Tuesday, January 4, 2011

JONO dan JONI

Tulisan ini gw buat saat otak gw mau muntah gara2 ujian lisan Evolusi...

Suatu kala ada seekor burung finch pemakan kaktus, bernama Joni, berimigrasi ke Pulau Galapagos. Betapa terkejut Joni, ternyata di pulau Galapagos ini hanya ada satu ekor species burung Finch, selain dirinya.
Lalu datanglah Joni menghampiri burung itu.

“Hai, kamu burung Finch pemakan kaktus juga ya?”
“Ya..”
burung itu menyambut joni dengan senyuman terindah yang pernah Joni lihat.
“Nama saya Joni, saya boleh tahu nama kamu?”
“Tentu saja, saya Jono”
Jono sangat ramah sehingga Joni tak kuasa untuk berpaling dari senyum Jono.

“Jono...apakah kamu, satu-satunya burung finch pemakan kaktus di sini?”
“Ya. Di sini tidak ada burung finch pemakan kaktus selain aku.”
“Wow...sudah berapa lama kau di sini sendiri Jono?”
“Sudah sekitar 4 tahun”
“Apakah selama itu juga kau sendiri?”
“Tidak, dulu ada 3 spesies. Dona, Doni dan Dono.
Dona menikah dengan Doni, namun akhirnya keturunan mereka mengalami degenerasi gen, karena mereka masih bersaudara.
Doni, dia menikah dengan Finch pemakan serangga.
Sekarang keturunannya tidak terlalu menunjukkan eksistensi fenotip dari gen spesies finch pemakan kaktus, karena ternyata teori mitochondrial Eve itu benar”

“Lalu, bagaimana dengan kau?”

“Aku...aku masih menunggu untuk datangnya seekor burung

“Apakah ia kekasihmu?”

“Iya” Joni terdiam, ia merenung.

“Jono...bukakah tadi kau bilang 4 tahun?”
“Ya”

Joni menghitung umurnya, lalu membuka sayapnya, melihat bulu-bulu yang telah tumbuh mengiringi umurnya.

“Jono, bukankah umur spesies kita hanya 6 tahun?”
“Ya”
Joni memperhatikan Jono, memastikan bahwa ia benar-benar burung yang hidup, bukanlah fosil tiruan yang dibuat oleh para arkeolog.

“Jono, nampaknya kau sangat mencintainya. Lalu mengapa kau meninggalkannya?”
“Karena seleksi alam.
Aku pihak ketiga yang kalah dalam tekanan sosial dan tekanan alam”
“Aku tidak mengerti Jon...jika seperti itu bukankah kau sudah kalah.
Sehingga, kau tidak mempunyai kesempatan bersamanya lagi.
Lagipula..bukankah kau yang meninggalkannya.... Ataukah kau berharap ia datang menyusulmu?”

Jono termenung...

“Joni...apakah aku terlalu berharap lebih?”
“Aku tak tahu. Namun aku rasa, Ya.”

Saat berada di suatu posisi di mana ternyata suatu spesies terisolasi secara geografis (kecuali jika berjuang untuk bermigrasi dengan tantangan maut) dengan kumpulannya,
maka si species tersebut punya beberapa pilihan
1. Tidak mating
2. Kawin silang
3. Menunggu untuk datangnya species seperti dirinya
Namun dengan adanya waktu hidup yang singkat, maka pilihan ketiga jarang dipilih oleh para burung.

Bagaimana dengan pilihan pertama?
‘Bisakah Aku hidup tanpa pasangan seumur hidup?’
Mungkin bisa, namun akankah sepi-nya hidup ini.
Walaupun ada beberapa spesies yang dapat bertahan dari kesepian dengan menikmati bercengkrama dengan fauna lainnya, bersinkronisasi dengan ritme alam.

Lalu pilihan kedua?
‘Siapkah Aku?’
Mungkin suatu saat Aku siap.
Namun, mungkin Aku melakukannya karena Aku kesepian.
Sehingga Aku tidak bisa jadi diri sendiri.
Aku dituntut jadi orang lain, yang bertemplate seperti sosial pada umumnya.
Atau mungkin Aku benar2 bisa menjawab mengapa bencana terjadi sehingga Aku harus berimigrasi.

No comments: