Friday, December 31, 2010

Memanjakan diri??_2

Satu hal yang saya tahu pasti, jadi lesbi bukan berarti menjadi atheis.

Karena menurut saya, hal tersebut bukan dua cabang dalam satu jalur, seperti pilih belok kanan atau kiri. Namun lebih seperti, saya berjalan lurus dan di antara beribu percabangan jalan yang ada di kiri kanan jalan lurus tersebut, adalah salah satu cabangnya yang disebut orientasi seksual.
Nah, kaum hetero memilih untuk tetap berjalan lurus, namun kaum homo, karena jatuh cinta, mereka berbelok.
(Mungkin ini sebabnya ya, klo homo-lesbi n gay, sering disebut kaum belok).

Ok, back to the point.

Jadi, walaupun orientasi seksual belok, namun bukan berarti seluruh aspek hidup jadi 'belok'. Lebih saya tekankan lagi, jadi lesbi bukan berarti mesti jadi atheis.

'Tapi kan itu berlawanan ma agama'
Ya, memang.

Tapi, apakah hidup secara berlawanan itu tidak boleh?
Ataukah telah dipatok dengan kata DOSA, sehingga kata TIDAK BOLEH, terpampang layaknya plakat sita rumah?
Sehingga hal ini tidak usah dibicarakan lagi, karena dosa telah menjadi titik akhir.

Ok, karena saya memilih dosa bukan titik akhir (ya, anggap saja saya salah satu penghuni neraka, jadi jangan lupa doakan saya, agar Tuhan mau meringankan dosa saya. Apapun agama Anda).

Maka saya berdalih dengan kata 'pilihan'.

Ataukah, karena berlawanan, banyak sebagian orang yang TIDAK MEMILIH SALAH SATU?
Baik itu dengan menjadi hetero kembali (need more opinion-red) atau dengan tidak beragama.

Jika sang empu penanggung dosa, mau memilih untuk hidup secara berlawanan, yaitu dengan menjadi lesbi dan tetap beragama, bagaimana?
Kenapa?
Kesannya sok suci?
Atau buat nge-ringan-in dosa?
Ya...anggap saja seperti itu.

Anggap saja menjadi lesbi dapet dosa 50. Dan Anda tidak melaksanakan ibadah, sehingga Anda dapat dosa 90, maka jika ditotal menjadi 140.

Jika Anda menjadi lesbi dan tetap melaksanakan ibadah, maka jika ditotal dosa Anda hanya 50.

Mungkinkah begitu? Mana saya tahu, toh saya bukan Tuhan.

Eh...eh...ngapain beragama, kalo gak beragama (atheis) maka gak ada Tuhan (dalam konsep diri seorang atheis tentunya), jadi tak ada neraka atau surga. Jadi hanya ada satu hidup, ya hidup di dunia ini sekarang dan pada saat mati, ya sudah mati.

Benarkah?
Jika Anda setuju dengan statement satu kehidupan, maka nampaknya Anda harus membaca dan mengenal lebih dalam proses 'ada'. Atau yang lebih dikenal dengan proses penciptaan manusia.

Saya?
Saya percaya akan adanya kekuatan besar yaitu Allah, yang menciptakan semua hal, bahkan cinta. Allah juga menciptakan manusia dengan berbagai macam reaksi biokimia cinta.
Gen, kromosom, hormon, protein, Fosofor, Glukosa, neurotransmiter, hipothalamus...

Bukan berarti saya menyalahkan Allah karena telah menciptakan cinta.
Tuhan yang menciptakan namun manusia lah yang harus bisa mengontrol reaksi tersebut.
Saya hanyalah salah satu umatnya yang tidak bisa mengontrol reaksi tersebut.

Terus....
Ya, saya hidup berlawanan.
Saya lebih memilih (untuk saat ini) hidup berlawanan dari pada saya stuck atau atheis.

Stuck?
Menjadi 'pembohong' membuat saya ingin mati, bunuh diri. Ya, saya pernah mengalaminya.
Untung saja seorang teman berkata 'terima dirimu apa adanya, lalu belajarlah untuk memperbaikinya. Kamu bisa'.
Sejak saat itu hidup saya berjalan, tidak berkutat hanya dengan orientasi saya.
(Jadi kangen ma seragam SMA...)

Atheis?
No way.

So, here i am.

Ok..anggap aja ini juga salah satu statement defense dari saya, yang memanjakan diri.

2 comments:

Disa said...

Aq stuju dg pola fikir kamu,ap pun jln hdp yg d pilih,tuhan tetap d ht..
Jd ingat komentr slh satu pgunjung sepocikopi yg sprtix kaget atw apalah ttg pertanyaan q yg brtnya "yg brjilbab blh msk?"..
Aq jd brfkr,lesbian gk blh brjilbab,atw yg brjilbab gk blh lesbian?
Hemmmm...

oro... said...

Hi Disa! Salam kenal. makasi dah drop out ur comment at my blog.

Klo menurut saya mah, satu syarat jadi lesbi itu..wanita.
Mo bagaimapun bentuk atau makna gender yang ada.