Membaca
Memahami
Menelaah
Mengomentari
Terintimidasi atau terinspirasi...
just write it down
dig it
Blog ini merupakan turahan 'penat otak' agar kewarasan saya tidak meretak. Beberapa post dalam blog ini merupakan cerita Fiksi, yang telah saya gabungkan dalam cerpen 'Our little journey'.
Friday, December 30, 2011
Saturday, August 13, 2011
Menyesal vs zona toleransi
"Apakah sesulit membangun sebuah candi Prambanan dalam membangun sebuah hubungan ya Dek?" tanya Abang.
Saya bukan ahli dalam proses alur serta mekanisme membangun hubungan....apalagi candi...
"Lo nanya kayak gituan ma gw, Tanya sono ma Bondowoso. Mang kenapa Bang?"
"Kenapa ya, Dek, aku lebih merasa nyaman balik ke mantan ku, walaupun hubungan kami tak jelas, dibandingkan aku memulai hubungan baru?”
"Hm...karena lebih terbiasa jadi kerasa lebih mudah, mungkin...ya Bang"
"Hh...ya tah?"
"Itu kan pendapat gw. Dulu. gw terbiasa diambangin ma mantan gw, sadar atau entah tidak, gw jadi biasa aja. Kayak udah nyaman aja"
"Sakit kau Dek"
"Itu kan dulu Bang. Nah, sekarang kan pertanyaannya buat lo"
"Hh...aku merasa bingung saja. Kalau dengan yang lama, aku merasa, ya sudah jalani saja, aku sudah tahu celah-celahnya. Kalau baru, terkadang ada rasa malas untuk aku mengenal lebih dalam wanita baru ini. Malas aku beradaptasi lagi"
“Kau ini Bang, mau jadi perjaka tua?”
“Bukan begitu Dek. Terkadang kalau aku ada konflik dengan Mia (pacar Abang yang sekarang), aku jadi terpikir untuk kembali ke mantan ku. Lebih terasa tidak susah, yah yang kau bilang tadi itu Dek, nyaman”
“Itu mah halusinasi sesaat aja Bang, karena males berhadapan ma yang berisik2 dan ribet2 aja kan lo?
Menurut gw, mau manapun yang lo pilih, konflik yang menyerang rasa nyaman lo pasti ada Bang. Tinggal lo aja, memperbesar zona toleransi lo.
Walaupun pada saat bersama mantan lo, terlihat gak ada konflik, sebenarnya ada masalah yang utama mengenai interaksi hubungan kalian”
Friday, August 12, 2011
Lelucon anak rantau
Abang, panggilanku untuk temanku, menelusuri FB teman-temannya saat kuliah. Sedangkan aku, men-download film-film sebagai teman ku di malam hari.
“Hhh....” Abang menghela napas panjang
“Kenapa Bang? Kembang kempis kayak gitu...ngeliatin FB siapa lo?” ledek ku
“Kenapa Bang? Kembang kempis kayak gitu...ngeliatin FB siapa lo?” ledek ku
“Teman-temanku rata-rata sudah menikah”
”Iri lo?”
“Bukan begitu Dek”
Ia terdiam, menikmati kembali rokok dan lagu Minang.
“Aku merasa, teman-temanku yang di rantau cepat kali menikahnya”
“Maklum Bang, namanya juga kesepian, perlu temen lah”
“Akh...teori manapula jawaban kau itu. Buktinya aku tak kesepian”
“Ya juga ya.... Gw sih, cuma buat kesimpulan aja. Coba lo pulang ke kos-an, sepi gak lo?”
“Ya..sedikit sih”
“Coba lo bayangin, klo pas pulang, ada yang nyambut lo di rumah, bawain lo minum, mijitin lo, ngurusin lo, nyayangin lo, ada yang nemenin lo ngobrol, dengerin lo curhat. Tambah lagi...nemenin lo malem2...enak gak tuh?”
“Akh kau ini, anak kecil. Ya juga ya, apalagi cantik dan manis ya. Wah, pasti betah aku di kos-an, tak perlu aku datang sabtu-sabtu ke kantor…ha3“
Aku tersenyum
“Kenapa kau senyum-senyum Dek?”
“Yah...asal jangan lo nanti nikahin anak orang gara-gara lo kesepian aja”
“Tidak lah...
Nanti kau tak kesepian-kah jika aku menikah? Tak ada pula nanti kau teman, Dek”
“Palingan gua mainnya nanti ke rumah lo...ha3”
Pikiranku melayang
‘Mungkin’
“Bolehlah...ha3”
Saturday, July 2, 2011
Kenyamanan yang mengancam
"Bagaimana dengan cita2mu?"
Masihkah kau berada di track yang tepat untuk meraihnya?
Ataukah
kau berbelok, mengubah arah cita2 mu?
Ataukah
kau berada di titik kenyamanan mu saat ini?
Hingga akhirnya kau menetapkan kau sudah berada di titik tujuan (cita2 mu).
(Pun manusia terus berubah dan berubah..)
Memang terkadang kondisi2 kantor seperti : nominal gaji dan bonus, perjalanan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, geng yang asik abis, bos yang top bgt atau sistem yang manusiawi membuat kita nyaman dan membuat kita merasa sudah bisa menaruh 'koper' kita di tempat itu.
Kenyamanan memang sangat menarik, membuat kita merasa settle dan damai. Sehingga terkadang kita terbuai akan hal tersebut.
Namun, bukankah lebih menarik lagi, jika kita mencoba mendobrak kenyaman kita untuk suatu tujuan (cita2)?
Kenyamanan itu diciptakan, bukan ditemukan.
Jadi jangan takut akan kejutan2 atau ketidakpastian yang akan kita hadapi.
Jangan biarkan ketidakpastian membuat kita takut untuk melangkah, sehingga mengancam keberanian kita.
Jangan takut jika kenyamanan Anda diancam.
Terkadang, kita memerlukan suatu 'ancaman' untuk menyadarkan kita atau bahkan menggoda kita, atau bahkan mengukuhkan kita pada track yang kita pilih.
Terkadang kita baru akan bangkit setelah berada di ujung tebing, dan kenyaman menjadi suatu hal yang mengancam keberanian kita.
Jangan takut gagal.
dan pula
Jangan takut akan perubahan.
"Perubahan2" tersebutlah yang membuat kita belajar dan belajar.
Perumpamaan tangga, maka maikn hari makin banyak anak tangga yang kita kumpulkan untuk menuju cita2 kita.
Resapi hari2 yang bergulir menggulung dan mengalir dari kehidupan kita
Jangan biarkan "Sang robot pekerja" memakan habis si "Manusia penyusun tangga"
untuk masa depan atau cita2.
Kitatidak bisa memprediksi agar masa depan dapat sesuai yang kita harapkan (cita2).
Namun jika tidak seperti yang kita harapkan, bersyukurlah.
Karena Allah memberikan kehidupan yang sangat indah dan menarik, banyak kejutan2 yang tak terbayangkan saat ini-yang tidak seperti kita prediksi dahulu kala.
Dan terkadang kejutan2 tersebutlah amunisi kita dalam menghadapi masa depan.
Selalu dorong diri kita untuk lebih dan lebih,
Jadi jangan takut untuk mengangkat kembali koper2 kita dan kembali berlari mencari kenyamanan baru yang lebih nyaman.
Masihkah kau berada di track yang tepat untuk meraihnya?
Ataukah
kau berbelok, mengubah arah cita2 mu?
Ataukah
kau berada di titik kenyamanan mu saat ini?
Hingga akhirnya kau menetapkan kau sudah berada di titik tujuan (cita2 mu).
(Pun manusia terus berubah dan berubah..)
Memang terkadang kondisi2 kantor seperti : nominal gaji dan bonus, perjalanan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, geng yang asik abis, bos yang top bgt atau sistem yang manusiawi membuat kita nyaman dan membuat kita merasa sudah bisa menaruh 'koper' kita di tempat itu.
Kenyamanan memang sangat menarik, membuat kita merasa settle dan damai. Sehingga terkadang kita terbuai akan hal tersebut.
Namun, bukankah lebih menarik lagi, jika kita mencoba mendobrak kenyaman kita untuk suatu tujuan (cita2)?
Kenyamanan itu diciptakan, bukan ditemukan.
Jadi jangan takut akan kejutan2 atau ketidakpastian yang akan kita hadapi.
Jangan biarkan ketidakpastian membuat kita takut untuk melangkah, sehingga mengancam keberanian kita.
Jangan takut jika kenyamanan Anda diancam.
Terkadang, kita memerlukan suatu 'ancaman' untuk menyadarkan kita atau bahkan menggoda kita, atau bahkan mengukuhkan kita pada track yang kita pilih.
Terkadang kita baru akan bangkit setelah berada di ujung tebing, dan kenyaman menjadi suatu hal yang mengancam keberanian kita.
Jangan takut gagal.
dan pula
Jangan takut akan perubahan.
"Perubahan2" tersebutlah yang membuat kita belajar dan belajar.
Perumpamaan tangga, maka maikn hari makin banyak anak tangga yang kita kumpulkan untuk menuju cita2 kita.
Resapi hari2 yang bergulir menggulung dan mengalir dari kehidupan kita
Jangan biarkan "Sang robot pekerja" memakan habis si "Manusia penyusun tangga"
untuk masa depan atau cita2.
Kita
Namun jika tidak seperti yang kita harapkan, bersyukurlah.
Karena Allah memberikan kehidupan yang sangat indah dan menarik, banyak kejutan2 yang tak terbayangkan saat ini-yang tidak seperti kita prediksi dahulu kala.
Dan terkadang kejutan2 tersebutlah amunisi kita dalam menghadapi masa depan.
Selalu dorong diri kita untuk lebih dan lebih,
Jadi jangan takut untuk mengangkat kembali koper2 kita dan kembali berlari mencari kenyamanan baru yang lebih nyaman.
Friday, May 27, 2011
Sugesti yang menular....
Jadi inget, dulu kalo masih d seragam putih abu2, klo ada satu orang yang dibenci ma satu orang..pasti bisa jadi ujung2nya dibenci ma satu geng.
Dan sekarang, klo ngeliat hal serupa, pasti komennya 'maklum masih SMA....'
Nyatanya, hal kayak gitu juga umum ditemukan pada ibu2 arisan (komen umumnya 'maklum emak2...'), geng nongkrong, temen2 kuliah, temen2 kerja, dan...ya anggap saja pada suatu grup lainnya yang tidak bisa di bleberkan semuanya..
Klo ditilik balik mah, padahal tuh orang yang dikucilkan gak segitu2 amat nyebelinnya.
Trus...apakah begitu mudahnya seseorang dihasut?
Atau, ringkihnya rasa tegas?
Atau takut gak ditemenin?
Atau...inikah cara sosialitas 'menghukum' minoritas?
(ya...walaupun ada beberapa orang yang bisa tidak selaras antara pemikiran dengan tindakan..)
Inget, pandangan mayoritas tak selalu 100% absolut benar dan mutlak.
lalu..berani jadi minoritas?
Hm... sebelum 'mencungkil' neuron2 yang ada di otak
Saya jadi berpikir, sebegitu mudahnya-kah men-sugesti seseorang...
Atau
Sebegitu mudahnya-kah sugesti itu menular
Atau
Sebegitu tidak resistennya-kah seseorang terhadap sugesti
MarKiNgKet...
Dan sekarang, klo ngeliat hal serupa, pasti komennya 'maklum masih SMA....'
Nyatanya, hal kayak gitu juga umum ditemukan pada ibu2 arisan (komen umumnya 'maklum emak2...'), geng nongkrong, temen2 kuliah, temen2 kerja, dan...ya anggap saja pada suatu grup lainnya yang tidak bisa di bleberkan semuanya..
Klo ditilik balik mah, padahal tuh orang yang dikucilkan gak segitu2 amat nyebelinnya.
Trus...apakah begitu mudahnya seseorang dihasut?
Atau, ringkihnya rasa tegas?
Atau takut gak ditemenin?
Atau...inikah cara sosialitas 'menghukum' minoritas?
(ya...walaupun ada beberapa orang yang bisa tidak selaras antara pemikiran dengan tindakan..)
Inget, pandangan mayoritas tak selalu 100% absolut benar dan mutlak.
lalu..berani jadi minoritas?
Hm... sebelum 'mencungkil' neuron2 yang ada di otak
Saya jadi berpikir, sebegitu mudahnya-kah men-sugesti seseorang...
Atau
Sebegitu mudahnya-kah sugesti itu menular
Atau
Sebegitu tidak resistennya-kah seseorang terhadap sugesti
MarKiNgKet...
Sunday, May 8, 2011
Mimpi tak selalu berarti (part 2)
050511
05.23 WIB
Aku terbangun
Perasaan rindu yang amat sangat menyelimuti hatiku
Air mata menemaniku dalam sunyinya pagi
Mungkin...ini karena pengaruh dari mimpi ku
Aku bermimpi
Chi-mong bermanja2 di kaki ku
Ku usap kepalanya dengan lembut dan ku mainkan kuping kirinya
040511
22.30 WIB
Ku sadari lagi dan lagi, kelemahan terbesarku dalam mencerna suatu peristiwa
adalah kekurang-pekaan
Rasa kurang peka yang disebabkan mati rasa
atau karena
Seringkali aku membiasakan diriku untuk menggap suatu hal biasa.
"He...biasa aja"
Sehingga hal itu menumpulkan sensivitas bahkan toleransi ku, terhadap diriku
dan parahnya juga terhadap orang lain
Dan kali ini, hal tersebut bahkan melukai orang lain
Aku dibesarkan dengan template yang seperti ini,
dan lagi kau dituntut untuk logis, keras, tegas, dilarang cengeng,
terbiasa dengan kata2 kasar, mandiri, dan..sedikit mati rasa.
040511
19.23 WIB
"Kamu bisa gak sih manis sedikit,
Kalo aku pergi, kamu juga akan biasa aja kali ya?"
Kata2 ini seringkali mengusik diriku,
karena kata2 ini layaknya suatu peringatan bagi diriku
bahwa kepribadianku diserang.
Hening menelusuri syarafku
Meniti perlahan dalam otak besar
'Bukankah orang akan datang dan pergi dari kehidupan kita, bukankah itu hal yang biasa"
Percikan listrik menghentak
Menggetarkan nada dalam relung hati
'Namun Aku tidak mau kehilangan dirimu'
Aku terdiam
Pikiran negatif menggelayuti logika ku
05.23 WIB
Aku terbangun
Perasaan rindu yang amat sangat menyelimuti hatiku
Air mata menemaniku dalam sunyinya pagi
Mungkin...ini karena pengaruh dari mimpi ku
Aku bermimpi
Chi-mong bermanja2 di kaki ku
Ku usap kepalanya dengan lembut dan ku mainkan kuping kirinya
040511
22.30 WIB
Ku sadari lagi dan lagi, kelemahan terbesarku dalam mencerna suatu peristiwa
adalah kekurang-pekaan
Rasa kurang peka yang disebabkan mati rasa
atau karena
terbiasa.
ya, terkadang..tidak bukan terkadang namun seringkali.Seringkali aku membiasakan diriku untuk menggap suatu hal biasa.
"He...biasa aja"
Sehingga hal itu menumpulkan sensivitas bahkan toleransi ku, terhadap diriku
dan parahnya juga terhadap orang lain
Dan kali ini, hal tersebut bahkan melukai orang lain
Aku dibesarkan dengan template yang seperti ini,
dan lagi kau dituntut untuk logis, keras, tegas, dilarang cengeng,
terbiasa dengan kata2 kasar, mandiri, dan..sedikit mati rasa.
Nada dalam relung hatiku makin berharmoni
Menarikku dalam kenangan emosi
Nampaknya hatiku pun memiliki memori
Ia sangat mengingat emosi ini
Malam makin menyeruak kesadaranku
Menarikku untuk menundukkan mata pada kegelapan
Mendekap erat lelah dalam buaian
Namun sebuah tanya masih menunggu
Kapankah emosi itu pernah hadir di hatiku
19.23 WIB
"Kamu bisa gak sih manis sedikit,
Kalo aku pergi, kamu juga akan biasa aja kali ya?"
Kata2 ini seringkali mengusik diriku,
karena kata2 ini layaknya suatu peringatan bagi diriku
bahwa kepribadianku diserang.
Hening menelusuri syarafku
Meniti perlahan dalam otak besar
'Bukankah orang akan datang dan pergi dari kehidupan kita, bukankah itu hal yang biasa"
Percikan listrik menghentak
Menggetarkan nada dalam relung hati
'Namun Aku tidak mau kehilangan dirimu'
Aku terdiam
'Jika jatuh cinta, harus tetap logis.
Cinta itu reaksi kimia, yang tidak usah dielu-elukan.
Tekan ia, fokus.
Palingan nanti juga, ia akan meninggalkan-mu
Jadi hadapi dengan biasa saja'
050511
8.30 WIB
Benarkah karena mati rasa?
Nampaknya karena aku-lah yang me-matikan rasa
Dan berkedok akan kata 'mati rasa'
Namun sesungguhnya
Aku takut mencintai
Aku takut akan ditinggalkan lagi
Aku takut terlalu beremosi
Aku menarik nafasku
Ingatanku akan mimpi tadi malam kembali terpatri
Mungkinkah Chi-mong memperingati-ku
Ataukah ini hanya salah satu mimpi tak berarti
Saturday, May 7, 2011
Mimpi tak selalu berarti
Bulu putihnya bermanja di sela kaki ku
Raut muka manisnya mencoba menarik perhatianku
Jika tak jua aku memperhatikannya,
maka ia akan memegang pipiku
atau naik ke bahuku
ia memang istimewa
ia selalu membangunkanku untuk bersujud kepada Allah di sepertiga malam
ia juga lah yang membangunku saat adzan subuh menelusuri udara pagi
Chi-mo
Namun kakakku memanggilnya Chi-mong, dan nampaknya nama yang diberikan kakakku lebih disukai
oleh si pe-empu nama. Aku memberinya nama chi-mo (dibalik jadi mochi), karena pada saat masih kecil pose tidurnya selalu melingkar bulat, dan dengan bulunya yang putih, mirip sekali dengan kue mochi yang telah diberi tepung.Ia seekor kucing kampung yang setengah liar, jika pagi dan malam, ia berada di rumahku. Namun saat siang dan sore, ia akan berkeliling di sekitar kampung.
Ia ditinggalkan oleh induknya di rak peralatan motor, di depan rumahku. Kakakku pernah berkata, jika sang induk meninggalkan anaknya, bisa saja karena anaknya cacat. Dan kali ini, perkataan kakakku tepat. Cara berjalan Chi-mong sedikit berbeda dengan kucing pada umumnya, suaranya pun unik.
Chi-mong benar2 membuatku tidak merasa kesepian, bahkan setelah Bapak membuang 3 anak kucing yang ingin aku pelihara.
Aku sangat mengingatnya, karena peraturan Bapak adalah jika kau menginginkan sesuatu kau harus mempunyai sesuatu (there's rewards for achievement). Aku diperbolehkan memelihara Chi-mong, karena saat itu, aku menjadi juara paralel ke-8 di kelas 3 SMP.
Semenjak aku kuliah, Chi-mong jarang berada di rumah, bahkan saat malam hari.
Bulunya yang dahulu putih telah lusuh di tahun ke-6 usianya.
Biasanya aku memberi makan Chi-mong dua kali sehari, namun hal tersebut berubah. Setelah aku kuliah, kegiatan kuliah dan ekstrakulikuler benar2 menyitaku. Aku hanya memberi makan Chi-mong satu kali sehari, yaitu saat malam hari, dan ibuku yang memberi makan Chi-mong di pagi hari.
Setahun semenjak kepergianku ke Lampung, aku mendapat kabar dari Kakakku jika Chi-mong telah tidak pulang selama 5 bulan.
Malam itu, aku menangis...
Walaupun setelahnya kepalaku akan terasa pusing dan berat, namun ku biarkan rasa itu menyelimutiku
karena aku memerlukannya untuk tertidur
Saat aku pulang ke Jakarta...
Ternyata kenyataan lebih pahit yang menungguku
Ibuku bercerita bahwa Chi-mong tak pernah pulang karena Bapak membuangnya.
Kali ini, aku tak menangis...
Karena bulir air mataku telah mengeras
Dan hatiku telah mati rasa.
Raut muka manisnya mencoba menarik perhatianku
Jika tak jua aku memperhatikannya,
maka ia akan memegang pipiku
atau naik ke bahuku
ia memang istimewa
ia selalu membangunkanku untuk bersujud kepada Allah di sepertiga malam
ia juga lah yang membangunku saat adzan subuh menelusuri udara pagi
Chi-mo
Namun kakakku memanggilnya Chi-mong, dan nampaknya nama yang diberikan kakakku lebih disukai
oleh si pe-empu nama. Aku memberinya nama chi-mo (dibalik jadi mochi), karena pada saat masih kecil pose tidurnya selalu melingkar bulat, dan dengan bulunya yang putih, mirip sekali dengan kue mochi yang telah diberi tepung.Ia seekor kucing kampung yang setengah liar, jika pagi dan malam, ia berada di rumahku. Namun saat siang dan sore, ia akan berkeliling di sekitar kampung.
Ia ditinggalkan oleh induknya di rak peralatan motor, di depan rumahku. Kakakku pernah berkata, jika sang induk meninggalkan anaknya, bisa saja karena anaknya cacat. Dan kali ini, perkataan kakakku tepat. Cara berjalan Chi-mong sedikit berbeda dengan kucing pada umumnya, suaranya pun unik.
Chi-mong benar2 membuatku tidak merasa kesepian, bahkan setelah Bapak membuang 3 anak kucing yang ingin aku pelihara.
Aku sangat mengingatnya, karena peraturan Bapak adalah jika kau menginginkan sesuatu kau harus mempunyai sesuatu (there's rewards for achievement). Aku diperbolehkan memelihara Chi-mong, karena saat itu, aku menjadi juara paralel ke-8 di kelas 3 SMP.
Semenjak aku kuliah, Chi-mong jarang berada di rumah, bahkan saat malam hari.
Bulunya yang dahulu putih telah lusuh di tahun ke-6 usianya.
Biasanya aku memberi makan Chi-mong dua kali sehari, namun hal tersebut berubah. Setelah aku kuliah, kegiatan kuliah dan ekstrakulikuler benar2 menyitaku. Aku hanya memberi makan Chi-mong satu kali sehari, yaitu saat malam hari, dan ibuku yang memberi makan Chi-mong di pagi hari.
Setahun semenjak kepergianku ke Lampung, aku mendapat kabar dari Kakakku jika Chi-mong telah tidak pulang selama 5 bulan.
Malam itu, aku menangis...
Walaupun setelahnya kepalaku akan terasa pusing dan berat, namun ku biarkan rasa itu menyelimutiku
karena aku memerlukannya untuk tertidur
Saat aku pulang ke Jakarta...
Ternyata kenyataan lebih pahit yang menungguku
Ibuku bercerita bahwa Chi-mong tak pernah pulang karena Bapak membuangnya.
Kali ini, aku tak menangis...
Karena bulir air mataku telah mengeras
Dan hatiku telah mati rasa.
Tuesday, April 5, 2011
Ilham...datanglah!
Inspirasi....datanglah....
Saya ingin mengubah nama blog saya, namun dari tahun 2009 hingga sekarang, saya belum juga menemukan bahkan menerima wangsit...
Hhhhh....
Hingga terhenyaklah hati ini dan terbelaklah mata ini.
Nama 'cumi' yang saya usung sejak berdirinya blog ini, telah terbisingkan oleh resonansi lain.
Saya sempat berpikir, apakah saya harus mengklaim nama blog saya di dirjen paten-HAKI? Tapi apapula lah yang saya bisa, mereka sibuk mengurusi paten-HAKI rakyat ndonesia yang sedang diculik satu persatu oleh bangsa luar.
Lagipula...seperti khalayak ramai tahu, bahwasanya 'cumi' merupakan istilah umum untuk hewan invertebrata-molusca-cephalopoda yang bernama latin Loligo sp. (jiah...nilai invertebrata C ja belagu...).
Demi mendapat ilham atas nama baru blog, saya menggali-gali otak saya, namun...tak sebutir kata jua saya temukan. Akhirnya tadi malam, saya mencari ilham ke tempat lain, handphone!
Okta : "nama cumi ada yang make Yang, d blog kopi...."
Yang : "ya udah ganti nama, katanya mau ganti nama"
Okta : "Apa ya yang, aku dah setubuh ma nama cumicumibakar"
Yang : "Nah kan dia gak dibakar, kamu dibakar..."
Okta : "He..."
Yang : "Prince charming aja yang"
Okta : "He..(kayaknya cuma kamu yang bilang aku charming...minus kamu nambah kayaknya deh yang)"
Yang : "SHERK aja yang, srek kesrek"
Okta : "He.."(awal udah bagus charming.eh dibanting jadi sherk...nasib. serk kesrek kaya bisnis esek esek, apa kantong kesrek?)
Sebenernya, masih ada beberapa nama aneh yang diajukan Yang, tapi seperti biasa klo dah denger suara Yang, pasti jadi 5 watt dan sensor united dah...
Wahai ilham...datangkanlah nama ciamik di otakku, agar ku ubah nama cihuy cumicumibakar ini.
Namun jikalau dikau tak datang, berarti memang sudah jodohku tuk menimang nama cumicumibakar hingga resolusiku tercapai.
Akhir kata, cumicumi ucapkan selamat BAKAR (Bahagia sAmpai ke aKAR) bagi semuanya!
Saya ingin mengubah nama blog saya, namun dari tahun 2009 hingga sekarang, saya belum juga menemukan bahkan menerima wangsit...
Hhhhh....
Hingga terhenyaklah hati ini dan terbelaklah mata ini.
Nama 'cumi' yang saya usung sejak berdirinya blog ini, telah terbisingkan oleh resonansi lain.
Saya sempat berpikir, apakah saya harus mengklaim nama blog saya di dirjen paten-HAKI? Tapi apapula lah yang saya bisa, mereka sibuk mengurusi paten-HAKI rakyat ndonesia yang sedang diculik satu persatu oleh bangsa luar.
Lagipula...seperti khalayak ramai tahu, bahwasanya 'cumi' merupakan istilah umum untuk hewan invertebrata-molusca-cephalopoda yang bernama latin Loligo sp. (jiah...nilai invertebrata C ja belagu...).
Demi mendapat ilham atas nama baru blog, saya menggali-gali otak saya, namun...tak sebutir kata jua saya temukan. Akhirnya tadi malam, saya mencari ilham ke tempat lain, handphone!
Okta : "nama cumi ada yang make Yang, d blog kopi...."
Yang : "ya udah ganti nama, katanya mau ganti nama"
Okta : "Apa ya yang, aku dah setubuh ma nama cumicumibakar"
Yang : "Nah kan dia gak dibakar, kamu dibakar..."
Okta : "He..."
Yang : "Prince charming aja yang"
Okta : "He..(kayaknya cuma kamu yang bilang aku charming...minus kamu nambah kayaknya deh yang)"
Yang : "SHERK aja yang, srek kesrek"
Okta : "He.."(awal udah bagus charming.eh dibanting jadi sherk...nasib. serk kesrek kaya bisnis esek esek, apa kantong kesrek?)
Sebenernya, masih ada beberapa nama aneh yang diajukan Yang, tapi seperti biasa klo dah denger suara Yang, pasti jadi 5 watt dan sensor united dah...
Wahai ilham...datangkanlah nama ciamik di otakku, agar ku ubah nama cihuy cumicumibakar ini.
Namun jikalau dikau tak datang, berarti memang sudah jodohku tuk menimang nama cumicumibakar hingga resolusiku tercapai.
Akhir kata, cumicumi ucapkan selamat BAKAR (Bahagia sAmpai ke aKAR) bagi semuanya!
Best regard
original cumicumibakar
(cumicumibakar yang asli tidak ada tanda hologram pada kata2nya)
Saturday, March 26, 2011
Ngalong ma kampret
Defense
Its natural
Cause we are classified as living things
Cause we need to survive
Semua orang punya hak untuk mempertahankan dirinya
Juga
Semua orang punya hak untuk berbicara
Maka
Silahkan saja
Maaf mulutku tak bercadarkan 'hati'
Karena otakku merengek mati
Maaf moralku berbau mayat
Karena nurani-ku telah ku-layat
Telah ku gali tempat pelepas penat
Tuk membaringkan kata-kata
Telah ku robek ribuan sekat
Tuk menyelimuti prasangka
Kubentangkan kafan putih
Tuk bersemayamnya kata
Kuciptakan malam sabah
Tuk melelapkan rasa
*-------*
Setiap orang telah membentuk karakteristik dari pertahanan dirinya, baik merupakan
bagian dirinya atau lapisan benteng. Pembentukan tersebut terintregasi dari lingkungan,
baik keluarga, teman atau komunitas lainnya. Jika saya menemplate-kan pertahanan saya,
mungkin akan dirasa 'salah' untuk orang lain yang lingkungannya berbeda dengan saya.
Seperti halnya pinguin Alaska, mereka telah beradaptasi untuk bertahan hidup dilingkungannya,
Jangan taruh ia di Gurun Sahara...hm....udah ada yang neliti belum ye...
Jangan ditekankan masalah geografisnya, hal tersebut cuma perumpamaan.
Nah...kenalilah diri sendiri dan lingkungan kita, jadi...ya begitulah...(gak enak saya ngetiknya...)
Are u really already raise your glass? or u just raise another poured-wine-glass
Or...cause in the party u have to do it? or just to elaborate the rhythm...
Thanks God, i have this blog...so i don't need blabbering too much
Salam damai dah....
Its natural
Cause we are classified as living things
Cause we need to survive
Semua orang punya hak untuk mempertahankan dirinya
Juga
Semua orang punya hak untuk berbicara
Maka
Silahkan saja
Maaf mulutku tak bercadarkan 'hati'
Karena otakku merengek mati
Maaf moralku berbau mayat
Karena nurani-ku telah ku-layat
Telah ku gali tempat pelepas penat
Tuk membaringkan kata-kata
Telah ku robek ribuan sekat
Tuk menyelimuti prasangka
Kubentangkan kafan putih
Tuk bersemayamnya kata
Kuciptakan malam sabah
Tuk melelapkan rasa
*-------*
Setiap orang telah membentuk karakteristik dari pertahanan dirinya, baik merupakan
bagian dirinya atau lapisan benteng. Pembentukan tersebut terintregasi dari lingkungan,
baik keluarga, teman atau komunitas lainnya. Jika saya menemplate-kan pertahanan saya,
mungkin akan dirasa 'salah' untuk orang lain yang lingkungannya berbeda dengan saya.
Seperti halnya pinguin Alaska, mereka telah beradaptasi untuk bertahan hidup dilingkungannya,
Jangan taruh ia di Gurun Sahara...hm....udah ada yang neliti belum ye...
Jangan ditekankan masalah geografisnya, hal tersebut cuma perumpamaan.
Nah...kenalilah diri sendiri dan lingkungan kita, jadi...ya begitulah...(gak enak saya ngetiknya...)
Are u really already raise your glass? or u just raise another poured-wine-glass
Or...cause in the party u have to do it? or just to elaborate the rhythm...
Thanks God, i have this blog...so i don't need blabbering too much
Salam damai dah....
Perubahan itu abadi...
Gw jarang ngobrol masalah hubungan2 gw, ma keluarga gw. Baik itu tentang temen...apalagi partner. Kenapa? Karena memang seperti itu.
Malam ini kerasa beda, kakak gw duduk di samping gw, ngomongin masalah nikah...
(Kakak gw dah nikah n dah punya anak).
"Cewek jangan terlalu banyak tuntutan Dek, jangan terlalu pemilih".
Kakak gw memang masih memegang adat kejawennya, jadi ada beberapa nasihat kejawen lainnya yang memang gak bisa masuk ke kuping gw, alhasil off air.
"Ha..."
klo diajak ngomong masalah nikah, gw memang biasanya cuma 'ha, he, hi, ya, nyengir, ketawa, dan ngemeng gak jelas'.
"Pilihlah orang yang membuat lo nyaman"
"Ya"
"Nikah itu....."
Maap gw off air lagi, gw gak menyimak secara keseluruhan, gw cuma denger endingnya.
"Lo bayangin klo lo dah tua, sendirian, kesepian, gak ada yang ngurusin lo. Klo gw masih hidup, pastilah gw ngurusin lo, Jono (adek gw n kakak gw-tentunya) juga dek, pasti mau ngurusin lo"
"Panti jompo terus ikut yayasan ********* (yayasan pengurusan kubur)" Jawab gw.
"Dek...beda antara panti jompo, keluarga atau ma orang yang lo cinta"
"Ya"
"Klo udah tua, kerasa Dek, lo pengen duduk santai disekeliling keluarga lo"
"Ya"
Ya Mbak, gw pengen pada saat itu, gw bisa membawa orang pilihan gw dan diakui keluarga oleh keluarga besar kita.
"Gak ada yang abadi Dek, tapi perubahan itu abadi"
Entah, apakah keinginan gw yang sangat atau memang itu sebuah jawaban, statement Mbak gw, membuat gw optimis untuk membuat perubahan. 'Tuk membawa orang pilihan gw, ke dalam keluarga gw, namun satu hal yang pasti operasi kelamin...bukan jawaban tuk masalah gw.
Malam ini kerasa beda, kakak gw duduk di samping gw, ngomongin masalah nikah...
(Kakak gw dah nikah n dah punya anak).
"Cewek jangan terlalu banyak tuntutan Dek, jangan terlalu pemilih".
Kakak gw memang masih memegang adat kejawennya, jadi ada beberapa nasihat kejawen lainnya yang memang gak bisa masuk ke kuping gw, alhasil off air.
"Ha..."
klo diajak ngomong masalah nikah, gw memang biasanya cuma 'ha, he, hi, ya, nyengir, ketawa, dan ngemeng gak jelas'.
"Pilihlah orang yang membuat lo nyaman"
"Ya"
"Nikah itu....."
Maap gw off air lagi, gw gak menyimak secara keseluruhan, gw cuma denger endingnya.
"Lo bayangin klo lo dah tua, sendirian, kesepian, gak ada yang ngurusin lo. Klo gw masih hidup, pastilah gw ngurusin lo, Jono (adek gw n kakak gw-tentunya) juga dek, pasti mau ngurusin lo"
"Panti jompo terus ikut yayasan ********* (yayasan pengurusan kubur)" Jawab gw.
"Dek...beda antara panti jompo, keluarga atau ma orang yang lo cinta"
"Ya"
"Klo udah tua, kerasa Dek, lo pengen duduk santai disekeliling keluarga lo"
"Ya"
Ya Mbak, gw pengen pada saat itu, gw bisa membawa orang pilihan gw dan diakui keluarga oleh keluarga besar kita.
"Gak ada yang abadi Dek, tapi perubahan itu abadi"
Entah, apakah keinginan gw yang sangat atau memang itu sebuah jawaban, statement Mbak gw, membuat gw optimis untuk membuat perubahan. 'Tuk membawa orang pilihan gw, ke dalam keluarga gw, namun satu hal yang pasti operasi kelamin...bukan jawaban tuk masalah gw.
Saturday, March 19, 2011
Ngemeng di siang hari...
Confess or Not?
It's ur choice but think it carefully, deeply n wisely...
Satu manusia saja bisa membuat beberapa statement berbeda dalam satu kasus.
Apalagi jika kita berada di dalam kehidupan sosial di mana kita hidup bersentuhan dengan manusiasss.
Maka akan ada beberapa manusia dengan berbagai macam statement mereka
Cuek aja?
Ok
Filter aja yang baik2?
Ok
Or...whatever ur choice will
Pengakuan...tapi sebelum jauh2 ke titik pengakuan tersebut, mungkin sebaiknya ditilik kembali alasan dan akibat yang nantinya akan terjadi.
Jadi terbayang sekelibat imajinasi saya :
"Suamiku...saya lesbi"
simple
atau
"Suamiku...sesungguhnya selama ini aku menikah dengan mu hanya untuk sperma mu dan sosok suami"
klo belum berani inseminasi buatan.
atau
"Suamiku...Ayah dan Ibuku sudah percaya jika aku hetero, oleh karena itu aku ingin mengakui jika aku Lesbi"
Yah...kadang2 kan ada yang alasannya buat menyenangkan ortu atau status doang.
atau
“Suamiku...maafkan aku, aku sudah tak kuat dengan tekanan batinku ini, aku tak kuat dengan teriakan hasratku, aku tak sanggup hidup dalam kebohongan lagi, dan aku tak ingin melukaimu lebih lanjut dari ini...”
Klo gak mau melukai...kenapa melakukan...atau gak sengaja melakukan?
[Pernah tahu cerita ‘torehan luka’
Bayangkanlah jika hati itu seperti kayu. Saat kau menyakiti hati seseorang maka sama seperti kau menoreh kayu tersebut dengan pisau. Walaupun telah termakan waktu, torehan itu tak dapat hilang sempurna, ia tetap meninggalkan bekas. Hal tersebut layaknya hati, walaupun telah terbentang kata maaf atau waktu telah berlalu, akan tersisa remah memori di hati akan luka.]
atau
"Oh...Suamiku...sesungguhnya, hati ini begitu mencintaimu sehingga tak sanggup hati ini melukaimu, oleh karena itu...bahwasanya aku dulu adalah seorang Lesbi"
Gak semua fakta harus diungkap, menjaga perasaan seseorang yang dicintai, dirasa lebih penting, namun memang harus dibayar dengan pengorbanan diri. Pengorbanan...atau kewajiban...
atau
"Suamiku...Aku telah berbohong kepadamu selama ini, aku menikah denganmu untuk mengerti siapa diriku, dan kini aku telah mengerti bahwa aku adalah seorang lesbian"
Masih nyari jati diri...
atau
"Sayangku...suamiku...aku melihat engkau bercumbu dengan si Jono-supir kita. Oleh karena itu aku juga nyoba bercumbu sama Inem-pembantu kita. ternyata kita memang gay ya Pa"
atau
“Suamiku aku ingin tetap bercinta dengan kekasih wanitaku tapi aku juga tak ingin kita bercerai, oleh karena itu, terserah papa...”
Masih ragu ngaku kalo dirinya biseks.
atau
"Demi menjaga stabilitas kemananan, kenyamanan dan kelanggengan kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga, sesuai dengan pasal XX ayat XX. Kita harus jujur! Merdeka!"
Akh...saya memang sering berimajinasi, padahal mengalaminya saja saya tidak.
Habisnya saya sedikit 'ngeri' akan efeknya
Coba bayangin jika kita adalah salah seorang keluarga dari pihak laki-laki, atau bayangkanlah jika anda berada di posisi sang suami.
(Background : OST endless love)
Bayangkanlah saudara saudara, jika tiba2 kakak/adik/sahabat anda menikah dengan seorang wanita. Namun di usia pernikahan (terserah muda pa tua-tapi kayaknya riskan di muda kali ya, embrionya belom ngiket kuat di rahim soalnya), ternyata wanita yang ia kira dan ia kenal selama ini ternyata seorang lesbian.
Mungkin ada dari beberapa dari rekan2 bilang,
“Tetep terima, karena gw tuh sama kayak dia” (sama2 lesbi maksudnya, bukan sama kasus...eh)
“Gw ngerti bagaimana rasanya jadi dia. Gw tahu kenapa dia melakukan hal ini”
“Yang sudah terjadi biarlah terjadi, marilah kita songsong hari esok dengan penuh senyum gembira” -tring * senyum pepso****
“Mari kita duduk dan membicarakan hal ini secara kekeluargaan” (ala politis Indonesia)
Atau
“Gila tuh lesbi berani amat ngibulin abang gw!” kata sang adik
Bayangkan jika kita berada di posisi sang suami.
“Ternyata selama ini...pertemuan kita, masa pendekatan kita, pernikahan kita,dan semua ayat2 cinta yang kau hamparkan di kehidupan kita adalah kepalsuan” kata sang suami.
“Apa salah ku istriku? Sebegitu bencikah dirimu terhadap diriku sehingga kau menipu ku selama ini? Sebegitu bersalahnya kah diriku, karena aku mencintaimu, hingga kau membohongiku?” kata sang suami.
Tapi...bayangin klo si suaminya gak sesabar itu, dan terucaplah kata2 yang kasar.
“Dasar lesbi s****! Tukang tipu, sekalian ja lo jadi l****, nikah2 segala”
Beh...satu orang beraksi, satu label kebawa
Padahal sih gak tergantung label nya, tapi tergantung item-nya...
Tapi yang gw tilik di Indonesia tetep main ‘tertera nama pada komunitas’
Alhasil, klo ada yang baik2 akan dianggap ‘cari muka’ karena udah terblokir ma hal2 yang dianggap melenceng dari norma sosial. Sosialitas merid-yang saya rasa masih dianggap sacral oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, dan manusia beragama khususnya.
Simple minded??
Terus...nyalahin orang2 yang simple minded?
Terus, salah gw gitu? Salah temen2 gw? (gaya ABG)
Kita gak bisa maksaiin orang buat open minded or broaden minded, kita gak bisa egois nanggep semua orang harus mengerti kita atau belajar mengerti kita.
Sunday, February 27, 2011
cerpen saya...gratis!
Gan...saya jual gratis cepen, klo ada yang mau baca, silahken wae di download
Seperti biasa quote nya :
cerita ini merupakan cerita fiktif belaka, adapun pengalaman2 dari teman dan juga diri saya yang di ramu dengan karbohidrat dan protein, sehingga menjadi cerpen ini.
http://www.ziddu.com/download/13981729/ourlittlejourney.pdf.html
Seperti biasa quote nya :
cerita ini merupakan cerita fiktif belaka, adapun pengalaman2 dari teman dan juga diri saya yang di ramu dengan karbohidrat dan protein, sehingga menjadi cerpen ini.
http://www.ziddu.com/download/13981729/ourlittlejourney.pdf.html
Saturday, February 26, 2011
Shoreline...
Can you believe that the crew has gone and they wouldn’t let me sign on
All my islands have sunk in the deep, so I can hardly relax or even oversleep
But I feel warm with your hand, in mine, when we walk along the shoreline
I guess we'll never know why sparrows love the snow
We’ll turn out all of the lights and set this ballroom aglow
So tell me darling, do you wish we’d fall in love?
Owl city-The salt water room
*maap yang, settingan tanggalnya salah...
Walau ke seberang pulau...pasti kan ku seberangi
Gemuruh ombak menyelimuti kesunyian
Terselubung tipis dalam bisikan
Panas membakar kerinduan
Terhimpit dalam kenyataan
Tak kuasa diri mengekang jiwa
'Tuk memeluk sang dewi jelita
Tak kuasa mulut membungkam asa
'Tuk merengkuh sang pencair derita
Sayangku nantikan aku di pelabuhan
Raga ku mengenggam buncah akan pelukan
Sayangku berikan aku senyuman
Hati ku mengekang erat akan kecupan
Sayangku Adeliana...
Kau-lah pemegang kunci hati ku
Terselubung tipis dalam bisikan
Panas membakar kerinduan
Terhimpit dalam kenyataan
Tak kuasa diri mengekang jiwa
'Tuk memeluk sang dewi jelita
Tak kuasa mulut membungkam asa
'Tuk merengkuh sang pencair derita
Sayangku nantikan aku di pelabuhan
Raga ku mengenggam buncah akan pelukan
Sayangku berikan aku senyuman
Hati ku mengekang erat akan kecupan
Sayangku Adeliana...
Kau-lah pemegang kunci hati ku
Valentine vs Alasan
"Saat bersama kamu...selalu berasa valentine" Adeliana mengucapkan untaian kalimat terindah yang kudengar bulan Februari ini.
Bagaimana tidak? Semua rencana kami, untuk menghabiskan liburan bersama dari hari sabtu hingga hari selasa, hancur berantakan karena kantor ku mengadakan outbond.
Aku tak percaya Valentine...menurutku hari valentine hanyalah suatu even, yang memang diperlukan, oleh manusia pada umumnya. Mengapa? Karena terkadang kita selalu memerlukan alasan untuk melakukan sesuatu.
Tanpa sadar, kiita memerlukan even tersebut sebagai sebuah alasan, agar tidak terlihat aneh (padahal jika ditilik kembali, hal manakah yang lebih aneh?).
Maafkan aku sayang, aku tak memberikanmu cokelat
Maafkan aku sayang, aku tak mengirimkanmu bunga
Maafkan aku sayang, aku tak me-maketkan sebuah boneka teddy bear berwana pink
Maafkan aku sayang, aku bahkan tak mengucapkan selamat hari valentine
Maafkan aku sayang, aku kurang hangat dan kurang romantis...
Bagiku, tak perlu sebuah hari yang bernama valentine untuk menjadikan pembuktian rasa sayangku kepada mu menjadi nyata.
Sayang...bantu aku untuk menjadikan resolusi kita menjadi kenyataan.
Friday, February 25, 2011
Saat Cumi jadi Kambing
Aku kira dengan pemanggilan kami (4 ekor kambing kurban) ke dalam ruang wakil bos I- rumah pemotongan hewan kurban, akan menjadikan kami 100% kambing kurban yang akan mati...namun rumput tak selalu hijau kambing!
Di sebuah pulau yang terisolir oleh harga dirinya terdapat rumah pemotongan hewan kurban (RPHK). RPHK tersebut tak peduli jenis atau syarat seperti apa yang harus dipenuhi untuk kambing kurban. Mereka hanya peduli, jika mereka memotong banyak hewan kurban, maka harga diri mereka akan melejit.
RPHK tersebut menobatkan 4 ekor kambing untuk kurban : O, K, A dan V.
O dan K memang kambing yang sejak awal akan dinobatkan menjadi kambing kurban. Mereka hanyalah kambing yang baru datang ke rumah pemotongan hewan, mereka tak mengerti apa2. mereka hanya terdoktrin 'mati untuk orang yang layak'.
A...A hanyalah seekor kambing betina tua yang dikorbankan agar kambing kesayangan bos, yang sebenarnya layak dikurbankan, tidak mati tahun ini.
V...berbeda dengan O dan K..bahkan A, V sangat ingin menjadi kambing kurban, karena itulah cita2nya masuk ke dalam rumah jagal ini. Lagipula, V telah lama mengabdi pada rumah jagal ini, sehingga menurut semua kambing di tempat tersebut, patutlah ia untuk dikurbankan tahun ini.
Wakil bos I : "yak, jadi kalian bersiap2 untuk dikurbankan pada bulan x"
O dan K : "ya bos"
A : [terdiam....]
V : "Bos...berat saya belum mencukupi"
Wakil bos : "tenang saja, nanti saya masukkan kamu ke dalam program penggemukan badan"
V : [tersenyum penuh harap]
Saat seminggu sebelum program penggemukkan badan dimulai...
Staff pengatur pen-jagal-an : "untuk tahun ini yang akan dimasukkan ke dalam program penggemukkan badan adalah kambing R"
Suara embik riuh mengisi partikel udara yang panas lekat di dalam kandang
Wakil Bos I ingkar janji
O dan K...terdiam, mereka telah mendengar bisikan2
'Kau dikurbankan, karena kambing yang lain takut mati'
'Kau dikurbankan, karena kalian menyeramkan. Kalian mengancam keeksistensian dari kambing kesayangan bos'
'Kau dikurbankan, karena kalian dapat memicu kerisuhan jika dibiarkan'
'Sebelum kalian mengubah sistem RPHK ini, maka kalian harus dikurbankan dari sekarang'
Kambing V, tertunduk lesu...menunggu datangnya kesempatan tahun berikutnya.
'Wakil bos I sudah menyatakan pendapatnya, namun ia kalah oleh wakil bos II...'
'Kambing R mempunyai persengkongkolan dengan wakil bos III...'
'Wakil bos II dan III merupakan teman dekat'
'Bos besar nampaknya ter-angguk oleh Wakil bos II'
'Wakil bos II merupakan sahabat pemegang wewenang keberadaan RPHK di pulau ini'
'Wakil bos I...menyelamatkaan dirinya sendiri'
Sementara kambing A, tertunduk geram...mengutuk datangnya-kesempatan dirinya di tahun ini.
'Wakil bos I menunjuknya karena bos besar tak mau kambing kesayangan tempatnya menyusu, mati'
'Wakil bos I menunjuknya karena tak mau kambing kesanyangan, yang selalu membajak sawahnya, mati'
'Wakil bos I menunjuknya karena wakil bos II tak mau kambing kesayangan yang selalu menarik delman-nya, mati'
'Walaupun kambing A merupakan anak buah Wakil bos III, namun nyatanya para wakil bos juga seekor kambing'
Di sebuah pulau yang terisolir oleh harga dirinya terdapat rumah pemotongan hewan kurban (RPHK). RPHK tersebut tak peduli jenis atau syarat seperti apa yang harus dipenuhi untuk kambing kurban. Mereka hanya peduli, jika mereka memotong banyak hewan kurban, maka harga diri mereka akan melejit.
RPHK tersebut menobatkan 4 ekor kambing untuk kurban : O, K, A dan V.
O dan K memang kambing yang sejak awal akan dinobatkan menjadi kambing kurban. Mereka hanyalah kambing yang baru datang ke rumah pemotongan hewan, mereka tak mengerti apa2. mereka hanya terdoktrin 'mati untuk orang yang layak'.
A...A hanyalah seekor kambing betina tua yang dikorbankan agar kambing kesayangan bos, yang sebenarnya layak dikurbankan, tidak mati tahun ini.
V...berbeda dengan O dan K..bahkan A, V sangat ingin menjadi kambing kurban, karena itulah cita2nya masuk ke dalam rumah jagal ini. Lagipula, V telah lama mengabdi pada rumah jagal ini, sehingga menurut semua kambing di tempat tersebut, patutlah ia untuk dikurbankan tahun ini.
Wakil bos I : "yak, jadi kalian bersiap2 untuk dikurbankan pada bulan x"
O dan K : "ya bos"
A : [terdiam....]
V : "Bos...berat saya belum mencukupi"
Wakil bos : "tenang saja, nanti saya masukkan kamu ke dalam program penggemukan badan"
V : [tersenyum penuh harap]
Saat seminggu sebelum program penggemukkan badan dimulai...
Staff pengatur pen-jagal-an : "untuk tahun ini yang akan dimasukkan ke dalam program penggemukkan badan adalah kambing R"
Suara embik riuh mengisi partikel udara yang panas lekat di dalam kandang
Wakil Bos I ingkar janji
O dan K...terdiam, mereka telah mendengar bisikan2
'Kau dikurbankan, karena kambing yang lain takut mati'
'Kau dikurbankan, karena kalian menyeramkan. Kalian mengancam keeksistensian dari kambing kesayangan bos'
'Kau dikurbankan, karena kalian dapat memicu kerisuhan jika dibiarkan'
'Sebelum kalian mengubah sistem RPHK ini, maka kalian harus dikurbankan dari sekarang'
Kambing V, tertunduk lesu...menunggu datangnya kesempatan tahun berikutnya.
'Wakil bos I sudah menyatakan pendapatnya, namun ia kalah oleh wakil bos II...'
'Kambing R mempunyai persengkongkolan dengan wakil bos III...'
'Wakil bos II dan III merupakan teman dekat'
'Bos besar nampaknya ter-angguk oleh Wakil bos II'
'Wakil bos II merupakan sahabat pemegang wewenang keberadaan RPHK di pulau ini'
'Wakil bos I...menyelamatkaan dirinya sendiri'
Sementara kambing A, tertunduk geram...mengutuk datangnya-kesempatan dirinya di tahun ini.
'Wakil bos I menunjuknya karena bos besar tak mau kambing kesayangan tempatnya menyusu, mati'
'Wakil bos I menunjuknya karena tak mau kambing kesanyangan, yang selalu membajak sawahnya, mati'
'Wakil bos I menunjuknya karena wakil bos II tak mau kambing kesayangan yang selalu menarik delman-nya, mati'
'Walaupun kambing A merupakan anak buah Wakil bos III, namun nyatanya para wakil bos juga seekor kambing'
Thursday, February 24, 2011
Sir...my eyes on my head! not on my boob!!
Like my routine morning rhythm, i wake up with back pain...yeah...its torturing me everyday, then take a bath-make up-get dress-another little touch up of make up..he3.
7:20..my alarm beeps with song of give up the grudge by GOB..
its like the yelling of youth in the morning (like I'm a granny huh..).
Arrived at 7:28, i stand up on finger print box,
"Pagi Mbak Okta" said Mr. S (he's my boss)
"Selamat pagi Pak..."
I don't like have chit chat on there, so i make excuse to Mr. S then back to my cage (my laboratorium).
Another of my routine morning rhythm task...cleaning my desk, sterilization my 'sterile room', and prepare the log book.
Accidentally, my log book fall off.
Ok...bad sign! ha3
When i trying to collecting them all, i heard a teasing voice from behind
"Aduh..jatuh..." as Mr. S said
O ho....i know that teasing intonation of yours
Then he approach me, make a silly smile..(u know like 'a boy want to have sex with u' smile...A Ha...like that)
One thing i like from him, he's a 'handsome-gorgeous-still young but already become boss' married man (ha3.. i know..too much to become one).
But, therefore so much i don't like about him, he tackling me when i get closer to big boss (such a competitive but afraid of loosing the game). i still remember how he warned me about my 'game'. Hello Sir...i learned from u!
"Bagaimana kerjaan mbak okta?"
"Baik pak, lancar2 saja"
"Baguslah...bagaimana mas R (my junior)"
"Ya, sedang saya upgrade pak, jadi jika nanti saya tidak ada di lab, mas R dapat menangani sampel"
Like another human being when talk to their boss, i look straight at his eye with modesty,but...i don't know where his eye at...
One...
Ops...again
Two...
He...again
Three...
Ok...
Four...
Alright...enough Sir...i'm just too tired to count how many times ur eye staring at my boob.
7:20..my alarm beeps with song of give up the grudge by GOB..
its like the yelling of youth in the morning (like I'm a granny huh..).
Arrived at 7:28, i stand up on finger print box,
"Pagi Mbak Okta" said Mr. S (he's my boss)
"Selamat pagi Pak..."
I don't like have chit chat on there, so i make excuse to Mr. S then back to my cage (my laboratorium).
Another of my routine morning rhythm task...cleaning my desk, sterilization my 'sterile room', and prepare the log book.
Accidentally, my log book fall off.
Ok...bad sign! ha3
When i trying to collecting them all, i heard a teasing voice from behind
"Aduh..jatuh..." as Mr. S said
O ho....i know that teasing intonation of yours
Then he approach me, make a silly smile..(u know like 'a boy want to have sex with u' smile...A Ha...like that)
One thing i like from him, he's a 'handsome-gorgeous-still young but already become boss' married man (ha3.. i know..too much to become one).
But, therefore so much i don't like about him, he tackling me when i get closer to big boss (such a competitive but afraid of loosing the game). i still remember how he warned me about my 'game'. Hello Sir...i learned from u!
"Bagaimana kerjaan mbak okta?"
"Baik pak, lancar2 saja"
"Baguslah...bagaimana mas R (my junior)"
"Ya, sedang saya upgrade pak, jadi jika nanti saya tidak ada di lab, mas R dapat menangani sampel"
Like another human being when talk to their boss, i look straight at his eye with modesty,but...i don't know where his eye at...
One...
Ops...again
Two...
He...again
Three...
Ok...
Four...
Alright...enough Sir...i'm just too tired to count how many times ur eye staring at my boob.
Friday, February 4, 2011
Belenggu Jemari
Dia...
Menjambak rakus halusinasi
Melemparnya bagai seonggok nasi basi
Menyelimutinya dengan luapan saliva
Menyerbunya dengan padanan kata menikam hati
Membenamkannya ke bumi dengan telapak kaki
Dia...
Menampik eksistansi mimpi
Merobeknya dengan iringan senandung caci
Memandikannya dengan percikan anyir melati
Menyulutnya dengan kobaran nafsi
Meleburnya dalam kemurkaan api
Dia....
Menjambak rakus halusinasi
Melemparnya bagai seonggok nasi basi
Menyelimutinya dengan luapan saliva
Menyerbunya dengan padanan kata menikam hati
Membenamkannya ke bumi dengan telapak kaki
Dia...
Menampik eksistansi mimpi
Merobeknya dengan iringan senandung caci
Memandikannya dengan percikan anyir melati
Menyulutnya dengan kobaran nafsi
Meleburnya dalam kemurkaan api
Dia....
Monday, January 24, 2011
Gema gairah
Khayalak siklus mentari
Gelap menjarah bumi
Meneteskan buih mimpi
Membuka gerbang ilusi
Malam
Ia berlantun lembut hembusan nafasmu
Ia berhias elok indahnya senyummu
Ia berliuk lampai balutan tubuhmu
Ia bergema merdu irama suaramu
Adeliana
Aku...
Aku bukan pangeran berkuda putih-mu
Dirimu...
Dirimu seorang putri penjaga Naga
Naga...
Naga yang memerlukan dirimu agar ia merasa dirinya adalah Naga
Naga
Membelai luka
Menjahit air mata
Merajut tawa
Menuai cinta
Adeliana...
Berdansalah denganku
Sambutlah tanganku
Kan kupeluk erat dirimu
Dalam sutera ungu
Di dalam sangkar Naga
Gelap menjarah bumi
Meneteskan buih mimpi
Membuka gerbang ilusi
Malam
Ia berlantun lembut hembusan nafasmu
Ia berhias elok indahnya senyummu
Ia berliuk lampai balutan tubuhmu
Ia bergema merdu irama suaramu
Adeliana
Aku...
Aku bukan pangeran berkuda putih-mu
Dirimu...
Dirimu seorang putri penjaga Naga
Naga...
Naga yang memerlukan dirimu agar ia merasa dirinya adalah Naga
Naga
Membelai luka
Menjahit air mata
Merajut tawa
Menuai cinta
Adeliana...
Berdansalah denganku
Sambutlah tanganku
Kan kupeluk erat dirimu
Dalam sutera ungu
Di dalam sangkar Naga
PICIK
"Kenapa kau melakukannya?!" matanya menatap sinis memojokkanku
"Kenapa? Maaf, apa maksud Anda?" tanyaku heran
"Kau mem-publish artikel itu!! Apakah kau buta? Atau kau bodoh?!"
Aku menatap lurus dirinya, yang dari awal telah berdiri di depan mejaku.
Matanya membalas tajam tatapanku.
"Duduklah, akan ku jelaskan padamu" aku menarik sebuah kursi seraya mempersilahkannya duduk.
Walaupun nampaknya ia tak perlu basa basi dariku.
Ia langsung membanting bobot tubuhnya di kursi terdekat yang dapat ia jangkau.
Ia menyilangkan kakinya dan menegakkan tubuhnya.
Aku sangat paham artinya
'Aku pemimpinnya. Aku tak dapat kau kuasai. Aku benar'
"Jelaskan padaku, sekarang!" nada suaranya makin meninggi
"Maap, saya akan menjelaskan pada Anda sebatas kualifikasi Anda"
Ia menggeramkan giginya, "baik, jelaskan!"
"Pertama, Saya adalah pimpinan redaksi." aku menatap lurus matanya,
nampaknya Ia masih tetap pada pertahanannya.
Ku teruskan kalimatku seraya menatap lekat matanya.
"Kedua, manusia tidak suka ketidaknyamanannya terganggu.
Saat ketidaknyamannannya terganggu, manusia akan merespons.
Mereka akan membongkar muatan mereka,
mereka akan menambah muatan mereka,
mereka takut tertinggal
mereka akan menusukkan senjata,
Mereka akan beraliansi
Mereka takut kalah
Mereka akan membuat sarang baru
Mereka akan membangun kekuatan baru
Mereka bertambah berani
Mereka berproses
Mereka akan..."
"Cukup!! saya tak peduli dengan kiasan kata Anda"
Amarahnya bertambah, kini kakinya yang tersilang indah telah
membuka pertahanannya dan bersiap untuk menyerang.
"Pada umumnya, Bayi yang kenyang karena terus disuapi akan diam.
Pernahkah kau membiarkan bayi itu kelaparan?
Ia akan mencari makanannya.
Ia akan menangis.
Pernahkah kau mencubitnya?
Kurasa Ia akan menangis pula"
"Jadi...saya bayi itu bagi Anda?"
"Apakah Anda merasa seperti itu?"
"Jadi menurut Anda, lebih baik melepas kontroversi?"
"Apakah artikel saya menurut Anda sebuah kontroversi?"
Mukanya mulai memerah, matanya memancarkan amarah sangat,
sebagai puncaknya ia menggebrak meja dengan segala luapan amarahnya.
Amarah itu berbentuk gema, suaranya menimbulkan riak pada lorong ketenangan.
"Ya, artikel itu sebuah kontroversi"
"Mengapa?"
"Karena..."
Ia tak dapat menuntaskan kalimatnya karena kini bibirnya terkunci oleh bibir di hadapannya.
"Tulis komentar Anda dan serahkan ke saya 2 hari dari sekarang."
"Kenapa? Maaf, apa maksud Anda?" tanyaku heran
"Kau mem-publish artikel itu!! Apakah kau buta? Atau kau bodoh?!"
Aku menatap lurus dirinya, yang dari awal telah berdiri di depan mejaku.
Matanya membalas tajam tatapanku.
"Duduklah, akan ku jelaskan padamu" aku menarik sebuah kursi seraya mempersilahkannya duduk.
Walaupun nampaknya ia tak perlu basa basi dariku.
Ia langsung membanting bobot tubuhnya di kursi terdekat yang dapat ia jangkau.
Ia menyilangkan kakinya dan menegakkan tubuhnya.
Aku sangat paham artinya
'Aku pemimpinnya. Aku tak dapat kau kuasai. Aku benar'
"Jelaskan padaku, sekarang!" nada suaranya makin meninggi
"Maap, saya akan menjelaskan pada Anda sebatas kualifikasi Anda"
Ia menggeramkan giginya, "baik, jelaskan!"
"Pertama, Saya adalah pimpinan redaksi." aku menatap lurus matanya,
nampaknya Ia masih tetap pada pertahanannya.
Ku teruskan kalimatku seraya menatap lekat matanya.
"Kedua, manusia tidak suka ketidaknyamanannya terganggu.
Saat ketidaknyamannannya terganggu, manusia akan merespons.
Mereka akan membongkar muatan mereka,
mereka akan menambah muatan mereka,
mereka takut tertinggal
mereka akan menusukkan senjata,
Mereka akan beraliansi
Mereka takut kalah
Mereka akan membuat sarang baru
Mereka akan membangun kekuatan baru
Mereka bertambah berani
Mereka berproses
Mereka akan..."
"Cukup!! saya tak peduli dengan kiasan kata Anda"
Amarahnya bertambah, kini kakinya yang tersilang indah telah
membuka pertahanannya dan bersiap untuk menyerang.
"Pada umumnya, Bayi yang kenyang karena terus disuapi akan diam.
Pernahkah kau membiarkan bayi itu kelaparan?
Ia akan mencari makanannya.
Ia akan menangis.
Pernahkah kau mencubitnya?
Kurasa Ia akan menangis pula"
"Jadi...saya bayi itu bagi Anda?"
"Apakah Anda merasa seperti itu?"
"Jadi menurut Anda, lebih baik melepas kontroversi?"
"Apakah artikel saya menurut Anda sebuah kontroversi?"
Mukanya mulai memerah, matanya memancarkan amarah sangat,
sebagai puncaknya ia menggebrak meja dengan segala luapan amarahnya.
Amarah itu berbentuk gema, suaranya menimbulkan riak pada lorong ketenangan.
"Ya, artikel itu sebuah kontroversi"
"Mengapa?"
"Karena..."
Ia tak dapat menuntaskan kalimatnya karena kini bibirnya terkunci oleh bibir di hadapannya.
"Tulis komentar Anda dan serahkan ke saya 2 hari dari sekarang."
Tuesday, January 4, 2011
Remah tak pula ruah
Terduduk jatuh tertampar realita
Menunduk keluh merana
Mengutuk dahaga akan bahagia
Hina memangsa raga
Adeliana...
Sentuhanmu meniti syaraf
Melelehkan setiap lelah
Rimamu mengukir i’tiraf
Melumat setiap ranah
Adeliana...
Tawamu membungkam lara
Walau luka mu menganga
Senyummu merubuhkan dera
Walau derita mu meraba
Sayangku Adeliana....
Kau berkata bahwa bulan rindu akan mataku
Mataku yang selalu memantulkan keindahan dirinya
Hingga kau memanggut cemburu mesra pandanganku
Merenggut karam dindingnya
Sayangku Adeliana...
Tak perlu lagi aku memandang lekat bulan
Karena kaulah malam
Sayangku Adeliana...
Terima kasih telah datang dalam lembaran hidup ku, sekali lagi...
Menunduk keluh merana
Mengutuk dahaga akan bahagia
Hina memangsa raga
Adeliana...
Sentuhanmu meniti syaraf
Melelehkan setiap lelah
Rimamu mengukir i’tiraf
Melumat setiap ranah
Adeliana...
Tawamu membungkam lara
Walau luka mu menganga
Senyummu merubuhkan dera
Walau derita mu meraba
Sayangku Adeliana....
Kau berkata bahwa bulan rindu akan mataku
Mataku yang selalu memantulkan keindahan dirinya
Hingga kau memanggut cemburu mesra pandanganku
Merenggut karam dindingnya
Sayangku Adeliana...
Tak perlu lagi aku memandang lekat bulan
Karena kaulah malam
Sayangku Adeliana...
Terima kasih telah datang dalam lembaran hidup ku, sekali lagi...
JONO dan JONI
Tulisan ini gw buat saat otak gw mau muntah gara2 ujian lisan Evolusi...
Suatu kala ada seekor burung finch pemakan kaktus, bernama Joni, berimigrasi ke Pulau Galapagos. Betapa terkejut Joni, ternyata di pulau Galapagos ini hanya ada satu ekor species burung Finch, selain dirinya.
Lalu datanglah Joni menghampiri burung itu.
“Hai, kamu burung Finch pemakan kaktus juga ya?”
“Ya..”
burung itu menyambut joni dengan senyuman terindah yang pernah Joni lihat.
“Nama saya Joni, saya boleh tahu nama kamu?”
“Tentu saja, saya Jono”
Jono sangat ramah sehingga Joni tak kuasa untuk berpaling dari senyum Jono.
“Jono...apakah kamu, satu-satunya burung finch pemakan kaktus di sini?”
“Ya. Di sini tidak ada burung finch pemakan kaktus selain aku.”
“Wow...sudah berapa lama kau di sini sendiri Jono?”
“Sudah sekitar 4 tahun”
“Apakah selama itu juga kau sendiri?”
“Tidak, dulu ada 3 spesies. Dona, Doni dan Dono.
Dona menikah dengan Doni, namun akhirnya keturunan mereka mengalami degenerasi gen, karena mereka masih bersaudara.
Doni, dia menikah dengan Finch pemakan serangga.
Sekarang keturunannya tidak terlalu menunjukkan eksistensi fenotip dari gen spesies finch pemakan kaktus, karena ternyata teori mitochondrial Eve itu benar”
“Lalu, bagaimana dengan kau?”
“Aku...aku masih menunggu untuk datangnya seekor burung”
“Apakah ia kekasihmu?”
“Iya” Joni terdiam, ia merenung.
“Jono...bukakah tadi kau bilang 4 tahun?”
“Ya”
Joni menghitung umurnya, lalu membuka sayapnya, melihat bulu-bulu yang telah tumbuh mengiringi umurnya.
“Jono, bukankah umur spesies kita hanya 6 tahun?”
“Ya”
Joni memperhatikan Jono, memastikan bahwa ia benar-benar burung yang hidup, bukanlah fosil tiruan yang dibuat oleh para arkeolog.
“Jono, nampaknya kau sangat mencintainya. Lalu mengapa kau meninggalkannya?”
“Karena seleksi alam.
Aku pihak ketiga yang kalah dalam tekanan sosial dan tekanan alam”
“Aku tidak mengerti Jon...jika seperti itu bukankah kau sudah kalah.
Sehingga, kau tidak mempunyai kesempatan bersamanya lagi.
Lagipula..bukankah kau yang meninggalkannya.... Ataukah kau berharap ia datang menyusulmu?”
Jono termenung...
“Joni...apakah aku terlalu berharap lebih?”
“Aku tak tahu. Namun aku rasa, Ya.”
Saat berada di suatu posisi di mana ternyata suatu spesies terisolasi secara geografis (kecuali jika berjuang untuk bermigrasi dengan tantangan maut) dengan kumpulannya,
maka si species tersebut punya beberapa pilihan
1. Tidak mating
2. Kawin silang
3. Menunggu untuk datangnya species seperti dirinya
Namun dengan adanya waktu hidup yang singkat, maka pilihan ketiga jarang dipilih oleh para burung.
Bagaimana dengan pilihan pertama?
‘Bisakah Aku hidup tanpa pasangan seumur hidup?’
Mungkin bisa, namun akankah sepi-nya hidup ini.
Walaupun ada beberapa spesies yang dapat bertahan dari kesepian dengan menikmati bercengkrama dengan fauna lainnya, bersinkronisasi dengan ritme alam.
Lalu pilihan kedua?
‘Siapkah Aku?’
Mungkin suatu saat Aku siap.
Namun, mungkin Aku melakukannya karena Aku kesepian.
Sehingga Aku tidak bisa jadi diri sendiri.
Aku dituntut jadi orang lain, yang bertemplate seperti sosial pada umumnya.
Atau mungkin Aku benar2 bisa menjawab mengapa bencana terjadi sehingga Aku harus berimigrasi.
Suatu kala ada seekor burung finch pemakan kaktus, bernama Joni, berimigrasi ke Pulau Galapagos. Betapa terkejut Joni, ternyata di pulau Galapagos ini hanya ada satu ekor species burung Finch, selain dirinya.
Lalu datanglah Joni menghampiri burung itu.
“Hai, kamu burung Finch pemakan kaktus juga ya?”
“Ya..”
burung itu menyambut joni dengan senyuman terindah yang pernah Joni lihat.
“Nama saya Joni, saya boleh tahu nama kamu?”
“Tentu saja, saya Jono”
Jono sangat ramah sehingga Joni tak kuasa untuk berpaling dari senyum Jono.
“Jono...apakah kamu, satu-satunya burung finch pemakan kaktus di sini?”
“Ya. Di sini tidak ada burung finch pemakan kaktus selain aku.”
“Wow...sudah berapa lama kau di sini sendiri Jono?”
“Sudah sekitar 4 tahun”
“Apakah selama itu juga kau sendiri?”
“Tidak, dulu ada 3 spesies. Dona, Doni dan Dono.
Dona menikah dengan Doni, namun akhirnya keturunan mereka mengalami degenerasi gen, karena mereka masih bersaudara.
Doni, dia menikah dengan Finch pemakan serangga.
Sekarang keturunannya tidak terlalu menunjukkan eksistensi fenotip dari gen spesies finch pemakan kaktus, karena ternyata teori mitochondrial Eve itu benar”
“Lalu, bagaimana dengan kau?”
“Aku...aku masih menunggu untuk datangnya seekor burung”
“Apakah ia kekasihmu?”
“Iya” Joni terdiam, ia merenung.
“Jono...bukakah tadi kau bilang 4 tahun?”
“Ya”
Joni menghitung umurnya, lalu membuka sayapnya, melihat bulu-bulu yang telah tumbuh mengiringi umurnya.
“Jono, bukankah umur spesies kita hanya 6 tahun?”
“Ya”
Joni memperhatikan Jono, memastikan bahwa ia benar-benar burung yang hidup, bukanlah fosil tiruan yang dibuat oleh para arkeolog.
“Jono, nampaknya kau sangat mencintainya. Lalu mengapa kau meninggalkannya?”
“Karena seleksi alam.
Aku pihak ketiga yang kalah dalam tekanan sosial dan tekanan alam”
“Aku tidak mengerti Jon...jika seperti itu bukankah kau sudah kalah.
Sehingga, kau tidak mempunyai kesempatan bersamanya lagi.
Lagipula..bukankah kau yang meninggalkannya.... Ataukah kau berharap ia datang menyusulmu?”
Jono termenung...
“Joni...apakah aku terlalu berharap lebih?”
“Aku tak tahu. Namun aku rasa, Ya.”
Saat berada di suatu posisi di mana ternyata suatu spesies terisolasi secara geografis (kecuali jika berjuang untuk bermigrasi dengan tantangan maut) dengan kumpulannya,
maka si species tersebut punya beberapa pilihan
1. Tidak mating
2. Kawin silang
3. Menunggu untuk datangnya species seperti dirinya
Namun dengan adanya waktu hidup yang singkat, maka pilihan ketiga jarang dipilih oleh para burung.
Bagaimana dengan pilihan pertama?
‘Bisakah Aku hidup tanpa pasangan seumur hidup?’
Mungkin bisa, namun akankah sepi-nya hidup ini.
Walaupun ada beberapa spesies yang dapat bertahan dari kesepian dengan menikmati bercengkrama dengan fauna lainnya, bersinkronisasi dengan ritme alam.
Lalu pilihan kedua?
‘Siapkah Aku?’
Mungkin suatu saat Aku siap.
Namun, mungkin Aku melakukannya karena Aku kesepian.
Sehingga Aku tidak bisa jadi diri sendiri.
Aku dituntut jadi orang lain, yang bertemplate seperti sosial pada umumnya.
Atau mungkin Aku benar2 bisa menjawab mengapa bencana terjadi sehingga Aku harus berimigrasi.
Subscribe to:
Comments (Atom)