Khayalak siklus mentari
Gelap menjarah bumi
Meneteskan buih mimpi
Membuka gerbang ilusi
Malam
Ia berlantun lembut hembusan nafasmu
Ia berhias elok indahnya senyummu
Ia berliuk lampai balutan tubuhmu
Ia bergema merdu irama suaramu
Adeliana
Aku...
Aku bukan pangeran berkuda putih-mu
Dirimu...
Dirimu seorang putri penjaga Naga
Naga...
Naga yang memerlukan dirimu agar ia merasa dirinya adalah Naga
Naga
Membelai luka
Menjahit air mata
Merajut tawa
Menuai cinta
Adeliana...
Berdansalah denganku
Sambutlah tanganku
Kan kupeluk erat dirimu
Dalam sutera ungu
Di dalam sangkar Naga
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Monday, January 24, 2011
PICIK
"Kenapa kau melakukannya?!" matanya menatap sinis memojokkanku
"Kenapa? Maaf, apa maksud Anda?" tanyaku heran
"Kau mem-publish artikel itu!! Apakah kau buta? Atau kau bodoh?!"
Aku menatap lurus dirinya, yang dari awal telah berdiri di depan mejaku.
Matanya membalas tajam tatapanku.
"Duduklah, akan ku jelaskan padamu" aku menarik sebuah kursi seraya mempersilahkannya duduk.
Walaupun nampaknya ia tak perlu basa basi dariku.
Ia langsung membanting bobot tubuhnya di kursi terdekat yang dapat ia jangkau.
Ia menyilangkan kakinya dan menegakkan tubuhnya.
Aku sangat paham artinya
'Aku pemimpinnya. Aku tak dapat kau kuasai. Aku benar'
"Jelaskan padaku, sekarang!" nada suaranya makin meninggi
"Maap, saya akan menjelaskan pada Anda sebatas kualifikasi Anda"
Ia menggeramkan giginya, "baik, jelaskan!"
"Pertama, Saya adalah pimpinan redaksi." aku menatap lurus matanya,
nampaknya Ia masih tetap pada pertahanannya.
Ku teruskan kalimatku seraya menatap lekat matanya.
"Kedua, manusia tidak suka ketidaknyamanannya terganggu.
Saat ketidaknyamannannya terganggu, manusia akan merespons.
Mereka akan membongkar muatan mereka,
mereka akan menambah muatan mereka,
mereka takut tertinggal
mereka akan menusukkan senjata,
Mereka akan beraliansi
Mereka takut kalah
Mereka akan membuat sarang baru
Mereka akan membangun kekuatan baru
Mereka bertambah berani
Mereka berproses
Mereka akan..."
"Cukup!! saya tak peduli dengan kiasan kata Anda"
Amarahnya bertambah, kini kakinya yang tersilang indah telah
membuka pertahanannya dan bersiap untuk menyerang.
"Pada umumnya, Bayi yang kenyang karena terus disuapi akan diam.
Pernahkah kau membiarkan bayi itu kelaparan?
Ia akan mencari makanannya.
Ia akan menangis.
Pernahkah kau mencubitnya?
Kurasa Ia akan menangis pula"
"Jadi...saya bayi itu bagi Anda?"
"Apakah Anda merasa seperti itu?"
"Jadi menurut Anda, lebih baik melepas kontroversi?"
"Apakah artikel saya menurut Anda sebuah kontroversi?"
Mukanya mulai memerah, matanya memancarkan amarah sangat,
sebagai puncaknya ia menggebrak meja dengan segala luapan amarahnya.
Amarah itu berbentuk gema, suaranya menimbulkan riak pada lorong ketenangan.
"Ya, artikel itu sebuah kontroversi"
"Mengapa?"
"Karena..."
Ia tak dapat menuntaskan kalimatnya karena kini bibirnya terkunci oleh bibir di hadapannya.
"Tulis komentar Anda dan serahkan ke saya 2 hari dari sekarang."
"Kenapa? Maaf, apa maksud Anda?" tanyaku heran
"Kau mem-publish artikel itu!! Apakah kau buta? Atau kau bodoh?!"
Aku menatap lurus dirinya, yang dari awal telah berdiri di depan mejaku.
Matanya membalas tajam tatapanku.
"Duduklah, akan ku jelaskan padamu" aku menarik sebuah kursi seraya mempersilahkannya duduk.
Walaupun nampaknya ia tak perlu basa basi dariku.
Ia langsung membanting bobot tubuhnya di kursi terdekat yang dapat ia jangkau.
Ia menyilangkan kakinya dan menegakkan tubuhnya.
Aku sangat paham artinya
'Aku pemimpinnya. Aku tak dapat kau kuasai. Aku benar'
"Jelaskan padaku, sekarang!" nada suaranya makin meninggi
"Maap, saya akan menjelaskan pada Anda sebatas kualifikasi Anda"
Ia menggeramkan giginya, "baik, jelaskan!"
"Pertama, Saya adalah pimpinan redaksi." aku menatap lurus matanya,
nampaknya Ia masih tetap pada pertahanannya.
Ku teruskan kalimatku seraya menatap lekat matanya.
"Kedua, manusia tidak suka ketidaknyamanannya terganggu.
Saat ketidaknyamannannya terganggu, manusia akan merespons.
Mereka akan membongkar muatan mereka,
mereka akan menambah muatan mereka,
mereka takut tertinggal
mereka akan menusukkan senjata,
Mereka akan beraliansi
Mereka takut kalah
Mereka akan membuat sarang baru
Mereka akan membangun kekuatan baru
Mereka bertambah berani
Mereka berproses
Mereka akan..."
"Cukup!! saya tak peduli dengan kiasan kata Anda"
Amarahnya bertambah, kini kakinya yang tersilang indah telah
membuka pertahanannya dan bersiap untuk menyerang.
"Pada umumnya, Bayi yang kenyang karena terus disuapi akan diam.
Pernahkah kau membiarkan bayi itu kelaparan?
Ia akan mencari makanannya.
Ia akan menangis.
Pernahkah kau mencubitnya?
Kurasa Ia akan menangis pula"
"Jadi...saya bayi itu bagi Anda?"
"Apakah Anda merasa seperti itu?"
"Jadi menurut Anda, lebih baik melepas kontroversi?"
"Apakah artikel saya menurut Anda sebuah kontroversi?"
Mukanya mulai memerah, matanya memancarkan amarah sangat,
sebagai puncaknya ia menggebrak meja dengan segala luapan amarahnya.
Amarah itu berbentuk gema, suaranya menimbulkan riak pada lorong ketenangan.
"Ya, artikel itu sebuah kontroversi"
"Mengapa?"
"Karena..."
Ia tak dapat menuntaskan kalimatnya karena kini bibirnya terkunci oleh bibir di hadapannya.
"Tulis komentar Anda dan serahkan ke saya 2 hari dari sekarang."
Tuesday, January 4, 2011
Remah tak pula ruah
Terduduk jatuh tertampar realita
Menunduk keluh merana
Mengutuk dahaga akan bahagia
Hina memangsa raga
Adeliana...
Sentuhanmu meniti syaraf
Melelehkan setiap lelah
Rimamu mengukir i’tiraf
Melumat setiap ranah
Adeliana...
Tawamu membungkam lara
Walau luka mu menganga
Senyummu merubuhkan dera
Walau derita mu meraba
Sayangku Adeliana....
Kau berkata bahwa bulan rindu akan mataku
Mataku yang selalu memantulkan keindahan dirinya
Hingga kau memanggut cemburu mesra pandanganku
Merenggut karam dindingnya
Sayangku Adeliana...
Tak perlu lagi aku memandang lekat bulan
Karena kaulah malam
Sayangku Adeliana...
Terima kasih telah datang dalam lembaran hidup ku, sekali lagi...
Menunduk keluh merana
Mengutuk dahaga akan bahagia
Hina memangsa raga
Adeliana...
Sentuhanmu meniti syaraf
Melelehkan setiap lelah
Rimamu mengukir i’tiraf
Melumat setiap ranah
Adeliana...
Tawamu membungkam lara
Walau luka mu menganga
Senyummu merubuhkan dera
Walau derita mu meraba
Sayangku Adeliana....
Kau berkata bahwa bulan rindu akan mataku
Mataku yang selalu memantulkan keindahan dirinya
Hingga kau memanggut cemburu mesra pandanganku
Merenggut karam dindingnya
Sayangku Adeliana...
Tak perlu lagi aku memandang lekat bulan
Karena kaulah malam
Sayangku Adeliana...
Terima kasih telah datang dalam lembaran hidup ku, sekali lagi...
JONO dan JONI
Tulisan ini gw buat saat otak gw mau muntah gara2 ujian lisan Evolusi...
Suatu kala ada seekor burung finch pemakan kaktus, bernama Joni, berimigrasi ke Pulau Galapagos. Betapa terkejut Joni, ternyata di pulau Galapagos ini hanya ada satu ekor species burung Finch, selain dirinya.
Lalu datanglah Joni menghampiri burung itu.
“Hai, kamu burung Finch pemakan kaktus juga ya?”
“Ya..”
burung itu menyambut joni dengan senyuman terindah yang pernah Joni lihat.
“Nama saya Joni, saya boleh tahu nama kamu?”
“Tentu saja, saya Jono”
Jono sangat ramah sehingga Joni tak kuasa untuk berpaling dari senyum Jono.
“Jono...apakah kamu, satu-satunya burung finch pemakan kaktus di sini?”
“Ya. Di sini tidak ada burung finch pemakan kaktus selain aku.”
“Wow...sudah berapa lama kau di sini sendiri Jono?”
“Sudah sekitar 4 tahun”
“Apakah selama itu juga kau sendiri?”
“Tidak, dulu ada 3 spesies. Dona, Doni dan Dono.
Dona menikah dengan Doni, namun akhirnya keturunan mereka mengalami degenerasi gen, karena mereka masih bersaudara.
Doni, dia menikah dengan Finch pemakan serangga.
Sekarang keturunannya tidak terlalu menunjukkan eksistensi fenotip dari gen spesies finch pemakan kaktus, karena ternyata teori mitochondrial Eve itu benar”
“Lalu, bagaimana dengan kau?”
“Aku...aku masih menunggu untuk datangnya seekor burung”
“Apakah ia kekasihmu?”
“Iya” Joni terdiam, ia merenung.
“Jono...bukakah tadi kau bilang 4 tahun?”
“Ya”
Joni menghitung umurnya, lalu membuka sayapnya, melihat bulu-bulu yang telah tumbuh mengiringi umurnya.
“Jono, bukankah umur spesies kita hanya 6 tahun?”
“Ya”
Joni memperhatikan Jono, memastikan bahwa ia benar-benar burung yang hidup, bukanlah fosil tiruan yang dibuat oleh para arkeolog.
“Jono, nampaknya kau sangat mencintainya. Lalu mengapa kau meninggalkannya?”
“Karena seleksi alam.
Aku pihak ketiga yang kalah dalam tekanan sosial dan tekanan alam”
“Aku tidak mengerti Jon...jika seperti itu bukankah kau sudah kalah.
Sehingga, kau tidak mempunyai kesempatan bersamanya lagi.
Lagipula..bukankah kau yang meninggalkannya.... Ataukah kau berharap ia datang menyusulmu?”
Jono termenung...
“Joni...apakah aku terlalu berharap lebih?”
“Aku tak tahu. Namun aku rasa, Ya.”
Saat berada di suatu posisi di mana ternyata suatu spesies terisolasi secara geografis (kecuali jika berjuang untuk bermigrasi dengan tantangan maut) dengan kumpulannya,
maka si species tersebut punya beberapa pilihan
1. Tidak mating
2. Kawin silang
3. Menunggu untuk datangnya species seperti dirinya
Namun dengan adanya waktu hidup yang singkat, maka pilihan ketiga jarang dipilih oleh para burung.
Bagaimana dengan pilihan pertama?
‘Bisakah Aku hidup tanpa pasangan seumur hidup?’
Mungkin bisa, namun akankah sepi-nya hidup ini.
Walaupun ada beberapa spesies yang dapat bertahan dari kesepian dengan menikmati bercengkrama dengan fauna lainnya, bersinkronisasi dengan ritme alam.
Lalu pilihan kedua?
‘Siapkah Aku?’
Mungkin suatu saat Aku siap.
Namun, mungkin Aku melakukannya karena Aku kesepian.
Sehingga Aku tidak bisa jadi diri sendiri.
Aku dituntut jadi orang lain, yang bertemplate seperti sosial pada umumnya.
Atau mungkin Aku benar2 bisa menjawab mengapa bencana terjadi sehingga Aku harus berimigrasi.
Suatu kala ada seekor burung finch pemakan kaktus, bernama Joni, berimigrasi ke Pulau Galapagos. Betapa terkejut Joni, ternyata di pulau Galapagos ini hanya ada satu ekor species burung Finch, selain dirinya.
Lalu datanglah Joni menghampiri burung itu.
“Hai, kamu burung Finch pemakan kaktus juga ya?”
“Ya..”
burung itu menyambut joni dengan senyuman terindah yang pernah Joni lihat.
“Nama saya Joni, saya boleh tahu nama kamu?”
“Tentu saja, saya Jono”
Jono sangat ramah sehingga Joni tak kuasa untuk berpaling dari senyum Jono.
“Jono...apakah kamu, satu-satunya burung finch pemakan kaktus di sini?”
“Ya. Di sini tidak ada burung finch pemakan kaktus selain aku.”
“Wow...sudah berapa lama kau di sini sendiri Jono?”
“Sudah sekitar 4 tahun”
“Apakah selama itu juga kau sendiri?”
“Tidak, dulu ada 3 spesies. Dona, Doni dan Dono.
Dona menikah dengan Doni, namun akhirnya keturunan mereka mengalami degenerasi gen, karena mereka masih bersaudara.
Doni, dia menikah dengan Finch pemakan serangga.
Sekarang keturunannya tidak terlalu menunjukkan eksistensi fenotip dari gen spesies finch pemakan kaktus, karena ternyata teori mitochondrial Eve itu benar”
“Lalu, bagaimana dengan kau?”
“Aku...aku masih menunggu untuk datangnya seekor burung”
“Apakah ia kekasihmu?”
“Iya” Joni terdiam, ia merenung.
“Jono...bukakah tadi kau bilang 4 tahun?”
“Ya”
Joni menghitung umurnya, lalu membuka sayapnya, melihat bulu-bulu yang telah tumbuh mengiringi umurnya.
“Jono, bukankah umur spesies kita hanya 6 tahun?”
“Ya”
Joni memperhatikan Jono, memastikan bahwa ia benar-benar burung yang hidup, bukanlah fosil tiruan yang dibuat oleh para arkeolog.
“Jono, nampaknya kau sangat mencintainya. Lalu mengapa kau meninggalkannya?”
“Karena seleksi alam.
Aku pihak ketiga yang kalah dalam tekanan sosial dan tekanan alam”
“Aku tidak mengerti Jon...jika seperti itu bukankah kau sudah kalah.
Sehingga, kau tidak mempunyai kesempatan bersamanya lagi.
Lagipula..bukankah kau yang meninggalkannya.... Ataukah kau berharap ia datang menyusulmu?”
Jono termenung...
“Joni...apakah aku terlalu berharap lebih?”
“Aku tak tahu. Namun aku rasa, Ya.”
Saat berada di suatu posisi di mana ternyata suatu spesies terisolasi secara geografis (kecuali jika berjuang untuk bermigrasi dengan tantangan maut) dengan kumpulannya,
maka si species tersebut punya beberapa pilihan
1. Tidak mating
2. Kawin silang
3. Menunggu untuk datangnya species seperti dirinya
Namun dengan adanya waktu hidup yang singkat, maka pilihan ketiga jarang dipilih oleh para burung.
Bagaimana dengan pilihan pertama?
‘Bisakah Aku hidup tanpa pasangan seumur hidup?’
Mungkin bisa, namun akankah sepi-nya hidup ini.
Walaupun ada beberapa spesies yang dapat bertahan dari kesepian dengan menikmati bercengkrama dengan fauna lainnya, bersinkronisasi dengan ritme alam.
Lalu pilihan kedua?
‘Siapkah Aku?’
Mungkin suatu saat Aku siap.
Namun, mungkin Aku melakukannya karena Aku kesepian.
Sehingga Aku tidak bisa jadi diri sendiri.
Aku dituntut jadi orang lain, yang bertemplate seperti sosial pada umumnya.
Atau mungkin Aku benar2 bisa menjawab mengapa bencana terjadi sehingga Aku harus berimigrasi.
Subscribe to:
Comments (Atom)