Bulu putihnya bermanja di sela kaki ku
Raut muka manisnya mencoba menarik perhatianku
Jika tak jua aku memperhatikannya,
maka ia akan memegang pipiku
atau naik ke bahuku
ia memang istimewa
ia selalu membangunkanku untuk bersujud kepada Allah di sepertiga malam
ia juga lah yang membangunku saat adzan subuh menelusuri udara pagi
Chi-mo
Namun kakakku memanggilnya Chi-mong, dan nampaknya nama yang diberikan kakakku lebih disukai
oleh si pe-empu nama. Aku memberinya nama chi-mo (dibalik jadi mochi), karena pada saat masih kecil pose tidurnya selalu melingkar bulat, dan dengan bulunya yang putih, mirip sekali dengan kue mochi yang telah diberi tepung.Ia seekor kucing kampung yang setengah liar, jika pagi dan malam, ia berada di rumahku. Namun saat siang dan sore, ia akan berkeliling di sekitar kampung.
Ia ditinggalkan oleh induknya di rak peralatan motor, di depan rumahku. Kakakku pernah berkata, jika sang induk meninggalkan anaknya, bisa saja karena anaknya cacat. Dan kali ini, perkataan kakakku tepat. Cara berjalan Chi-mong sedikit berbeda dengan kucing pada umumnya, suaranya pun unik.
Chi-mong benar2 membuatku tidak merasa kesepian, bahkan setelah Bapak membuang 3 anak kucing yang ingin aku pelihara.
Aku sangat mengingatnya, karena peraturan Bapak adalah jika kau menginginkan sesuatu kau harus mempunyai sesuatu (there's rewards for achievement). Aku diperbolehkan memelihara Chi-mong, karena saat itu, aku menjadi juara paralel ke-8 di kelas 3 SMP.
Semenjak aku kuliah, Chi-mong jarang berada di rumah, bahkan saat malam hari.
Bulunya yang dahulu putih telah lusuh di tahun ke-6 usianya.
Biasanya aku memberi makan Chi-mong dua kali sehari, namun hal tersebut berubah. Setelah aku kuliah, kegiatan kuliah dan ekstrakulikuler benar2 menyitaku. Aku hanya memberi makan Chi-mong satu kali sehari, yaitu saat malam hari, dan ibuku yang memberi makan Chi-mong di pagi hari.
Setahun semenjak kepergianku ke Lampung, aku mendapat kabar dari Kakakku jika Chi-mong telah tidak pulang selama 5 bulan.
Malam itu, aku menangis...
Walaupun setelahnya kepalaku akan terasa pusing dan berat, namun ku biarkan rasa itu menyelimutiku
karena aku memerlukannya untuk tertidur
Saat aku pulang ke Jakarta...
Ternyata kenyataan lebih pahit yang menungguku
Ibuku bercerita bahwa Chi-mong tak pernah pulang karena Bapak membuangnya.
Kali ini, aku tak menangis...
Karena bulir air mataku telah mengeras
Dan hatiku telah mati rasa.
No comments:
Post a Comment