Sunday, May 8, 2011

Mimpi tak selalu berarti (part 2)

050511
05.23 WIB

Aku terbangun
Perasaan rindu yang amat sangat menyelimuti hatiku
Air mata menemaniku dalam sunyinya pagi
Mungkin...ini karena pengaruh dari mimpi ku

Aku bermimpi

Chi-mong bermanja2 di kaki ku
Ku usap kepalanya dengan lembut dan ku mainkan kuping kirinya

040511
22.30 WIB

Ku sadari lagi dan lagi, kelemahan terbesarku dalam mencerna suatu peristiwa
adalah kekurang-pekaan
Rasa kurang peka yang disebabkan mati rasa
atau karena
terbiasa.
ya, terkadang..tidak bukan terkadang namun seringkali.
Seringkali aku membiasakan diriku untuk menggap suatu hal biasa.

"He...biasa aja"

Sehingga hal itu menumpulkan sensivitas bahkan toleransi ku, terhadap diriku
dan parahnya juga terhadap orang lain

Dan kali ini, hal tersebut bahkan melukai orang lain

Aku dibesarkan dengan template yang seperti ini,
dan lagi kau dituntut untuk logis, keras, tegas, dilarang cengeng,
terbiasa dengan kata2 kasar, mandiri, dan..sedikit mati rasa.

Nada dalam relung hatiku makin berharmoni
Menarikku dalam kenangan emosi
Nampaknya hatiku pun memiliki memori
Ia sangat mengingat emosi ini

Malam makin menyeruak kesadaranku
Menarikku untuk menundukkan mata pada kegelapan
Mendekap erat lelah dalam buaian  
Namun sebuah tanya masih menunggu  
Kapankah emosi itu pernah hadir di hatiku

040511
19.23 WIB



"Kamu bisa gak sih manis sedikit,
Kalo aku pergi, kamu juga akan biasa aja kali ya?"

Kata2 ini seringkali mengusik diriku,
karena kata2 ini layaknya suatu peringatan bagi diriku
bahwa kepribadianku diserang. 

Hening menelusuri syarafku
Meniti perlahan dalam otak besar

'Bukankah orang akan datang dan pergi dari kehidupan kita, bukankah itu hal yang biasa"

Percikan listrik menghentak
Menggetarkan nada dalam relung hati

'Namun Aku tidak mau kehilangan dirimu'

Aku terdiam
Pikiran negatif menggelayuti logika ku


'Jika jatuh cinta, harus tetap logis.
Cinta itu reaksi kimia, yang tidak usah dielu-elukan. 
Tekan ia, fokus.
Palingan nanti juga, ia akan meninggalkan-mu
Jadi hadapi dengan biasa saja'

050511
8.30 WIB
Benarkah karena mati rasa?
Nampaknya karena aku-lah yang me-matikan rasa
Dan berkedok akan kata 'mati rasa'

Namun sesungguhnya 

Aku takut mencintai
Aku takut akan ditinggalkan lagi
Aku takut terlalu beremosi


 Aku menarik nafasku
Ingatanku akan mimpi tadi malam kembali terpatri
Mungkinkah Chi-mong memperingati-ku
Ataukah ini hanya salah satu mimpi tak berarti

No comments: