Another caption of my journey merupakan kumpulan cerita fiksi.
Cerita tersebut merupakan pengalaman2 teman2 saya dan saya, yang saya ramu menjadi suatu cerita fiksi.
Jadi cerita ini fiktif belaka, karena merupakan satu kelumit cerita dengan dongkrakan berjam2 imajinasi.
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Friday, December 31, 2010
Memanjakan diri??_2
Satu hal yang saya tahu pasti, jadi lesbi bukan berarti menjadi atheis.
Karena menurut saya, hal tersebut bukan dua cabang dalam satu jalur, seperti pilih belok kanan atau kiri. Namun lebih seperti, saya berjalan lurus dan di antara beribu percabangan jalan yang ada di kiri kanan jalan lurus tersebut, adalah salah satu cabangnya yang disebut orientasi seksual.
Nah, kaum hetero memilih untuk tetap berjalan lurus, namun kaum homo, karena jatuh cinta, mereka berbelok.
(Mungkin ini sebabnya ya, klo homo-lesbi n gay, sering disebut kaum belok).
Ok, back to the point.
Jadi, walaupun orientasi seksual belok, namun bukan berarti seluruh aspek hidup jadi 'belok'. Lebih saya tekankan lagi, jadi lesbi bukan berarti mesti jadi atheis.
'Tapi kan itu berlawanan ma agama'
Ya, memang.
Tapi, apakah hidup secara berlawanan itu tidak boleh?
Ataukah telah dipatok dengan kata DOSA, sehingga kata TIDAK BOLEH, terpampang layaknya plakat sita rumah?
Sehingga hal ini tidak usah dibicarakan lagi, karena dosa telah menjadi titik akhir.
Ok, karena saya memilih dosa bukan titik akhir (ya, anggap saja saya salah satu penghuni neraka, jadi jangan lupa doakan saya, agar Tuhan mau meringankan dosa saya. Apapun agama Anda).
Maka saya berdalih dengan kata 'pilihan'.
Ataukah, karena berlawanan, banyak sebagian orang yang TIDAK MEMILIH SALAH SATU?
Baik itu dengan menjadi hetero kembali (need more opinion-red) atau dengan tidak beragama.
Jika sang empu penanggung dosa, mau memilih untuk hidup secara berlawanan, yaitu dengan menjadi lesbi dan tetap beragama, bagaimana?
Kenapa?
Kesannya sok suci?
Atau buat nge-ringan-in dosa?
Ya...anggap saja seperti itu.
Anggap saja menjadi lesbi dapet dosa 50. Dan Anda tidak melaksanakan ibadah, sehingga Anda dapat dosa 90, maka jika ditotal menjadi 140.
Jika Anda menjadi lesbi dan tetap melaksanakan ibadah, maka jika ditotal dosa Anda hanya 50.
Mungkinkah begitu? Mana saya tahu, toh saya bukan Tuhan.
Eh...eh...ngapain beragama, kalo gak beragama (atheis) maka gak ada Tuhan (dalam konsep diri seorang atheis tentunya), jadi tak ada neraka atau surga. Jadi hanya ada satu hidup, ya hidup di dunia ini sekarang dan pada saat mati, ya sudah mati.
Benarkah?
Jika Anda setuju dengan statement satu kehidupan, maka nampaknya Anda harus membaca dan mengenal lebih dalam proses 'ada'. Atau yang lebih dikenal dengan proses penciptaan manusia.
Saya?
Saya percaya akan adanya kekuatan besar yaitu Allah, yang menciptakan semua hal, bahkan cinta. Allah juga menciptakan manusia dengan berbagai macam reaksi biokimia cinta.
Gen, kromosom, hormon, protein, Fosofor, Glukosa, neurotransmiter, hipothalamus...
Bukan berarti saya menyalahkan Allah karena telah menciptakan cinta.
Tuhan yang menciptakan namun manusia lah yang harus bisa mengontrol reaksi tersebut.
Saya hanyalah salah satu umatnya yang tidak bisa mengontrol reaksi tersebut.
Terus....
Ya, saya hidup berlawanan.
Saya lebih memilih (untuk saat ini) hidup berlawanan dari pada saya stuck atau atheis.
Stuck?
Menjadi 'pembohong' membuat saya ingin mati, bunuh diri. Ya, saya pernah mengalaminya.
Untung saja seorang teman berkata 'terima dirimu apa adanya, lalu belajarlah untuk memperbaikinya. Kamu bisa'.
Sejak saat itu hidup saya berjalan, tidak berkutat hanya dengan orientasi saya.
(Jadi kangen ma seragam SMA...)
Atheis?
No way.
So, here i am.
Ok..anggap aja ini juga salah satu statement defense dari saya, yang memanjakan diri.
Karena menurut saya, hal tersebut bukan dua cabang dalam satu jalur, seperti pilih belok kanan atau kiri. Namun lebih seperti, saya berjalan lurus dan di antara beribu percabangan jalan yang ada di kiri kanan jalan lurus tersebut, adalah salah satu cabangnya yang disebut orientasi seksual.
Nah, kaum hetero memilih untuk tetap berjalan lurus, namun kaum homo, karena jatuh cinta, mereka berbelok.
(Mungkin ini sebabnya ya, klo homo-lesbi n gay, sering disebut kaum belok).
Ok, back to the point.
Jadi, walaupun orientasi seksual belok, namun bukan berarti seluruh aspek hidup jadi 'belok'. Lebih saya tekankan lagi, jadi lesbi bukan berarti mesti jadi atheis.
'Tapi kan itu berlawanan ma agama'
Ya, memang.
Tapi, apakah hidup secara berlawanan itu tidak boleh?
Ataukah telah dipatok dengan kata DOSA, sehingga kata TIDAK BOLEH, terpampang layaknya plakat sita rumah?
Sehingga hal ini tidak usah dibicarakan lagi, karena dosa telah menjadi titik akhir.
Ok, karena saya memilih dosa bukan titik akhir (ya, anggap saja saya salah satu penghuni neraka, jadi jangan lupa doakan saya, agar Tuhan mau meringankan dosa saya. Apapun agama Anda).
Maka saya berdalih dengan kata 'pilihan'.
Ataukah, karena berlawanan, banyak sebagian orang yang TIDAK MEMILIH SALAH SATU?
Baik itu dengan menjadi hetero kembali (need more opinion-red) atau dengan tidak beragama.
Jika sang empu penanggung dosa, mau memilih untuk hidup secara berlawanan, yaitu dengan menjadi lesbi dan tetap beragama, bagaimana?
Kenapa?
Kesannya sok suci?
Atau buat nge-ringan-in dosa?
Ya...anggap saja seperti itu.
Anggap saja menjadi lesbi dapet dosa 50. Dan Anda tidak melaksanakan ibadah, sehingga Anda dapat dosa 90, maka jika ditotal menjadi 140.
Jika Anda menjadi lesbi dan tetap melaksanakan ibadah, maka jika ditotal dosa Anda hanya 50.
Mungkinkah begitu? Mana saya tahu, toh saya bukan Tuhan.
Eh...eh...ngapain beragama, kalo gak beragama (atheis) maka gak ada Tuhan (dalam konsep diri seorang atheis tentunya), jadi tak ada neraka atau surga. Jadi hanya ada satu hidup, ya hidup di dunia ini sekarang dan pada saat mati, ya sudah mati.
Benarkah?
Jika Anda setuju dengan statement satu kehidupan, maka nampaknya Anda harus membaca dan mengenal lebih dalam proses 'ada'. Atau yang lebih dikenal dengan proses penciptaan manusia.
Saya?
Saya percaya akan adanya kekuatan besar yaitu Allah, yang menciptakan semua hal, bahkan cinta. Allah juga menciptakan manusia dengan berbagai macam reaksi biokimia cinta.
Gen, kromosom, hormon, protein, Fosofor, Glukosa, neurotransmiter, hipothalamus...
Bukan berarti saya menyalahkan Allah karena telah menciptakan cinta.
Tuhan yang menciptakan namun manusia lah yang harus bisa mengontrol reaksi tersebut.
Saya hanyalah salah satu umatnya yang tidak bisa mengontrol reaksi tersebut.
Terus....
Ya, saya hidup berlawanan.
Saya lebih memilih (untuk saat ini) hidup berlawanan dari pada saya stuck atau atheis.
Stuck?
Menjadi 'pembohong' membuat saya ingin mati, bunuh diri. Ya, saya pernah mengalaminya.
Untung saja seorang teman berkata 'terima dirimu apa adanya, lalu belajarlah untuk memperbaikinya. Kamu bisa'.
Sejak saat itu hidup saya berjalan, tidak berkutat hanya dengan orientasi saya.
(Jadi kangen ma seragam SMA...)
Atheis?
No way.
So, here i am.
Ok..anggap aja ini juga salah satu statement defense dari saya, yang memanjakan diri.
Memanjakan diri??
"Lo masih shalat?"
Pertanyaan yang sesungguhnya bukan ditujukan padaku, namun membuatku bergerumuh, menggamang dalam benakku.
Sesungguhnya ini bukan pertanyaan masalah lesbi vs agama, yang pertama kali aku dengar.
Aku terbawa kembali akan pertanyaan, pertama, dari seorang teman. Ia berkata padaku :
"Buat apa lo shalat, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo belajar agama, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo baca Al Quran, klo kelakuan lo kayak gitu?"
"Lo dah tahu itu dosa, kenapa kelakuan lo masih kayak gitu?"
"Semuanya amal ibadah lo jadi kaya sia-sia aja.
Sampai kapan lo mau kaya gini?"
Aku ingat, saat itu aku menjawabnya dengan berkata :
"Gw tahu itu dosa, tapi gw juga gak tahu caranya untuk tidak jatuh cinta. Karena, pada saat gw jatuh cinta, yang gw cintai seorang wanita"
Dan teman qu pun berkata :
"Jawaban lo hanya defense dari diri lo, jadi itu bukan jawaban. Lo terlalu memanjakan diri lo"
Pertanyaan yang sesungguhnya bukan ditujukan padaku, namun membuatku bergerumuh, menggamang dalam benakku.
Sesungguhnya ini bukan pertanyaan masalah lesbi vs agama, yang pertama kali aku dengar.
Aku terbawa kembali akan pertanyaan, pertama, dari seorang teman. Ia berkata padaku :
"Buat apa lo shalat, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo belajar agama, klo kelakuan lo kaya gitu?"
"Buat apa lo baca Al Quran, klo kelakuan lo kayak gitu?"
"Lo dah tahu itu dosa, kenapa kelakuan lo masih kayak gitu?"
"Semuanya amal ibadah lo jadi kaya sia-sia aja.
Sampai kapan lo mau kaya gini?"
Aku ingat, saat itu aku menjawabnya dengan berkata :
"Gw tahu itu dosa, tapi gw juga gak tahu caranya untuk tidak jatuh cinta. Karena, pada saat gw jatuh cinta, yang gw cintai seorang wanita"
Dan teman qu pun berkata :
"Jawaban lo hanya defense dari diri lo, jadi itu bukan jawaban. Lo terlalu memanjakan diri lo"
Tuesday, December 21, 2010
Mother-part 2 [Another caption of my journey]
“Kamu beli baju baru ya Ta?”
Tanya Ibuku seraya memperhatikanku bersolek di depan kaca.
“Ya Ma”
“Kok belinya baju kaya gitu sih...”
Aku memperhatikan blouse cokelat selutut dengan draped neck di tubuhku.
“Pengen coba tampil beda aja Ma”
Aku memperhatikan reaksi Ibuku, kening ibuku sedikit berkerut.
Ibuku lalu masuk ke kamarnya.
Aku terdiam...apa yang harus aku lakukan...aku merasa bodoh....
Tiba-tiba, ibuku keluar dari kamarnya membawa bros bunga kesangannya dan kotak make up-nya.
Ia mendekatiku, menyematkan bros indah itu di dada kananku.
Lalu Ia mengambil peralatan make up, memulaskan pelembab ke mukaku. Foundation dan bedak menjadi pengikut selanjutnya. Mereka bersatu bertumpuk menambah tebalnya topeng yang ku pakai hari ini.
Topeng yang ku pakai untuk datang ke pernikahan partner ku.
Tangan hangat Mama menyentuh setiap epitel mukaku membuat hatiku bergejolak.
“Mama pake eye shadow yang warna gold-coklat aja ya, biar cocok sama baju kamu” ucap Mama ku seraya memainkan keahliannya memainkan gradasi warna eye shadow.
“Kamu ngerokok lagi ya? Bibir kamu hitam banget” tanya Mamaku.
Pertanyaan tak terduga ini membuatku terdiam.
Mama memulaskan lipstick bewarna merah dan menimpanya dengan lipstick cair.
“Nah, hampir selesai”.
Blush on gold dengan glitter silver kini telah mendarat di pipiku.
“Kamu bau banget sih Ta”, lalu Mama masuk lagi ke kamarnya dengan cepat kembali lagi dengan membawa parfum.
Mama menyemprotkannya ke seluruh tubuhku.
“Nah, siap”.
Aku terdiam, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar mencengkram hatiku.
Ma, aku sayang Mama. Makasih Ma.
Kata-kata inilah yang ingin ku keluarkan dari rongga suaraku, tapi nampaknya kepengecutanku melahapnya habis hingga hanya menjadi kebisuan.
Selama ini, aku sedikit memberontak terhadap Mama karena Mama selalu berpihak pada Bapak....
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin pendapatku didengar, bukan pendapat Bapak.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena Mama selalu berbohong tentangku ke Bapak, hanya agar Bapak bahagia.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin Mama berkata pada Bapak.
Jika Aku dapat membuat keputusan ku sendiri, tanpa harus disetirnya.
Entahlah, mengapa aku begitu bodoh...
Saat Mama mengetahui orientasiku namun tetap mengulurkan tangan hangatnya untukku, aku mencari-cari kesalahan, agar Mama membenciku.
Kenapa dalam pikirku tersirat ‘kenapa lebih mudah jika Mama membenciku’.
Bodohnya aku.
Sebegitu naïf-nya kah diriku?
Saat Mama membentangkan tangannya, menyayangiku dengan caranya, aku mengkhianatinya dengan melakukan pemberontakan.
Aku menyerang pemikiranku dengan mencari-cari kesalahan Mama.
'Mengapa Mama selalu memihak Bapak, apakah sebegitu samanya pandangan mereka ataukah sebegitu besarnya rasa sayang Mama ke Bapak?'
Satu hal yang telah ku tahu pasti, dari kecil hingga sekarang, ya. Mama sangat menyayangi Bapak.
Apa mauku ini...se-egois itukah aku sehingga aku seperti menodong Mama untuk memilihku dibandingkan Bapak?
Ya, aku egois.
Aku sangat menginginkan Mama...
Namun berkata “Ma, selamat hari ibu ya, aku sayang Mama” saja, aku tidak berani.
Entah aku takut karena apa.
Apakah aku takut jika Mama menolakku, satu jawaban yang pasti, tidak. Mama tidak akan melakukan itu.
Lalu mengapa? Karena aku tidak terbiasa mengatakan hal itu, jawabannya ya.
Bapak ‘mengajarkan’ ku cara me-realisasi kebencian namun tidak rasa kasih sayang.
STOP!
Aku mengerem pemikiranku dari terus menyalahkan Bapak.
Jika aku terus begini, maka aku tidak akan pernah berubah.
Aku tidak mau seperti Bapak.
Aku adalah aku.
Aku sudah berjuang untuk ‘menciptakan’ diriku, aku tak mau lagi jangkar kemarahanku akan Bapak menarikku tenggelam lagi.
“Ma. Makasih ya. Aku....”
Mama tersenyum. “Ya, Mama juga sayang kamu.”
Lagi...Mama selalu tahu aku, walaupun aku tak mengucapkannya.
Dan lagi...aku masih kalah dengan Mama dalam hal menyayangi.
Mama...tempat aku belajar cara mencintai.
Mama...seorang wanita yang bisa melihat 'diriku' dalam balutan topeng tebalku.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemabuk menjadi Bapak sang Imam keluarga.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemarah menjadi Bapak yang penyayang.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak yang atheis menjadi Bapak yang bertahajud.
Ma, terima kasih untuk semuanya.
Aku sayang Mama.
Tanya Ibuku seraya memperhatikanku bersolek di depan kaca.
“Ya Ma”
“Kok belinya baju kaya gitu sih...”
Aku memperhatikan blouse cokelat selutut dengan draped neck di tubuhku.
“Pengen coba tampil beda aja Ma”
Aku memperhatikan reaksi Ibuku, kening ibuku sedikit berkerut.
Ibuku lalu masuk ke kamarnya.
Aku terdiam...apa yang harus aku lakukan...aku merasa bodoh....
Tiba-tiba, ibuku keluar dari kamarnya membawa bros bunga kesangannya dan kotak make up-nya.
Ia mendekatiku, menyematkan bros indah itu di dada kananku.
Lalu Ia mengambil peralatan make up, memulaskan pelembab ke mukaku. Foundation dan bedak menjadi pengikut selanjutnya. Mereka bersatu bertumpuk menambah tebalnya topeng yang ku pakai hari ini.
Topeng yang ku pakai untuk datang ke pernikahan partner ku.
Tangan hangat Mama menyentuh setiap epitel mukaku membuat hatiku bergejolak.
“Mama pake eye shadow yang warna gold-coklat aja ya, biar cocok sama baju kamu” ucap Mama ku seraya memainkan keahliannya memainkan gradasi warna eye shadow.
“Kamu ngerokok lagi ya? Bibir kamu hitam banget” tanya Mamaku.
Pertanyaan tak terduga ini membuatku terdiam.
Mama memulaskan lipstick bewarna merah dan menimpanya dengan lipstick cair.
“Nah, hampir selesai”.
Blush on gold dengan glitter silver kini telah mendarat di pipiku.
“Kamu bau banget sih Ta”, lalu Mama masuk lagi ke kamarnya dengan cepat kembali lagi dengan membawa parfum.
Mama menyemprotkannya ke seluruh tubuhku.
“Nah, siap”.
Aku terdiam, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar mencengkram hatiku.
Ma, aku sayang Mama. Makasih Ma.
Kata-kata inilah yang ingin ku keluarkan dari rongga suaraku, tapi nampaknya kepengecutanku melahapnya habis hingga hanya menjadi kebisuan.
Selama ini, aku sedikit memberontak terhadap Mama karena Mama selalu berpihak pada Bapak....
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin pendapatku didengar, bukan pendapat Bapak.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena Mama selalu berbohong tentangku ke Bapak, hanya agar Bapak bahagia.
Selama ini aku sedikit memberontak terhadap Mama, karena aku ingin Mama berkata pada Bapak.
Jika Aku dapat membuat keputusan ku sendiri, tanpa harus disetirnya.
Entahlah, mengapa aku begitu bodoh...
Saat Mama mengetahui orientasiku namun tetap mengulurkan tangan hangatnya untukku, aku mencari-cari kesalahan, agar Mama membenciku.
Kenapa dalam pikirku tersirat ‘kenapa lebih mudah jika Mama membenciku’.
Bodohnya aku.
Sebegitu naïf-nya kah diriku?
Saat Mama membentangkan tangannya, menyayangiku dengan caranya, aku mengkhianatinya dengan melakukan pemberontakan.
Aku menyerang pemikiranku dengan mencari-cari kesalahan Mama.
'Mengapa Mama selalu memihak Bapak, apakah sebegitu samanya pandangan mereka ataukah sebegitu besarnya rasa sayang Mama ke Bapak?'
Satu hal yang telah ku tahu pasti, dari kecil hingga sekarang, ya. Mama sangat menyayangi Bapak.
Apa mauku ini...se-egois itukah aku sehingga aku seperti menodong Mama untuk memilihku dibandingkan Bapak?
Ya, aku egois.
Aku sangat menginginkan Mama...
Namun berkata “Ma, selamat hari ibu ya, aku sayang Mama” saja, aku tidak berani.
Entah aku takut karena apa.
Apakah aku takut jika Mama menolakku, satu jawaban yang pasti, tidak. Mama tidak akan melakukan itu.
Lalu mengapa? Karena aku tidak terbiasa mengatakan hal itu, jawabannya ya.
Bapak ‘mengajarkan’ ku cara me-realisasi kebencian namun tidak rasa kasih sayang.
STOP!
Aku mengerem pemikiranku dari terus menyalahkan Bapak.
Jika aku terus begini, maka aku tidak akan pernah berubah.
Aku tidak mau seperti Bapak.
Aku adalah aku.
Aku sudah berjuang untuk ‘menciptakan’ diriku, aku tak mau lagi jangkar kemarahanku akan Bapak menarikku tenggelam lagi.
“Ma. Makasih ya. Aku....”
Mama tersenyum. “Ya, Mama juga sayang kamu.”
Lagi...Mama selalu tahu aku, walaupun aku tak mengucapkannya.
Dan lagi...aku masih kalah dengan Mama dalam hal menyayangi.
Mama...tempat aku belajar cara mencintai.
Mama...seorang wanita yang bisa melihat 'diriku' dalam balutan topeng tebalku.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemabuk menjadi Bapak sang Imam keluarga.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak pemarah menjadi Bapak yang penyayang.
Mama...seorang wanita yang bisa mengubah sosok Bapak yang atheis menjadi Bapak yang bertahajud.
Ma, terima kasih untuk semuanya.
Aku sayang Mama.
Mother-part 1 [Another caption of my journey]
“Ta, kamu mau pake baju yang mana pas nanti nikahan Gita?” pertanyaan ibuku mengejutkan seluruh jiwaku yang memang sedang tidak berada pada posisi seimbangnya.
“He...yang mana ja Ma” jawabku seraya membenarkan posisi dudukku.
“Pake kebaya yang kamu pake waktu nikahan Mbak mu aja” saran ibuku.
Aku tertawa...
“Ma, kebaya ku kan emang cuma itu....”
Ma...apakah Mama gak inget kalo Mama cuma sekali itu memberikan aku baju yang memang benar-benar feminim.
“Ya udah pake batik aja. Kamu cakepan pake batik Ta, batik yang sama ma Bapak” usul Ibuku.
Aku jadi teringat, saat kakakku medapatkan kebaya indah bewarna gold dengan payetan kuning lembayung indah, seragam dengan ibuku.
Aku mendapatkan batik dengan model dan corak yang sama dengan Bapakku.
“Ya Ma” jawabku mengambangkan kepastian.
“He...yang mana ja Ma” jawabku seraya membenarkan posisi dudukku.
“Pake kebaya yang kamu pake waktu nikahan Mbak mu aja” saran ibuku.
Aku tertawa...
“Ma, kebaya ku kan emang cuma itu....”
Ma...apakah Mama gak inget kalo Mama cuma sekali itu memberikan aku baju yang memang benar-benar feminim.
“Ya udah pake batik aja. Kamu cakepan pake batik Ta, batik yang sama ma Bapak” usul Ibuku.
Aku jadi teringat, saat kakakku medapatkan kebaya indah bewarna gold dengan payetan kuning lembayung indah, seragam dengan ibuku.
Aku mendapatkan batik dengan model dan corak yang sama dengan Bapakku.
“Ya Ma” jawabku mengambangkan kepastian.
Wednesday, December 15, 2010
Mens barengan ma partner??
Pernah gak dalam satu rumah (saudara, sahabat, kos, asrama, or partner) mens barengan?
Apa jangan2 menstruasi menular?
So last year deh ngomongin masalah menstruasi sekarang…ngomongin menopause baru deh he eh…
Udah deh, baca aja dulu nambah informasi
Pasti sudah sering denger kalo mens itu “menular”. Bener gak sih? Dari hasil googling and ilmu perilaku hewan yang pernah saya dapat, jawabannya iya.
Berikut artikel yang saya kutip sebagai daftar cauan :
• Tevik Dorak, ahli medis dari Departemen Mikrobiologi, Toronto Medical Laboratories (TML) yang mengamati kesamaan siklus menstruasi pada perempuan yang tinggal berdekatan di suatu tempat.
”Hal ini biasa terjadi pada teman sekamar, sahabat dekat, pasangan lesbian atau juga hubungan ibu dan anak,” ujar Dorak seperti dilansir Newscientist.
Uniknya, kesamaan ini tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga pada hewan seperti tikus serta hewan pengerat lain, juga bangsa primata.
• Martha McClintock dari Jurusan Psikologi, University of Chicago. Perempuan inilah yang pertama kali melaporkan observasinya dalam jurnal Nature pada tahun 1971 dan terkenal dengan teori ”Efek McClintock”.
Dalam studi ini dikatakan bahwa ada sinyal kemosensor yang terlibat dalam feromon dan organ vomeronasal (VMO) yang dikenal sebagai organ Jacobson yang bertanggung jawab terhadap efek keseragaman siklus haid.
Yang unik, studi penelitian ini mempunyai banyak kesamaan dengan fenomena siklus menstruasi perempuan di usia 20-an, tapi tidak pada perempuan berusia lebih tua dengan siklus tetap (gak di jelasin usia berapa-red).
Feromon?
Apa’an tuh?
Feromon merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO di dalam hidung. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan (pada pria) dan di vagina (pada wanita), lebih umum terkonsentrasi pada daerah pubis.
Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.
Feromon diyakini berperan besar terhadap gairah sex
Feromon juga menyebabkan rasa relaks, detak jantung yang lebih pelan, meringankan stress, meringankan sakit kepala dan meringankan nyeri haid. Dan…feromon juga membuat wanita lebih sensitive dan lebih mudah terangsang
(McGill Centre for Research on Pain, Strathcona Anatomy and Dentistry Building, 3640 University Street, Room M-19, Montreal, Que., Canada H3A 2B2. chantal.)
Jadi, jangan kaget klo siklus kamu barengan ma siklus partner, n peak of libido nya juga hampir sama (yes! lovely benefit)
sumber
Newscientist
FakttaIlmiah
Pheromonelab
Apa jangan2 menstruasi menular?
So last year deh ngomongin masalah menstruasi sekarang…ngomongin menopause baru deh he eh…
Udah deh, baca aja dulu nambah informasi
Pasti sudah sering denger kalo mens itu “menular”. Bener gak sih? Dari hasil googling and ilmu perilaku hewan yang pernah saya dapat, jawabannya iya.
Berikut artikel yang saya kutip sebagai daftar cauan :
• Tevik Dorak, ahli medis dari Departemen Mikrobiologi, Toronto Medical Laboratories (TML) yang mengamati kesamaan siklus menstruasi pada perempuan yang tinggal berdekatan di suatu tempat.
”Hal ini biasa terjadi pada teman sekamar, sahabat dekat, pasangan lesbian atau juga hubungan ibu dan anak,” ujar Dorak seperti dilansir Newscientist.
Uniknya, kesamaan ini tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga pada hewan seperti tikus serta hewan pengerat lain, juga bangsa primata.
• Martha McClintock dari Jurusan Psikologi, University of Chicago. Perempuan inilah yang pertama kali melaporkan observasinya dalam jurnal Nature pada tahun 1971 dan terkenal dengan teori ”Efek McClintock”.
Dalam studi ini dikatakan bahwa ada sinyal kemosensor yang terlibat dalam feromon dan organ vomeronasal (VMO) yang dikenal sebagai organ Jacobson yang bertanggung jawab terhadap efek keseragaman siklus haid.
Yang unik, studi penelitian ini mempunyai banyak kesamaan dengan fenomena siklus menstruasi perempuan di usia 20-an, tapi tidak pada perempuan berusia lebih tua dengan siklus tetap (gak di jelasin usia berapa-red).
Feromon?
Apa’an tuh?
Feromon merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO di dalam hidung. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan (pada pria) dan di vagina (pada wanita), lebih umum terkonsentrasi pada daerah pubis.
Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.
Feromon diyakini berperan besar terhadap gairah sex
Feromon juga menyebabkan rasa relaks, detak jantung yang lebih pelan, meringankan stress, meringankan sakit kepala dan meringankan nyeri haid. Dan…feromon juga membuat wanita lebih sensitive dan lebih mudah terangsang
(McGill Centre for Research on Pain, Strathcona Anatomy and Dentistry Building, 3640 University Street, Room M-19, Montreal, Que., Canada H3A 2B2. chantal.)
Jadi, jangan kaget klo siklus kamu barengan ma siklus partner, n peak of libido nya juga hampir sama (yes! lovely benefit)
sumber
Newscientist
FakttaIlmiah
Pheromonelab
Subscribe to:
Comments (Atom)