Tuesday, December 21, 2010

Mother-part 2 [Another caption of my journey]

“Kamu beli baju baru ya Ta?”
Tanya Ibuku seraya memperhatikanku bersolek di depan kaca.

“Ya Ma”

“Kok belinya baju kaya gitu sih...”
Aku memperhatikan blouse cokelat selutut dengan draped neck di tubuhku.

“Pengen coba tampil beda aja Ma”

Aku memperhatikan reaksi Ibuku, kening ibuku sedikit berkerut.
Ibuku lalu masuk ke kamarnya.

Aku terdiam...apa yang harus aku lakukan...aku merasa bodoh....

Tiba-tiba, ibuku keluar dari kamarnya membawa bros bunga kesangannya dan kotak make up-nya.
Ia mendekatiku, menyematkan bros indah itu di dada kananku.
Lalu Ia mengambil peralatan make up, memulaskan pelembab ke mukaku. Foundation dan bedak menjadi pengikut selanjutnya. Mereka bersatu bertumpuk menambah tebalnya topeng yang ku pakai hari ini.

Topeng yang ku pakai untuk datang ke pernikahan partner ku.

Tangan hangat Mama menyentuh setiap epitel mukaku membuat hatiku bergejolak.

“Mama pake eye shadow yang warna gold-coklat aja ya, biar cocok sama baju kamu” ucap Mama ku seraya memainkan keahliannya memainkan gradasi warna eye shadow.

“Kamu ngerokok lagi ya? Bibir kamu hitam banget” tanya Mamaku.
Pertanyaan tak terduga ini membuatku terdiam.

Mama memulaskan lipstick bewarna merah dan menimpanya dengan lipstick cair.

“Nah, hampir selesai”.

Blush on gold dengan glitter silver kini telah mendarat di pipiku.
“Kamu bau banget sih Ta”, lalu Mama masuk lagi ke kamarnya dengan cepat kembali lagi dengan membawa parfum.

Mama menyemprotkannya ke seluruh tubuhku.

“Nah, siap”.

Aku terdiam, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar mencengkram hatiku.

Ma, aku sayang Mama. Makasih Ma.

Kata-kata inilah yang ingin ku keluarkan dari rongga suaraku, tapi nampaknya kepengecutanku melahapnya habis hingga hanya menjadi kebisuan.

Selama ini, aku sedikit memberontak terhadap Mama karena Mama selalu berpihak pada Bapak....
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin pendapatku didengar, bukan pendapat Bapak.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena Mama selalu berbohong tentangku ke Bapak, hanya agar Bapak bahagia.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin Mama berkata pada Bapak.
Jika Aku dapat membuat keputusan ku sendiri, tanpa harus disetirnya.

Entahlah, mengapa aku begitu bodoh...
Saat Mama mengetahui orientasiku namun tetap mengulurkan tangan hangatnya untukku, aku mencari-cari kesalahan, agar Mama membenciku.
Kenapa dalam pikirku tersirat ‘kenapa lebih mudah jika Mama membenciku’.

Bodohnya aku.

Sebegitu naïf-nya kah diriku?
Saat Mama membentangkan tangannya, menyayangiku dengan caranya, aku mengkhianatinya dengan melakukan pemberontakan.

Aku menyerang pemikiranku dengan mencari-cari kesalahan Mama.

'Mengapa Mama selalu memihak Bapak, apakah sebegitu samanya pandangan mereka ataukah sebegitu besarnya rasa sayang Mama ke Bapak?'

Satu hal yang telah ku tahu pasti, dari kecil hingga sekarang, ya. Mama sangat menyayangi Bapak.

Apa mauku ini...se-egois itukah aku sehingga aku seperti menodong Mama untuk memilihku dibandingkan Bapak?

Ya, aku egois.

Aku sangat menginginkan Mama...

Namun berkata “Ma, selamat hari ibu ya, aku sayang Mama” saja, aku tidak berani.

Entah aku takut karena apa.

Apakah aku takut jika Mama menolakku, satu jawaban yang pasti, tidak. Mama tidak akan melakukan itu.
Lalu mengapa? Karena aku tidak terbiasa mengatakan hal itu, jawabannya ya.

Bapak ‘mengajarkan’ ku cara me-realisasi kebencian namun tidak rasa kasih sayang.

STOP!

Aku mengerem pemikiranku dari terus menyalahkan Bapak.
Jika aku terus begini, maka aku tidak akan pernah berubah.
Aku tidak mau seperti Bapak.

Aku adalah aku.
Aku sudah berjuang untuk ‘menciptakan’ diriku, aku tak mau lagi jangkar kemarahanku akan Bapak menarikku tenggelam lagi.

“Ma. Makasih ya. Aku....”

Mama tersenyum. “Ya, Mama juga sayang kamu.”


Lagi...Mama selalu tahu aku, walaupun aku tak mengucapkannya.
Dan lagi...aku masih kalah dengan Mama dalam hal menyayangi.


Mama...tempat aku belajar cara mencintai.
Mama...seorang wanita yang bisa melihat 'diriku' dalam balutan topeng tebalku.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemabuk menjadi Bapak sang Imam keluarga.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemarah menjadi Bapak yang penyayang.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak yang atheis menjadi Bapak yang bertahajud.

Ma, terima kasih untuk semuanya.
Aku sayang Mama.

No comments: