Monday, January 24, 2011

PICIK

"Kenapa kau melakukannya?!" matanya menatap sinis memojokkanku
"Kenapa? Maaf, apa maksud Anda?" tanyaku heran
"Kau mem-publish artikel itu!! Apakah kau buta? Atau kau bodoh?!"
Aku menatap lurus dirinya, yang dari awal telah berdiri di depan mejaku.
Matanya membalas tajam tatapanku.

"Duduklah, akan ku jelaskan padamu" aku menarik sebuah kursi seraya mempersilahkannya duduk.
Walaupun nampaknya ia tak perlu basa basi dariku.
Ia langsung membanting bobot tubuhnya di kursi terdekat yang dapat ia jangkau.
Ia menyilangkan kakinya dan menegakkan tubuhnya.
Aku sangat paham artinya
'Aku pemimpinnya. Aku tak dapat kau kuasai. Aku benar'

"Jelaskan padaku, sekarang!" nada suaranya makin meninggi

"Maap, saya akan menjelaskan pada Anda sebatas kualifikasi Anda"

Ia menggeramkan giginya, "baik, jelaskan!"

"Pertama, Saya adalah pimpinan redaksi." aku menatap lurus matanya,
nampaknya Ia masih tetap pada pertahanannya.
Ku teruskan kalimatku seraya menatap lekat matanya.

"Kedua, manusia tidak suka ketidaknyamanannya terganggu.
Saat ketidaknyamannannya terganggu, manusia akan merespons.
Mereka akan membongkar muatan mereka,
mereka akan menambah muatan mereka,
mereka takut tertinggal
mereka akan menusukkan senjata,
Mereka akan beraliansi
Mereka takut kalah
Mereka akan membuat sarang baru
Mereka akan membangun kekuatan baru
Mereka bertambah berani
Mereka berproses
Mereka akan..."

"Cukup!! saya tak peduli dengan kiasan kata Anda"
Amarahnya bertambah, kini kakinya yang tersilang indah telah
membuka pertahanannya dan bersiap untuk menyerang.

"Pada umumnya, Bayi yang kenyang karena terus disuapi akan diam.
Pernahkah kau membiarkan bayi itu kelaparan?
Ia akan mencari makanannya.
Ia akan menangis.
Pernahkah kau mencubitnya?
Kurasa Ia akan menangis pula"

"Jadi...saya bayi itu bagi Anda?"

"Apakah Anda merasa seperti itu?"

"Jadi menurut Anda, lebih baik melepas kontroversi?"

"Apakah artikel saya menurut Anda sebuah kontroversi?"

Mukanya mulai memerah, matanya memancarkan amarah sangat,
sebagai puncaknya ia menggebrak meja dengan segala luapan amarahnya.
Amarah itu berbentuk gema, suaranya menimbulkan riak pada lorong ketenangan.

"Ya, artikel itu sebuah kontroversi"
"Mengapa?"
"Karena..."

Ia tak dapat menuntaskan kalimatnya karena kini bibirnya terkunci oleh bibir di hadapannya.

"Tulis komentar Anda dan serahkan ke saya 2 hari dari sekarang."

No comments: