ku pakai untuk datang ke pernikahan partner ku.
Tangan hangat Mama menyentuh setiap epitel mukaku membuat hatiku bergejolak.
“Mama pake eye shadow yang warna gold-coklat aja ya, biar cocok sama baju kamu” ucap Mama ku seraya memainkan keahliannya memainkan gradasi warna eye shadow.
“Kamu ngerokok lagi ya? Bibir kamu hitam banget” tanya Mamaku.
Pertanyaan tak terduga ini membuatku terdiam.
Mama memulaskan lipstick bewarna merah dan menimpanya dengan lipstick cair.
“Nah, hampir selesai”.
Blush on gold dengan glitter silver kini telah mendarat di pipiku.
“Kamu bau banget sih Ta”, lalu Mama masuk lagi ke kamarnya dengan cepat kembali lagi dengan membawa parfum.
Mama menyemprotkannya ke seluruh tubuhku.
“Nah, siap”.
Aku terdiam, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar mencengkram hatiku.
Ma, aku sayang Mama. Makasih Ma.
Kata-kata inilah yang ingin ku keluarkan dari rongga suaraku, tapi nampaknya kepengecutanku melahapnya habis hingga hanya menjadi kebisuan.
Selama ini, aku sedikit memberontak terhadap Mama karena Mama selalu berpihak pada Bapak....
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin pendapatku didengar, bukan pendapat Bapak.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena Mama selalu berbohong tentangku ke Bapak, hanya agar Bapak bahagia.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin Mama berkata pada Bapak.
Jika Aku dapat membuat keputusan ku sendiri, tanpa harus disetirnya.
Entahlah, mengapa aku begitu bodoh...
Saat Mama mengetahui orientasiku namun tetap mengulurkan tangan hangatnya untukku, aku mencari-cari kesalahan, agar Mama membenciku.
Kenapa dalam pikirku tersirat ‘kenapa lebih mudah jika Mama membenciku’.
Bodohnya aku.
Sebegitu naïf-nya kah diriku?
Saat Mama membentangkan tangannya, menyayangiku dengan caranya, aku mengkhianatinya dengan melakukan pemberontakan.
Aku menyerang pemikiranku dengan mencari-cari kesalahan Mama.
'Mengapa Mama selalu memihak Bapak, apakah sebegitu samanya pandangan mereka ataukah sebegitu besarnya rasa sayang Mama ke Bapak?'
Satu hal yang telah ku tahu pasti, dari kecil hingga sekarang, ya. Mama sangat menyayangi Bapak.
Apa mauku ini...se-egois itukah aku sehingga aku seperti menodong Mama untuk memilihku dibandingkan Bapak?
Ya, aku egois.
Aku sangat menginginkan Mama...
Namun berkata “Ma, selamat hari ibu ya, aku sayang Mama” saja, aku tidak berani.
Entah aku takut karena apa.
Apakah aku takut jika Mama menolakku, satu jawaban yang pasti, tidak. Mama tidak akan melakukan itu.
Lalu mengapa? Karena aku tidak terbiasa mengatakan hal itu, jawabannya ya.
Bapak ‘mengajarkan’ ku cara me-realisasi kebencian namun tidak rasa kasih sayang.
STOP!
Aku mengerem pemikiranku dari terus menyalahkan Bapak.
Jika aku terus begini, maka aku tidak akan pernah berubah.
Aku tidak mau seperti Bapak.
Aku adalah aku.
Aku sudah berjuang untuk ‘menciptakan’ diriku, aku tak mau lagi jangkar kemarahanku akan Bapak menarikku tenggelam lagi.
“Ma. Makasih ya. Aku....”
Mama tersenyum. “Ya, Mama juga sayang kamu.”
Lagi...Mama selalu tahu aku, walaupun aku tak mengucapkannya.
Dan lagi...aku masih kalah dengan Mama dalam hal menyayangi.
Mama...tempat aku belajar cara mencintai.
Mama...seorang wanita yang bisa melihat 'diriku' dalam balutan topeng tebalku.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemabuk menjadi Bapak sang Imam keluarga.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemarah menjadi Bapak yang penyayang.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak yang atheis menjadi Bapak yang bertahajud.
Ma, terima kasih untuk semuanya.
Aku sayang Mama.
Mother-part 1 [Another caption of my journey]
“Ta, kamu mau pake baju yang mana pas nanti nikahan Gita?” pertanyaan ibuku mengejutkan seluruh jiwaku yang memang sedang tidak berada pada posisi seimbangnya.
“He...yang mana ja Ma” jawabku seraya membenarkan posisi dudukku.
“Pake kebaya yang kamu pake waktu nikahan Mbak mu aja” saran ibuku.
Aku tertawa...
“Ma, kebaya ku kan emang cuma itu....”
Ma...apakah Mama gak inget kalo Mama cuma sekali itu memberikan aku baju yang memang benar-benar feminim.
“Ya udah pake batik aja. Kamu cakepan pake batik Ta, batik yang sama ma Bapak” usul Ibuku.
Aku jadi teringat, saat kakakku medapatkan kebaya indah bewarna gold dengan payetan kuning lembayung indah, seragam dengan ibuku.
Aku mendapatkan batik dengan model dan corak yang sama dengan Bapakku.
“Ya Ma” jawabku mengambangkan kepastian.
“He...yang mana ja Ma” jawabku seraya membenarkan posisi dudukku.
“Pake kebaya yang kamu pake waktu nikahan Mbak mu aja” saran ibuku.
Aku tertawa...
“Ma, kebaya ku kan emang cuma itu....”
Ma...apakah Mama gak inget kalo Mama cuma sekali itu memberikan aku baju yang memang benar-benar feminim.
“Ya udah pake batik aja. Kamu cakepan pake batik Ta, batik yang sama ma Bapak” usul Ibuku.
Aku jadi teringat, saat kakakku medapatkan kebaya indah bewarna gold dengan payetan kuning lembayung indah, seragam dengan ibuku.
Aku mendapatkan batik dengan model dan corak yang sama dengan Bapakku.
“Ya Ma” jawabku mengambangkan kepastian.
Wednesday, December 15, 2010
Mens barengan ma partner??
Pernah gak dalam satu rumah (saudara, sahabat, kos, asrama, or partner) mens barengan?
Apa jangan2 menstruasi menular?
So last year deh ngomongin masalah menstruasi sekarang…ngomongin menopause baru deh he eh…
Udah deh, baca aja dulu nambah informasi
Pasti sudah sering denger kalo mens itu “menular”. Bener gak sih? Dari hasil googling and ilmu perilaku hewan yang pernah saya dapat, jawabannya iya.
Berikut artikel yang saya kutip sebagai daftar cauan :
• Tevik Dorak, ahli medis dari Departemen Mikrobiologi, Toronto Medical Laboratories (TML) yang mengamati kesamaan siklus menstruasi pada perempuan yang tinggal berdekatan di suatu tempat.
”Hal ini biasa terjadi pada teman sekamar, sahabat dekat, pasangan lesbian atau juga hubungan ibu dan anak,” ujar Dorak seperti dilansir Newscientist.
Uniknya, kesamaan ini tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga pada hewan seperti tikus serta hewan pengerat lain, juga bangsa primata.
• Martha McClintock dari Jurusan Psikologi, University of Chicago. Perempuan inilah yang pertama kali melaporkan observasinya dalam jurnal Nature pada tahun 1971 dan terkenal dengan teori ”Efek McClintock”.
Dalam studi ini dikatakan bahwa ada sinyal kemosensor yang terlibat dalam feromon dan organ vomeronasal (VMO) yang dikenal sebagai organ Jacobson yang bertanggung jawab terhadap efek keseragaman siklus haid.
Yang unik, studi penelitian ini mempunyai banyak kesamaan dengan fenomena siklus menstruasi perempuan di usia 20-an, tapi tidak pada perempuan berusia lebih tua dengan siklus tetap (gak di jelasin usia berapa-red).
Feromon?
Apa’an tuh?
Feromon merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO di dalam hidung. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan (pada pria) dan di vagina (pada wanita), lebih umum terkonsentrasi pada daerah pubis.
Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.
Feromon diyakini berperan besar terhadap gairah sex
Feromon juga menyebabkan rasa relaks, detak jantung yang lebih pelan, meringankan stress, meringankan sakit kepala dan meringankan nyeri haid. Dan…feromon juga membuat wanita lebih sensitive dan lebih mudah terangsang
(McGill Centre for Research on Pain, Strathcona Anatomy and Dentistry Building, 3640 University Street, Room M-19, Montreal, Que., Canada H3A 2B2. chantal.)
Jadi, jangan kaget klo siklus kamu barengan ma siklus partner, n peak of libido nya juga hampir sama (yes! lovely benefit)
sumber
Newscientist
FakttaIlmiah
Pheromonelab
Apa jangan2 menstruasi menular?
So last year deh ngomongin masalah menstruasi sekarang…ngomongin menopause baru deh he eh…
Udah deh, baca aja dulu nambah informasi
Pasti sudah sering denger kalo mens itu “menular”. Bener gak sih? Dari hasil googling and ilmu perilaku hewan yang pernah saya dapat, jawabannya iya.
Berikut artikel yang saya kutip sebagai daftar cauan :
• Tevik Dorak, ahli medis dari Departemen Mikrobiologi, Toronto Medical Laboratories (TML) yang mengamati kesamaan siklus menstruasi pada perempuan yang tinggal berdekatan di suatu tempat.
”Hal ini biasa terjadi pada teman sekamar, sahabat dekat, pasangan lesbian atau juga hubungan ibu dan anak,” ujar Dorak seperti dilansir Newscientist.
Uniknya, kesamaan ini tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga pada hewan seperti tikus serta hewan pengerat lain, juga bangsa primata.
• Martha McClintock dari Jurusan Psikologi, University of Chicago. Perempuan inilah yang pertama kali melaporkan observasinya dalam jurnal Nature pada tahun 1971 dan terkenal dengan teori ”Efek McClintock”.
Dalam studi ini dikatakan bahwa ada sinyal kemosensor yang terlibat dalam feromon dan organ vomeronasal (VMO) yang dikenal sebagai organ Jacobson yang bertanggung jawab terhadap efek keseragaman siklus haid.
Yang unik, studi penelitian ini mempunyai banyak kesamaan dengan fenomena siklus menstruasi perempuan di usia 20-an, tapi tidak pada perempuan berusia lebih tua dengan siklus tetap (gak di jelasin usia berapa-red).
Feromon?
Apa’an tuh?
Feromon merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO di dalam hidung. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan (pada pria) dan di vagina (pada wanita), lebih umum terkonsentrasi pada daerah pubis.
Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.
Feromon diyakini berperan besar terhadap gairah sex
Feromon juga menyebabkan rasa relaks, detak jantung yang lebih pelan, meringankan stress, meringankan sakit kepala dan meringankan nyeri haid. Dan…feromon juga membuat wanita lebih sensitive dan lebih mudah terangsang
(McGill Centre for Research on Pain, Strathcona Anatomy and Dentistry Building, 3640 University Street, Room M-19, Montreal, Que., Canada H3A 2B2. chantal.)
Jadi, jangan kaget klo siklus kamu barengan ma siklus partner, n peak of libido nya juga hampir sama (yes! lovely benefit)
sumber
Newscientist
FakttaIlmiah
Pheromonelab
Monday, November 29, 2010
berani untuk menerima fakta
Saat saya sadari,apa yang membuat saya-dan beberapa teman yg jg punya masalah yang sama-
yaitu susahnya untuk 'pindah',adalah mengenai keberanian..
Entah kenapa jd terbayangkan gambaran kasar nya.
Walaupun terkadang sudah menyadari kondisi dimana keadaan stuck,
sudah mempunyai bukti,
sudah memikirkan alternatif jalan keluar,
sudah meminta pertimbangan pd beberapa orang,
sudah memperhitungkan konsekuensinya..
Hal krusial yg penting keberanian.
Berani ngambil tindakan,gk cuma ngomong doang,gk cuma plan doang.
Berani nanya
Berani punya pikiran beda dan punya cara yg lebih efektif,walaupun beda.
Berani nerima fakta
Berani salah
Berani jadi bahan ledekan
Berani bertindak
n mungkin klo punya trik..brani ngambil nya
Berani bermain
yaitu susahnya untuk 'pindah',adalah mengenai keberanian..
Entah kenapa jd terbayangkan gambaran kasar nya.
Walaupun terkadang sudah menyadari kondisi dimana keadaan stuck,
sudah mempunyai bukti,
sudah memikirkan alternatif jalan keluar,
sudah meminta pertimbangan pd beberapa orang,
sudah memperhitungkan konsekuensinya..
Hal krusial yg penting keberanian.
Berani ngambil tindakan,gk cuma ngomong doang,gk cuma plan doang.
Berani nanya
Berani punya pikiran beda dan punya cara yg lebih efektif,walaupun beda.
Berani nerima fakta
Berani salah
Berani jadi bahan ledekan
Berani bertindak
n mungkin klo punya trik..brani ngambil nya
Berani bermain
Wednesday, August 18, 2010
a note for my friend..
memang, kadang2, kita berada di posisi yang benar2 baru, posisi yang memojokkan kita untuk
berbuat sesuatu. namun...kita bingung, karena kita belum pernah ada di situasi tersebut, bahkan saat bercerita
kepada teman2 lainnya, ternyata...kata2 mereka terasa hanya sebuah kata2..
n friend...yeah..i've been there
jadi solusinya apa...terkadang solusi itu harus kita sendiri yang menemukan, baru kita mengerti atau bahkan
memahami maksud dari kata2 itu.
karena diri kita ini adalah seorang manusia yang diberi cobaan,
sehingga kita bisa berada pada (jika di film anggap saja episode) episode2 yang berbeda
dan tiap episode ini kita menemukan hal2 yang berbeda.
hingga akhirnya kita berkata "aha! ternyata begitu toh.."
adalah sebuah tantangan dimana jika ada sebuah situasi/episode yang menantang kita,
dimana kita akan menghadapinya, bagaimana kita akan menghadapinya,
dan bagimana kita menjalaninya dan bagaimana kita meresapi maksud dari cobaan itu.
menjalaninya dengan menjadi diri lo atau pinjem personality orang lain, atau lo adalah seekor bunglon...
itu nnti pilihan lo..
hasil...hm...mo nnti lo jadi mundur, tetep atau lebih maju..
atau bahkan lo menjadi terdistorsi dalam kondisi vertikal atau horizontal..
hm...hm...
berbuat sesuatu. namun...kita bingung, karena kita belum pernah ada di situasi tersebut, bahkan saat bercerita
kepada teman2 lainnya, ternyata...kata2 mereka terasa hanya sebuah kata2..
n friend...yeah..i've been there
jadi solusinya apa...terkadang solusi itu harus kita sendiri yang menemukan, baru kita mengerti atau bahkan
memahami maksud dari kata2 itu.
karena diri kita ini adalah seorang manusia yang diberi cobaan,
sehingga kita bisa berada pada (jika di film anggap saja episode) episode2 yang berbeda
dan tiap episode ini kita menemukan hal2 yang berbeda.
hingga akhirnya kita berkata "aha! ternyata begitu toh.."
adalah sebuah tantangan dimana jika ada sebuah situasi/episode yang menantang kita,
dimana kita akan menghadapinya, bagaimana kita akan menghadapinya,
dan bagimana kita menjalaninya dan bagaimana kita meresapi maksud dari cobaan itu.
menjalaninya dengan menjadi diri lo atau pinjem personality orang lain, atau lo adalah seekor bunglon...
itu nnti pilihan lo..
hasil...hm...mo nnti lo jadi mundur, tetep atau lebih maju..
atau bahkan lo menjadi terdistorsi dalam kondisi vertikal atau horizontal..
hm...hm...
Wednesday, August 11, 2010
MEREKA YANG TAK AKAN TERGANTIKAN
Dua bulan sudah aku hidup di belahan kota yang berbeda dengan mereka,
namun saat bertemu kembali dengan mereka...entah mengapa rasa rinduku akan jakarta seakan terobati..
Suara mereka, tawa mereka, gaya mereka, candaan mereka, aura mereka, 'rasa' saat bersama mereka.
walaupun kini aku mulai beradaptasi dengan orang2 di sini namun entah mengapa,
tempat mereka di hatiku..tak akan tergantikan, karena mereka berdua merupakan sahabat spesialku, sahabat yang selalu mempunyai tempat khusus di hatiku
dan ku harap persahabatan ini kan berlangsung hingga Allah mempertemukan kita lagi di alam bazrah.
entah mengapa...apa karena takut terlupakan..atau takut dilupakan...
kenyataannya memang aku takut sendirian, walaupun telah ku coba untuk menjaga hati ini
namun ternyata...ia ber-riak lain
tak terasa bulirannya telah sampai di pipiku
seakan perlu pendorong dan pelarian sehingga buliran itu bergulir
aku benci menangis, karena setelahnya..mataku akan sakit, hidungku meler
dan kepalaku menjadi pusing...namun entah mengapa setelah itu terasa ringan
hatiku, seakan gerbang sempit itu terbuka lebih lebar dan menumpahkannya dengan
dengan buliran air mata
kehidupanku di sini terbilang sangat statis, aku rindu pergolakan yang terjadi setiap harinya saat aku bekerja di jakarta.
mungkin ini saat aku berkata "hidup statis tanpa masalah itu membosankan..." ha3..terdengar bodoh memang, namun begitulah yang kurasakan saat ini.
bukan berarti aku tak punya masalah, namun mungkin ragam masalahnya dan pemikiran orang2 yang aku hadapi.
aku merasa berada dalam kotak (yang terbuat dari batu bata) bersama orang2 yang tak mau maju, yang takut untuk maju, dan jika aku menggerakkan mereka atau aku berteriak untuk maju,
maka akulah yang akan tertiban batu bata runtuhan kota itu, aku akan 'terluka'. dan aku tahu luka ini akan berkakibat fatal terhadap masa depanku,
maka kuputuskan untuk diam.
sambil mencari atau mencungkil sedikit demi sedikit batu bata ini. dan mengumpulkan bijh besi yang nyatanya tak ada di dalam kotak ini.
bijih besi itu, kan kurangkai menjadi sebuah palu besar hingga dapat memecahkan batu bata ini, atau mungkin kepala2 orang ini...ha4.
oleh karena itu, terkadang aku berlari, untuk sesaat, aku tahu itu. ke jakarta, ke tempat mereka..
ok..setidaknya refreshing ini lebih berhasil daripada metode "penampilan baru" dimana gw harus beli baju n belanja untuk mengubah/refresh penampilan gw,
n diakhirnya saat gw dah beli semuanya (baju, celana, BH, underwear, sepatu/sandal) and gw berkaca di cermin, gw baru ngerasa...
"ok..gw tetep, gw yang stress dengan penampilan yang berbeda". makanya gw kan memilih menghabiskan uang gw menyebrangi lautan demi ketemu kalian guys...
namun saat bertemu kembali dengan mereka...entah mengapa rasa rinduku akan jakarta seakan terobati..
Suara mereka, tawa mereka, gaya mereka, candaan mereka, aura mereka, 'rasa' saat bersama mereka.
walaupun kini aku mulai beradaptasi dengan orang2 di sini namun entah mengapa,
tempat mereka di hatiku..tak akan tergantikan, karena mereka berdua merupakan sahabat spesialku, sahabat yang selalu mempunyai tempat khusus di hatiku
dan ku harap persahabatan ini kan berlangsung hingga Allah mempertemukan kita lagi di alam bazrah.
entah mengapa...apa karena takut terlupakan..atau takut dilupakan...
kenyataannya memang aku takut sendirian, walaupun telah ku coba untuk menjaga hati ini
namun ternyata...ia ber-riak lain
tak terasa bulirannya telah sampai di pipiku
seakan perlu pendorong dan pelarian sehingga buliran itu bergulir
aku benci menangis, karena setelahnya..mataku akan sakit, hidungku meler
dan kepalaku menjadi pusing...namun entah mengapa setelah itu terasa ringan
hatiku, seakan gerbang sempit itu terbuka lebih lebar dan menumpahkannya dengan
dengan buliran air mata
kehidupanku di sini terbilang sangat statis, aku rindu pergolakan yang terjadi setiap harinya saat aku bekerja di jakarta.
mungkin ini saat aku berkata "hidup statis tanpa masalah itu membosankan..." ha3..terdengar bodoh memang, namun begitulah yang kurasakan saat ini.
bukan berarti aku tak punya masalah, namun mungkin ragam masalahnya dan pemikiran orang2 yang aku hadapi.
aku merasa berada dalam kotak (yang terbuat dari batu bata) bersama orang2 yang tak mau maju, yang takut untuk maju, dan jika aku menggerakkan mereka atau aku berteriak untuk maju,
maka akulah yang akan tertiban batu bata runtuhan kota itu, aku akan 'terluka'. dan aku tahu luka ini akan berkakibat fatal terhadap masa depanku,
maka kuputuskan untuk diam.
sambil mencari atau mencungkil sedikit demi sedikit batu bata ini. dan mengumpulkan bijh besi yang nyatanya tak ada di dalam kotak ini.
bijih besi itu, kan kurangkai menjadi sebuah palu besar hingga dapat memecahkan batu bata ini, atau mungkin kepala2 orang ini...ha4.
oleh karena itu, terkadang aku berlari, untuk sesaat, aku tahu itu. ke jakarta, ke tempat mereka..
ok..setidaknya refreshing ini lebih berhasil daripada metode "penampilan baru" dimana gw harus beli baju n belanja untuk mengubah/refresh penampilan gw,
n diakhirnya saat gw dah beli semuanya (baju, celana, BH, underwear, sepatu/sandal) and gw berkaca di cermin, gw baru ngerasa...
"ok..gw tetep, gw yang stress dengan penampilan yang berbeda". makanya gw kan memilih menghabiskan uang gw menyebrangi lautan demi ketemu kalian guys...
Friday, March 26, 2010
Posting yang tertunda....(sangat lama)
Tidak terasa telah 5 tahun aku dan dia berteman, dia sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri, 'brother-hood' ha3.
Sepulang dari reuni, aku membuka kembali memori2 yang telah aku simpan di hatiku. ku ingat kembali OPT kami, momen pertama kami bertemu.
"jangan komen doang dong,bertindak!!" teriakku ketus, aku memang emosional dan pemarah, tapi saat itu aku marah karena para pria bercanda ria sementara para wanita sibuk. Semenjak itu, aku dan dia sedikit tidak akur. kami meledek sekolah (SMA) satu sama lain. ha3, sampai sekarang jika ku ingat kembali hal itu, tetap saja membuatku tertawa. Namun, dari ledekan itu terbangunlah jembatan per-teman-an kami. mulai saat itu kami berteman dan perteman ini makin erat tiap hari.
Suatu hari, ia menceritakan kisahnya padaku, hal itu membuatku ingin menangis dan memeluknya (walaupun penampakanku seperti sadako, tapi tetap saja aku wanita). aku merasa terharu oleh kisahnya karena aku pernah mengalami hal yang sama. aku juga terharu karena ia mau berbagi cerita denganku. Dari kisahnya aku menyadari mengapa ia menjadi seperti ini, dari kisahnya pula aku mulai mengerti arti teman bagi dia, dan dari kisah2nya pula aku belajar. Aku mulai mengerti mengapa ia takut untuk melangkah. Aku menjadi mengerti mengapa ia menjadi kurang tegas. Ia terlalu lama “disetir” sehingga saat sang sopir pergi meninggalkannya ia sedikit bingung, ia kehilangan arah.
“Teman yang baik (bagiku) bukanlah teman yang mengatur segalanya bagimu sehingga kau tinggal ditarik saja olehnya, namun bagiku teman yang baik ialah yang mau menemaniku (tidak harus fisik) saat aku mengambil jalan yang aku pilih (dan tak harus sejalan)”
Saat itulah hatiku mulai terbuka, selama ini aku hanya terpaku pada seseorang yang tak bisa kumiliki, tapi aku mulai sadar toh kalau hatiku pernah dilukai oleh seorang teman (yang kucintai), hatiku tidak akan berhenti mempercayai seseorang. Selama 4 tahun, aku dan dia berbagi cerita, rahasia, arti, derita, bahagia, rasa..hm..entahlah bahkan aku merasa berbagi hari.
Dia pernah kecewa dengan pertemanan, mungkin persahabatan, dan hal itu nampaknya yang mengikat kakinya pada kondisinya sekarang. Lalu, aku pun berbagi cerita dengannya, tentang angin, api, air bahkan batu yang ada di dalam dirirku. Seperti mendaki pegunungan tanpa henti, ada saatnya kita harus menanjak dan ada saatnya kita harus menurun. Menurun bukan berarti gagal, dan melepas bukan lah berarti akan hilang, dan berlawanan bukan berarti musuh. Karena setiap manusia punya alasan tersendiri dan hampir semua manusia mempunyai alasan (walaupun terkadang aku melakukan sesuatu tanpa alasan, namun sebenarnya alasan aku melakukan hal itu ialah karena aku ingin melakukannya).
Lima tahun kami sama-sama berproses. Dulu ia pernah berkata “aku merasa tertinggal..lo jangan ninggalin gw ya”, dulu aku menjawab “ya ayo maju dong, apaan sih lo...y gak lah, gila apa gw”. Namun sekaranglah aku yang akan berkata “sekarang lo lah yang berjalan lebih depan dari gw”.
Seiring bergulirnya waktu, ternyata proses seorang manusia juga berjalan. Dia yang dulu sering membuatku kesal dengan sifatnya yang ragu untuk maju menapak kakinya kini ternyata telah berlari jauh di depanku. Y..waktu juga berjalan baginya.
Sepulang dari reuni, aku membuka kembali memori2 yang telah aku simpan di hatiku. ku ingat kembali OPT kami, momen pertama kami bertemu.
"jangan komen doang dong,bertindak!!" teriakku ketus, aku memang emosional dan pemarah, tapi saat itu aku marah karena para pria bercanda ria sementara para wanita sibuk. Semenjak itu, aku dan dia sedikit tidak akur. kami meledek sekolah (SMA) satu sama lain. ha3, sampai sekarang jika ku ingat kembali hal itu, tetap saja membuatku tertawa. Namun, dari ledekan itu terbangunlah jembatan per-teman-an kami. mulai saat itu kami berteman dan perteman ini makin erat tiap hari.
Suatu hari, ia menceritakan kisahnya padaku, hal itu membuatku ingin menangis dan memeluknya (walaupun penampakanku seperti sadako, tapi tetap saja aku wanita). aku merasa terharu oleh kisahnya karena aku pernah mengalami hal yang sama. aku juga terharu karena ia mau berbagi cerita denganku. Dari kisahnya aku menyadari mengapa ia menjadi seperti ini, dari kisahnya pula aku mulai mengerti arti teman bagi dia, dan dari kisah2nya pula aku belajar. Aku mulai mengerti mengapa ia takut untuk melangkah. Aku menjadi mengerti mengapa ia menjadi kurang tegas. Ia terlalu lama “disetir” sehingga saat sang sopir pergi meninggalkannya ia sedikit bingung, ia kehilangan arah.
“Teman yang baik (bagiku) bukanlah teman yang mengatur segalanya bagimu sehingga kau tinggal ditarik saja olehnya, namun bagiku teman yang baik ialah yang mau menemaniku (tidak harus fisik) saat aku mengambil jalan yang aku pilih (dan tak harus sejalan)”
Saat itulah hatiku mulai terbuka, selama ini aku hanya terpaku pada seseorang yang tak bisa kumiliki, tapi aku mulai sadar toh kalau hatiku pernah dilukai oleh seorang teman (yang kucintai), hatiku tidak akan berhenti mempercayai seseorang. Selama 4 tahun, aku dan dia berbagi cerita, rahasia, arti, derita, bahagia, rasa..hm..entahlah bahkan aku merasa berbagi hari.
Dia pernah kecewa dengan pertemanan, mungkin persahabatan, dan hal itu nampaknya yang mengikat kakinya pada kondisinya sekarang. Lalu, aku pun berbagi cerita dengannya, tentang angin, api, air bahkan batu yang ada di dalam dirirku. Seperti mendaki pegunungan tanpa henti, ada saatnya kita harus menanjak dan ada saatnya kita harus menurun. Menurun bukan berarti gagal, dan melepas bukan lah berarti akan hilang, dan berlawanan bukan berarti musuh. Karena setiap manusia punya alasan tersendiri dan hampir semua manusia mempunyai alasan (walaupun terkadang aku melakukan sesuatu tanpa alasan, namun sebenarnya alasan aku melakukan hal itu ialah karena aku ingin melakukannya).
Lima tahun kami sama-sama berproses. Dulu ia pernah berkata “aku merasa tertinggal..lo jangan ninggalin gw ya”, dulu aku menjawab “ya ayo maju dong, apaan sih lo...y gak lah, gila apa gw”. Namun sekaranglah aku yang akan berkata “sekarang lo lah yang berjalan lebih depan dari gw”.
Seiring bergulirnya waktu, ternyata proses seorang manusia juga berjalan. Dia yang dulu sering membuatku kesal dengan sifatnya yang ragu untuk maju menapak kakinya kini ternyata telah berlari jauh di depanku. Y..waktu juga berjalan baginya.
Curhat abis nih...
Genap delapan hari aku berada di kota ini, kota yang panas dan gersang, dan satu hal lagi..sepi. berbeda sekali dengan Jakarta yang ku cinta. Beradaptasi, yah... hal itulah yang aku lakukan sebagai makhluk hidup yang sedang bermigrasi karena adanya seleksi alam. Yang dapat beradaptasi akan tetap hidup dan yang tidak, akan mati. Lampung, itulah nama kota kecil ini, sebenarnya sih, aku tidak tahu lebih besar Lampung atau Jakarta, namun dari segi jalan kota, aku menganggap Lampung lebih kecil dari Jakarta.
Hari ini, aku berencana berjalan-jalan bersama temanku, berwisata ke pantai pasir putih. Kami berjanji untuk bertemu pukul 1 siang di Karang. Karang merupakan sebuah nama tempat (Kotamadya mungkin), daerah itu dikenal dengan adanya Ramayana. Saat ini, waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, karena mataku masih terasa berat, terbius oleh suasana kamar..maka kuputuskan untuk tidur sejenak. Ha3...namanya juga saya, mana mungkin bisa tidur sejenak. Aku terbangun oleh suara sms dari HP ku. “jadi jalan2 tidak?”. Kubiarkan otak kanan dan otak kiriku berakselerasi untuk menjawab pertanyaan itu...5 menit...oh iya, aku kan mo jalan2 hari ni. Untung saja aku sudah mandi, dengan sigap laksana mau upacara, ku ganti bajuku, cuci muka, gosok gigi, dan ku balas sms temanku. “jadi, tunggu lagi mo jalan”. Ha3, betul kan aku lagi jalan untuk mengganti baju..
Ku percepat langkahku dan kuberhentikan angkot, “karang pak?” “ya”jawab pak supir. Maklum angkot di sini terbilang sedikit berbeda dengan Jakarta, trayeknya fleksibel, asal ujung depan dan belakangnya sama. Begitu juga dengan tarifnya. Satu hal yang sama dari semua angkot yang ada di sini, full music! Yang saya maksud, benar2 full lho! sampai2 pak supir punya cd-r lengkap dengan kepingan disc-nya. Pokoke...mak jeger lah. Wong bass-nya di pasang di kursi penumpang paling belakang.
Setelah sampai karang, ku perhatikan seksama sisi jalan..berantakan. hal pertama itulah yang terucap dalam benak ku. Ok..Jakarta juga berantakan, namun semenjak pak Fauzi bowo, nampaknya da sedikit perbaikan masalah pedagang kaki lima-nya. Bukan saya mau kampanye lho, wong saya aja gak nyoblos waktu pak Fauzi dipilih.
Ku putuskan untuk menanti temanku di salah satu Halte yang nampaknya selamat dari serbuan pedagang kaki lima. Ku perhatikan satu demi satu orang yang lalu lalang di depanku, aura kehidupan yang sama dengan daerah Jakarta Timur. Tak terasa temanku berdiri di sampingku, “mau jalan kemana?” “pantai!” dengan mantap ku jawab. Perjalanan ke pantai dari Karang di tempuh dengan bus DAMRI, ada dua tipe yang ber AC dan yang tidak, mirip Jakarta. Satu hal yang sangat saya suka dari bus DAMRI, nyaman dan murah! Yup murah, bus AC-nya dari Karang sampai Teluk hanya memakan biaya Rp.2.500. padahal klo di Jakarta, jaraknya dari UKI sampai Kebon Nanas, lewat tol.
Dari Karang kami menuju Teluk, dan dari teluk ternyata kami harus berganti dua kali mobil. Kami melewati daerah Panjang, aku jadi teringat dengan cerita temanku mengenai daerah ini. Panjang merupakan daerah yang dekat dengan pelabuhan, atau lebih di kenal dengan nama Labuhan (cuma ngilangin awalan pe- doang y..). daerah Panjang merupakan daerah yang terkenal dengan prostitusinya. Ya, jika dibayangkan dengan Jakrata, bayangkan saja Tanjung Priok yang memang terkenal dengan prostitusinya, maklum daerah pelabuhan (itu kata mereka). Sesampainya di Pasir, aku amat sangat terkejut!!! Lunturlah sudah bayangan Ancol, dari benakku, hilanglah sudah angin sepoi2, lenyaplah sudah angan gemuruh ombak...semuanya tak ada di sini. Pantai ini hanya berpasir putih dan berair asin, ya..hanya itu yang dapat ku simpulkan.... Sebenarnya ada taman laut di seberang pantai dan untuk penyebrangan, kami harus mengeluarkan kocek 100 ribu...aw aw aw...di gaji aja belom, duit dari mana bang!! Maklum, status kami berdua adalah semi-pengangguran.
Kecewa dengan apa yang kami temui, yang nampaknya kurang sebanding dengan perjalan kami, kami terduduk di sebuah rumah makan..lebih tepatnya emperan minum. Untungnya ada bakso, kami pesan bakso dan tentu saja, apapun makanannya minumnya teh botol sosro..ha3. kami cukup menunggu lama untuk menu yang kami pesan, yang dapat di bilang hanyalah camilan bagi kami yang kelaparan. Ku perhatikan pantai ini, nampaknya pantai ini telah hilang pesonannya, hilang pula daya tarik toko2 survenirnya. Beberapa survenir dari karang tergeletak tak terawat, berdebu, di etalase toko. Bahkan beberapa di antaranya nampak telah rusak. Sambil menunggu, kami berbincang banyak mengenai kota kami masing2, oh ya..temanku lahir di Padang dan asli orang Padang. Ia menceritakan banyak mengenai hobinya, yaitu berenang di sungai dan naik gunung (entah kenapa, saya jadi teringat Bolang...he3). Pembicaraan kami terhenti saat dua buah mangkok datang di hadapan kami...satu hal yang terlintas dalam benakku...ini bakso asli kan.... Akhirnya ku cicipi, dan satu rasa yang ku kenal ASIN! Aku hanya berharap, si penjual tidak memakai air laut sebagai kuahnya.
Aku memakannya dengan berdoa dalam hati agar aku tidak kena tipes ataupun muntah. Setelah habis menyikat bakso tersebut (klo lapar, apa aja masuk ya...), kami melanjutkan pembicaraan kami, hingga tak terasa waktu telah bergulir ke pukul 16.30 WIB. Kami memutuskan untuk segera beranjak dari pantai ini, tuk kembali ke kosan kami. Untungnya, angkot di sini terbilang gampang,trayeknya bolak balik, namun yang susah mencari penumpangnya, jadilah angkot nge-tem. Sama seperti saat berangkat, dari pantai menuju teluk, kami berganti angkot dua kali, dan dari teluk, kami naik DAMRI tentu saja yang ber-AC (klo yang tidak AC,panas bu!!!).
Bus yang kami naiki ternyata melewati Mal Kartini (salah satu mal yang ada di Lampung), karena memerlukan kemeja putih, kami turun di depan mal tersebut. Mau tahu apa pendapat saya...kecil, yah itulah pendapat saya. Jangan bandingkan dengan Plangi lho! mungkin bayangkan saja versi kecilnya GRACI, ha3.... Kami berkeliling mencari kemeja putih..Valino, Alisan, Lavino, Hammer...clingak clinguk...(mungkin seharusnya aku mencoba di Matahari juga ya..). Temanku pasrah, memang untuk ukuran laki2, badannya kecil sekali, ukuran kemejanya saja 14. Susah ya, jadi cowok kecil....(eits..saya cukup sadar diri lho, saya juga susah cari ukuran cewek). Depresi dengan koleksi yang ada, aku mencoba mengajaknya ke Matahari, namun ia menolak, sudah terlampau malam, nanti angkotnya susah. Yup, memang benar, angkot menuju kos-an kami terbilang cukup susah jika di atas pukul 18.00. Setelah di luar Mal Kartini, kami segera bergegas mencari angkot, biru telur asin, yup, itu tuh warna angkot yang harus kami cari. Untung kami hanya perlu menunggu 20 menit. Sebuah angkot biru telur asin berhenti, dan kami bertanya “Rajabasa?” “ayok!” kata kenek tersebut lantang.
Aku mencoba menghapal, tempat2 strategis atau sarana2 yang nantinya perlu aku kunjungi. Entah mengapa, pandangan ku menuju ke supir..(don’t ask me why..) a ha! Gaydar-ku lagi nyala....Ternyata saat ku perhatikan, bukan pak supir, namun ia seorang wanita. Perlu indra ke enam untuk menyadari jika ia seorang wanita, penampilannya memang tak ada wanita2nya, malah mirip abang2 angkot yang gemuk. Buchi-om2 (sebutan ku dan temanku untuk seorang buchi yang mengarah ke transgender.
Aku jadi teringat, saat seorang teman (ok mantan) bercerita tentang wanita les. Ada beberapa wanita les, yang sudah menganggap dirinya bukan wanita. Jadi buch, yang gak nyaman dengan penampilan wanitanya. Tomboy kebablasan, ada yang bilang seperti itu. Yah, klo menurutku itu sih terserah mereka. Namun satu hal yang tidak ku mengerti. Sebegitu besarkah idealism mereka, hingga terkadang menghancurkan masa depan mereka. Padahal klo di Jakarta, ada beberapa buchi yang seperti itu, yang bekerja di perusahaan swasta yang TOP class.
Hari ini, aku berencana berjalan-jalan bersama temanku, berwisata ke pantai pasir putih. Kami berjanji untuk bertemu pukul 1 siang di Karang. Karang merupakan sebuah nama tempat (Kotamadya mungkin), daerah itu dikenal dengan adanya Ramayana. Saat ini, waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, karena mataku masih terasa berat, terbius oleh suasana kamar..maka kuputuskan untuk tidur sejenak. Ha3...namanya juga saya, mana mungkin bisa tidur sejenak. Aku terbangun oleh suara sms dari HP ku. “jadi jalan2 tidak?”. Kubiarkan otak kanan dan otak kiriku berakselerasi untuk menjawab pertanyaan itu...5 menit...oh iya, aku kan mo jalan2 hari ni. Untung saja aku sudah mandi, dengan sigap laksana mau upacara, ku ganti bajuku, cuci muka, gosok gigi, dan ku balas sms temanku. “jadi, tunggu lagi mo jalan”. Ha3, betul kan aku lagi jalan untuk mengganti baju..
Ku percepat langkahku dan kuberhentikan angkot, “karang pak?” “ya”jawab pak supir. Maklum angkot di sini terbilang sedikit berbeda dengan Jakarta, trayeknya fleksibel, asal ujung depan dan belakangnya sama. Begitu juga dengan tarifnya. Satu hal yang sama dari semua angkot yang ada di sini, full music! Yang saya maksud, benar2 full lho! sampai2 pak supir punya cd-r lengkap dengan kepingan disc-nya. Pokoke...mak jeger lah. Wong bass-nya di pasang di kursi penumpang paling belakang.
Setelah sampai karang, ku perhatikan seksama sisi jalan..berantakan. hal pertama itulah yang terucap dalam benak ku. Ok..Jakarta juga berantakan, namun semenjak pak Fauzi bowo, nampaknya da sedikit perbaikan masalah pedagang kaki lima-nya. Bukan saya mau kampanye lho, wong saya aja gak nyoblos waktu pak Fauzi dipilih.
Ku putuskan untuk menanti temanku di salah satu Halte yang nampaknya selamat dari serbuan pedagang kaki lima. Ku perhatikan satu demi satu orang yang lalu lalang di depanku, aura kehidupan yang sama dengan daerah Jakarta Timur. Tak terasa temanku berdiri di sampingku, “mau jalan kemana?” “pantai!” dengan mantap ku jawab. Perjalanan ke pantai dari Karang di tempuh dengan bus DAMRI, ada dua tipe yang ber AC dan yang tidak, mirip Jakarta. Satu hal yang sangat saya suka dari bus DAMRI, nyaman dan murah! Yup murah, bus AC-nya dari Karang sampai Teluk hanya memakan biaya Rp.2.500. padahal klo di Jakarta, jaraknya dari UKI sampai Kebon Nanas, lewat tol.
Dari Karang kami menuju Teluk, dan dari teluk ternyata kami harus berganti dua kali mobil. Kami melewati daerah Panjang, aku jadi teringat dengan cerita temanku mengenai daerah ini. Panjang merupakan daerah yang dekat dengan pelabuhan, atau lebih di kenal dengan nama Labuhan (cuma ngilangin awalan pe- doang y..). daerah Panjang merupakan daerah yang terkenal dengan prostitusinya. Ya, jika dibayangkan dengan Jakrata, bayangkan saja Tanjung Priok yang memang terkenal dengan prostitusinya, maklum daerah pelabuhan (itu kata mereka). Sesampainya di Pasir, aku amat sangat terkejut!!! Lunturlah sudah bayangan Ancol, dari benakku, hilanglah sudah angin sepoi2, lenyaplah sudah angan gemuruh ombak...semuanya tak ada di sini. Pantai ini hanya berpasir putih dan berair asin, ya..hanya itu yang dapat ku simpulkan.... Sebenarnya ada taman laut di seberang pantai dan untuk penyebrangan, kami harus mengeluarkan kocek 100 ribu...aw aw aw...di gaji aja belom, duit dari mana bang!! Maklum, status kami berdua adalah semi-pengangguran.
Kecewa dengan apa yang kami temui, yang nampaknya kurang sebanding dengan perjalan kami, kami terduduk di sebuah rumah makan..lebih tepatnya emperan minum. Untungnya ada bakso, kami pesan bakso dan tentu saja, apapun makanannya minumnya teh botol sosro..ha3. kami cukup menunggu lama untuk menu yang kami pesan, yang dapat di bilang hanyalah camilan bagi kami yang kelaparan. Ku perhatikan pantai ini, nampaknya pantai ini telah hilang pesonannya, hilang pula daya tarik toko2 survenirnya. Beberapa survenir dari karang tergeletak tak terawat, berdebu, di etalase toko. Bahkan beberapa di antaranya nampak telah rusak. Sambil menunggu, kami berbincang banyak mengenai kota kami masing2, oh ya..temanku lahir di Padang dan asli orang Padang. Ia menceritakan banyak mengenai hobinya, yaitu berenang di sungai dan naik gunung (entah kenapa, saya jadi teringat Bolang...he3). Pembicaraan kami terhenti saat dua buah mangkok datang di hadapan kami...satu hal yang terlintas dalam benakku...ini bakso asli kan.... Akhirnya ku cicipi, dan satu rasa yang ku kenal ASIN! Aku hanya berharap, si penjual tidak memakai air laut sebagai kuahnya.
Aku memakannya dengan berdoa dalam hati agar aku tidak kena tipes ataupun muntah. Setelah habis menyikat bakso tersebut (klo lapar, apa aja masuk ya...), kami melanjutkan pembicaraan kami, hingga tak terasa waktu telah bergulir ke pukul 16.30 WIB. Kami memutuskan untuk segera beranjak dari pantai ini, tuk kembali ke kosan kami. Untungnya, angkot di sini terbilang gampang,trayeknya bolak balik, namun yang susah mencari penumpangnya, jadilah angkot nge-tem. Sama seperti saat berangkat, dari pantai menuju teluk, kami berganti angkot dua kali, dan dari teluk, kami naik DAMRI tentu saja yang ber-AC (klo yang tidak AC,panas bu!!!).
Bus yang kami naiki ternyata melewati Mal Kartini (salah satu mal yang ada di Lampung), karena memerlukan kemeja putih, kami turun di depan mal tersebut. Mau tahu apa pendapat saya...kecil, yah itulah pendapat saya. Jangan bandingkan dengan Plangi lho! mungkin bayangkan saja versi kecilnya GRACI, ha3.... Kami berkeliling mencari kemeja putih..Valino, Alisan, Lavino, Hammer...clingak clinguk...(mungkin seharusnya aku mencoba di Matahari juga ya..). Temanku pasrah, memang untuk ukuran laki2, badannya kecil sekali, ukuran kemejanya saja 14. Susah ya, jadi cowok kecil....(eits..saya cukup sadar diri lho, saya juga susah cari ukuran cewek). Depresi dengan koleksi yang ada, aku mencoba mengajaknya ke Matahari, namun ia menolak, sudah terlampau malam, nanti angkotnya susah. Yup, memang benar, angkot menuju kos-an kami terbilang cukup susah jika di atas pukul 18.00. Setelah di luar Mal Kartini, kami segera bergegas mencari angkot, biru telur asin, yup, itu tuh warna angkot yang harus kami cari. Untung kami hanya perlu menunggu 20 menit. Sebuah angkot biru telur asin berhenti, dan kami bertanya “Rajabasa?” “ayok!” kata kenek tersebut lantang.
Aku mencoba menghapal, tempat2 strategis atau sarana2 yang nantinya perlu aku kunjungi. Entah mengapa, pandangan ku menuju ke supir..(don’t ask me why..) a ha! Gaydar-ku lagi nyala....Ternyata saat ku perhatikan, bukan pak supir, namun ia seorang wanita. Perlu indra ke enam untuk menyadari jika ia seorang wanita, penampilannya memang tak ada wanita2nya, malah mirip abang2 angkot yang gemuk. Buchi-om2 (sebutan ku dan temanku untuk seorang buchi yang mengarah ke transgender.
Aku jadi teringat, saat seorang teman (ok mantan) bercerita tentang wanita les. Ada beberapa wanita les, yang sudah menganggap dirinya bukan wanita. Jadi buch, yang gak nyaman dengan penampilan wanitanya. Tomboy kebablasan, ada yang bilang seperti itu. Yah, klo menurutku itu sih terserah mereka. Namun satu hal yang tidak ku mengerti. Sebegitu besarkah idealism mereka, hingga terkadang menghancurkan masa depan mereka. Padahal klo di Jakarta, ada beberapa buchi yang seperti itu, yang bekerja di perusahaan swasta yang TOP class.
the sign...
gelisahnya tubuh ini nampaknya hanya dapat kulampiaskan dengan tulisan
karena kata kan bebas terhempas beriringan memenuhi barisan paragraf
kubiarkan tanganku melepaskan hasratnya yang telah terpendam untuk 24 jam 25 menit
ya, ia memang rakus memangsa liar semua huruf untuk dijadikan kalimat
walaupun terkadang otakku tak mengikuti maknanya dan hati pun tak mengerti rasanya, ia tetap memperkosa rakus kata
ia layaknya pelacur yang mencari kepuasan dari birahi yang tengah bergejolak
meraba semua bentuk untuk bercerita
menjilat semua citarsa untuk berima
menekan titik kenikmatan secara membabi buta
kututup laptop ku untuk menikmati keheningan sejenak
handphone ku bergetar, sebuah sms masuk
melihat nama pengirimnya membuat otakku berhenti
pengirimimnya adalah orang yang dulu aku sayangi
kubaca perlahan
ia menyapaku, dan kusapa kembali, dan kami berbalas kabar
hingga akhirnya kami kembali pada topik yang sama
hubungan kami
dan posisi dirinya
ternyata
ia masih berputar di area yang sama
di area perbatasan
dahulu ia mengambil keputusan untuk berusaha menyebrang sehingga dapat menyenangkan orang tuanya
kini, ia berada di posisi awal-ia bertemu dengan ku- untuk berbagi cerita tentang dunia kami-dahulu
sehingga aku bertanya
berdiri di area manakah ia kini
berkali ku bertanya padanya-tentang hubungan kami, pasti ia akan membeturkannya pada area perbatasan itu
namun ia tetap berdansa indah di dunia kami
hingga terkadang timbul pemikiran, apakah hal ini cara ia untuk lepas dariku...
mungkin
Kubiarkan sms darinya mengalir menumpuk di handphoneku
sementara kunikmati khayalan menemani hatiku untuk bercerita indah
menguatkan diri dengan logika yang telah teranyam
agar aku tak terpuruk tertarik oleh sifat kasihan yang kulempar untuk diriku sendiri
karena kata kan bebas terhempas beriringan memenuhi barisan paragraf
kubiarkan tanganku melepaskan hasratnya yang telah terpendam untuk 24 jam 25 menit
ya, ia memang rakus memangsa liar semua huruf untuk dijadikan kalimat
walaupun terkadang otakku tak mengikuti maknanya dan hati pun tak mengerti rasanya, ia tetap memperkosa rakus kata
ia layaknya pelacur yang mencari kepuasan dari birahi yang tengah bergejolak
meraba semua bentuk untuk bercerita
menjilat semua citarsa untuk berima
menekan titik kenikmatan secara membabi buta
kututup laptop ku untuk menikmati keheningan sejenak
handphone ku bergetar, sebuah sms masuk
melihat nama pengirimnya membuat otakku berhenti
pengirimimnya adalah orang yang dulu aku sayangi
kubaca perlahan
ia menyapaku, dan kusapa kembali, dan kami berbalas kabar
hingga akhirnya kami kembali pada topik yang sama
hubungan kami
dan posisi dirinya
ternyata
ia masih berputar di area yang sama
di area perbatasan
dahulu ia mengambil keputusan untuk berusaha menyebrang sehingga dapat menyenangkan orang tuanya
kini, ia berada di posisi awal-ia bertemu dengan ku- untuk berbagi cerita tentang dunia kami-dahulu
sehingga aku bertanya
berdiri di area manakah ia kini
berkali ku bertanya padanya-tentang hubungan kami, pasti ia akan membeturkannya pada area perbatasan itu
namun ia tetap berdansa indah di dunia kami
hingga terkadang timbul pemikiran, apakah hal ini cara ia untuk lepas dariku...
mungkin
Kubiarkan sms darinya mengalir menumpuk di handphoneku
sementara kunikmati khayalan menemani hatiku untuk bercerita indah
menguatkan diri dengan logika yang telah teranyam
agar aku tak terpuruk tertarik oleh sifat kasihan yang kulempar untuk diriku sendiri
Subscribe to:
Comments (Atom)