Tuesday, January 20, 2009

Stop it, your life is priceless!

Dingin...tak kusadari ternyata hujan telah turun, aku segera menuju ke permukaan, mencoba mengisi kembali paru-paruku dengan udara. nampaknya hujan telah turun hebat dari tadi, hal itu kurasa dari permukaan air yang lebih dingin dari air di bawah. Aku segera menuju tepi pantai, menjatuhkan diriku di pasir berselimut hujan. angin mulai mengamuk, menampar air laut melahirkan ombak, lagi dan lagi suatu kontinuitas yang alami nan menajubkan. Suara hujan menemaniku, entah mengapa di kejauhan suara hujan terdengar seperti suara gadis yang sedang menangis. Aku mencoba bangkit dari rebahku, menatap abunya langit dan ganasnya ombak. Kakiku mengajakku untuk menapak ke arah gemuruh itu. Gemuruh yang mendayu-dayu menggoda jiwaku. Akankah aku bersih dari kotoran ini jika aku melebur bersamamu wahai gemuruh? tanyaku padanya, namun ia tak menjawab iya atau tidak, ia hanya melakukannya lagi dan lagi, bercinta dengan angin.
Aku sangat suka berenang, merasakan seluruh air menyrntuh setiap jengkal pori-poriku. merasakan air mencuci diriku yang kotor. Aku akan menuju ke kedalamannya hingga noda ini tercuci bersih...namun...akankah ia tercuci?akankah ia hilang? Aku tahu jawabnnya tidak. aku hanya berlari...lagi dan lagi.

"I just create another pain to replace an unbearable one"

Hal itulah yang aku rasakan saat membuka jaringan demi jaringan di kulitku, saat pisau itu menari di kulitku, rasa sakitnya sangatlah memusingkan...sakit. Namun rasa sakit ini dapat membuatku lupa akan 'hal itu'. 'Hal itu' yang membuatku sesak bernapas, mual dan membuatku amat sangat ignin pergi dari tempat ini. Tapi aku adalah seorang pengecut, yang hanya bersembunyi di balik rasa sakit. namun, bukankah rasa sakit yang lebih sakit dapat menutupi rasa sakit yang lain...even for a moment.... Please...I'll buy that moment with this pain.
of course...i'll not erase the pain with that. but...i need to breath.

"I just want to cut it, so that thing can come outside"

Aku memotongnya agar ia bisa keluar, agar ia tak mengendap di hatiku, otakku dan membawa seluruh tubuhku jatuh bersamanya. aku hanya ingin agar ia bisa keluar, aku terlalu lelah membawanya. ia sangat susah keluar dari mulutku, oleh karena itu aku memotong tenggorokanku. Tapi...ternyata ia tetap tak keluar, hanya darah dan air mata yang bersedia keluar.


Suara langkah berlari memecah suara gemuruh, berteriak memanggilku...

"Aku hanya ingin berada di dalam air, tercuci. Namun ternyata air benar-benar mengisi tiap pori-poriku hingga paru-paru ku pun di sentuh olehnya"

Saat samar, cahaya putih menyerang penglihatanku, bau alkohol menguap di seluruh tubuhku. Suara tangis mengii seluruh ruangan. saat sadar mengisi jiwa, kulihat Ibuku dan sahabatku berdiri di sampingku berbulir air mata. "kumohon berhentilah menangis", aku ingin berkata seperti itu namun mengapa tak ada satu kata pun yang dapat keluar. Kumohon berhentilah menangis, aku tak mau membuat kalian menangis, air mata kalian terlalu berharga untuk wanita kotor ini. Namun tak ada yang dapat kulakukan, aku talh merobek kataku saat kurobek tenggorokanku. Hanya air mata dan darah yang bersedia keluar.

Anastesi menguasi sadarku kembali.

Keesokan paginya kutemukan sepucuk surat di sampingku. kubaca perlahan dengan pemahaman yang dapat kucuri dari anastesi ini.

Dear Ta,
Maap, aku gak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku gak bisa ada di samping kamu sekarang (apa sih maksudmu sobat...yang berteriak meminta pertolongan di pantai itu kan kamu-pikirku). Aku...aku sayang kamu, kamu salah satu sahabat terbaik yang pernah aku punya. kamu tahu saat kamu harus ngeliat sobat kamu sakit sedangkan kamu gak bisa berbuat apa-apa...hancur Ta, rasanya kamu gak berguna, rasanya kata2 penyemangat yang aku berikan ke kamu saat hal itu terjadi cuma angin yang melewati udara. Itulah yang aku lagi rasain sekarang Ta. Aku takut kehilangan kamu, aku juga takut kehilangan 'sebagian diri' aku yang terbiasa aku habisin ma kamu. Walaupun setiap tetes darah kamu keluar, rasa sakit tiu gak akan tertutupi oleh rasa sakit yang lebih hebat Ta, rasa sakit itu sembunyi dan akan nyerang kamu bersamaan dengan semua rasa sakit yang ada, dan rasa sakit yang baru gak akan pergi begitu aja Ta, dy akan tinggal membekas baik di tubuh kamu dan di jiwa kamu.
Aku gak benar-benar tahu apa isi hati dan pikiran kamu, mungkin aku kurang berusaha keras untuk mencoba mengerti kamu (Bro...you are the only one who have understood me very well, too well, till i thought about it-why i can't understand myself better than you done). Please stop it, your life is priceless. Keep living on. you are loved.


So bro, will you answer me, can I blame it to my father rather I blame it on myself? cause you told me once "If you wanna blame on a child, you must see to the parents and adult around her/him, cause they are guiltiness person". May I trap in my "child"-step?

1 comment:

oro... said...

cerita ini bener2 fiksi. n saya membuatnya saat saya membaca post-ing salah satu teman saya dan saya sedang membaca kembali post-ing saya di tahun 2007 dengan judul badai. saya tak mengelak, bahwa saya mempunyai keinginan untuk bunuh diri. namun itu dulu, dan sekarang...my life too priceless.thankyu buddy!